
Ditengah siang hari, lebih tepatnya di suatu penginapan terdapat tiga orang yang sedang duduk di kursi kayu, pandangan tiga orang itu menuju ke arah makan dan minum yang berada di meja.
Mata dari ketiga orang itu bagaikan panda, sepertinya mereka tak tidur dengan lelap semalam dan beru saja mengeluarkan banyak air mata. Mereka masih teringat akan kejadian kemarin malam, di mana roh Monika datang dan menegur ketiga orang tersebut.
Salah satu pria berambut kuning menghela nafas, dengan wajah lemas orang itu mengambil roti dan menyantapnya. Mendahului pria berambut putih dan gadis pirang yang masih terdiam.
"Senior, dan Lily bodoh. Cepatlah makan sebelum dingin!"
Razor mengingatkan kedua orang itu, dengan bada seperti seorang ibu muda.
"Iya, ibu." Leo mengambil roti hangat dan memakannya.
"Iy.. Tunggu kenapa kamu menyebutkan Lily bodoh!"
Lily yang sebelumnya ingin mengambil roti malah memukul meja. Mungkin karena emosi dipanggil dengan sebutan 'bodoh.'
Razor menatap malas ke Lily. Kantong mata hitam miliknya menandakan bahwa dia belum tidur, jadi Razor menjawab dengan malas.
"'Itu karena kamu sering bilang 'bodoh!' jadi aku memutuskan untuk memanggilnya seperti itu. Mulai sekarang."
Merasa tak bersalah Razor kembali menyantap roti miliknya, sedangkan Lily sudah memerah karena marah, tapi dia tentu tak mau menunjukkan sisi buruknya di depan pria yang dicintainya. Alias Leonardo, jadi dia memutuskan kembali duduk dan mengalah.
Dengan pipi yang mengembung menandakan bahwa dia sedang cemberut, dia mengambil roti dan memakannya.
Sedangkan orang yang duduk di sampingnya. Alias orang yang dia sukai, atau Leonardo malah menatap bingung ke arah Lily. Tatapan itu seperti mengatakan 'ada apa denganmu' benar, pria ini sama sekali tak sadar dengan perasaan Lily.
Acara makan berjalan normal seperti biasa, diisi dengan pembicaraan ringan dan sedikit canda tawa. Setelah makanan telah habis Razor memulai pembicaraan yang cukup serius.
"Senior dan Lily bodoh, kemana tujuan kalian selanjutnya?"
"Woi, Razor sudah cukup dengan sebutan 'bodoh'"
Lily tampak tak terima, dia berdiri dari tempat duduk dan menunjuk kr arah Razor. Namun sangat disayangkan, dia diabaikan oleh kedua orang di sini.
"Aku tak terlalu tahu, mungkin aku akan asal berjalan kaki nanti pada akhirnya juga sampai di suatu kota." jawab Leo.
"Tidak. Tak akan sampai, apa kau lupa selama ini kita tersesat karena kamu seenaknya berjalan ke sana ke sini?"
Kali ini Lily memusatkan amarahnya ke pria yang duduk di sebelahnya. Tapi pria itu terlalu bodoh, tidak lebih tepatnya terlalu polos. Jadi dia menjawab,
"Apa yang kau katakan?" Dengan wajah datar.
"Oh, aku lupa. kamu sekarang lupa ingatan." Lily menghela nafas dan menepuk kepalanya.
"Hahaha, jawaban senior banget." Sambil tertawa dan memukul - mukul meja Razor menjawab.
"Apanya yang lucu? Aku selama ini kesusahan lo!"
Mendengar perkataan Lily bukanya meminta maaf, Razor justru tertawa keras. Di tengah keramaian itu Leonardo menatap ke Lily dan bertanya,
"Bagaimana mana denganmu, Lily? Kalau kamu ingin pergi sesuatu aku dengan senang hati ikut."
"Ha?"
Aku ingin mengajakmu date. Tapi tak mungkin aku menjawab seperti itu..
Apa aku harus menjawab seperti ini 'kemana pun aku tak masalah asal bersamamu..
__ADS_1
Memikirkan itu saja tanpa sadar pipi Lily merona dia ingin sekali mengatakan salah satu dari itu, tapi dia bisa mati karena malu.
"Lily? Jadi kamu mau ke mana?"
Leonardo berkata, membuat lamunan gadis itu menghilang dan dia kembali menatap mata putih milik Leo dengan wajah yang memerah.
"Ak.. aku pergi kemana pun boleh, asal denganmu."
Dia berhasil mengatakan apa yang dia mau, tapi sayangnya suara itu terlalu lirih, Leonardo tak dapat mendengar dengan jelas.
Leo memiringkan kepala sebagai tanda tanya.
"Ke mana?"
Merasa terus digoda pipi Lily kembali memerah bahkan hingga seluruh wajahnya kini telah menjadi merah padam.
"Loh, Lily kamu demam? Mukamu merah lo."
"B.. Bukan dasar bodoh! Pergi kemanapun terserah kamu saja!" Lily menaikan nada sebagai cara menghindari rasa malu.
Melihat kelakuan kedua orang itu membuat Razor tersenyum.
Dasar tsundere..
Sowsh
Angin berhempus, sebuah burung terbang menuju jendela. Burung itu adalah burung pembawa pesan.
Razor mengetahui burung itu dan berjalan ke arah jendela.
"Apa itu?" tanya Lily mendekati Razor.
"Itu mungkin semacam surat?" Leonardo berjalan mendekat, dia kini berdiri di samping Lily.
Namun Razor masih tak merespon, dia masih sibuk untuk membaca surat itu. Setelah selesai membaca dia tersenyum.
"Jadi apa isi surat itu?" tanya Lily yang kedua kalinya.
"Hah, ini tak terlalu sepesial, kita disuruh kembali ke kerajaan Noa. Ini perintah Gray."
Kedua orang itu terdiam, entah harus berkata apa. Karena itu terlalu mendadak, tapi mau bagaimana lagi. Mereka memutuskan untuk kembali ke kerajaan untuk sementara waktu.
Lily, Razor, Leonardo berkemas-kemas mengambil barang yang penting di penginapan dan pergi dari kota OZ. Ditengah jalan mereka dapat melihat kota OZ yang kembali menjadi manusiawi, saat ini tak ada lagi penjualan budak dan semua terlihat ceria walaupun rumah telah rusak semua. Tapi melihat kecerian itu membuat mereka semua tersenyum bahagia.
"Yo, para Eraser."
Sebuah suara bergema, ini adalah suara Allan.
Mereka bertiga menghentikan langkah dan membalikkan badan untuk menatap Allan.
"Ada apa?" Razor bertanya.
"Aku hanya ingin menyampaikan kalimat ini.."
Allan menghirup nafas, dia membungkukkan badan 90 derajat ke arah 3 orang tersebut.
""Terima kasih!""
__ADS_1
Leonardo dan yang lain tersenyum mendengar kalimat itu, mereka berkata tak apa-apa dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka memesan kereta kuda yang cukup untuk tiga orang dan tertidur, tidak yang tertidur hanya Razor. Sedangkan Lily dan Leonardo yang duduk bersebelahan masih membuka mata untuk menatap perjalanan.
Tak ada percakapan untuk couple bodoh itu, mereka hanya menatap ke arah perjalanan yang mengelilingi gunung, rerumputan dan lain-lain.
Hingga akhirnya Leonardo memulai percakapan.
"Lily, kenapa kamu mengikutiku? Apa dulunya aku pernah melakukan sesuatu untukmu?"
Mendengar pertanyaan mendadak membuat gadis pemalu seperti Lily terkejut, pipinya menjadi merona. Dia terpaksa harus menjawab dengan jujur
"Ya, kamu mungkin lupa. Tapi dulu kamu menyelamatkanku dari penjualan budak lo. Kalau kamu saat itu tak menyelamatkanku maka pasti sekarang aku sudah menjadi budak dan tak bisa bertemu denganmu."
"Ini mungkin terdengar mendadak, tapi terima kasih karena menyelamatkanku pada saat itu.. Saat itu kamu terlihat keren, Leo."
Setelah berhasil mengatakan itu tentu saja hati Lily berdetak sangat keras, dia sekali lagi merona.
"hahaha, sama - sama. Aku tak tahu kenapa dulu aku menyelamatkanmu, tapi pasti karena kamu terlalu imut jadi aku terpaksa melakukan itu."
Mendengar dirinya disebut imut oleh Leo memberikan dia serangan yang sangat berdamage, Lily sekarang bisa mati bahagia, bahkan dia dengan cepat tumbang di tubuh Leonardo.
"Woi, Lily. Apa kamu baik-baik saja?"
Leo menopang tubuh Lily. Tapi Lily dengan cepat mendorongnya karena terlalu malu.
"Aku baik - baik saja, bodoh! itu karena kamu mendadak bilang imut."
Mendengar ucapan itu Leonardo hanya bisa terdiam lalu dia kembali bertanya,
"Aku tahu aku pernah menyelamatkanmu, tapi kamu tak perlu repot-repot ikut aku kan?"
Jawabannya simpel itu karena aku suka kamu..
Ingin mengatakan itu, tapi aku tak mungkin bisa berkata itu..
Di tengah kebingungan akhirnya Lily teringat sesuatu yang lain. Lily ikut Leonardo bukan hanya cinta, tapi juga ada alasan lain.
"Aku ingin mencari kakakku."
"Ini sudah sangat lama, namun kakakku telah pergi meninggalkanku saat aku berumur 7 tahun."
"Awalnya aku terlalu peduli, tapi karena kebakaran terjadi. Aku memutuskan untuk mencari kakakku, karena dialah satu-satunya keluarga yang kupunya. aku berharap bahwa dia masih hidup."
"Karena itulah aku ikut kamu dan masuk organisasi Eraser, tapi walaupun sudah beberapa tahun. Aku tak menemukan kakak. Mungkin dia sudah mati."
Tahu bahwa Lily sedang sedih Leonardo mengelus kepalanya dengan hangat.
"Tidak jangan berpikir negatif. Setelah ini mari cari kakakmu dan ingatanku secara bersamaan."
Sangat hangat..
sudah kuduga aku memang menyukai orang ini..
"Ya," Lily menjawab perkataan Leonardo dengan senyuman manis.
Setelah mereka kembali menatap ke pemandangan dan berbicara ringan, terkadang tertawa bersama. Hingga waktu tak terasa bahwa mereka telah sampai di Kerajaan Noa.
__ADS_1