The Repeater

The Repeater
10. Peta


__ADS_3

"Oh, ya. Aku punya informasi yang menarik, mungkin kamu akan tertarik." Ucap Razor membuat lamunan Leonardo lenyap dan menghentikan aktivitas menyeduh tehnya, dia menatap ke arah Razor.


"Informasi apa?"


"Kau tahu tentang Edward kan? Alasan kenapa aku ada di sini adalah untuk mengurus kejahatannya, apakah kau ingin membantu?"


Mata putih Leonardo yang sebelumnya tenang berubah menjadi tajam ketika mendengar nama Edward disebut, dia mengepal kedua tangannya ke arah kasur. Tanpa menjawab pertanyaan, Razor tahu apa jawaban dari pria itu.


Razor tersenyum kecil. "Jadi begitu, sudah kuduga meskipun kamu melupakan ingatan, Leonardo tetap Leonardo ya."


Razor membuka mulut, dia menjelaskan segala kejahatan yang telah dilakukan oleh Edward, mulai dari memperjualbelikan manusia, pembunuhan, menipu negara, semua yang dia lakukan benar-benar bagaikan iblis yang berkulit manusia. Dan satu hal lagi yang membuat Leonardo makin emosi, dia mendengar fakta bahwa Edward pernah membakar kota ini dan merubahnya menjadi kota untuk perdagangan budak.


Selain itu mendengar kata kebakaran, membuat ingatan buruk semalam membanjirnya. Dia kembali teringat dengan apa yang terjadi akan masa lalunya, kota yang terbakar. Para penduduk yang berlari ketakutan, dan ibunya meninggal di situasi itu. Ingatan itu berputar bagaikan sebuah film, tapi dia bisa merasakan segala kesedihan di ingatan itu, bahkan seperti baru kemarin mengalami.


'Jadi semua perbuatan tidak manusiawi itu adalah ulah Edward.'


Leonardo makin geram, dia tidak ingin banyak membuang waktu dan segera mungkin memukul Edward. Bahkan mata Putih yang biasa terlihat tenang dan dingin bagaikan salju berjatuhan sekarang telah berubah penuh emosi, tatapannya bagaikan pembunuh kelas atas yang siap memburu target. Situasi yang sebelumnya tenang berubah menjadi mencengkram karena aura Leonardo.


Razor menyadari tatapan itu, bahkan bulu kuduknya sempat berdiri, tidak menyangka bahwa pria itu bisa mengeluarkan ekspresi dan aura seperti ini. Dia membuka mulut berusaha untuk memenangkan Leonardo.


Tapi itu hanya sekedar niat jujur saja dia kebingungan dalam menyusun kata-kata. Ia terus berpikir apa yang membuatnya marah sebesar itu, hingga akhirnya dia menemukan jawaban itu.


'Jangan bilang kalau kamu sudah mengingat kejadian kebakaran itu?' Pikirnya.


Razor merasa kasihan kepadanya, sungguh menyedihkan dari banyaknya ingatan dia justru mengingat hal yang seharusnya tidak perlu diingat. Wajar saja Leonardo emosi, karena pelaku dari insiden itu tepat berada di depannya.


'Tapi tunggu, seharusnya ketua juga tahu tentang kebakaran itu, tapi kenapa dia malah menyuruh Lily dan Leonardo, dua anak korban dari kebakaran menuju ke tempat ini. Kalau begini dia seolah-olah ingin menghancurkan mereka secara mental.'


Razor berpikir keras sekali lagi, tapi masih belum menemukan jawabannya. Jujur saja dia bahkan sering meragukan ketua yang bernama Gray itu, cara berpakaiannya aneh. Hobbynya aneh. Cara bertarung pun tidak normal, suka cemilan, dan yang paling menakutkan adalah dia berlaku seolah-olah tahu segalanya. Bahkan mata merah dari Gray terkadang mengintimidasi.


"Apakah kau tahu di mana Edward sekarang?" Leonardo menghela nafas, dengan wajah yang telah tenang dia menatap Razor.


Meskipun terlihat tenang, tapi Razor tidak bodoh dia sangat yakin bahwa Leonardo hanya memalsukan ekspresinya, akan sangat bahaya bila dia mengetahui lokasi Edward, karena Leonardo pasti menerobos ke situ tidak peduli dengan tubuh yang terluka parah. Tentu saja Razor tidak membiarkan hal itu, dia memutuskan untuk berbohong.


"Untuk sekarang kami belum menemukan keberadaannya." Dia berbohong sebenarnya dia memiliki peta yang menunjukkan lokasi persembunyian Edward, tapi dia tidak mau memberikannya.


"Jadi begitu..." Leonardo merebahkan dirinya, dia menyelimuti tubuh dengan sarung tebal berwarna putih. Dia membalikkan badan ke kiri menatap ke arah jendela dan sedikit demi sedikit menutup matanya.

__ADS_1


Razor menghela nafas lega, setidaknya dia bisa istirahat dan sudah lebih tenang karena luka yang Leonardo miliki sangat parah, bergerak sedikit saja dipastikan bahwa luka itu akan terbuka. Namun Razor tidak terlalu yakin jika Leonardo benar-benar tidur atau hanya berpura-pura, jadi dia memutuskan untuk menunggu lebih lama.


Suasana telah berubah, matahari yang sebelumnya terang sekarang telah memudar dan terbenam di arah barat, langit telah berubah menjadi oranye, burung-burung saling berterbangan melewati jendela di ruangan ini.


"Sepertinya aku terlalu berpikir berlebihan." Ucap Razor kepada dirinya sendiri. Ia tersenyum lega mendapatkan Leonardo tertidur pulas. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya.


Dia pergi berjalan di kota yang mulai sepi, para pedagang dan warga-warga berjalan menuju rumah masing-masing, sedangkan para anak kecil berlari-lari.


"Benar-benar terlihat damai. Aku tidak menyangka bahwa kota ini memiliki sisi gelap yang seperti itu."


Dia melanjutkan perjalanannya dan pergi ke suatu toko kecil.


Razor pergi pada sore hari karena ingin membeli sesuatu untuk dimakan, beberapa obat, dan perban yang bisa digunakan untuk Leonardo. Obat yang ia cari bernama Geneser, obat yang manjur untuk menangani luka luar dan cukup populer.


Setelah kakinya memasuki toko, dia disambut hangat oleh para pelayanan.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayanan lelaki yang terlihat muda tersenyum ke arah Razor.


"Saya mencari Geneser, perban, dan makan. Apakah anda bisa memberi tahu tempatnya berada?"


Tanpa menunggu waktu lama, dia membeli semua barang yang dibutuhkan kemudian memasukkan semua barang ke dalam kantung plastik yang cukup besar.


Langit semakin menggelap, para penduduk telah kembali, tempat yang biasanya diisi oleh para penduduk kini telah menghilang, suasana telah menjadi sepi serta dingin. Di situasi ini, Razor berjalan dengan santai, dia terus melangkah agar bisa kembali ke penginapan secepat mungkin. Plastik putih yang cukup besar, ia angkat menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya dimasukkan ke dalam kantung celana.


Razor terus melangkah dengan pandangan kosong dan menatap ke bawah, pikirannya penuh akan Leonardo. Dia berharap pria itu tidak memaksakan diri dan melakukan hal bodoh. Semoga saja dia masih tertidur lemah di kasur.


Setelah beberapa saat akhirnya dia sampai di penginapan, dia menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Saat dia membuka pintu, Razor terkejut karena mendapatkan kamar yang berantakan dan kosong.


'Leonardo tidak ada di kamar, yang artinya dia pergi keluar di suatu tempat, tapi di mana dia pergi?'


'Tunggu dulu! Jangan bilang bahwa dia...'


Razor berlari menuju kamar itu, dia membungkukkan badan mencari sesuatu di lantai tersebut. Matanya menoleh ke kanan maupun ke kiri, tapi dia tidak berhasil mencari hal yang ia cari. Dia tidak putus asa dan menatapnya lebih jeli. Hingga akhirnya dia menatap ke arah lantai keramik yang memiliki celah di sudut-sudutnya.


Razor mengetuk lantai itu sebanyak tiga kali, entah apa yang dia lakukan. Tapi, setelah dia mengetuk lantai. Dengan cepat lantai itu terbuka lebar dan menampilkan tangga yang menunju ke ruang bawah tanah.


Ruang itu diciptakan oleh Razor sendiri menggunakan kekuatan sihir tanahnya. Dia menciptakan ruangan itu khusus untuk menyimpan berbagai dokumen penting seperti laporan misi, daftar buronan, dan yang paling penting untuk sekarang adalah peta petunjuk lokasi Edward, ada di sana.

__ADS_1


Pasti Leonardo pergi ke bawah tanah dan mengambil peta itu, entah dari mana dia tahu akan ruang rahasia ini. Bahkan pemilik penginapan pun tidak menyadari akan ruangan ini. Razor pun tidak pernah menyinggung tentang ruangan bawah tanah. Sebenarnya dari mana Leonardo tahu akan hal ini?


Karena merasa khawatir dengan dugaannya. Razor memutuskan untuk bergegas pergi ke arah ruang bawah tanah itu. Dia terus melewati lorong yang pendek dan akhirnya mendapati ruangan kosong.


Ruangan itu hanya memiliki satu meja, dua rak buku, dan beberapa dokumen yang berserakan.


Razor berjalan menuju meja itu, di sana terdapat sebuah Lentara lilin besar yang menyinari ruangan gelap ini. Lilin itu menindih berbagai dokumen yang berserakan di meja. Beberapa dokumen terlihat usang bahkan ada beberapa yang sobek.


Namun Razor tidak mempedulikan dokumen-dokumen itu, lagi pula yang dia cari adalah peta.


"Peta... Peta... Seharusnya di sini... Tapi tidak ada..." Razor terus mencari peta dari tumpukan dokumen itu, tapi hasilnya percuma, dia tidak menemukan petanya.


Helaan nafas keluar dari mulut Razor, dia menatap dokumen itu sekali lagi berharap peta tersebut muncul dan dia hanya kurang teliti dalam mencari, tapi percuma. Sekarang dia sangat yakin bahwa peta itu benar-benar diambil.


"Percuma saja Leonardo telah mengambilnya.... Tapi dari mana dia mengetahui ruangan ini? Dan mengapa dia tahu tentang peta ini?"


Razor menghela nafas dengan kasar sekali lagi. "Sepertinya aku telah dipermainkan. Dia berpura-pura tidur dan menunggu kesempatan untuk mencuri peta ini. Meskipun aku belum tahu dari mana dia mendapatkan informasi, tapi aku yakin seperti itu kronologinya."


"Apapun itu aku harus segera menghentikannya. Jika tidak Leonardo bisa mati, dia masih terlalu cepat untuk berurusan dengan Edward dan lukanya belum sembuh total."


Razor berlari pergi dari ruangan bawah tanah itu. Setelah di kamarnya, Razor merapalkan mantra agar tangga tertutup lagi dan kembali menjadi lantai normal, jika tidak melakukan itu pasti timbul beberapa masalah.


Setelah itu dia berlari keluar, berharap dapat menemukan Leonardo dia terus berlari dengan kencang. Melewati berbagai rumah tangga yang sepi bahkan lampu pun mati. Dia juga melewati gang kecil, tapi percuma dia tidak menemukannya.


"Dia di mana? Oh benar juga. Harusnya aku mengikuti arah peta, pasti Leonardo ada di salah satu rute. Bodohnya aku, karena terlalu panik hal sepele tidak terpikirkan."


Razor membalikkan badan dan berlari melewati rute yang tergambar di peta. Sebelumnya dia telah menghafalkan peta itu, shingga tanpa melihat pun dia sudah bisa pergi dan hafal arahnya.


Dia terus melangkah, di suatu jembatan sungai dia berpapasan dengan pemuda berambut silver, dia menggunakan syal coklat, dan jaket tebal. Dia tidak lain adalah Leonardo.


"Tunggu!" Razor mengeluarkan suara lantangnya. Membuat Leonardo menghentikan langkah dan menatap ke belakang, sumber suara.


Mata putihnya sangat lesuh, seluruh jaketnya penuh darah. Pasti luka telah terbuka, sangat wajar karena dia berjalan cukup jauh.


Tapi yang paling membuat Razor khawatir bukan darah itu melainkan tatapan Leonardo yang seperti baru saja melihat sesuatu yang teragis.


'Sebenarnya apa yang terjadi denganmu saat aku pergi?'

__ADS_1


__ADS_2