
Air dengan deras berjatuhan dari langit menuju permukaan membuat suasana menjadi dingin. Ditengah situasi itu, satu pemuda dan satu gadis sedang menatap ke batu makam yang bertulis nama Monika, kedua orang itu tak terkena tangisan dari hujan untung saja pemuda itu membawa payung walau hanya satu, sehingga keduanya tak kehujanan. Mereka tak lain adalah Leonardo dan Lily.
Mata dari kedua orang itu sangat kosong saat menatap batu nisan yang bernama Monika. Mereka masih kesusahan untuk menerima kenyataan, kesedihan mereka berdua sangat besar bahkan hujan pun membasahi dunia sebagai tanda kesedihan.
"Leo, apa kamu tahu?"
Lily membuka mulut berusaha untuk menenangkan dirinya? Atau dia ingin berusaha menenangkan Leo?
"Ada apa?"
Leo bertanya dengan wajah kosong, dia sangat merasa sedih dan kehilangan, tapi anehnya dia tak bisa meneteskan air mata.
"kau tahu? Monika ternyata suka barang-barang yang manis."
"...."
"Aku dan dia kemarin pergi ke toko baju."
"...."
"Hahaha, saat itu Monika sangat lucu, dia memakai gaun yang imut dan itu sangat cocok untuknya."
"Dia terlihat sangat senang, dia tersenyum manis, tertawa, dan... Dan akhirnya dia bisa berlaku seperti gadis pada umumnya."
Air mata menetes di mata biru Lily, mungkin ini tak terlalu terlihat karena sedang hujan, namun gadis itu sekarang sedang menangis.
"Tapi, dia sekarang tak ada.. Padahal akhirnya dia bisa tersenyum manis, sangat disayangkan."
"..."
"Leo? Apa kamu dengar? Hehe, jangan diam dan respon perkataanku!"
Leo mana mungkin bisa melakukan itu, dia sengaja diam agar Lily bisa meluapkan segala emosinya. Baik itu kesedihan ataupun amarah.
"Yah, aku tak layak mengatakan hal itu! Karena penyebab Monika mati adalah ak-"
"Kalau kau bilang ini salahmu, itu tak benar!"
Pemuda ini sadar, apa yang akan dikatakan oleh Lily, jadi memutus ucapannya.
Tapi Lily salah paham, saat dia menatap Leonardo yang terlihat tak menangis, dia menjadi tersinggung.
"Kenapa kamu bisa memasang wajah biasa saja?!"
Lily mencengkram celana yang dia kenakan dan mengigit bibir, dia tahu Leonardo pasti merasakan kesedihan yang sama, tapi melihat ekspresi Leo yang bisa-bisa tak mengeluarkan satu air mata dan terlihat tenang membuat dia marah.
"Kau salah paham Lily, aku juga-"
Berusaha untuk membenarkan kesalah pahaman Leonardo ingin menggerakan tangan kanan ke kepala Lily, tapi dengan cepat ditepis oleh Lily. Leo spontan menghentikan ucapannya dan menatap Lily yang menangis serta menunduk.
Dia terlihat mencengkram celana dengan erat dan mengigit bibir. Lily terlihat menahan emosinya.
"Apa keberadaan Monika tak special , sehingga kamu tak bisa meneteskan air mata?!"
"Jangan bilang kalau kamu! Sebenarnya tak menganggap keberadaan Monika?!'
"..."
Leonardo terdiam, dia tak tahu lagi harus menjawab apa. Dia sebenarnya sangat merasa terpuruk dan sakit hati, namun entah kenapa dia tak bisa meneteskan air mata satu pun. Itulah yang mungkin membuat Lily menjadi tersinggung, karena bayangkan saja seseorang yang dia anggap berharga mati dan orang yang berada di pemakaman berekspresi normal, siapapun akan marah.
Lily menghela nafas dia menatap Leonardo dengan sendu.
"Leo, aku sudah memikirkan ini sejak lama, tapi sebenarnya kamu kenapa?! Ekspresi yang kau gunakan selalu seperti itu. Kamu seolah-olah seperti sudah melihat banyak kematian berulang kali, aku tak tahu apa yang ada di Kepalamu yang dulu. Tapi setelah kamu melupakan ingatan, kamu sedikit terbuka, namun tetap saja melihatmu sekarang aku sadar. Aku sama sekali tak paham denganmu! Jadi tolong setelah ingatanmu kembali ceritakan semua kepadaku! Aku ingin mengenalmu lebih dekat."
Leonardo terdiam untuk beberapa saat, dia tak tahu pasti. Tapi dia sangat yakin apa yang harus dijawab untuk sekarang.
"Aku tak tahu pasti, namun kurasa meskipun aku sudah ingat segalanya aku tak akan menceritakan segalanya kepadamu. Lagi pula itu bukan urasanmu!"
Mata biru Lily terbuka lebar dan meneteskan air mata, dia terkejut dengan jawaban dingin Leo. Karena emosi Lily menampar pipi Leonardo.
"Jadi begitu? Kalau begitu selamat tinggal."
Mengatakan hal itu Lily membalikkan bada dengan air mata yang menetes dia berlari menjauh dari Leonardo.
Leonardo menatap pundak gadis itu yang semakin lama menghilang, dia menghela nafas dan kembali menatap ke arah nisan Monika. Hatinya benar-benar hancur, tapi sekali lagi tak ada satu pun tetesan air mata.
Aneh, padahal hatiku serasa hancur, tapi air mata tak mau berjatuhan..
Aku tahu kamu dengar, jadi. Apa kamu tahu sesuatu?..
[Hmm, aku tahu. Tapi jangan menyesal oke.]
Leo menganggukkan kepala
__ADS_1
[Itu karena kontrak kita. Ini sudah sangat lama, tapi kamu mengorbankan sebagian besar ekspresi wajah agar bisa berkontrak denganku.]
[Dan ekspresi wajah yang paling kuambil adalah kesedihan ketika kehilangan seseorang]
Jadi begitu, terima kasih penjelasan panjang lebarnya rukhku..
Tapi, kenapa ingatanku bisa hilang? Aku kira karena bayaran dari kontrak adalah ingatan..
[Kalau itu aku tak bisa menjawab, carilah sendiri jawabannya!]
Cih, dasar pelit..
......................
Di sisi lain Lily sedang menikmati teh hangat dengan tubuh miliknya yang basah kuyup, itu karena Lily berlari saat hujan deras, dia yang kedinginan memutuskan untuk meminum sesuatu yang hangat.
Dia duduk di kursi bersama seorang pria yang berada di depannya. Pria itu menggunakan jas hitam, memiliki rambut coklat dan terlihat gagah dengan kacamata yang digunakan sebagai hiasan di kepala.
"Jadi mau curhat apa lagi, nona Lily?"
Raphael bertanya kepada Lily, dia mengambil teh miliknya dan meminum dengan santai.
Lily menatap ke teh miliknya yang masih terlihat hangat, dia menatap bayangan wajah yang terpantul dari teh itu.
Melihat Lily yang terdiam Raphael menghela nafas, dia menaruh cangkir berisi teh hangat ke meja kembali.
"Jangan bercanda ya! Aku tak se senggang itu hingga harus menemani nona cengeng sepertimu."
Berusaha menyindir, tapi Lily tak memberi respon seperti biasanya. Raphael semakin curiga bahwa sesuatu telah terjadi.
"Hah, Lily. Katakanlah sesuatu! Ini tak seperti dirimu."
Lily masih tek merespon, dia menatap teh hangat itu dan sekali lagi meneteskan air mata.
"Leo, aku dan dia sedikit bertengkar."
"Hah, jadi kenapa bisa seperti itu. Apakah gadis bernama Monika yang meninggal itu penyebabnya "
"Ya, seperti itulah.. Aku sangat sedih kehilangan Monika, tapi si Leo, dia malah terlihat normal bahkan air mata tak menetes satu pun."
"Jadi ini salahnya Leonardo!" Menaikan nada Lily tampak cemberut.
Raphael hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela nafas.
"Jangan seperti itu dong! Leonardo memang tak pintar mengekspresikan wajah, seharusnya kamu sudah tahu hal itu sejak dulu."
Lily terdiam dia sangat tahu hal itu lebih dari siapapun, dia juga sadar bahwa Leonardo pasti merasakan rasa sakit yang sama bahkan lebih besar dari miliknya. Tapi rasa tak mau kalah Lily menolak untuk menerima fakta itu.
"Tapi, Leo-"
"Jangan membantah!"
Lily memucat, baru pertama ini dia mendengar suara Raphael menjadi serius dan penuh amarah.
"Hah, kamu harus segera meminta maaf, atau kamu akan menyesal."
Lily terdiam sekali lagi. Dia menatap teh dan kembali ke arah Raphael,
"Ya, aku tahu. Dasar bodoh!" Dengan pipi yang mengembun dia mengatakan hal itu.
Raphael sekali lagi menghela nafas.
Dasar gadis yang tak bisa jujur..
Lily kembali berdiri, dia memakai jaket tebal dan langsung pergi mencari Leonardo untuk segera meminta maaf.
Beberapa hari telah terlewat dan Lily kehilangan kesempatan untuk meminta maaf, hubungan mereka menjadi sangat canggung, ketika kedua orang itu bertatapan mereka hanya tersenyum penuh paksa dan langsung memalingkan wajah menolak untuk saling menatap.
Kemudian Lily maupun Leonardo sudah lama tak berbicara semenjak hari itu. Razor juga seperti itu ketiga orang ini menjadi tak akrab karena kematian Monika.
Semua orang menyalahkan diri mereka sendiri, meski mereka bertiga berkumpul untuk makan bersama tak ada yang membuka topik pembicaraan dan situasi sangat canggung.
...----------------...
Di sora hari Razor berjalan di kota sendiri, dia menatap bekas pertarungan melihat banyak bangunan yang kokoh menjadi hancur. Dia merasakan rasa bersalah beberapa hari yang lalu, tapi sekarang tidak.
Melihat kota ini kembali tersenyum dan bergotong royong untuk membangun kota kembali membuat Razor menjadi tenang dan tentram, namun rasa tentram itu menghilang ketika mengingat kejadian yang terjadi.
Hah, apa yang harus kulakukan? Senior dan Lily tampak bertengkar, situasi benar-benar menjadi buruk..
Monika, mereka semua sangat menyanyangimu karena itulah situasi menjadi seperti ini..
Dan tentu saja aku juga sama..
__ADS_1
Terus melangkah Razor tanpa sengaja menatap toko baju yang memajang sebuah gaun yang terletak di depan toko dan ditutup oleh kaca. Langkah pria itu terhenti, dia berjalan menuju gaun yang di pajang di sana. Dia memegang kaca dan menatap tajam ke arah gaun hitam itu.
Dari sudut pandang Razor, gaun itu pasti akan cocok jika dikenakan oleh Monika. Maka dari itu dia terhenti. Gaun warna hitamnya membuat sekilas teringat akan Monika.
Monika kalau kamu masih hidup, mungkin aku akan membawamu ke sini..
Jika saja kamu masih hidup..
Pasti kamu bisa menggunakan itu..
Itu benar, jika saja kamu masih hidup, pasti..
Air mata menetes di mata merah pria itu, dia mengusapnya dan berlari menjauh. Hatinya sangat terasa sakit, dia tak mau menerima fakta itu.
Karena bagi Razor, Monika adalah gadis yang baik dan cukup manis, dia sedikit memiliki rasa tertarik oleh Monika.
Hari menjadi gelap saat Razor berjalan tanpa arah dia tanpa sengaja bertemu oleh Lily dan Leonardo di rute pertigaan. Mereka saling menatap dan terhenti tak menyangka akan bertemu secara kebetulan seperti ini.
Dari wajah mereka bertiga terlihat seperti habis menangis pasti mereka juga semua baru saja mengalami hal yang sama dengan Razor, mereka meratapi nasib akan kepergian Monika.
Mereka bertiga tersenyum dengan paksa dan kembali berjalan sendiri-sendiri tak berusaha untuk tak saling bertatapan, hanya berjalan dan berusaha menjauh.
Di saat itu sebuah suara bergema dan menghentikan langkah tiga orang itu.
""Lily, Leo, dan Razor, Woi!""
Mereka bertiga menoleh ke sumber suara dan mendapatkan roh Monika yang terbang sedang menuju ke arah mereka bertiga.
Semua tampak terkejut, muka yang sebelumnya melas berubah menjadi terbuka lebar seolah tak percaya akan yang mereka lihat.
Di depan mereka sedang ada roh Monika yang terbang.
"Monika?" Lily berkata, dia meneteskan air mata tandan tak percaya akan apa yang terjadi.
"Ya, ini Monika. Haha," roh Monika tersenyum lebar, dia tampak lebih bercahaya saat menjadi roh.
"Monika ini benar-benar kau?"
Kali ini Razor, dia tampak sangat terkejut.
"Apakah kita bermimpi?"
Kali ini adalah Leonardo. Semua orang itu terkejut.
"Hahaha, kalian semua terkejut ya, tapi sayangnya aku hanya roh saja. Aku akan pergi beberapa saat lagi."
"Tapi, sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu. Jujur saja melihat kalian yang sekarang membuat hatiku sedih. Kalian bertiga menjadi tak akur dan situasi canggung."
"Aku tak suka melihat kalian yang seperti itu."
Semua menundukkan kepala, terdiam dan hanya bisa meneteskan air mata, kecuali Loe. Bukan berarti dia tak ingin, dia memang tak bisa karena sebagian besar ekspresi Leo telah hilang demi kontrak rukhnya.
"Jangan menangis, Lily. Moo."
Setelah berkata seperti itu, wajah Monika mulai retak, mungkin itu adalah tanda kalau waktu miliknya telah hampir habis.
"Monika kamu?" Lily meneteskan air mata, dia semakin sedih melihat retakan di wajah gadis itu.
"Hah, gawat aku harus segera kembali.. Tapi sebelum itu aku akan mengatakan hal ini."
Roh Monika menarik nafas panjang dan tersenyum lebar.
"Untuk pertama kalinya aku diselamatkan oleh seseorang. Untuk pertama kalinya aku bertemu teman. Untuk pertama kalinya aku tertawa dan bercanda. Untuk Pertama kalinya aku dipeluk oleh seseorang, aku diterima. Untuk pertama kalinya aku makan-makanan hangat. Untuk pertama kalinya aku berpakaian normal seperti gadis, menggunakan gaun yang manis.. Dan untuk pertama kalinya aku menaruh cinta ke seseorang pria."
Mata Monika menjadi berkaca-kaca, dia melanjutkan ucapannya yang terputus itu. Karena tubuh roh itu semakin retak.
"Dan juga seperti yang lily katakan, aku adalah bunga dod bloem, meskipun mati aku akan bermekaran di hati kalian. Jadi karena itulah aku tak akan pernah mati, aku tetap ada di hati kalian dan bermekaran selamanya."
"Meskipun mati aku tetap akan berada di sisi kalian dan berpetualang."
"Meskipun singkat, tapi aku menikmati hidupku terima kasih semuanya.."
"Mungkin ada yang akan mengatakan bahwa akhir hidupku menyedihkan, tapi aku tak menganggap seperti itu.. Habisnya sebelum aku mati aku diselamatkan oleh kalian ini adalah happy ending versiku."
"Tidak! Tidak! Monika!"
Lily terus menangis, dia sudah tak kuat menahan rasa sakit ini. Gadis itu berlari dan memeluk roh Monika. Namun saat dia menyentuh roh itu, tubuh Monika sudah lenyap.
Bagaikan partikel yang bertebaran roh itu lenyap dan terbang menuju bulan yang indah itu, Monika mungkin mati, tapi jiwanya akan terus bersama mereka bertiga selamanya.
Melihat ke atas, partikel yang hancur itu membuat hati semua orang terluka.
""Tidak!""
__ADS_1
Rasa kesedihan yang amat dalam membuat Lily berlutut di tanah dan menangis Sekenceng-kencangnya.
Razor pun sama, dia terus menangis dengan kuat, menekan dadanya dengan erat dan berlutut di tanah. Leonardo yang kehilangan banyak ekspresi bahkan bisa ikut meneteskan air mata, sungguh keajaiban. Roh Monika benar-benar telah lenyap, pergi menuju butiran partikel yang menyinari bulan.