
Pagi hari telah tiba, dua gadis itu telah memutuskan untuk pergi mencari obat secepat mungkin sebelum Leonardo maupun Razor terbangun. Kedua pria itu kini masih tertidur lelap di ruang latihan, jika saja dua pria itu terbangun pasti mereka akan menghentikan Lily dan Monika. Karena itu mereka memutuskan untuk secepatnya pergi.
Mereka berdua telah berubah style. Walaupun sedikit ragu, tapi setidaknya mereka yakin bahwa dengan seperti ini mereka bisa tidak dikenal oleh penduduk. Mereka mengambil jubah berwarna coklat yang mereka pakai beberapa hari yang lalu, mereka tak lupa menutup wajah dengan tudung dan beranjak pergi.
Mereka telah melewati berbagai keramaian dan jalan. Ditengah perjalanan itu ada satu hal yang membuat Monika sedikit kebingungan, itu adalah hubungan Lily dengan Leonardo. Jika gadis ini menyukainya kenapa dia justru membantu Monika agar bisa lebih dekat dengan pria yang dia sukai. Semua tindakannya membuat Monika kebingungan.
Jalan semakin sepi, mereka hendak sampai ke tujuan, namun sebelum masuk ke tempat tujuan Monika memutuskan untuk menanyakan segala hal yang membuat dia bimbang.
" Lucy, kenapa kamu mau membantuku?"
Lucy adalah panggilan untuk Lily diluar, Monika memutuskan untuk memanggilnya dengan nama palsu, karena Lily telah menjadi buronan di kota ini.
"Apa maksudmu?"
"Tidak…Bagaimana aku harus berkata… Biasanya jika gadis menyukai pria, dia tak akan mau siapapun dekat dengannya, tapi kenapa kamu mau membantuku. Apa kamu tak cemburu atau semacamnya?"
Senyuman Lily pudar dia menatap Monika dengan pandangan serius dan sedikit menyedihkan.
"Kau salah paham Monika. Aku tak bisa menyangkal kalau aku menyukai dia, tapi sejak awal aku maupun kamu, tak memiliki kesempatan. Asal kau tahu dia yang dulu sangat tertutup aku bahkan tak tahu apa yang ada di otaknya. Tapi satu hal yang pasti Leonardo yang dulu sangat terlihat menderita. Dari matanya sangat sayu, dia seolah-olah seperti telah melihat kematian seseorang berkali-kali. Dan entah kenapa aku bisa merasakannya bahwa Leonardo yang dulu seperti terobsesi dengan seseorang. Dia seperti ingin menyelamatkan orang itu dan aku tahu bahwa orang itu bukan aku."
Lily menghentikan ucapannya sejenak dan menghela nafas.
"Dan ada satu fakta menarik, saat pertama kali aku bertemu dengannya memang saat aku dan dia masih kecil mungkin kisaran umur 12 tahun, tapi dia sama sekali tidak terlihat seperti anak kecil. Seolah-olah raganya anak kecil, tapi jiwanya adalah seseorang yang sedikit lebih tua.. Aku benar-benar tak paham dengan dia, meskipun aku selalu bersamanya. Tapi aku tak tahu satu hal pun tentang Leonardo. Bahkan aku ragu jika dia dulu menyelamatkanku memang karena ingin, mungkin saat itu dia menyelamatkan agar bisa memanfaatkan-"
Pelukan hangat menerjang tubuh Lily. Pelukan ini adalah milik Monika.
"Jadi kamu selama ini berpikir seperti itu? Meskipun selalu tersenyum aku tak menyangka kamu memikirkan hal itu sendiri, selama ini kamu hanya tersenyum untuk menutupi pikiran itu. Jika kamu ada masalah aku siap membantu lagi pula kita adalah teman."
Dengan mata yang berkaca-kaca Lily membalas pelukan hangat itu. Ia sedikit malu karena tak menyangka akan dihibur oleh Monika, seorang yang dia anggap sebagai adik.
Setelah beberapa saat mereka memutuskan untuk berhenti berpelukan dan masuk ke toko yang besar di sana. Sebenarnya dari pada dibilang sayang toko itu lebih tepat disebut dengan mall.
Tapi tentu saja Monika tak tahu apa itu Mall, jadi dia menganggap itu sebagai toko besar. Walaupun Lily sudah menjelaskan dia tetap tak bisa membedakannya.
Lily memasuki Mall bersama dengan Monika yang lebih cantik dan terlihat bertenaga dengan rambut hitam yang sebahu. Dari jauh mereka mungkin terlihat seperti adik kakak yang berbelanja, tapi itu salah. Walaupun sebenarnya Lily menganggap Monika sebagai adik, tapi tetap saja mereka tidak sedarah.
"Huuuhh.. tempat ini sungguh luar biasa.. Sangat besar!..."
Monika membuka lebar matanya, dan berlari kecil sebagai tanda takjub.
"Ku ku ku. Apakah ini baru pertama kalinya kau memasuki sebuah mall?"
"Tentu saja Lil.. Bukan Lucy. Dulunya aku adalah budak tentu saja aku tak pernah ke tempat seindah."
Lily tanpa sadar telah membuka percakapan yang sensitif, spontan wajahnya menjadi membiru dan pucat. Dia jadi merasa bersalah karena membuka topik seperti itu.
Tapi melihat Monika yang terlihat tersenyum dan berjalan ke sana ke sini untuk melihat-lihat sudah bisa membuat hatinya menjadi gembira.
Dia tersenyum kecil. Inilah alasan Lily membawanya ke mall bukan hanya untuk membeli obat, Lily juga berencana membuat Monika seperti gadis normal hari ini, dia ingin setidaknya Monika tampil cantik dan normal. Karena itu dia ingin membelikan pakaian untuknya.
"Yoshh.. Monika sebelum kita pergi beli obat dan semacamnya, ayo kita pergi ke tempat yang menarik."
Lily tersenyum, dia berjalan dan menarik tangan Monika. Membawanya ke tempat yang menurutnya menarik, yaitu toko baju.
Sesampainya di sana entah kenapa Monika terlihat ketakutan mungkin karena ramai dan banyak pembeli jadi dia bersembunyi di belakang tubuh Lily.
Melihat Monika yang ketakutan malah membuat Lily makin tersenyum dan dia semakin gemas dengan gadis yang berada dibelakangnya itu.
Anak ini, benar-benar imut.. Aku jadi tak sabar menggoda dan memakainya pakaian yang lucu, pasti dia terlihat imut..
Tapi sebelum itu mungkin aku akan mempermainkannya..
Lily tersenyum licik dia merencanakan sesuatu yang menjengkelkan.
"Monika apa kamu takut keramaian?"
Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan. Sekarang muka Monika terlihat pucat dan membiru.
"Yah, aku tak bisa menyalahkan mu, lagipula mereka bisa saja memakanmu lo!"
Lily mencoba menakut-nakuti gadis itu, dan sangat berhasil. Kini Monika memeluk tubuh Lily dengan erat, wajahnya makin panik.
Melihat hal ini gadis berambut pirang itu tersenyum penuh kejahatan, dia sudah puas mempermainkan Monika.
"Hahaha. Maaf Monika itu hanya bercanda. Mana mungkin hal seperti itu terjadi."
Wajah Monika menjadi cemberut, di pipinya pun memerah karena menahan emosi. Tapi itu malah membuatnya makin terlihat menggemaskan bagi Lily.
"Hahaha.. Maaf.. Maaf.. Lupakan yang barusan dan ayo pergi!"
__ADS_1
Lily menggenggam tangan gadis itu. Mereka berdua kini memasuki toko baju yang ramai itu, meskipun Monika masih bersembunyi dan menutupi setengah tubuhnya di belakang Lily.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Seorang pegawai wanita menghampiri Lily dan Monika. Untung saja wanita itu tak sadar bahwa yang dihadapannya adalah buronan untuk saat ini. Mungkin ide Lily yang mengubah style dan warna rambut sangat berguna. Ditambah mereka sekarang menggunakan jubah dengan tudung, meskipun sedikit terlihat mencurigakan, tapi ini masih mending. Karena jubah coklat yang mereka pakai adalah jubah milik para petualang, jadi tak akan ada yang beranggapan aneh tentang mereka.
"Aku ingin mencari pakaian untuk gadis manis ini."
Lily menarik Monika keluar dari pundak belakangnya, kini Monika sudah tak bersembunyi di belakangnya.
Pegawai wanita itu menatap dengan jelas tubuh Monika. Dia terus melototinya karena ingin mencari pakaian yang cocok untuk gadis ini.
Sedangkan Monika yang terus ditatap hanya bisa malu, dia terus menundukkan kepala. Monika memang seorang yang pemalu, terutama dengan wanita, dia sebelumnya tak pernah punya kenalan seorang wanita. Karena itulah dia jadi tak paham dengan para perempuan seusianya.
Wahh. Anak ini lumayan imut, meskipun terlihat pemalu. Tapi apa yang cocok?... Hmm.. Ah. Itu pasti cocok..
Setelah menatap Monika beberapa saat, sebuah ide muncul di kepala pegawai tersebut akhirnya dia tahu apa yang cocok untuk gadis pemalu ini.
Pegawai itu tersenyum dan mendekatkan waja ke arah Monika. Dengan wajah yang kegirangan, mata yang bersinar pegawai itu terus menatap Monika.
"Kalau menurutku kamu akan cocok dengan gaun One piece."
Sebuah tanda tanya muncul di kepala Monika. Gaun One Piece, tentu saja dia tak tahu apa yang dimaksud pegawai itu. Gadis ini memiringkan kepala sebagai tanda kebingungan.
Untung saja pegawai itu cukup peka dia sadar bahwa pelanggannya itu cukup kebingungan. Mungkin karena pengalamannya dalam bekerja, atau karena Monika yang terlalu mudah ditebak.
"Gaun One piece itu pakaian yang menyatu dengan rok, ada berbagai varian warna. Dan aku sangat yakin bahwa ini akan cocok..."
Pegawai itu mengambil satu gaun one piece. Dia menunjukkan contoh gaun itu ke arah Monika. Gaun itu berwarna putih, krah dan pita hitam, dengan rok yang pendek. Baju itu terlihat sangat imut dan cocok digunakan oleh Monika.
"Bagaimana mana menurut anda?"
Monika terdiam, matanya seperti bersinar ekspresi takut dan paniknya kini berubah menjadi menggemaskan, dia sepertinya sangat menyukai itu. Monika pada akhirnya adalah perempuan jadi wajar dia menyukai barang seperti itu.
"I..Imut." Hanya itu yang bisa dia katakan.
Tidak nona, menurutku kamu justru lebih imut. Kalau aku pria mungkin aku akan mengencanimu..
yang dipikirkan pegawai itu memang benar, sifat kagum Monika saat ini benar-benar lucu, bahkan para pelanggan pria yang bersama pacarnya saja melihat dia. Dasar play boy!
"Selain ini masih banyak model lain nona, anda bisa mengeceknya."
Kedua gadis itu tersenyum ketika menatap pakaian imut yang berada di situ. Ada sweater, kemeja, pakaian polos, dan yang membuat Monika tertarik adalah gaun one piece.
Menyadari bahwa temannya tertarik dengan gaun itu Lily mencari yang terlihat paling cocok untuk temannya. Dan akhirnya dia mendapatkan satu yang terlihat imut.
"Lihat ini Monika!"
Gadis pirang itu memegang satu Gaun one piece. Gaun ini berwarna hitam, kerah putih, dan pita putih. Ditambah dengan aksesoris berupa topi kecil berwarna hitam, Lily sangat yakin Monika akan terlihat imut dengan itu.
"Kyaa.. Lucu sekali."
"Hehee, Monika kamu coba pakaian ini!"
"Eh serius? Apakah aku akan cocok dengan ini?"
"Tentu saja, jangan banyak pikir dan cobalah!"
Lily tertawa kecil, dia mendorong tubuh kecil Monika ke arah tempat ganti pakaian, meskipun Monika terus malu dan menolak, tapi Lily memaksa. Dia berkata bahwa Monika akan sangat imut bila memakainya. Jadi mau tak mau Monika mengalah.
Lily menunggu Monika di ruang ganti. Sudah berlalu sekitar 5 menit dan dia belum selesai. Dan setelah penantian sekitar 10 menit akhirnya Monika keluar dari gorden dan dia menggunakan gaun yang dipilih oleh Lily.
Sial, dia terlalu imut. Hanya itu yang bisa dipikirkan oleh gadis pirang ini. Hidungnya bahkan sedikit mengeluarkan darah.
Gaun yang dikenakan oleh Monika sangat terlihat cocok. Rambut pendek sebahunya yang berwarna hitam berpadu dengan gaun hitam itu. Pita dan kerah gaun yang putih berpadu dengan serasi, tak lupa ditemani oleh topi hitam kecil di kepalanya. Monika benar-benar imut sekarang.
Tatapan para pelanggan telah berubah ke arah Monika, gadis berambut hitam ini dengan cepat telah menjadi pusat perhatian, semua menatapnya dengan tersenyum.
Menjadi pusat perhatian tentu saja sangat memalukan bagi gadis seperti Monika. Pipinya kini semakin memerah dia tak bisa menahan malu.
Semakin gemas. Gadis pirang itu menyerbu dan memeluk Monika, dia sangat gemas dengan temannya satu ini.
"Menikah denganku Monika."
"Eh? Tapi kita sesama perempuan."
Lily tak peduli dia mengelus pipi Monika menggunakan kepalanya, dia juga memperkuat pelukan itu.
__ADS_1
"Habisnya kamu imut sekali, seperti boneka."
"Lily berhenti! Kita jadi pusat perhatian kan!"
Seperti yang dikatakan gadis itu. Mereka berdua telah menjadi bahan tatapan para pelanggan, tapi Lily tak peduli dan pelukannya makin erat.
"Lily... Stop, terlalu erat."
Lily melepaskan pelukannya, dia menatap gadis bergaun yang sedang mengatur nafas.
"Li. Lucy kamu juga pasti akan lebih imut, jadi cobalah gaun ini."
Monika mengambil gaun berwarna merah, dengan pita dan kerah berwarna putih. Ditambahkan dengan aksesoris pita rambut. Dia sangat yakin bahwa Lily akan cantik bila memakai ini.
Sebenarnya gadis pirang ini tak terlalu ingin, tapi melihat temannya yang berharap mau tak mau dia harus memakai itu. Dia memasuki ruang ganti dan memakai gaun itu.
hanya butuh waktu sekitar 5 menit akhirnya Lily keluar dari gorden nya. semua pandangan pelanggan baik itu pria maupun wanita menatap sosok itu, dia terlihat sangat cocok dengan gaunnya.
Gaun merah dengan sebagian warna putih, dengan pita merah, dipadukan oleh rambut pirangnya, ditambahkan mata biru dari gadis ini menambahkan pesona yang dimilikinya. Bagaikan sihir dia telah memikat seisi ruangan dengan sosoknya itu.
"Bagaimana?"
Lily bertanya sembari menahan rasa malu. Dia menutupi pipi yang merona dengan rambut pirangnya. Harga diri Lily cukup tinggi, dia akan mati malu jika seseorang menyadari dia sedang merona.
"C... Sangat cantik Li.. Bukan Lucy.."
Monika memeluk gadis pirang itu, dia membalas apa yang telah dilakukan beberapa saat yang lalu. Melihat dua gadis yang imut saling berpelukan tentu saja toko baju itu menjadi ramai, para pelanggan tak bisa menoleh ke arah lain. Pemandangan ini sangat indah. Ditambah lagi kedua gadis ini saling tersenyum bersama.
Setelah selesai berpelukan mereka ke kasir dan membeli pakaian yang mereka kenakan. Monika maupun Lily sangat suka dengan pakaian ini, jadi mereka membelinya.
Tak mau lupa dengan tujuan ke dua gadis itu membeli berbagai obat dan perban di lantai dua mall. Saat menaiki Eskalator Monika terlihat terkejut dan matanya bersinar.
"Li.. Bukan Lucy lihat! Tangga ini bergerak sendiri lo." Gadis ini benar-benar sangat terpesona dengan ini.
Lily hanya tersenyum dan mengelus kepala gadis berambut hitam itu. Ditambah karena dia menggunakan gaunnya menambahkan rasa imut gadis rambut hitam itu, Lily makin tergoda dengannya.
Sikap polos, wajahnya yang putih, rambut yang sebelumnya orange telah menjadi hitam. Meskipun Lily masih merasa bersalah karena menyemirnya, tapi Monika terlihat senang dengan rambut hitamnya.
Dia sebelumnya pernah berkata bahwa Monika benci rambut orangenya. Karena rambut orangenya dia menjadi budak. Tuan dari Monika memiliki ketertarikan sendiri dengan gadis rambut orange maka dari itu dia benci warna rambutnya.
Mendengar alasan itu Lily jadi iba. Dia memutuskan untuk mewarnai rambutnya menjadi hitam. Walaupun awalnya dia ragu bila Monika akan benci dengan rambutnya, tapi ternyata salah Monika tersenyum dan berterima kasih. Jujur saja Lily juga suka rambut hitam milik Monika.
Hari telah menjadi sore hari, kedua gadis itu telah selesai dengan keperluannya, mereka sudah membeli obat, perban, dan beberapa persediaan makanan.
Saat ini mereka sedang berjalan ke arah jembatan yang terlihat sepi. Mereka berjalan sembari bercanda gurau.
"Lucy, aku yakin Leonardo akan suka dengan gaun itu."
Lily menjadi malu, dia menutupi wajah merahnya dengan tas hasil belanjaannya.
"Aku tak terlalu berharap."
"Jangan seperti itu dong li.. Lucy, kamu cantik lo."
Lily menjadi risih, bukan karena digoda. Tapi karena sedari tadi Monika memanggilnya dengan sebutan Lucy. Ini memang agar penyamaran mereka sempurna, tapi Lily ingin dipanggil dengan nama aslinya oleh teman perempuan pertamanya.
"Monika bisa berhenti panggil aku Lucy?"
Gadis pirang ini masih menutupi pipi merahnya dengan tas belanja, dia sekali lagi malu karena mengatakan hal bodoh seperti itu. Dia paling tahu kalau itu nama samaran yang penting, tapi di sisi lain dia jengkel jika dipanggil seperti itu. Rasanya seperti pertemanannya dengan Monika tak dekat.
"Memang kenapa?"
"Aku... Aku ingin kamu memanggilku dengan nama asli.. Dengan seperti itu aku akan menjadi lebih senang."
Lily makin malu, dia tak menyangka akan mengeluarkan hal yang membuatnya risih.
"Oke.. Aku akan tetap memanggilmu Lily sekarang."
Mereka berdua tersenyum dan saling bertatapan. Mereka melanjutkan perjalanan.
"Ehh.. Sudah kuduga, jadi kalian adalah buronan itu.. Yah, aku sudah tahu dan membuntuti kalian sejak tadi."
Lily berkeringat dingin, nafasnya menjadi sesak. Dia ketakutan. Gadis ini sangat kenal dengan suara ini, rasa menekan ini pasti milik pria itu, ya. Dia adalah Edward.
Dengan kepala yang Serasa berat mereka berdua membalikkan kepala dan menatap iblis itu.
Edward mengeluarkan senyuman menyeramkan, ditambahkan dengan topeng setengah terbuka yang menampilkan setengah wajahnya, membuat situasi menjadi bertambah ngeri.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukanmu dua budak berhargaku."