
Di suatu kamar penginapan terdapat dua orang gadis yang masih berpelukan, mereka berdua tidak lain adalah Lily dan Monika. Apa yang Lily katakan kepada Monika barusan berhasil meluluhkan hatinya, Monika sekarang merasa sangat bahagia karena untuk pertama kalinya dia dapat berbagi rasa kesedihan dan dapat dipeluk oleh seseorang. Meskipun dia tidak pernah memiliki figur seorang ibu, tapi Monika berpikir bahwa mungkin pelukan dari ibu rasanya akan sehangat ini.
Setelah tangisannya mereda Lily menyeka air mata gadis itu menggunakan tangannya dengan lembut, setelah itu dia mengelus rambut orange yang terurai miliknya, tidak lupa ia tersenyum. Dia sekarang menganggap Monika sebagai adik kecilnya yang imut karena memang Lily dulunya anak tunggal dan mungkin jika saat itu Leonardo tidak membantunya, mungkin nasibnya akan sama dengan Monika.
Lily menceritakan sedikit masa lalunya karena dia merasa Monika akan mendengar dengan baik. Monika tersenyum lebar seolah siap mendengar cerita darinya.
Dulunya saat Lily kecil dia hidup di kota bernama Warmate saat itu Lily kecil hidup layaknya anak kecil pada umumnya dia bermain ke sana ke sini, tersenyum bahagia, tertawa. dan dia benar-benar anak yang penuh kebahagian. Ibunya dan orang tua juga mendidiknya dengan sangat baik semua kehidupan yang dia miliki sangat berwarna, meskipun dia terlahir di keluarga yang tergolong biasa saja dan bermataPencaharian sebagai perternak di Kota itu, tapi banyak masyarakat yang sangat bergantung akan perternakan itu, karena banyaknya yang mengunjung di perternakan membuat Lily mudah dalam mencari teman.
Saat itu adalah sore hari, orang tua Lily kedatangan pelanggan mereka adalah seorang ibu paruh baya dan seorang anak kecil yang seumuran dengan Lily. Dia memiliki mata kuning dan berambut poni panjang dengan warna merah. Kaos yang ia kenakan berwarna putih dengan rok panjang warna hitam. Mata kuningnya terus menatap ke arah Lily yang bersembunyi di belakang ayahnya di saat kedua orang tua mereka berbincang-bincang kedua anak ini saling bertatapan, meskipun Lily terus bersembunyi di belakang tubuh ayahnya. Sebelum bertemu dengan anak perempuan ini dulunya Lily adalah anak yang amat pemalu.
Ketika para pelanggan bermunculan dia akan bersembunyi, tapi saat dia membawa anak kecil seumurannya dia akan memaksakan datang meskipun dia akan bersembunyi di balik tubuh ayahnya. Dia saat itu sebenarnya ingin memiliki teman, tapi sifat malunya merusaknya.
Anak berambut merah itu mendekati Lily, tapi dia malah semakin bersembunyi di balik tubuh ayahnya, meskipun ayahnya sendiri telah berkata tida apa-apa, Lily tetap malu. Anak kecil itu menjulurkan tanganya seolah sedang ingin memperkenalkan namanya.
"Namaku Elisa, bolehkah aku menjadi temanmu?" Mata kekuningan itu menatap hangat ke arah Lily, tak menunggu lama ia tersenyum tulus.
Melihat kehangatan akan senyuman itu membuat lily menjadi berani dan memegang tangannya. "L-Lily, tentu saja Boleh." Meskipun suaranya Lirih, tapi dapat terdengar oleh Elisa.
Semenjak hari itu Elisa dan Lily sering bermain bersama. Lily yang dulunya pemalu sedikit demi sedikit membuang perasaan itu, Elisa pun memperkenalkan Lily dengan banyak teman dan semakin hari hidup Lily semakin merasa bahagia, dia benar-benar senang dengan situasi ini. Kadang mereka bertengkar memperebutkan makanan, tapi segera berbaikan bebera harinya. Itu menunjukan sebesar apa pertemanan mereka.
Semua berjalan dengan baik, sebelum hari itu datang.
__ADS_1
Saat itu entah karena alasan yang tidak diketahui. Kota Warmate terbakar, kota yang tentram nan indah ini berubah menjadi lautan api karena alasan yang tidak jelas, seperti sihir dan sekejap semua kota terbakar.
Ini pasti ulah seseorang, itulah yang terpikirkan oleh Lily kecil.
Dia berlari sepulang dari taman bermain, tidak seperti biasanya saat itu dia bermain sendiri karena dia sempat bertengkar dengan Elisa. Ketika dia melihat asa dari kota Warmate perasaan Lily tidak enak dan langsung berlari ke arah kota itu.
Dan sesuai dugaan kondisi kota benar-benar parah, memasuki beberapa detik saja suasana dipenuhi oleh asap, dan tangisan dari anak keci. Anak-anak yang biasanya tersenyum mendadak menangis melihat mayat orang tuanya yang terjatuh oleh bangunan, melihat mayat itu membuat Lily khawatir akan kondisi orang tuannya.
Dia berlari menuju perternakan tempat kedua orang tuanya berada, dia berharap akan baik-baik saja, tapi harapan itu sirna ketika sampai di tempat tersebut. Perternakan yang kokoh pun ikut terbakar hangus. Anak itu sudah tidak bisa membandung air matanya, dia tidak berpikir banyak, tidak peduli akan keselamatannya dan pergi ke arah kebakaran itu untuk mencari kedua orang tuanya. Tapi fakta yang tidak enak menyayat hatinya, dia dapat melihat jelas mayat ayahnya terbakar menjadi gosong di kandang kuda. Semua hewan pun ikut mati, tapi dia berharap setidaknya ibu baik-baik saja, tapi tuhan berhendak lain, dia menangis tanpa henti ketika melihat ibunya yang tergeletak lemas tertimpa reruntuhan. Dia sudah berusaha membantu, tapi percuma ibunya mati pada detik itu.
Dia pergi dengan air mata yang terus berjatuhan dan hati yang sudah rusak, dia ingin menuju rumah Elis berharap dia tidak kenapa-napa, tapi harapan itu percuma Elisa pun juga mati terbakar. Padahal dia tidak sempat meminta maaf.
Perpisahan benar-benar menyedihkan. Itulah yang berada di kepalanya saat itu.
Saat pikirannya penuh akan kejadian barusan, seorang pria yang menggunakan topeng berjalan mendekatinya.
"Sepertinya kau kesusahan anak muda. Ya, mau bagaimana lagi kamu baru saja meninggalkan kota dan teman tercinta. maupun kedua orang tuamu meninggal."
Lily kecil mengabaikannya dan berjalan menjauhi pria itu, tapi dia dihentikan dengan pelukan paksa. Tidak ada rasa hangat dari pelukan itu, yang ada hanyalah rasa mengintimidasi. Saat dipelukan itu, dia perlakukan tidak baik, rambut pirangnya di endus-endus, pipinya dijilat paksa oleh pria itu, Lily tentu saja memberontak, tapi tenaga anak kecil tentu kalah. Setelah berhenti menjilati pria itu membisikan sesuatu.
"Apa kamu tahu nak? Insiden kebakaran ini adalah ulah Edward, yaitu aku."
__ADS_1
Mata sayu Lily terbuka lebar, hatinya terombang-ambing. Ingin rasanya dia membalas akan kematian orang tuannya, tapi dia sangat sadar bahwa dia sangat lemah. Jadi dia memutuskan untuk menanyakan beberapa pertanyaan saja.
"Kenapa? Kenapa kamu bisa melakukan hal biadab seperti itu?!" Lily menaikan nadanya.
Pria itu tertawa kencang, dia membisikan dan memainkan rambut Lily lagi.
"Karena ini menyenangkan bisa dibilang ini alasan utamanya. Tentu saja bukan hanya ini, setelah kebakaran aku berencana untuk mencari warga yang bertahan hidup kemudian menjadikan mereka budak, tentu saja untuk dijual...."
Pria itu berhenti berdialog, dia melepaskan pelukannya dan mulai menari seperti orang bodoh. Melihat tarian darinya membuat Lily bergedik ngeri.
"Dan tidak berhenti di situ. Aku juga ingin menguasai kota Warmate, menjadi sosok raja di balik kegelapan dan menjual budak di sana. Dan setelah itu aku akan mengubah nama Warmate menjadi OZ. Atau organisasi menjual beli budak. Dan kamu adalah budak yang akan kujual nanti." Pria pertopeng itu tersenyum sinis, membuat Lily ketakutan.
Gadis itu melangkah mundur berencana untuk kabur, tapi dihentikan dengan pukulan dari pria itu yang membuat Lily terkapar pingsan.
beberapa hari kemudian Lily kecil membuka matanya yang serasa mengantuk, perlahan dan perlahan. Kemudian dia terkejut bahwasannya dia terkurung di penjara kecil. Tangan maupun kakinya telah dibogrol, dan dia sekarang berada di ruangan serba gelap. Di sisi kanannya terlihat jelas gorden besar berwarna merah.
Dibalik gorden itu dia bisa mendengar dengan jelas suara banyak orang. Suara itu membuatnya ketakutan karena dia yakin di sana adalah tempat penjualan para budak. Mungkin setelah ini adalah gilirannya, memikirkan itu membuat Lily ketakutan dan meneteskan air mata.
Saat itu dia berharap mati saja, dari pada harus menjadi budak.
Ditengah ketakutan itu, entah berasal dari mana. Tiba-tiba seorang anak kecil seumuran dengannya, berjalan mengendap-endap mendekati penjara miliknya. Rambutnya berwarna silver, matanya putih. Di lehernya terdapat syal berwarna coklat.
__ADS_1
Anak itu dengan hati-hati membuka penjara itu. Entah dari mana dia bisa menemukan kunci itu, tapi yang pasti hari itu adalah pertemuannya dengan pria aneh berambut silver. DIa membawa kabur Lily ke tempat aman.
Setelah itu Lily dan anak itu menjadi teman dekat. Seperti gadis pada normalnya dia menaruh perasaan kepada anak itu, siapa yang tidak akan jatuh cinta jika diselamatkan nyawanya, dia terus mendkati anak itu dan terus mengucapkan terima kasih. Setelah beberapa lama dia akhirnya tau nama lelaki itu. Anak itu bernama Leonardo