
Pria berambut kuning dengan mata merah, dan mengenakan seragam serba hitam menatap Leonardo. Membuat monster yang terus menyerang terhenti.
Pria itu memegang tasnya dan mengambil pedang di dalamnya, tanpa menunggu waktu lama dia menerjang monster itu, pedang dia ayunkan ke kanan, tapi monster itu langsung menghindar dengan terbang kecil menggunakan sayapnya, lalu dia mengayunkan sabit ke arah pria itu. Pria itu menahan sabit menggunakan pedangnya.
Dan pertarungan terus terjadi dengan monster dan pria itu beradu pedang maupun sabit, di mana mereka mengayunkan maka akan ada yang menahannya. Pertarungan sengit terus terjadi.
di tengah pertarungan sengit dia merapalkan mantra dan Tangan kiri dari pria itu memunculkan cahaya warna merah, setelah itu dia meletakkan tangan kirinya ke arah mata seolah seperti sedang memasang sesuatu.
Ketika dia selesai memegang mata, pergerakannya makin cepat. Semua ayunan sabit dari monster itu bisa ia hindari tanpa kesusahan.
Kanan. Kiri. Semua ayunan sabit, dia hindari. Monster itu berhenti sejenak dan terlihat emosi, dia meraung dari raungannya saja menciptakan angin yang berhembus bahkan kayu di perumahan tergores terkena angin itu.
Mata merahnya makin tajam, dia memegang sabit menggunakan kedua tangannya dan mengayunkan dari bawah meskipun jaraknya dengan pria itu jauh, tapi dia mengayunkan sabit dari bawah ke atas.
Hanya dengan ayunan monster itu menciptakan angin kuat yang bahkan membelah tanah, angin itu semakin mendekati pria berambut kuning itu, tapi dia berlari dan menghindari angin dan menebas dada monster itu hingga membuat luka di dadanya.
"Argh!" Monster itu berteriak, dan pergi terbang menggunakan sayap hitamnya.
Meninggalkan Leonardo dan pria itu.
"Kau baik-baik saja?" Pria itu menjulurkan tangannya ke arah Leo yang terbaring lemah.
Leonardo memegang tangannya dan dia diangkat. "Aku hampir mati sialan!"
"Hehehehe, kau tidak berubah ya Leonardo!" Tutur pria itu ketika menariknya.
'Tunggu dulu! Dia mengenalku' pikir Leonardo.
"Aku dengar dari Gray, kau lupa ingatan kan? Pokoknya pertama-tama aku akan mengenalkan diri, namaku Razor. Aku adalah salah anggota Eraser sama sepertimu," Jelas Razor.
__ADS_1
"Razor? Jadi mahluk tadi itu sebenarnya apa?!"
"Itu Rukh, tapi bukan Rukh biasa. Itu lebih gelap lagi. Jika biasanya Rukh diambil dari sisi negatif satu manusia, tapi yang ini beda. Yang satu ini adalah kumpulan sisi negatif dari kota OZ, semua rasa sakit, dosa, dan sisi buruk kota ini ada di monster itu."
"Jadi begitu.... Kalau kita berhasil mengalahkannya maka semua perilaku negatif dari warga kota ini akan menghilang bukan? Maka kita tidak punya banyak waktu." Leonardo memaksakan diri untuk berjalan, mengejar Rukh yang tadi, tapi pandangannya menjadi kabur dan akhirnya dia tergeletak.
Razor berjalan ke arah pria yang terkapar lemah itu, dia menggendongnya dan membawa ke suatu tempat.
***
Leonardo terjaga dan mendapati dirinya tengah berbaring di kasur putih yang luas sambil memandang ke atas atap. Dia sedikit demi sedikit mengangkat tubuhnya dan merasakan rasa sakit di sekujur tubuh.
Matanya berkeliling mengitari ruangan ini untuk mengetahui di mana keberadaannya sekarang.
Razor membuka pintu kamar dan menatap Leonardo yang sedang duduk di kasurnya. "Akhirnya kau bangun." Razor berjalan mendekati Leonardo.
Dengan pandangan penuh bingung Leonardo menatap ke arah jendela. Razor menjelaskan bahwa ia sekarang berada di penginapannya. Respon dari Leonardo hanya anggukan kepala tanpa terlihat tertarik.
Air mata menetes ketika dia teringat akan kebakaran itu dan ibunya yang meninggal. Dia benar-benar tidak paham apa yang terjadi saat itu, kenapa kota yang sebelumnya tentram bisa terbakar, dia sangat ingin mengetahui hal itu.
Dengan pikiran seperti itu dia memaksa untuk berdiri meskipun tubuhnya penuh luka dan dia merasakan rasa sakit luar biasa, bahkan darah berlumuran di dadanya hingga baju putih yang dia pakai menjadi merah akibat terkena darah. Namun meskipun begitu dia tetap berdiri dan berjalan melewati Razor di depan pintu.
Razor yang melihat tubuh Leonardo belum pulih tidak diam saja, dia menutup pintu menggunakan tubuh dan melarang Leonardo pergi. "Kau mau kemana?!"
Darah makin menetes di pundak pria itu, dia memegang menggunakan tangan kanannya, mata putih menjadi sayu dan dia menatap tajam ke arah Razor. Tatapan itu adalah isyarat untuk minggir, tapi Razor menolak.
"Minggir, Razor! Kita tidak punya banyak waktu, secepatnya aku ingin mengembalikan ingatanku dan juga membunuh Rukh itu."
"Tidak mau! Jangan gegabah! Kau bahkan sebelumnya hampir mati."
__ADS_1
Leonardo menundukkan kepalanya, dia terus meminta Razor untuk menggir, tapi Razor menolak karena darah dari Leonardo tidak mau kunjung berhenti.
"Apa ingatanmu sepeting itu?"
Leonardo mengangguk, sebagai jawaban ya.
"Maaf Leonardo, kau harus tidur dulu." Razor memukul leher Leonardo hingga membuatnya pingsan.
***
Disisi lain Lily sedang menyisir gadis berambut orange, mereka berdua sedang berada di kamarnya dan terlihat sangat akrab. Mereka berdua baru saja mandi bersama beberapa saat yang lalu, lebih tepatnya saat Leonardo pergi dari penginapan.
Mata biru Lily menatap ke arah cermin untuk melihat gadis yang sebelumnya babak belur dan dekil, sekarang telah menjadi lebih bersih dan rapi. Wajahnya lebih putih, rambutnya terurai rapi, dia sekarang bahkan menggunakan pakaian yang lebih layak.
Dia tersenyum puas karena akhirnya gadis ini setidaknya bisa menjadi lebih baik, dia memeluk dari belakang gadis itu. "Apakah aku boleh tahu namamu?"
Gadis itu merona malu karena ini pertama kali baginya seseorang memeluk tubuhnya dengan hangat, ia tidak pernah merasakan kehangatan ini, biasanya dia hanya akan diperlukan sebagai boneka pelampiasan oleh majikannya, tapi Leonardo dan Lily beda. Air mata pun ikut berjatuhan menghancurkan make up yang telah di tata oleh Lily. "Maaf, aku tidak punya nama."
Mata biru Lily yang sebelumnya tertutup sekarang terbuka lebar, dia terkejut dengan apa yang gadis ini katakan, perkataan itu membuat hati Lily serasa seperti terkikis.
"Sejak kecil aku tidak pernah bertemu dengan orang tuaku. Saat aku masih bayi mereka menjualku ke tuan, jadi semenjak kecil aku telah menjadi budak, mereka kadang melecehkanku, memukuliku, dan aku tidak pernah diperlukan seperti manusia. Hanya kamu dan pria berambut silver itu yang mau membantuku."
Lily ikut bersimpati, dia meneteskan air mata dan memeluk gadis ini sekali lagi. "Leonardo memang baik sih.... Omong-omong apa aku boleh memberimu nama?"
"Apakah anda serius? Tentu saja aku mau."
Lily tertawa kecil. "Kalau begitu namamu
Monika, bagaimana?"
__ADS_1
Tangisan monika pecah, dia membalikkan badannya dan memeluk erat Lily, dia terus mengucapkan terima kasih tanpa henti, Lily tersenyum dan mengelus kepala Monika dan mengecupnya.