
Dikeramaian serta kegaduhan ini, Leonardo dan Razor sedang berlari. Mereka sebelumnya telah memberantas sebagian besar warga maupun bawahan dari Edward. Tapi tenaga mereka ada batasnya melawan banyaknya musuh membuat mereka berdua memutuskan untuk kabur sejenak. Saat ini mereka berlari dari kejaran para bawahan Edward.
"Senior, seperti biasanya cara bercandamu sangat parah! Aku kira kamu benar-benar akan pergi lo."
Razor menyindir, saat Leonardo berpura-pura untuk pergi membuat dia menjadi panik seketika dan marah. Walaupun pada akhirnya Leonardo kembali kemudian membantunya.
Leonardo tak merespon, dia menatap ke belakang sebentar dan berhenti. Tatapannya menatap tajam ke arah bawahan Edward yang sedang berlari mengejar mereka sembari membawa benda tajam. Jumlah mereka cukup banyak mungkin 100 orang lebih.
"Sepertinya para warga sudah tak mengejar."
"Kau benar jika hanya bawahan si Edward maka tak perlu ada belas kasih."
Mereka berdua saling menatap beberapa detik, seolah berkata 'ayo serang', dan kemudian tatapan mereka mengarah lagi ke sekumpulan musuh.
Dua orang pria itu berlari menerobos semua musuh yang ada tanpa senjata dan hanya bermodal tangan kosong, Mereka sengaja untuk menyimpan energi disaat yang penting.
Bahkan walaupun hanya menggunakan tangan kosong mereka bisa membantai puluhan perajurit yang membawa senjata tajam. Ayunan pedang musuh, pukulan musuh, semua serangan sangat mudah dihindari bagi Leonardo dan Razor.
Leonardo memukul prajurit pertama di pipinya dan dengan cepat dia pingsan. Bawahan yang tampak emosi menerjang Leo dia berlari cepat dan mencoba menusuk Leonardo menggunakan pedang panjang, namun lagi-lagi dihindari dengan mudah. Leo memutar lengan musuhnya dan melemparkannya ke arah prajurit lain yang berlari menujunya.
* Blak
* Balk
* Blak
Suara pukulan dan tendangan terus bergema. Satu persatu musuh kalah dan pada akhirnya semua bawahan Edward tergeletak di tanah.
Leonardo dan Razor mengatur nafas. Baru beberapa detik mereka beristirahat para bawahan Edward yang baru bermunculan, mereka kembali mengejar dua pria itu.
"Cih! Tak ada habisnya." Razor mencibirkan bibir.
"Kalau begini tak habisnya ayo pergi menyusul yang lain!" Leonardo berlari diikuti oleh Razor.
Kedua pria ini berlari dan memasuki gang kosong. Di sana sangat sempit sehingga para musuh yang mengejar Leonardo kesusahan untuk masuk.
Melihat kesempatan itu Leonardo tak menyiakan waktu. Dia mengayunkan pedang dari bawah ke atas dan membukakan semua orang. Kemudian mereka kembali lagi berlari.
__ADS_1
Masih berlari namun kali ini tak ada kejaran dari musuh jadi setidaknya mereka bisa sedikit tenang. Saat ini mereka fokus mencari keberadaan Lily dan Monika.
Razor berpendapat bahwa kemungkinan Lily dan Monika sedang bersembunyi di gang-gang kecil serta kosong. Leonardo sempat ragu, namun saat ini dia tak punya pilihan selain mencoba.
Beberapa gang kosong dan sempit telah dikelilingi, setelah menunggu waktu lama akhirnya mereka bertemu dengan seseorang yang sangat familiar di salah satu gang kosong.
Di sana terlihat Lily, Monika, Raphael yang sedang tertidur. Tidak lebih tepatnya pingsan. Banyak bawahan Edward tergeletak di sepanjang jallan. Dan terlihat Allan serta Jhon anggota revolusioner sedang bersandar di tembok mereka menjaga tiga orang ini.
"Kalian kenapa disini? Bukankah aku sudah.." ucapan Leonardo terpotong.
"Tenang anak muda! Kami hanya pergi berdua jadi tak perlu khawatir tentang korban yang akan berjatuhan." jhon berkata dengan sombongnya dan menikmati rokok di mulutnya.
"Hanya dua?"
"Itu benar .. Le... Leonardo setelah kepergian kalian kami berkumpul dan berdiskusi sekali lagi, kami membahas apakah kita harus ikut? Atau tidak? ... Dan hasil dari diskusi adalah ikut, namun hanya dua anggota. Dan kami yang terkuat tentu saja ikut membantu."
Razor memegang pundak Leonardo. "Tenang saja senior."
Leonardo menghela nafas. Dia mengalah, saat ini mereka semua memutuskan istirahat untuk beberapa saat dengan duduk di tanah, namun mereka tetap berjaga dari serangan musuh yang akan datang.
baru beberapa menit mereka istirahat, sebuah segerombolan pria bertopeng menyerbu mereka membuat semua berdiri dan bertarung di situ.
* Tring
* Tring
* Tring
Suara logam besi terus bergema di gang itu, siapapun pasti akan terganggu. Sebuah pedang saling bertemuan membuat percikan orange.
Lily, Monika dan Raphael terbangun dari tidurnya karena suara gaduh. mereka mengucek mata dan menatap ke arah semua orang yang bertarung dengan brutal
Baik itu Allan, Jhon, Leo dan lain-lain bertarung dengan sangat hebat bahkan Lily serta Raphael yang baru bangun ikut bertarung. Bagaikan sedang menari mereka bertarung dengan gaya pedang yang sangat indah tak ada gerakan yang menimbulkan celah satupun.
Pertarungan terus berlanjut dengan Leonardo dan lain-lainnya lebih mendominasi. Satu persatu musuh tergeletak di tanah yang dingin. Namun seiring berjallan musuh pun juga berdatangan kemudian bertambah, bagaikan zombie mereka tak ada habisnya.
"Cih jumlah mereka tak ada habisnya berapa kali pun dikalahkan mereka akan muncul lagi." Jhon mengeluh.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi Jhon, Edward memang memiliki bawahan yang banyak. Beruntunglah musuh kita tak seperti top 3 yang tadi." Allan menjawab walaupun masih bertarung dengan musuh dengan pedang. Dia terus menebas musuh yang berdatangan.
Musuh saat ini telah terkalahkan, semua sudah tergeletak di tanah. Tapi mereka masih berlari karena bala bantuan pasti segera datang.
Leonardo berlari di barisan paling depan, dia memegang tangan Monika dan berlari bersamanya. Disusul oleh yang lain mereka berada tepat dibelakang Leonardo.
Langkah mereka semakin kencang, tapi tiba-tiba seseorang melompat dan menyerang dari atas. Dia menggunakan sabit dikedua tangannya dan kain hitam yang digunakan untuk menutup mata.
* Cring
Allan menahan tebasan itu menggunakan pedang. Leonardo dan lain-lainnya spontan berhenti karena mendengar suara gesekan pedang.
"Kalian tak perlu menoleh ke sini. Pergilah! Aku akan mengurus orang ini." Allan masih menahan tebasan itu. Kemudian dia menendang pria itu agar sedikit menjauh.
"Apa yang kau katakan!? jika kita melawan bersama akan lebih cepat." Razor menyangkal ucapan Allan.
"Tidak, kalian para Eraser pergilah! Biar aku dan Allan yang menahan ini." Jhon memegang pedangnya dan siap bertarung.
"Tapi.." Sekali lagi Razor mencoba menolak.
"Pergilah! kami ingin melindungi kota kami sendiri. Meskipun kalian memang akan membantu, tapi sebagai warga kota ini, aku ingin mengubah kota ini sendiri. Jadi pergilah!" Jhon menaikan nadanya. Tatapan matanya berapi-api, ia sangat serius dengan ucapan itu.
Dengan perasaan berat Leonardo, Lily Monika dan Raphael menganggukkan kepala mereka semua pergi meninggalkan mereka.
"Aku akan membantumu Allan."
"Ya, aku akan sangat terbantu sobat."
Dua pria itu kini saling berdiri berjajar, mereka memegang pedang masing-masing dan menatap musuh yang hendak dihadapinya.
"Majulah!" ucap mereka serentak.
Pria yang mereka hadapi terlihat sedikit menakutkan. Dia membawa dua sabit putih kedua ditangannya. Wajahnya terututup oleh kain hitam. Dia cukup berotot walau kurus dan Baju yang ia kenakan terbuka setengah hingga menampilkan otot-otot itu. Dia sesekali menjilati sabit itu sendiri serta mengeluarkan ekspresi menakutkan.
"Kepala siapa yang akan kupenggal terlebih dahulu?... Sudah kuputuskan aku akan memenggal kalian secara bersamaan." ucap pria itu dengan tersenyum dan menjilati sabit sendiri.
"Hati-hati Jhon! dia adalah Jack si pemenggal kepala."
__ADS_1
"Ya aku tahu Allan. Sepertinya pertarungan akan menjadi sedikit menarik."
Kedua pria itu tersenyum dan menerjang untuk menyerang.