The Repeater

The Repeater
21. Revolusioner


__ADS_3

Di ruang latihan bawah, seperti biasanya dua orang pria sedang berlatihan. Leonardo terus merentangkan kedua tangan ke depan dan mengeluarkan cahaya kebiruan di tangan nya, cahaya itu sedikit demi sedikit menerangi ruangan bawah tanah tersebut.


Cahaya biru yang berkumpul di tangan Leonardo terlihat sangat terang dan semakin lama semakin besar. Jika dilihat mungkin latihan ini terlihat lancar, tapi itu tidak benar. Sihir yang dipelajari oleh Leonardo Magic techinque: Revision bukanlah sihir seperti itu.


“Hah.. Kau gagal lagi senior.”


Helaan nafas malas keluar dari mulut seorang lelaki berambut kuning, dia mungkin mulai lelah mengawasi temannya yang berlatih. Sedari tadi Leonardo terus melakukan hal yang sama dan tidak ada perkembangan.


“Hah..Hah.. Aku tahu.. Tapi bagaiman cara aku menggunakan sihir yang bahkan kulupa?”


Keringat dingin menerpa wajahnya, nafas pun juga berantakan. Pria ini memutuskan untuk menyeka keringat dan mengatur nafas, dia sebenarnya sempat menyerah, namun karena tahu bahwa sihir ini akan berguna dalam melawan Edward, dia mengurungkan niat untuk menyerah.


“Omong-omong senior, apa kau tak merasa ada yang kurang?”


“Apa maksudmu?”


“Itu lo.. Sangat jarang mereka berdua tak disini, biasanya mereka akan menonton latihan ini.. Tapi hari ini mereka tak turun ke bawah.”


Kedua pria bodoh ini terlalu asyik dalam latihan, mereka bahkan baru sadar bahwa Lily dan Monika tak ada di rumah. Leonardo mempunyai firasat buruk, tapi dia berusaha menghilangkan pikiran itu. Dia menghela nafas dan duduk di tanah bersandar di salah satu tiang besar di sana.


“Mungkin mereka sedang memasak, atau sedang asyik berbicara di atas.” Lelaki berambut putih ini berusaha untuk menghilangkan pikiran negatifnya.


“Kalau begitu mau cek ke atas? Ini juga sudah sore.”


Leonardo mengangguk sebagai jawaban. Kedua pria tersebut menaiki tangga dan menuju ke atas berharap bahwa pikiran Leonardo benar. Tapi mata mereka menjadi terbuka lebar. Mereka menyadari kamar yang kosong. Biasanya Lily dan Monika sedang tidur, atau duduk santai, tapi kali ini sosok mereka tak ada.


“Dasar dua gadis bodoh!! Kemana sebenarnya mereka pergi.”


Nada tinggi berasal dari Razor, dia tak bisa merasakan tenang. Di kepalanya terdapat skenario terburuk. Sedangkan Leonardo dia tak banyak pikir dan berencana keluar untuk mencari mereka.


“Tunggu! Mau kemana kamu.”


Langkah Leonardo terhenti. Dia membalikkan badan dan menatap Razor dengan tajam.


“Tentu saja aku ingin mencari mereka.”


“Tidak boleh! Apa kamu lupa, senior sekarang adalah buronan di kota ini.”


“Tapi apa kau menyuruhku untu diam saj-:”


“Untuk masalah ini serahkan kepadaku.”


Leonardo terdiam. Ia tersenyum sebagai tanda pengakuan. Setelah latihan tanding dengan Razor, Leonardo sadar bahwa dia kuat bahkan lebih kuat darinya yang saat ini. Kemarin dia bisa menang adalah murni keberuntungan serta strategi yang bagus, dia tak akan bisa menang.


“Baiklah aku mengandalkanmu.”


Ucapan itu dibalas dengan anggukan oleh Razor, dia melambaikan tangan serta meninggalkan ruangan dengan cepat.


Dia berlari ditengah kota mencari ke berbagai perumahan. Gang kecil, dan banyak tempat lain, tapi dia tak bisa menemukan kedua gadis itu. Di manapun Razor mencari tidak ada hasilnya.


‘Sebenarnya mereka di mana? Dasar dua orang wanita bodoh’


Razor masih berlari-lari berharap kali ini dia dapat menemukan mereka, atau hanya informasi dan benar saja saat dia sedang berlari melewati banyak penduduk dia sedikit mendengar gosip.


“Apakah kau dengar? Katanya dua hari lagi akan ada eksekusi.”

__ADS_1


‘Hah? Eksekusi?’


Razor berhenti berlari, dia menatap dua orang gadis yang sedang berbicara.


“Serius? Kok bisa, siapa yang akan dieksekusi?”


"Itu lo.. Yang katanya membuat onar di restoran."


"Oh, mereka toh! Kalau itu aku tak terlalu peduli, habisnya mereka mencuri budak lo?! Mereka patut Menerimanya."


"Hahaha.. kau benar.."


Kedua gadis itu semakin tertawa. Mereka terus saja mengolok-olok korban eksekusi tersebut. Dan Razor sangat yakin mungkin mereka adalah Lily dan Monika.


'Jangan bercanda! Patut menerimanya? Sepertinya semua orang di sini tak waras.'


Emosi Razor semakin meluap, dia ingin melakukan sesuatu terhadap dua gadis yang terus mengejek teman-temannya, namun ia mengurungkan niat itu. Karena pria ini sangat paham jika dia membuat masalah lagi maka akan membuat situasi memburuk. Ia menenangkan otak dan melanjutkan pencarian Lily dan Monika.


Saat ditengah jalan Razor melihat sekerumunan para penduduk yang berkumpul di satu titik. Mereka seolah sedang melihat suatu acara. Para penduduk yang berkumpulan saling berdempetan membuat suasana menjadi sesak serta berisik, semua penduduk saling merebut ucapan dan sepertinya mereka terlihat marah akan sesuatu.


Karena merasa akan mendapatkan petunjuk Razor memutuskan untuk melangkah menuju keramaian tersebut, agar identitasnya sebagai Eraser tak bocor, dia menutup wajah menggunakan tudung dari jubah coklatnya.


Dengan menunduk dan berjalan tanpa menghasilkan suara satu pun dia berjalan dengan santai. Razor berhenti di berada di bagian paling belakang.


Betapa terkejutnya dia saat menatap dua gadis yang sangat familiar baginya. Meskipun gaya rambut dari kedua gadis itu berubah, tapi pria ini sadar bahwa mereka adalah Lily dan Monika.


Kedua tangan dan kaki dari gadis tersebut ditahan menggunakan rantai hitam yang sangat kuat. Tubuh mereka terkunci di kekayuan, kedua tangan mereka terlentang lebar, seperti membentuk salip. Bagian kayu paling atas terlihat tajam dan memunculkan api di sana. Baik Lily maupun Monika terlihat tak sadarkan diri.


"Apa suaraku terdengar!? Saudara-saudaraku."


Suara lantang berasal dari depan, walaupun Razor tak bisa melihat dengan benar, tapi dari nada suara dan topeng dia tahu. Yang sedang berbicara adalah Edward.


"Baiklah.. Seperti yang kalian lihat mereka berdua adalah pemberontak.. Mereka melawan sistem budakku dan melakukan hal paling tabu, yaitu usaha untuk pelepasan!!" nada yang Edward gunakan sangat kasar ditambah dia menggunakan mic membuat suara makin nyaring.


"Pelepasan budak katanya? Benar-benar tak bisa dimanfaatkan."


"Benar! Tidak bisa dimanfaatkan, apa mereka tak tahu berapa uang yang kami habiskan untuk membeli mereka."


"Itu benar. Pada akhirnya budak hanyalah mahluk kelas rendah, mereka bukan manusia mereka hanya sampah dan boneka kita."


"Aku setuju, kenapa mereka mau menyelamatkan makhluk tak berguna seperti itu? Apapun yang mereka lakukan sampah tetaplah sampah."


Seisi penonton tertawa lantang, mereka terus berargumen dan merendahkan manusia yang disebut budak.


'Budak bukan manusia? Mereka hanya sampah? Jangan bercanda. Jadi maksudmu gadis yang beberapa hari ini belajar untuk tersenyum. Gadis yang baru merasakan cinta dan teman. Kalian anggap sampah? Yang sampah justru kalian.’


‘Aku bersyukur tidak membawa senior ke sini. Misal dia melihat peristiwa ini pasti dia akan membabi buta. Meskipun terlihat tenang, tapi aku tahu betul dia tak akan pernah membiarkan orang berharga baginya disakiti.’


“Tenanglah wahai sobatku! Aku Edward sangat paham akan keresahan kalian.. Jadi aku telah memutuskan untuk dua hari kedepan aku akan mengeksekusi mereka berdua. Sebelum itu bersabarlah.”


‘Dua hari katamu.. Ini gawat, aku harus mengatakan ini segera ke senior, atau akan terjadi hal yang buruk.’ Razor mulai berlari meninggalkan tempat itu.


‘Semua penduduk di sini tak waras. Ada yang salah dengan otak mereka, seseorang ingin dibunuh, tapi mereka semua malah tertawa. Mereka gila.’


Saat pikiran Razor sedang penuh dia tanpa sengaja menubruk seseorang. Orang tersebut adalah pria dia memakai jubah hitam. Mereka berdua sekarang terjatuh di tanah.

__ADS_1


“Maaf.. Aku meleng sedikit, jadi tanpa sengaja aku menabrakmu.”


Lelaki berjubah itu menggaruk kepalanya yang terjatuh, dia perlahan membuka matanya.


“Tidak apa-apa, bukan masalah serius.”


lelaki berjubah itu terdiam, dia terus menatap ke arah Razor, dia seperti meneliti bagian tubuhnya baik dari atas hingga bawah. setelah selesai dia memegang dagu seperti berpikir tentang sesuatu.


“Apakah anda orang luar?”


“Ya.. Seperti itulah.”


“Kalau begitu baguslah.. Kau pasti terkejut bukan tentang berita barusan? Aku tidak heran semua yang berada di sini sekarang menjadi gila.. Ini semua salah Edward.”


Merasakan bahwa lelaki ini memiliki perbedaan dengan warga lain, Razor memutuskan untuk membuka mulut. Dia merasa bahwa penduduk yang satu ini normal.


“Ya.. Saya syok dengan kota ini.. saat aku memasuki kota ini awalnya terlihat baik-baik saja, namun semakin hari berganti aku sadar, kota ini memiliki bagian gelap yang sangat pekat.”


“Kalau kamu tahu sebanyak itu maka ceritanya menjadi gampang.. Aku akan sedikit menjelaskan kenapa kota ini menjadi busuk..”


“Pertama, apakah kamu tahu tentang kebakaran beberapa tahun yang lalu? Semua konflik bermula di sana.”


“Ya.. Aku tahu salah satu temanku adalah korbannya.”


Mata pria itu menjadi serius ketika mendengat bahwa teman Razor adalah korban kebakaran. Dia menatap serius kearah Razor.


“Temanmu sekarang di mana? Apakah mereka baik-baik saja..”


Pria berjubah hitam itu menghela nafas, mencoba untuk menenangkan pikiran.


“Maaf.. Akan kuceritakan sekali lagi. Kota ini dulunya bernama Warmate. Kota yang damai dan tenang, namun semua berubah saat Edward membakar kota ini. Dia membunuh sebagian besar kota Warmate dan membuat mereka mau tak mau harus pergi dari kota tersebut.”


“Kota yang telah hangus dan tak berpenghuni itu dibangun ulang oleh Edward, dia membuat ulang kota Warmate menjadi kota OZ. Atau organisasi perbudakan, kota ini dibuat khusus untuk bisnis itu.”


Mata Razor terbuka lebar, dia seolah paham akan jalan cerita ini.


“Jadi maksud anda-”


“Ya, aku.. Tidak kami adalah korban dari kebakaran yang masih hidup. Sekarang penduduk para kota OZ bukanlah asli. Penduduk dari kota OZ atau kota warmate adalah kami para korban dari kebakaran.”


“Sekarang kami telah berkumpul dan siap untuk menyerang Edward. Kami sudah muak dengan tingkah lakunya, dia menjual manusia, membakar kota kita dan dia bahkan mencuri kota kami.. Tak bisa dimaafkan.. setelah mendengar kabar dari eksekusi ini emosi kami meluap.. Mulai besok dua hari ke depan kami akan bertarung untuk berebut kembali."


"Kami mulai sekarang adalah Revolusioner, kami akan merebut kota kami kembali apapun harganya. Jadi apakah kau mau ikut?"


Razor terdiam di otaknya terlantas tentang omongan dari Leonardo beberapa hari yang lalu.


[Dalam satu minggu kota ini akan hancur karena ulah Edward.]


[Kota ini akan mengalami perang saudara]


[Setidaknya itulah yang ada di mimpiku]


'Aku tak menyangka ucapan Senior akan benar terjadi, apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus mengikuti mereka? Jika aku mengikuti mereka perang saudara pasti terjadi. Kalau kamu di sini apa yang kamu akan lakukan senior?'


Roda takdir telah berputar apapun yang dipilih oleh Razor akan memiliki ending tersendiri. Jika dia ikut mungkin perang saudara terjadi, namun jika dia menolak perang saudara kemungkinan tak terjadi. Itu mungkin terdengar bagus, tapi Leonardo dan Razor tak mungkin menang melawan satu kota ditambah Edward sendiri.

__ADS_1


Apapun yang mereka pilih pasti memiliki resikonya. Entah nanti berakhir menjadi baik, atau akan menuju takdir buruk.


Semua tergantung pilihan pria ini. Yah, entah itu baik, atau buruk pada akhirnya tak akan pernah ada yang tahu jawabannya.


__ADS_2