The Repeater

The Repeater
26. Raphael vs Eliot


__ADS_3

"Aku hanya pria yang ingin melindungi wanita hanya itu."


Eliot tak bisa menahan diri untuk tertawa. Lelaki ini tak habis pikir dengan perkataan Raphael yang menurutnya lucu.


"Melindungi ya? Benar-benar Rukh yang unik.. Tapi, lebih baik jangan meremehkanku!"


Eliot merentangkan tangan ke depan, di udara tercipta tombak besar dengan aura kegelapan, tanpa menunggu waktu lama Eliot melepaskan tombak kegelapan itu untuk menuju ke arah Raphael.


"Matilah!"


Nada Eliot meninggi dia berharap tombak yang melayang itu dapat mengenai tubuh Raphael.


* Wosh!


Tombak itu bergerak amat cepat, bahkan tanah pun ikut terkena tekanan. Raphael berusaha melompat ke kanan untuk menghindari tombak besar itu.


Dia memang berhasil menghindari, tapi sayangnya bahu bagian kirinya sedikit terkena tombak itu. Darah terus mengalir di bahu kiri, tak mau berhenti.


"Cih!"


Raphael berdesis kesal dia memegang bahu kirinya dengan harapan bisa menghentikan pendarahan. Namun sepertinya percuma.


"Masih ada satu lagi."


* Wosh!


Satu tombak besar sekali lagi menyerang, kali ini berasal dari langit menuju ke bawah. Raphael kali ini tak bisa menghindari sebaik yang tadi. Pundak belakangnya tergores dengan sangat parah dan dia terhempas.


Tombak sampai sekarang masih menancap di tanah.


"Arkh." Raphael menjerit kesakitan.


"Hahaha menyedihkan."


Eliot menciptakan tombak, pedang, serta pisau di udara secara bersamaan. Jumlahnya sangat banyak, pisau kegelapan berjumlah 10, tombak berisi 3, sedangkan pedang berjumlah 5. Semua itu berada di udara dan akan dilemparkan lagi oleh Eliot.


"Lihatlah makhluk lemah! Senjataku masih sangat banyak di udara kalau ku lempar semua secara bersamaan ke arahmu, pasti kamu akan mati, tapi kalau seperti itu tak akan asik. Jadi akan ku lempar satu demi satu."


Eliot melempar dua pedang ke arah Raphael. Dengan tubuh yang sempoyongan dia berhasil menghindari walaupun kedua bahunya tergores dengan parah.


"Usaha yang bagus, tapi bagaimana dengan yang dua ini!?"


* Wosh


Dua tombak kegelapan jatuh dari langit, untung saja kedua tombak itu meleset dan hanya mengenai pundak Raphael sedikit, kalau tidak dia pasti sudah mati.


Tak berhenti di tombak. Pedang, pisau semua dilempar dengan cepat, semua serangan itu berhasil dihindari walaupun bahu maupun pundak Raphael terkena goresan dan sudah penuh luka.


"Cih! Dasar kecoa."


Eliot merentangkan tangan ke depan dia mencoba melemparkan satu senjata kegelapan lagi. Tapi dia sadar bahwa semua senjata telah ia lempar. Dia spontan terkejut untuk beberapa detik. Waktu beberapa detik itu tak disiakan oleh Raphael.


"Haa!"


Raphael berteriak dia berlari cepat. Tangan kanannya mengumpulkan cahaya orange. Dia mengayunkan satu pukulan ke arah Eliot.


Dia mencoba memukul ulu hati pria itu, tapi Eliot menghindarinya. Raphael meninju dengan tangan kanannya yang hanya menyerempet pipi Eliot.


"Hoh, itu lebih cepat dari serangan sebelumnya."

__ADS_1


Eliot sedikit memuji serangan Raphael yang berhasil menyerempet pipi kirinya.


Raphael yang melihat tinjunya berhasil mengenai Eliot, langsung melanjutkan serangannya. Dia menendang, tapi ditangkis oleh tangan Eliot. Raphael memutar tubuhnya dan melanjutkan dengan tendangan memutar. Tendangan itu juga berhasil ditangkis oleh Eliot. Tapi Raphael sudah mengumpulakan cahaya ditangan kanannya.


Boom!


Lubang yang cukup luas tercipta karena tinju Raphael menghantam dinding. dinding yang seharusnya masih cukup kokoh itu menjadi kawah yang seukuran tubuh Raphael. Sayangnya serangan itu tidak mengenai Eliot dan hanya merusak dinding saja. Eliot cukup baik dalam menghindari serangan Raphael tadi.


"Lumayan. Jika aku terkena pukulan itu mungkin bisa gawat. Tapi percuma--"


Pukulan dengan cahaya melayang ke pipi Eliot. Eliot terhempas sedikit dan dia terlihat kesakitan. Dia menyeka bekas luka itu, dan menatap tajam Raphael.


"Dasar sampah!"


Satu tombak besar tercipta di udara, Eliot melayangkan tombak seperti tadi. Tombak itu bergerak lebih cepat dari pada yang tadi.


Namun karena emosi, atau alsan lain Raphael memutuskan untuk menerjang tombak itu dengan berlari cepat, entah apa yang dipikirkan orang ini, dia malah berlari mendekati tombak besar itu.


'Apa dia gila? Kenapa malah mendekat? Yah, aku tak peduli sepertinya dia ingin cepat mati.' senyum mengejek tergambar di wajah Eliot. Dia menganggap bahwa Raphael orang yang bodoh.


Tapi sebenarnya Raphael memiliki rencana. Dia mengepalkan tangan kanan dan mengumpulkan cahaya seperti sebelumnya. Dia melancarkan pukulan ke arah tombak yang melesat itu.


Dan sungguh luar bisa tombak kegelapan yang besar itu lenyap seketika, bahkan tanpa berwujud sama sekali. Eliot melebarkan mata dia tak percaya dengan apa yang terjadi. Kegelapannya dengan mudah hilang.


"Sudah kuduga akan hancur. Sepertinya elemen kegelapan memang lemah dengan cahaya."


'Tidak mungkin dia menghancurkan tombak kegelapan dengan sangat mudah. Jangan bilang kalau dia pengguna sihir cahaya?.. Sial! sebenarnya siapa dia? Bagaimana bisa Rukh mempunyai sihir sekuat ini.'


Raphael tersenyum. "Sepertinya kamu terkejut tuan. Tapi aku pun juga sama. Aku tak tahu apa yang terjadi denganku. Beberapa hari yang lalu aku sempat mati sebagai Rukh, tapi aku masih berjuang hidup demi nonaku yang imut itu. Setelah itu aku entah kenapa bisa menggunakan sihir cahaya."


"Jadi kenapa!? Jangan sombong dulu."


"Sial!" Makin marah. Eliot melancarkan pukulan yang dilapisi oleh kegelapan dengan sekuat tenaga.


Sayangnya pukulan itu dihentikan dengan sangat mudah. Raphael menahan tangan Eliot dengan sangat erat.


'Gawat! Aku tak bisa bergerak.' Eliot mulai panik. tangannya telah dipegang erat oleh Raphael membuat dia tak bisa bergerak.


Raphael tersenyum sekali lagi. Dia memukul wajah Eliot berkali-kali, tapi dia tak menggunakan elemen cahaya sama sekali.


Dia sengaja melakukannya dengan tangan kosong. Semua agar dia dapat merasakan rasa sakit yang sama dengan Lily. Dia sangat marah ketika melihat nonanya disakiti, apalagi hampir dibunuh. Mengingat saja sudah membuat emosinya ingin meledak


"Ini adalah balasan untuk nona Lily!!"


"INI UNTUK WAJAHNYA YANG BABAK BELUR!" Pukulan pertama.


"INI UNTUK TANGISANNYA.!" Pukulan kedua.


"INI UNTUK RASA SAKIT YANG DIALAMINYA!" Pukulan ketiga.


"INI UNTUK RASA TAKUT YANG DIA RASAKAN!" Pukulan keempat.


"INI UNTUK JERITAN KESAKITANNYA!" Pukulan kelima.


Darah bercucuran di setiap pukulan, topeng pria itu sudah hancur sedari tadi. Muka dari Eliot sudah bonyok dan hampir tak berbentuk, tapi emosi Raphael masih belum reda, dia terus melancarkan pukulan.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri ini dengan satu pukulan terakhir. Di melapisi tangan kanannya dengan sekumpulan cahaya dan melancarkan pukulan dengan sangat keras.


"DAN INI YANG TERAKHIR.. INI UNTUK KAMU YANG BERUSAHA MEMBUNUH DIA!"

__ADS_1


* Brak!


Tubuh Eliot terus melayang bahkan hingga dia terus menghancurkan dinding tebing setiap terhempas.


Tebing satu hancur.


Tebing kedua hancur.


Dan terakhir tebing ke tiga hancur.


Eliot yang terus terhempas sekarang telah menutup matanya. Tubuh dia hanya ada rasa sakit untuk bernafas pun tak kuat. Matanya kini telah menutup sempurna.


"Rasakan itu, katakan kepada bos kalian! Jika dia berani menyentuh gadis ini sekali saja maka aku akan membunuhnya."


Raphael menghela nafas lega, dia berjalan ke arah Lily dan ingin mengendongnya ke tempat aman, tapi saat dia berjalan dia malah terjatuh dan duduk di tanah.


Pandangannya pun makin pudar. 'Sial! Aku harus lakukan sesuatu atau nona Lily akan..'


"Lihat tuan Eliot dikalahkan!"


Semua orang kembali dan tampak terkejut, namun itu hanya beberapa detik. Mereka semua mulai menyerang kembali Lily dan Monika.


"Mumpung sudah tertidur mari kita bunuh sekarang."


"Tidak.. Mungkin terlalu cepat.. Maksudku kita bisa bermain dulu kan?"


"Itu ide bagus. hahaha." Semua bawahan Edward telah mengepung mereka dan mulai berjalan mendekati Lily maupun Monika.


Mereka membawa senjata dan pastinya ingin melakukan sesuatu yang tercela. Raphael ingin melakukan sesuatu namun, dia sudah tak memiliki tenaga.


Pandangannya makin kabur. 'Sial! Jangan sentuh nona dengan tangan kotor seperti itu.. Kubunuh.. Kalian pasti akan kubunuh.'


Berusaha merangkak tubuhnya tergeletak Raphael masih ingin menyelematkan Lily.


Salah satu pria telah menghunuskan pedang dia bersiap membunuh kedua orang itu.


'Berhenti!'


Tepat saat pedang itu hendak sampai ke tubuh Lily, seseorang dengan cepat mengalahkan pria yang ingin membunuh Lily. Bukan hanya satu jumlah orang yang membantu adalah dua orang.


Dua orang itu menggunakan jubah hitam jadi Raphael tak tahu pasti. Tapi apapun itu mereka sangat membantu.


Dengan teknik berpedang dan sihir api serta angin mereka berdua mengalahkan semua bawahan Edward tanpa terisasa. Mereka bertarung dengan sangat indah kombinasi sihir api dan angin dari kedua pria ini sangat hebat.


Dalam kurung waktu 1 menit semua orang telah terkapar lemah. Yang tersisa hanya dua orang berjubah hitam itu.


"Siapa kalian?"


Kedua pria itu tersenyum dan melepaskan jubah hitam.


"Kami adalah Revolusioner. aku Jhon dan Allan Akan membantu pertarungan ini."


"Revolusioner?" Raphael makin kebingungan. Tapi dia tak peduli kenyataan bahwa dia terselamatkan oleh dua orang itu.


"Terima kasih. Sekarang bisakah kalian menggendong kedua gadis itu? Aku sudah... tak punya tenaga."


"Tentu saja." Jawab mereka kompak.


Raphael tersenyum dia menutup mata perlahan dan tertidur lemas, dia pingsan untuk beberapa lama.

__ADS_1


__ADS_2