The Repeater

The Repeater
15. Latihan 3


__ADS_3

Leonardo membuka mata perlahan. Ketika matanya terbuka sempurna dia menatap kearah tiga orang yang sangat terlihat familiar baginya.


'Siapa? oh.. Lily, Razor.. Dan gadis itu ya.' Itulah yang terlintas dibenaknya ketika terbangun. Dia meguap dan mengusap kedua matanya. Karena latihan yang terus menguras mana membuat Leonardo menjadi kelelahan.


"Apa tidurmu nyenyak Senior?" Razor bertanya dan mendekati Leonardo.


"..Ya seperti itulah.."


Leonardo menghentikan ucapannya. Dia fokus menatap kearah dua gadis yang berada di belakang Razor.


"Kenapa kalian bisa di sini? Yah, apapun itu aku bersyukur kalian selamat."


Setelah insiden di restoran beberapa hari yang lalu. Mereka bertiga telah menjadi buronan, dan hampir seluruh warga mencari keberadaan tiga orang ini. Bahkan bila ada yang menangkap salah satu dari mereka maka akan mendapatkan hadiah berupa uang.


Entah siapa yang membagikan postur buronan itu, tapi apapun itu Leonardo bersyukur bahwa kedua temannya baik-baik saja. Dia sedari kemarin takut bila sesuatu terjadi kepada mereka.


"Ya, karena ide Monika yang menyarankan menggunakan kacamata hitam dan masker kita berhasil selamat."


'Tunggu dulu, jadi itu ide dari gadis itu.' Pikir Razor, dia tidak menyangka bahwa pakaian konyol itu berasal dari gadis yang dia kira feminim.


Sedangkan itu Leonardo memasang wajah penuh tanya ketika mendengar nama 'Monika.' Dia tentu saja tidak tahu bahwa gadis yang ia selamatkan beberapa hari yang lalu sekarang bernama Monika.


Seolah sadar akan kebingungannya. Lily membuka mulut dan menjelaskan situasi.


"Monika adalah gadis yang kamu selamatkan kemarin. "


"Ayo Monika jangan bersembunyi dan keluarlah!"


Dengan tubuhnya yang kecil Monika bersembunyi di belakang Lily, dia sangat merasa bersalah akan apa yang terjadi. Dia berpikir bahwa alasan kenapa mereka menjadi buronan adalah karena salahnya, padahal tidak ada satupun yang berpikir seperti itu.


Monika memberanikan diri untuk menunjukkan batang hidungnya, ia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi jadi dia berencana untuk meminta maaf.


Monika menghirup nafas dalam-dalam, dia menundukkan kepalanya. Jantungnya mulai bergetar keras karena takut membayangkan apa yang akan dilakukan Leonardo setelah ini.


"Maaf tuan Leonardo ini semua sala-"


"Tidak perlu meminta maaf Monika!" Jawaban santai dan menenangkan keluar dari mulut Leonardo. Memang kalimat simpel, tapi Mendengar jawaban itu membuat hati Lily menjadi hangat.


Dia mengangkat kepalanya dan meneteskan air mata. Ia tak menyangka akan mendengarkan jawaban seperti itu dari Leonardo. Monika sempat berpikir bahwa Leonardo akan memukuli, atau membencinya. Tapi pikiran itu sirna, karena dia akhirnya sadar orang ini berbeda dengan orang-orang yang pernah dia temui sebelumnya. Dia maupun Lily tidak akan melakukan hal kejam terhadapnya.


"... Dan juga itu adalah keinginanku, jika aku membiarkan seseorang tertindas di depan mata dan aku tidak melakukan apapun, mungkin aku bisa mengutuk diriku sendiri.."


Leonardo melanjutkan ucapan yang barusan dengan nada yang dapat menenangkan siapapun yang mendengarkan.


Walaupun Leonardo kini masih bersandar dan terlihat mengantuk, tapi tatapan mata dari Leonardo sungguh menenangkan hati Monika. Dan tidak berhenti di matanya, bahkan ucapan itu berhasil menghangatkan hati Monika sekali lagi.


Air mata Monika semakin pecah, ia sudah tak bisa membendung cairan di matanya. Tapi ini bukan air mata yang biasa ia teteskan karena menahan rasa sakit dari siksaan, namun ini adalah air mata penuh kebahagiaan.


Monika mengangkat bibirnya. Dia tersenyum dengan tulus dari lubuk hatinya paling dalam. Monika sebelumnya tidak pernah menampilkan senyuman manis seperti itu. Leonardo dan Lily lah orang pertama yang membuatnya tersenyum. Dengan senyuman dan air mata yang menetes dia menatap Leonardo dengan bahagia. Wajah Monika kali ini sangat terlihat manis.


"Terima kasih."


Leonardo membalas ucapan itu dengan senyuman kecil. Dia sebenarnya ikut terharu, tapi Leonardo sendiri tidak terlalu pintar menggambarkan emosi.


Sedangkan Lily, dia terlihat meneteskan air mata. Ini pertama kali baginya melihat Monika tersenyum manis. Tentu saja Lily jadi terharu. Tanpa pikir panjang Lily memeluk tubuh kecil Monika dari belakang. Dia mengeluskan wajahnya dengan wajah Monika.


".. Aa. Monika.. Aku sangat terharu, akhirnya kamu bisa tersenyum seperti itu... Aku... Aku benar-benar bersyukur.." Lily semakin menangis dan memperkuat pelukan itu.


"Nona Lily, sesak.. Tolong jangan terlalu erat!" Nafas Monika semakin terengah-engah. Wajahnya yang penuh senyuman kini memudar dan berubah menjadi membiru karena sesak.


Lily membuka mata lebar, dia menatap kearah gadis yang terlihat sesak itu dan melepas pelukannya. Dia menggaruk rambut belakangnya dan menutup mata.


"Maaf, aku terlalu erat, hehe."


Monika menggelengkan kepala, dia tidak terlalu mempedulikannya. Lily semakin tersenyum lebar, dia menyeka air mata yang masih mengalir di mata Monika.


"..Monika, kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan 'Nona' sebut saja aku Lily oke? Lagi pula sekarang adalah teman." Lily terus menyeka air mata Monika dengan halus, dia pun tersenyum hangat kearahnya.


" Teman?"


Lily menganggukkan kepala. "Ya, kita adalah teman!" Lily menghentikan aktivitas menyeka air mata dan berganti memegang tangan Monika. Genggaman tangan Lily terasa hangat. "Apapun yang terjadi kita adalah teman, aku tidak akan membencimu."


Air mata Monika sekali lagi pecah. Dia sebelumnya tidak pernah ada yang menganggapnya sebagai 'Teman" jalankan teman bahkan dia selalu diperlakukan tak manusiawi, tentunya dia merasa sangat terharu. Dia benar-benar menaruh rasa hormat kepada Lily sekarang, karena dia lah orang pertama yang mau menerima dia apa adanya.


Tidak dia sekarang bahkan menyadari bukan hanya Lily, tapi pria bernama Razor yang baru pertama kali dia temui, dan Leonardo. Semua yang berada di sini adalah orang pertama yang membuatnya nyaman dan serasa diperlakukan seperti manusia normal bukan sebagai budak.


"... Jangan menangis Monika!.." Lily berkata dengan lemah lembut dan menenangkan, tapi tangisan itu tidak berhenti.

__ADS_1


Lily memutar otak untuk mencari cara agar Monika berhenti menangis dan dia akhirnya menemukan satu ide.


".. Monika. Kalau kamu tidak berhenti menangis.. Aku akan menggelitik perutmu loh." Lily tersenyum menggoda, dia sudah memasang ancang-ancang untuk melakukan aktivitas itu.


"Tunggu berhe-"


Tanpa menunggu lama Lily menerjang tubuh Monika. Dia menggelitikkan bagian perut Monika, membuatnya tertawa geli bahkan hingga mengeluarkan air mata karena hasil dari tertawa itu.


Lily ikut tersenyum lebar saat menggelitik perut Monika, dia semakin bersemangat dan membuat Monika semakin tertawa.


"...Lily.. haha.. Berhenti.. Geli.." UCap Monika memohon sambil tertawa.


"Tidak mau," Sahut Lily dengan tersenyum jahil.


Mereka berdua terlihat bagaikan adik dan kakak sekarang. Mereka tertawa bersama dan tersenyum, keduanya membuat hati siapa pun yang melihat menjadi hangat nan Tentram. Leonardo tersenyum kecil melihat kelakuan dari dua orang gadis itu.


Merasa sudah puas Lily menghentikan aktivitasnya dan menatap Monika yang masih tertawa kecil karena geli.


"Lihat? Kamu lebih cocok saat tersenyum Monika." Lily tersenyum kearah Monika.


"Ya, Terima kasih Lily." Gadi itu membalas senyuman dengan yang terbaik. Ini adalah senyuman paling manis yang pernah ia berikan.


Melihat dua gadis yang saling bercanda tawa dan tersenyum membuat hati Leonardo sejuk setelah melakukan latihan melelahkan. Dia berpikir bahwa apapun yang terjadi dia akan melindungi senyuman dari kedua gadis itu. Apa pun bahkan jika itu artinya dia harus mengorbankan jiwanya.


Razor berjalan menuju Leonardo. Dia memberikan satu botol dan roti yang baru saja dia beli. Dia berharap dengan Leonardo makan maka dia menjadi lebih berenergi dan siap melanjutkan latihan berat berikutnya.


"Ambil ini Senior! Latihan selanjutnya akan semakin berat jadi persiapkan dirimu."


Tanpa menolak Leonardo mengambil minuman dan rotinya. Dia menikmati waktu istirahat sembari menonton dua orang gadis yang masih tersenyum serta bercanda.


"Mereka benar-benar akrab ya?" Razor memulai pembicaraan, dia duduk di sebelah Leonardo dan menyandarkan tubuh. Dia juga meminum botol yang baru dia beli.


"Kau benar.. Apapun yang terjadi aku akan melindungi kedua senyuman itu.. Bahkan jika itu berarti aku mengorbankan nyawa ini." Di bagian terakhir dia mengecilkan nadanya, agar Razor tak mendengar itu. Namun pria itu justru mendengarnya.


"...Aku suka tekadmu, tapi jangan berlebihan, kita pada akhirnya manusia.. Kita tidak bisa mengubah takdir dari kematian seseorang.."


Entah kenapa Leonardo merasa tersinggung, padahal dia ingat betul bahwa tidak pernah berpikir untuk mengubah takdir atau semacamnya. Berusaha untuk mengabaikannya, dia memakan roti dan menikmati waktu istirahat.


Setelah beberapa saat akhirnya waktu istirahat berakhir. Kini Leonardo dan Razor memulai latihannya. Sedangkan Lily dan Monika sedang tertidur di kamar Razor. Mereka kelelahan karena telah berjalan sepanjang hari.


Ruangan latihan yang sebelumnya asik dan tenang kini berubah sunyi.


Dia hanya bisa membekukan setengah meter lantai dan tidak berkembang sama sekali semenjak tadi.


Bahkan waktu telah menjadi Sore hari dan dia menganggap latihan hari ini percuma.


"Sial! Sebenarnya apa yang salah? Kenapa tidak ada perkembangan sama sekali." Keluh Leonardo.


"..Yah, santai dulu. Kau bisa mengeluarkan elemen saja itu sudah luar biasa. Seperti yang sudah kukatakan menggunakan elemen melalui senjata itu adalah level tinggi." Sahut Razor. Dia sedari tadi mengawasi latihan Leonardo.


"Aku tahu, tapi jika terus begini semua bisa mati," Leonardo masih teringat akan mimpinya beberapa hari yang lalu.


Mimpi yang menggambarkan kota OZ dilanda perang saudara dan semua temannya mati. Dia tentu saja tidak bisa melupakan mimpi itu.


"Aku tahu, tapi memaksakan diri juga tidak baik. Waktu juga sudah sore, jadi mandilah dan kembali setelah malam!"


"...."


Leonardo tidak merespon, dia pergi dari ruang latihan menuju ke kamar mandi yang berada di luar penginapan. Setelah sesampainya di kamar mandi, dia langsung merendamkan tubuh ke arah bak mandi yang lebar.


Dengan air hangat dia menikmati waktu berendam-nya, sembari mengistirahatkan rasa capek dan tubuh yang penuh luka dari Leonardo.


"Hah, sangat menenangkan."


Leonardo terlihat menikmati waktu istirahatnya. Sekujur tubuhnya serasa terlahir kembali, semua rasa capek dan luka tubuh seperti hilang begitu saja.


Tapi dia masih kepikiran dengan hasil latihannya, dia bimbing. Dan ragu akankah bisa menguasai elemen sebelum waktunya tiba.


Menurut mimpi, atau bisa disebut ingatan. Perang Saudara akan terjadi sekitar satu minggu dari sekarang, meskipun dia tidak tahu apa yang membuat perang saudara terjadi. Tapi dia ingin segera mungkin melakukan sesuatu.


'Jika begini terus semua akan mati. Aku harus bergegas untuk menghentikan Edward sebelum kejadian itu terjadi.'


Leonardo menghentikan aktivitas berendam-nya, dia mengeringkan tubuh dan menggunakan pakaian. Saat dia kembali ke kamar dan hendak menuju ke ruang latihan.


Dia menatap dua orang gadis yang tertidur pulas. Lily tidur di satu kasur berwarna putih. Tidurnya sangat lelap, bahkan dia meneteskan air liur di pojok bibirnya. Sedangkan Monika, dia tertidur di bawah dan bersender di kasur.


Leonardo melangkah kearah Monika. Dia berencana untuk menyuruhnya agar tertidur di kasur, karena dia khawatir apabila Monika kedinginan.

__ADS_1


"Monika." Nada Leonardo sangat rendah, tapi dia berada tepat di depannya, tentu saja Monika mendengar suara itu.


Monika membuka mata perlahan.


"Tuan Leonardo?" Ucapnya ketika bangun. Dia masih terlihat mengantuk, dia mengusap mata.


"Apa yang membuat anda ke sini?"


"...Kenapa kau tidur di bawah? Kamu bisa kedinginan lo, dan jangan panggil aku Tuan. Aku dan kamu juga teman..."


Monika tersenyum manis saat mendengar kalimat teman.


"Baiklah mulai sekarang aku akan memanggilmu Leonardo."


"Hmm, bagus. Jadi kenapa kamu tidur di bawah?" Leonardo kembali ke topik sebelumnya.


Tatapan Monika spontan menatap ke kasur. Dia tersenyum melihat Lily yang tertidur pulas.


"Tidak ada alasan khusus. Seperti yang kamu tahu aku dulunya hanyalah budak. Untuk tidur di kasur itu adalah hal yang sangat tidak mungkin bagi kami. Aku terbiasa tidur tanpa alas dan hanya bersenderan di tembok yang dingin. Meskipun aku diberi kesempatan pada akhirnya aku tidak layak untuk hidup normal, lagi pula kami hanya budak"


Mendengar jawaban menyedihkan membuat hati Leonardo tertusuk. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya selama ini.


Di lubuk hati Leonardo, dia sangat ingin Monika bisa seperti gadis normal, suka berdandan, mudah tersenyum dan ceria. Dia tak ingin Monika merasa kesedihan lagi.


"Itu tidak benar! Kamu berhak hidup normal, Bahkan siapapun berhak menerima itu."


Monika tersenyum sekali lagi, tapi kali ini terlihat dipaksa.


"Kamu benar maaf aku mengatakan hal an-"


Belum selesai berbicara Leonardo telah mengendong tubuh mungil Monika dengan gendongan ala putri.


Pipi dan telinga Monika seketika memerah saat menyadari dia sedang digendong dengan erat. Tatapannya terus menuju ke arah wajah Leonardo.


"..Anu.. Leonardo.. bisa turunkan aku?.." wajah merah itu tidak bisa ia tahan. Dia memutuskan untuk memalingkan wajah ke arah lain.


"Tidak mau."


Leonardo berjalan kecil ke arah kasur dan meletakkan tubuh Monika dengan hati-hati.


"Nyaman bukan? Jika kau tidur di bawah nanti bisa kedinginan dan jika kamu sakit nanti aku bisa kerepotan."


Wajah Monika makin memerah, dia merasakan kehangatan di pipi maupun hatinya.


"Monika wajahmu merah lo, jangan bilang kamu demam!?" Leonardo hendak meletakkan tangan ke arah kepala Monika untuk mengecek suhunya.


Tapi dengan cepat monika menepisnya dan kembali mengangkat tubuh menggantikan posisi tidur menjadi duduk.


"Tidak... Aku sehat kok!.. Hahaha.. Terima kasih atas semuanya." Dia berusaha menutupi wajah malu, tapi siapapun tahu dari nadanya kalau dia sedang salah tingkah. Kecuali pria yang berdiri tepat di depannya, dia sungguh bodoh. Bahkan dia tak menyadari kalau Monika telah merona karena perbuatannya.


"Omong-omong, bagaimana dengan latihanmu? Apa ada perkembangan?" Monika berusaha mengalihkan pembicaraan dan memecahkan situasi canggung ini.


Tapi dia tidak tahu kalau pembicaraan itu adalah hal tabu. Wajah Leonardo kini memucat dan membiru, kepalanya yang tegak bahkan sekarang ditundukkan.


"Haha.. Tidak ada perkembangan sama sekali.." ucapnya dengan wajah putus asa.


"Rasanya ada sesuatu yang kurang.. Atau apalah aku tidak bisa menebak. Atau jangan-jangan aku tidak berbakat?"


Melihat wajah pucat Leonardo membuat Monika tersenyum manis, dia memegang tangan itu dan berkata.


"Itu tidak benar. Kamu sangat kuat, saat itu kamu menyelamatkanku dengan tangan ini bukan?"


Monika menghirup nafas untuk melanjutkan apa yang mau ia katakan.


"Aku memang tidak tahu apapun tentang sihir, tapi sepertinya sihir itu berkaitan dengan keinginan para penggunaannya."


"keinginan?"


"Ya, seperti keinginan untuk melindungi seseorang yang kau cintai .. Mungkin dengan memikirkan hal itu, sihir akan meningkat."


Monika membuka mata lebar, dia baru sadar bahwa sedari tadi memegang tangan Leonardo. pipinya memerah lagi.


"..Maaf, aku memegang seenaknya.. Dan lupakan saranku barusan! Itu hanya saran bodoh, yah. Tidak mungkin orang akan kuat hanya memikirkan tentang cinta bukan?"


"Tidak.. Terima kasih. Mungkin itu berkaitan."


Leonardo tersenyum lebar. Monika serasa hanyut akan senyuman itu, bahkan jantungnya kali ini bergerak sangat kencang ketika menatap Leonardo

__ADS_1


merasa telah cukup berbincang. Dia memutuskan kembali ke ruang latihan dan ingin mencoba saran dari Monika.


__ADS_2