
Dua pria itu masih memasang senyuman di wajah masing-masing. Mereka saling bertatapan satu sama lain tanpa mengucapkan satu kata pun, tanpa menghasilkan suara apapun dan hanya mencari celah untuk menyerang.
Mata putih Leonardo terus fokus ke arah pria yang berdiri tepat di depannya, dia bersiaga untuk menahan serangan selanjutnya dari Razor. Dia tak berpaling sama sekali bahkan Leonardo tidak membuang waktu untuk berkedip.
"Aku mulai, Senior!" Razor tersenyum, dia memberikan tanda sebagai mulainya pertandingan. Leonardo makin bersiaga, dia telah siap dari segala serang yang akan datang.
Razor dengan cepat berteleportasi. Tidak kalimat itu kurang tepat, akan lebih tepat jika dikatakan bahwa dia bergerak dengan kecepatan tinggi hingga tidak ada manusia normal yang bisa melihat pergerakannya, oleh karena itu dia terlihat seperti dapat berpindah tempat dengan instan. Namun kenyataannya tidak seperti itu Razor hanya melapisi kakinya dengan sedikit petir dan bergerak secepat mungkin. Bergerak secepat kilat itulah keunggulan pengguna elemen petir.
'Cepat.. Di mana dia? Kanan? Atau jangan-jangan-'
Sebelum selesai berpikir, pukulan yang dilapisi petir telah mendarat di pipi Leonardo, seseorang yang melakukan ini tidak lain adalah Razor. Dia bergerak secepat kilat, berpindah di sisi kanan Leonardo dan dia mendaratkan pukulan keras yang dilapisi oleh petir.
Leonardo sempat menyadari pukulan itu dan mencoba menangkis dengan tangan kanannya, tapi dia terlambat beberapa detik. Saat ini Leonardo telah terkena pukulan telak dan terhempas di kerumunan es. Sama seperti Razor sebelumnya dia tersangkut di es.
"Lumayan.. Jika kamu lebih cepat sekitar satu, atau dua detik mungkin senior bisa menangkis pukulan itu." Yang dikatakan oleh Razor adalah murni rasa kagum.
Sebelumnya bahkan tidak ada orang yang pernah bisa merespon gerakan secepat kilatnya. Meskipun Leonardo tidak bisa menangkis, tapi tak merubah fakta bahwa pria ini bisa merespon kecepatannya.
Tapi, Leonardo beranggapan lain. Dia merasa dirinya menyedihkan. Hampir dikalahkan dua kali oleh orang yang sama, meskipun Leonardo terlihat tenang, tapi dia terasa terhina dengan fakta ini.. Leonardo melepaskan diri dari sekumpulan es. Nafasnya terengah-engah, dia menyeka keringat dan bekas pukulan dari Razor.
Menyadari Leonardo yang terlihat babak belur dan lelah, Razor mengatakan hal ini.
"Mau berhenti? Tubuhmu terlihat babak belur."
Leonardo menolaknya dan Razor tersenyum mendengar jawaban itu, Dia sebenarnya sudah menduga jawaban dari Leonardo, dia sangat kenal dengan pria yang dia idolakan, orang seperti Leonardo tidak akan mau menerima tawaran seperti itu.
Setelah beberapa menit, nafas Leonardo kembali normal, dari tatapannya menggambarkan bahwa dia telah siap bertarung lagi.
"Sekali lagi!"
"Oke.."
Razor sekali lagi berjalan dengan kecepatan petir nya. Dalam waktu sekitar dua detik dia berhasil sampai di belakang tubuh Leonardo. Kali ini Razor melapisi kaki dengan petir dan mencoba menendang Leonardo sekuat mungkin.
Namun rencana itu gagal. Leonardo bisa membaca gerakan cepat itu, dia membalikan badan dan menangkis tendangan Razor membuatnya terhenti seketika.. Leonardo tidak menyiakan celah ini, dia melancarkan satu pukulan ke tubuh Razor.
Saat pukulan itu hendak mengenainya. Razor sekali lagi berpindah tempat dengan kecepatan kilat. Dia sekarang berada di samping kiri Leonardo dan melancarkan tendangan kuatnya.
Leonardo sekali lagi terhempas, tubuhnya tertabrak dengan tembok keras yang berada di sana. Pria ini dapat merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, cairan merah tak mau berhenti keluar dari kepalanya. Sekarang Leonardo menyadari seberapa kuat orang yang sedang dia lawan.
Monika mengeluarkan ekspresi khawatir, air mata sedikit menetes di pipinya. Dia berjalan dan menuju ke tempat Leonardo, tapi Lily menghentikan langkahnya dengan memegang tangan kanan Monika.
"Kenapa kamu menghentikan ku, Lily?" Monika masih berusaha melepaskan genggaman itu. Tapi percuma tenaganya tidak cukup.
Monika menatap Lily dengan wajah sedihnya.
"Apa kamu tak khawatir dengan Leonardo? Dia terlihat babak belur lo." Nada Monika menaik, air mata masih menetes di pipinya.
"Bukan seperti itu.. Aku hanya ingin kamu mempercayai Leonardo."
"Mempercayai?... Jadi maksudmu dia akan menang?" Muka sedih Monika kini berubah menjadi penuh harapan dan bersinar.
"Tidak... Leonardo yang sekarang tidak akan bisa menang."
"Jadi bukankah kita seharusnya menghentikan latihan ini?! Apakah kamu sungguh tak khawatir?"
"Bukan seperti itu.."
Lily menghentikan ucapannya dan menarik nafas terlebih dahulu. Mata birunya mengarah ke Leonardo yang masih bertarung, meskipun dia terhempas dan terkena pukulan, Leonardo tetap berdiri dan menantang Razor lagi.
"Leonardo memang tidak ada kemungkinan untuk menang, tapi dia masih mau berjuang... Mau hilang ingatan, atau tidak, dia tetap sama. Pada akhirnya, dia hanyalah orang yang keras kepala." Lily tersenyum manis saat Menjelaskan.
Bahkan Monika yang sesama perempuan pun dibuat malu dengan senyuman itu. Dari cara Lily menceritakan Leonardo, dia sangat paham bahwa Lily mengenal pria itu dengan baik.
"Asal kamu tahu Leonardo selalu mempercayaiku bahkan meskipun aku hanya orang lemah yang kadang menjadi beban, tapi dia tetap mau percaya denganku.. Jadi aku akan percaya dengan Leonardo, sama seperti dia yang percaya denganku."
"..Lagi pula.." Lily menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Lagi pula apa?"
"Lelaki yang membuatku jatuh cinta tak mungkin kalah semudah itu." Pipi Lily berubah menjadi sangat merah, dia bahkan tersenyum dan sedikit berusaha untuk menutupi menggunakan rambut pirang panjangnya.
Monika terkejut dan tersenyum lebar, dia pun mengalah dan melanjutkan untuk melihat pertarungan Leonardo.
Dia tak merasa heran, wajar saja dia memiliki perasaan terhadap lelaki itu, karena Leonardo pernah menyelamatkan Lily dari takdir buruk. Gadis sewajarnya pasti akan luluh bila diselamatkan.
Kedua gadis kini fokus akan pertempuran yang ada di depan mata, mereka menatapnya dengan serius tanpa berinteraksi dan hanya menatap ke depan.
-Cring!
Terdengar suara gesekan pedang yang nyaring bunyinya, bahkan hingga memunculkan percikan berwarna orange.
Pedang itu adalah milik Leonardo dan Razor yang saling bertemuan. Razor terus bergerak cepat. Berpindah ke kanan, kiri, atau belakang, gerakannya sangat cepat bahkan percikan petir muncul saat dia berpindah tempat.
Di setiap perpindahan, dia tak lupa menyayat pedangnya, namun Leonardo dapat menangkis ayunan itu walaupun dia sangat kesusahan.
Slash!
pedang Razor menyayat pipi, bahu, dan tangan Leonardo. Hingga menciptakan luka. Tapi itu hanya luka goresan kecil. Tak terlalu memberikan dampak yang buruk.
Leonardo berlari mundur, dia berencana menjaga jarak dan meluncurkan sihir es yang besar seperti sebelumnya. Saat ini jaraknya dengan Razor sudah cukup jauh.
Dia mulai memasang Kuda-kudanya dan berkonsentrasi untuk menciptakan sihir es besar seperti tadi.
Namun Razor tak diam, dia sekali lagi berpindah tempat dengan cepat dan mendaratkan pukulan ke arah pipinya. Sihir Leonardo terbatalkan, dia sekarang terkapar di lantai dingin. Nafasnya berantakan, wajahnya penuh luka dan keringat.
"Hah... Hah... Hah..."
"Apakah kau mau istirahat?"
"Tidak... Jangan mengejekku! Aku masih..." Leonardo berusaha berdiri, tapi tenaganya tidak cukup. Dengan terpaksa kakinya terjatuh dan mengenai tanah.
"Lihat! Istirahatlah dulu, Senior!. Tidak ada hal baik jika kamu memaksakan diri."
Leonardo tak menjawab opini Razor, dengan tenaga yang tersisa dia menutup mata dengan terpaksa. Sepertinya dia telah tertidur pulas sehabis bertarung.
Lily dan Monika berlari menghampiri Leonardo yang tertidur pulas itu. Mereka menatap sedih ke Leonardo dan mengubah pandangannya ke arah Razor, tapi mereka berdua menatap Razor dengan tajam.
"Kamu terlalu berlebihan Razor." Lily menaikan nadanya.
"Kamu bisa berkata sesuka hatimu, tapi aku melakukan semua ini untuk senior.. Lily, Monika coba lihat Es yang diciptakan Leonardo beberapa saat yang lalu."
Mereka berdua menatap ke arah es itu dan masih terlihat takjub.
"Ya, hebat! Terus ada apa dengan itu?!" Lily kembali menatap Razor dengan tajam.
"Aku setuju itu memang sihir yang hebat, dengan cepat dia bisa membekukan setengah ruangan. Tapi untuk melakukan sihir itu dia memerlukan waktu yang cukup lama. Sihir itu tidak akan berguna. Makanya aku sekarang lebih fokus ke teknik pedang."
"Tapi, kamu tak perlu sampai menggunakan kecepatan petir kan? Terlalu berlebihan."
"Tidak! Aku tidak setuju. Justru aku ingin senior cepat beradaptasi dan bisa mengeluarkan sihir secepatnya, seperti dirinya yang dulu. Kalau dia yang dulu pasti bisa mengeluarkan sihir es semacam itu dengan lebih cepat."
"Jadi begitu.. Kamu sengaja bergerak secepat mungkin agar melatih Refleks dan kecepatan Leonardo dalam mengeluarkan sihir." Monika ikut nimbrung dalam pembicaraan. Berbeda dengan Lily, gadis ini berkata dengan nada yang rendah.
"Ya, seperti itulah. Setelah latihan bertarung ini selesai. Aku dan Leonardo akan menyerang Edward."
Mata Lily menjadi serius setelah mendengar nama Edward, kenangan buruknya terus terulang di otaknya. Dia berdesis penuh emosi.
"Edward kau bilang?! Jangan bercanda! Kalian tak boleh meremehkan badut itu! Apalagi kamu membawa Leonardo di medan pertarungan, dia lupa ingatan lo. Apa kamu mengirimnya hanya untuk mati!?"
Lily terlihat sangat emosi. Dia sangat paham seberapa menakutkan dan bahayanya Edward. Pria itu adalah iblis yang berkulit manusia.
Menyadari emosi Lily yang meluap, pria ini menghela nafas.
"Jangan salah paham, ini keinginan Leonardo sendiri. Lily, asal kamu tahu sekarang Leonardo sudah ingat akan peristiwa kebakaran itu."
__ADS_1
Mata Lily terbuka lebar, sama seperti Lily, Leonardo adalah korban dari bencana kebakaran beberapa tahun yang lalu. ia tak menyangka bahwa Leonardo sudah ingat peristiwa itu, dari banyaknya ingatan dia malah mengingat sesuatu yang seharusnya dilupakan. Dia sedikit merasa sedih.
Dia juga merasa sangat khawatir, tapi pada akhirnya dia lebih memutuskan untuk percaya dengan Leonardo. Dua gadis itu pergi Meninggalkan Razor tanpa mengucapkan satu katapun. Mereka kembali ke tangga dan menunggu latihan mereka berdua hingga selesai.
Setelah beberapa saat Leonardo kembali terbangun dan pertarungan mereka berdua dimulai sekali lagi.
Razor dengan cepat menerjang dan menyerang dengan membabi buta menggunakan pedang, dia bergerak dengan kecepatan petir.
Kali ini setidaknya Leonardo bisa menghindari pergerakan Razor. Serangan dari kanan, kiri, belakang. Semua bisa dia hindari, meskipun tetap terkena sedikit goresan dari sayatan pedang Razor.
"Lumayan kali ini kamu bisa sedikit menghindar." Razor berhenti sejenak, dia menatap ke arah Leonardo.
"Hah..Hah..Hah.." Nafas Leonardo berantakan, di pipinya terkena sayatan pedang yang dalam, darah terus mengalir deras di pipi itu.
Leonardo menyeka darah di pipinya dan mengatur nafas.
"Karena aku tidak punya banyak waktu.. hah... Razor jangan menahan diri!'
Bibir Razor sekali lagi terangkat, "Baiklah aku akan lebih serius kali ini." Razor melemparkan pedangnya ke sembarangan arah.
Sebuah percikan petir sedikit demi sedikit berkumpul di tangan Razor. Petir itu berkumpul dan membentuk sesuatu seperti pedang.
Razor memegang pedang petir itu dengan tangan kanan, tanpa menunggu waktu lama dia menyerang Leonardo.
Pedang itu terayun dengan cepat. Menunduk hanya itu yang bisa Leonardo lakukan sekarang, untung saja dia bisa menghindari dengan baik kalau tidak lehernya pasti sudah melayang sekarang.
Serangan dari Razor mengenai bongkahan es dan membuat benda tersebut terpotong dengan cukup besar. Es itu terjatuh ke tanah kemudian pecah.
Razor terus menyerang dengan cara yang sama, namun dapat dihindari walaupun Leonardo sendiri nyaris terkena pedang itu, namun tak merubah fakta dia bisa menghindari.
Setiap kali Leonardo menghindar, maka serangan Razor pasti mengenai bongkahan es.. Bongkahan es terus terpotong oleh sayatan pedang Razor, membuat es di ruang sekitar menjadi semakin kecil.
Razor sekali lagi berlari ke arah Leonardo yang bersandar di es. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu, dia terus bersender di bongkahan es dan ketika Razor menyerang, dia pasti menghindarinya, membuat serangan Razor meleset ke arah bongkahan es yang bahkan bukan targetnya.
'Dia terus berdiri di dekat Es.. Apa yang dia pikirkan.'
pikiran Razor penuh pertanyaan, tapi kali ini dia memutuskan untuk fokus berlari dan menebas pedang ke arah Leonardo.
Saat langkahnya hendak sampai ke arah Leonardo, tiba-tiba dia tidak bisa menggerakkan kakinya. Entah apa yang terjadi.
'Tubuhku tidak bisa bergerak.. Tidak lebih tepatnya kakiku yang tak bisa gerak. Sebenarnya apa yang terjadi?'
Leonardo tersenyum karena mengetahui bahwa Razor tidak bergerak.
"Coba lihat kakimu!"
Mengikuti saran dari Leonardo. Dia menatap ke arah bawah, betapa terkejutnya ketika menyadari bahwa lantai dan kakinya telah membeku.
'Tunggu.. Jangan bilang dia!'
Seolah menyadari apa yang Razor pikirkan, Leonardo tersenyum. Dia mulai membuka mulutnya untuk menjawab opini dari. Razor.
"Seperti yang kau pikirkan. Aku membekukan lantai. Serangan pedang petir yang sedari tadi kamu kerahkan sengaja ku hindari agar serangan tersebut mengenai bongkahan es. Hal ini aku lakukan supaya es dapat terpotong dan jatuh ke tanah. Setelah banyak es yang jatuh di tanah maka tahap selanjutnya mudah. Aku hanya butuh mengulurkan waktu hingga es itu cair dan ketika es itu cair aku membekukan lantai. Kau pasti tidak sadar dengan lantai yang telah dipenuhi oleh air, karena kamu terlalu fokus untuk menyerang ke arahku... Aku memanfaatkan itu dan membekukan sekumpulan air dari es yang membeku." Jelas Leonardo panjang lebar
Leonardo tersenyum sebagai tanda kemenangan. Dia berlari cepat dan mengarahkan pedang ke leher Razor.
"Kamu kalah Razor!"
"Hahaha... Sudah kuduga senior memang hebat! Aku menyerah."
Razor menaikan kedua tangan ke atas sebagai tanda kekalahan. Dan Leonardo menurunkan pedang, dia pun menonaktifkan es beku di lantai agar mencair.
Leonardo mengatur nafas, dia menyeka keringat.
"Selanjutnya apa yang harus kulakukan?"
Tanpa banyak basa-basi Leonardo menanyakan hal itu, dia tak mau membuang waktu sedikit pun.
__ADS_1
Melihat sikap tak sabar dari Leonardo, membuat Razor tersenyum.
"Tahap selanjutnya adalah mempelajari sihir andalanmu senior.. Sihir ini sangatlah kuat, nama dari sihir itu adalah magic technique : revision Itulah jurus pamungkas anda yang dulu.. Jurus ini akan berguna bila ingin melawan Edward."