The Repeater

The Repeater
38. Misi baru


__ADS_3

Setelah beberapa saat akhirnya Leonardo, Lily, dan Razor sampai di tempat tujuan yaitu kerajaan Noa. Di sana sangat ramai oleh penduduk. Bangunan tua berwarna coklat yang berdiri kokoh. Perumahan saling berjejeran. Pedagang yang saling menjual sesuatu, bahkan beberapa penduduk menaiki kuda hanya untuk berpergian, dan di paling tengah keramaian ini, dengan jarak sangat jauh terdapat istana hitam yang sangat besar. Semua yang berada di sini dilindungi oleh dinding perbatasan putih yang berbentuk lingkaran, dinding itu sangat besar. Hampir tidak mungkin bisa diterobos oleh seseorang.


"Hah, jujur saja aku malas ke tempat ini." Razor menghela nafas dan mulai berjalan.


Lily dan Leonardo mengikuti Razor dari belakang tanpa memulai percakapan, melewati berbagai kios gang dan perumahan. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di istana, tempat dimana Gray seseorang yang memanggil mereka berada.


Tanpa basa-basi mereka bertiga memasuki istana hitam tersebut, berjalan melewati tangga besar untuk menuju ruangan Gray dan sedikit berbincang-bincang.


Saat mereka sedang berjalan Leonardo tanpa sengaja menatap foto yang menarik perhatiannya. Itu adalah foto yang sama dengan yang dia lihat saat pertama kali ke sini.


Foto, tidak daripada dibilang foto ini lebih seperti lukisan. Lukisan itu menampilkan seorang perempuan berambut pirang dengan gaun merah yang sedang duduk di kursi dan tersenyum.


Leonardo berjalan dan menatap lukisan itu, setelah berpergian ke kota OZ dia akhirnya tahu siapa identitas dari foto tersebut. Ya, dia adalah ibunya. Dia meraba lukisan itu.


"Kenapa lukisan ibu ada di sini?"


Kedua orang yang berjalan dengannya tampak bingung dan saling bertatapan untuk beberapa detik, kemudian berjalan mendekati Leonardo.


"Dia ibumu?" tanya Lily mendekati Leonardo.


Leonardo menganggukkan kepala sebagai jawaban iya.


"Sebenarnya aku tak terlalu yakin. Tapi tidak salah lagi ibuku memiliki rambut pirang, setidaknya itu yang aku lihat di ingatanku."


"Senior, asal kamu tahu itu adalah lukisan yang kamu bawa ke sini."


Leonardo membuka mata lebar, dia tentu saja tak ingat akan peristiwa itu. Jadi Leo hanya bisa menjawab,


"Jadi begitu ya."


"Dari pada memikirkan ini lebih baik ayo segera ke ruangan Gray."


Leonardo membalikkan badan dan berjalan menjauhi dari lukisan itu. Dia serasa sesak jika mengingat kejadian kebakaran karena itu dia memutuskan untuk tak menatap lukisan ibunya. Langkah kaki itu diikuti oleh Lily dan Razor.


Beberapa saat kemudian akhirnya mereka bertiga sampai di ruangan milik Gray, seperti biasa dia menggunakan fashion yang cukup aneh, dia menggunakan kemeja ungu dan menggunakan jas putih dengan lengan panjang hingga menutupi kedua lengannya. Saat ini Gray sedang menikmati teh hangat.


"Akhirnya kalian datang."


Gray menyambut kedatangan mereka, dia meletakkan secangkir teh di mejanya.


"Jadi, kenapa kamu memanggil kami?" tanya Razor.


"Ini tentang kota OZ yang kalian kunjungi kemarin."


Lily, Leonardo, dan Razor kembali teringat akan kekalahannya beberapa hari yang lalu. Mereka semua menundukkan kepala dan mengigit bibirnya.


Mereka semua masih tak bisa melupakan kejadian kematian Monika.

__ADS_1


"Aku tahu, kami semua kalah. Si Edward kabur!" Razor tampak marah, dia menaikan nada bicaranya.


"Tidak, itu tak bisa dibilang sebagai kekalahan.."


Gray berhenti berbicara, dia kembali meminum teh miliknya dengan tenang dan kemudian menghabiskannya.


"Edward memang kabur, tapi berkat itu para warga OZ bisa kembali menjadi normal. Mereka tak akan hidup di kengkangan Edward."


"Bisa dibilang ini adalah kemenangan kita."


Sembari tersenyum Gray mengatakan hal itu. Entah dia berusaha menghibur mereka? Atau dia hanya mengatakan hal yang dia katakan?


Tapi mendengar bahwa mereka menang tak membuat ketiga orang itu bahagia. Mereka malah menjadi tersindir.


Terutama Lily, dia tampak tersindir dan marah. Lily berjalan mendekati Gray, memukul meja di depan dan menatap Gray dengan tajam.


"Menang? Kita bahkan tak bisa menyelamatkan satu gadis yang tak bersalah lo! Bagaimana kau bisa sebut itu kemenangan?"


"Itu benar! Kita gagal menyelamatkan seorang gadis kecil dan kamu bilang itu sebuah kemenangan? Apa yang ada di kepalamu?!"


Kali ini Razor tampak murka, dia menghunuskan tangan di udara.


Menerima perkataan dari bawahannya Gray tak marah dan dia malah tersenyum kecut.


"Tenanglah kalian!"


"Kenapa kalian harus memperhatikan satu nyawa gadis? Yang kalian lakukan kemarin hampir menyebabkan perang saudara, tapi untung saja para revolusioner tak ikut bertarung. Kalau hanya demi kedamaian bukannya nyawa satu gadis adalah hal murah?"


Suara tenang, tapi tegas dan sedikit menakutkan. Itulah aura yang dimiliki oleh Gray. Razor dan Lily ingin menyangkal apa yang dia katakan, namun Gray sekarang tampak menakutkan, dia memang tersenyum, namun senyuman itu tak terlihat ramah.


"Yang kamu katakan mungkin benar.."


Ditengah ketenangan ini Leo memberanikan diri, tidak. Kalimat memberanikan diri kurang tepat, Leonardo sendiri tak terlihat takut sama sekali.


Lily menatap tajam Leonardo, dia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Leonardo. Begitu juga dengan Razor.


Sedangkan Gray tersenyum, "Sesuai dugaan kamu juga-"


"Tapi, jika kita bisa melindungi Monika kenapa kita harus mengorbankannya?"


Senyuman Gray memudar, dia menatap serius ke arah Leonardo.


"... Seharusnya saat itu aku bisa menyelamatkannya. Jika saja saat itu aku menyadari keberadaan Edward, hal seperti ini tak akan terjadi."


Sembari mengatakan hal itu Leonardo mencengkram tangannya, dia melampiaskan emosi dengan Kepalan tangan.


Mendengar jawaban dari Leonardo membuat Gray kecewa, dia menghela nafas. "Sangat naif."

__ADS_1


"Kalian berhasil membuat kota OZ menjadi ceria, jadi di kota itu untuk sementara waktu tak akan ada rukh lagi, jadi lupakan yang tadi dan mari ke pembicaraan seriusnya."


Gray menarik nafas dia hendak menuju pembicaraan serius.


"Misi kalian selanjutnya ada pergi ke kerajaan Magnostadt!"


Razor entah kenapa tampak terkejut. "Magnostad?"


"Ya, kerajaan para penyihir."


"Maaf, tapi aku tak punya waktu untuk mengikuti misimu. Aku ingin mengingat segalanya secepat mungkin jadi aku akan pergi.."


Leonardo hendak berjalan menjauh, tapi terhenti karena ucapan Gray.


"Kalau ingatanmu, aku yakin di magnostad juga berpotensi muncul!"


Leo membalikkan badan. "Dari mana kamu tahu itu?"


"Ya, setidaknya ikut arahanku akan lebih baik daripada berjalan tanpa arah kan?" Gray menyindir.


"...."


"Apa kamu serius ingin pergi setelah mendengar kejahatan di Kerajaan itu?"


"Kejahatan? Apa maksudmu."


"Magnostad adalah kerajaan bagi para penyihir dan di sana ada dikriminalisasi kejam bagi para non penyihir!"


"Para penyihir melakukan hal kejam bagi manusia non penyihir. Mereka memperlakukan sebagian manusia bagaikan sampah! Apakah anda yakin pergi setelah mendengar hal ini?"


Gray tahu bahwa Leonardo adalah orang yang baik. Jadi dia memanfaatkan kebaikan itu dengan perkataannya.


Dan Leonardo terpancing, dia kembali berjalan mendekati Gray.


"Baiklah aku akan melakukan sesuatu, tapi apa yang harus kami lakukan?"


"Kalian bertiga pergilah ke akademi sihir di sana. Berpura-puralah menjadi siswa di sana dan cari tahu informasi sebanyak-banyaknya tentang kepala sekolah, Morgan." jelas Gray.


Lily, Razor dan Leonardo tampak terkejut.


"" Kenapa kita harus mencari informasi tentang kepala sekolah?"" Mereka bertanya secara bersamaan.


"Itu karena kepala sekolah Morgan adalah raja di sana. Dia adalah penyihir jenius, keberadaannya lah yang membuat sistem dekriminalisasi bagi non penyihir."


"Aku ingin kalian menggali informasi tentang pak tua itu dan menghentikan sistem busuk itu karena itulah menjadi siswa akademi adalah pilihan terbaik."


"Itu adalah misi baru kalian."

__ADS_1


__ADS_2