The Repeater

The Repeater
5. Budak


__ADS_3

Matahari telah terbit, di suasana sejuk ini, Leonardo dan Lily melanjutkan aktivitasnya, mereka berkeliling di kota OZ dengan harapan ingatan Leonardo bisa kembali sedikit demi sedikit.


Mereka terus berjalan tanpa tahu arah dan hanya berkeliling, hingga waktu telah menjadi siang hari, namun mereka masih belum menemukan informasi apapun, karena Lily mulai kelelahan mereka memutuskan untuk beristirahat di rumah makan di sana.


Di rumah makan itu terlihat banyak penduduk sedang menikmati makanan dan minumannya, mereka saling berbicara satu sama lain, tapi yang mereka bicarakan bukan hal yang normal, mereka terus mengatakan hal-hal tabu seperti budak, atau bernegosiasi tentang barang-barang gelap, hingga menciptakan suasana yang berisik.


Di keramaian itu Leonardo dan Lily duduk di pojok ruangan, Lily menikmati makanannya, sedangkan Leonardo terus mengawasi gerak-gerik dari para penduduk.


Setelah kejadian yang terjadi kemarin membuat pria itu sangat waspada, dia tidak percaya dengan sebagian besar penduduk di sini, dan menganggap bahwa kota OZ diisi oleh para sampah.


Mata putihnya itu terus menatap tajam ke arah keramaian, dia memegang pedangnya seolah siap jika diserang kapanpun, dia benar-benar waspada.


"P-permisi, apa ada yang bisa saya bantu?" seorang gadis dengan kaki diborgol menghampiri Leonardo.


Wajahnya sangat sayu, bajunya compang-camping, hanya untuk beberapa saat untuk Leonardo menyadari bahwa gadis ini adalah budak.


"Aku-"


"Woi!! Sampah! Mau sampai kapan kau membuat pelanggan menunggu?! Cepat layani aku kampret!" Suara muncul dari belakang Leonardo, menampilkan seorang pria berotot dan memiliki tato di seujung tangannya menepuk meja membuat ucapan Leonardo terputus.


"Maaf! Aku akan segera kesana." Gadis itu berjalan ke arah pria berotot itu dengan ketakutan.


Ketika gadis itu bergetar ketakutan tanpa banyak omong pria bertato tersebut memukul gadis itu hingga tergeletak dan mengeluarkan darah di pipinya


"Dasar tidak berguna! Kenapa kau malah benar ketakutan?! Bawa aku makanan!! Dasar sampah!" Pria menendang perut gadis yang tergeletak lemah itu.


Tak berhenti di situ dia menarik rambut orangenya dan memukuli gadis itu menggunakan tangan kiri tanpa henti, semua penduduk yang menikmati makanan disana tertawa, mereka tidak mau melerai malahan mengejek budak itu.


Leonardo sangat geram, emosinya telah meledak, dia menghunuskan pedangnya dan berencana membunuh pria itu. Tapi dia sekali lagi dihentikan oleh Lily, dia memegang erat tangan Leonardo.

__ADS_1


"Jangan Leo!"


"Kenapa?! Apa kau-"


"Aku tahu perasaanmu!! Tapi dinginkan kepalamu dan dengarkan ucapanku oke!"


Leonardo menghela nafas penuh emosi, dia memukul meja dan kembali duduk di kursinya.


"Jadi apa? Cepat jelaskan!" Mata putih Leonardo menatap tajam ke arah Lily.


"Para budak tidak bisa diselamatkan! di dadanya telah tergambar lingkaran sihir kecil. Lingkaran itu akan merespon apapun yang dikatakan oleh pemiliknya, jika mereka berkata 'mati', maka mereka akan beneran 'mati', meskipun budak itu kabur tetap tidak berguna. Karena jika mereka menjauh dari pemiliknya meskipun hanya beberapa kilometer maka jantung mereka akan hancur dan mereka mati. Sudah paham?! Apapun yang kau lakukan percuma!"


Leonardo terdiam mendengarkan penjelasan dari Lily, di ingatannya terlintas akan kejadian kemarin, saat gadis berambut merah itu kepalanya mendadak meledak. Tapi entah kenapa di otak Leonardo ada ide yang gila.


"Bukankah jika kita membunuh pemilik lingkaran sihir itu, semua akan beres?"


Leonardo menyentuh tangan Lily, dengan senyuman dan suara lembut dia berkata, tidak apa-apa. Lily menatap terkejut ke arah Leonardo, pria itu berdiri dari tempat duduknya.


Dia berlari dan memukul pria berotot itu menghentikannya kegiatan tak terpujinya, pria itu terhempas, tubuhnya melayang hingga mengenai meja makan dua pelanggan lain yang sedang asik berbicara dan menjatuhkan makan mereka.


"Woi! Bangsat! Apa yang kau lakukan?!" Mereka berdiri dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah Leonardo. Tidak hanya mereka seisi rumah makan menatap Leonardo sumber dari masalah ini.


Tapi Leonardo mengabaikan tatapan itu, dia memegang tangan budak perempuan itu dan berlari pergi dari ruangan itu, Lily pun mengikuti langkahnya.


"Woi! Jangan biarkan budak itu pergi! Tangkap dia!" Seorang pria gendut berteriak membuat para pelanggan berlari mengejar mereka.


Leonardo, Lily, dan gadis itu mempercepat larinya ketika para pelanggan mengejarnya, sesekali mereka menabrak beberapa orang, melewati berbagai perumahan, dan gang kecil, tapi mereka tetap dikejar mati-matian.


Hingga akhirnya mereka lolos dari kejaran para pelanggan, mereka bersembunyi di bawah jembatan sungai menyembunyikan diri dari kejaran masal.

__ADS_1


"Hah. Hah. Kau gila Leonardo?!" Nafas Lily terengah-engah.


Pria yang bersandar di tembok itu tidak merespon, dia memegang erat tangan gadis budak itu.


"Kenapa anda melakukan hal ini?" Gadis itu menatap Leonardo dengan pandangan penuh kesedihan, dia tak pernah diperlakukan baik oleh Orang-orang di sekitarnya.


"Jika aku membiarkan seseorang tertindas di depan mataku mana bisa aku membiarkannya, aku tidak diciptakan untuk menjadi manusia seburuk itu!" Sahut Leonardo.


Gadis tanpa nama itu terharu mendengar ucapan dari Leonardo, untuk pertama kalinya dia diperlakukan seperti manusia oleh seseorang hal inilah yang membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.


Lily yang melihat itu tidak tega, dia berjalan mendekati gadis itu dan memeluknya sambil berkata bahwa ini tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja. Tangisan gadis makin pecah ketika menerima pelukan hangat Lily.


Malam hari telah tiba mereka bertiga memutuskan untuk keluar dari persembunyian itu, tentunya dengan sangat hati-hati, mereka menundukkan badan dan sesekali bersembunyi di dinding apabila terdapat warga yang lewat, mereka benar-benar hati-hati.


Setelah situasi menjadi aman mereka bertiga dengan cepat berlari, melewati perumahan penduduk, sungai kecil, dan memasuki gang kecil kemudian masuk di salah satu penginapan tersebut, ya. Ini adalah penginapan yang mereka pesan semalam.


Ketika mereka menginjak kaki di sana, situasi benar-benar sunyi. Nenek yang biasanya menjaga kasir tidak ada, hanya ada kamar-kamar yang terkunci.


Dengan langkah hati-hati, seolah musuh bisa menyerang kapanpun, mereka pergi ke kamar agar bisa beristirahat dan menenangkan diri.


"Hah, akhirnya sampai," Keluh Lily, menutup pintu dengan rapat.


Leonardo dan gadis berambut orange itu menghela nafas, mereka menyandarkan tubuh di dinding.


Tapi gadis itu sekali lagi menangis, dia benar-benar terharu akan kebaikan dua orang ini. Lily tersenyum dan menghampiri gadis itu, dia mengelus rambut orangenya dan memeluknya sekali lagi.


Hati gadis berambut orange itu terasa hangat, dia membalas pelukannya dengan lebih erat dan menangis lebih keras lagi.


Karena merasa akan mengganggu Leonardo memutuskan untuk keluar sebentar dari kamar. Dia juga keluar malam untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya, dia sudah geram dengan kelakuan pria bernama Edward, ini semua salahnya, dia memperjualbelikan manusia, jika saja dia tidak melakukan hal seperti itu pasti tidak ada yang menderita. Leonardo bersumpah ketika dia bertemu dengannya dia akan memukul wajah pria itu sampai wajahnya tidak berbentuk.

__ADS_1


__ADS_2