
Tap!
Tap!
Ketukan demi ketukan dibunyikan oleh lelaki berambut silver. Dia terlihat mengetuk meja makan menggunakan jari telunjuk kanannya, sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk menyandarkan kepala. Dia menghela nafas. Kemudian menutup kedua mata. Ia terhanyut dalam Perasaan yang penuh akan rasa khawatir, dia tak bisa menunggu lebih lama kedatangan temannya. Dia juga merasa tak nyaman.
Setelah beberapa menit menunggu. Terus mengetuk meja. Mencibirkan bibir. Dia memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya. Kesabarannya telah diambang batas. Lelaki ini sudah membulatkan tekad untuk menyusul Razor temannya.
Saat hendak berjalan langkah dari Lelaki itu terhenti. Pintu coklat yang menjadi jalan masuk serta keluar terbuka. Menampilkan seorang lelaki berambut kuning dengan Jubah coklat. Dia mengatur nafas dan menyeka keringat.
“Senior, situasi luar benar-benar gawat.”
“Apa yang terjadi?”
Dengan nafas yang masih terengah-engah Razor menjelaskan situasi luar. Lily dan Monika yang hendak dieksekusi dalam dua hari. Mendengar itu mata Leonardo terbuka lebar, dia tentu saja tak bisa menerima fakta itu. Ia berdesis kesal dan hendak berlari menuju tempat yang dimaksud Razor, tentu saja untuk menyelamatkan temannya.
Namun saat dia hendak pergi langkahnya dihentikan. “Tunggu, jangan terlalu gegabah. Aku punya sekutu di sini, kalau kita berdua saja tak mungkin bisa menang.”
“ Sekutu? Siapa yang kau maksud itu?”
“Aku akan menjelaskannya nanti. Pertama-tama ikutlah dulu denganku!”
Sebuah tangan penuh keringat menyentuh lelaki berambut silver tersebut. Tangan itu menggeretnya menuju ke suatu tempat yang Leonardo tak ketahui. Sebelum pergi Leo talah menggunakan jubah coklat. Dia tentu saja tak mau ditangkap.
Mereka berdua berjalan ditengah kota yang masih gempar akibat berita pengeksekusian itu. Tapi berbeda dengan kota lain, saat mendengar berita seperti itu warga tidak terlihat khawatir, atau semacamnya. Para penduduk justru terlihat senang dengan kabar ini. Hanya karena keinginan menyelamatkan satu gadis mereka dibenci.
Leonardo muak mendengar ejekkan yang terus mengarah ke Lily maupun Monika. Sepanjang dia berjalan selalu ada yang mengatai dua gadis itu. Dia sedari tadi ingin mengamuk, tapi dihentikan oleh temannya.
Terima kasih untuk Razor, jika saja dia tak menghentikan dan menenangkan Leonardo pasti kepala dari para warga telah terpengal serta menciptakan lautan darah yang kental. Setelah berjalan cukup lama. Turun lewat tangga bawah. Mereka seperti menuju ruang bawah tanah.
Dan setelah sampai mereka dapat melihat populasi yang berkumpul. Mungkin sekitar 500 orang lebih. Untung saja ruang bawah ini luas, jika tidak pasti akan terasa sangat sempit. 500 orang yang sedang berdiskusi menatap dua pria itu dengan wajah penuh tanya. Mereka saling berbisikan.
“YOO.. Akhirnya datang juga.” Seorang pria dengan jubah hitam mendatangi mereka berdua.
Semua isi ruangan saling bertatapan untuk beberapa detik. Mereka seperti sadar sesuatu. "Selamat datang di Revolusioner kami!”
Suara serentak mengitari ruangan. Leonardo makin bingung dengan yang terjadi. Di kepalanya terus bertanya siapa mereka. Razor tahu kebingungan itu dan menjelaskan situasi yang terjadi. Dia menjelaskan tentang rencana mereka memberontak dua hari ke depan. Mereka yang merupakan korban kebakaran sama sepertinya. Dan dia tak lupa menjelaskan bahwa penduduk yang mengaku sebagai Revolusioner adalah warga asli OZ.
Para Revolusioner dulunya adalah warga di suatu kota bernama Warmate, kota itu dibakar oleh Edward shingga mensisakan sedikit dari populasi warga. KOta yang terbakar itu dibangun ulang dan diubah menjadi kota OZ. Yang artinya kota OZ adalah kota Warmate itu sendiri. Dan orang-orang yang berdiri di sini adalah mantan warga kota ini.
Leonardo mengangguk sebagai tanda paham. Dia menatap ke arah sekumpulan orang-orang itu. Begitu mendengar kata menyerang dalam dua hari Leonardo teringat akan mimpinya, dia saat itu melihat kota OZ yang dilanda perang saudara. Sekarang dia paham kenapa itu terjadi. Kemungkinan terbesar adalah karena faktor ini.
"Sial!! Si brengsek Edward itu sudah keterlaluan. Dia berencana membunuh dua gadis tak berdosa, dia benar-benar monster."
Salah satu dari pria berteriak. Dia emosi serta memukul meja yang berada di depannya. Setelah itu dia menatap ke arah 3 orang tersebut.
"Allan! Kau membawa dua orang itu. Pastikan kalau mereka berguna."
Lelaki berjubah hitam yang dipanggil dengan Allan menengok ke belakang.
"Tenang saja, Jhon! Mereka pasti berguna. Karena mereka berdua adalah anggota Eraser."
__ADS_1
Sisi ruangan tampak terkejut. Mereka tak menyangka dua orang pemuda yang terlihat muda itu adalah anggota dari organisasi besar.
"Eraser? Serius!?"
"Wow, sedikit mengejutkan."
"Hebat."
"Kalau begini mungkin kita bisa menang."
Semua orang terlihat terkejut serta kegirangan. Mereka tak menyangka mendapatkan Sekutu yang kuat seperti ini.
Kecuali satu orang pria, dia adalah John. Dari wajahnya memunculkan wajah tak puas dan ragu-ragu.
"Eraser organisasi yang membunuh Rukh dan melepaskan semua energi negatif manusia. Organisasi yang dibentuk untuk memperbaiki dunia yang penuh aura negatif. Itulah Eraser. Tapi apa dua anak muda ini bisa diandalkan!? Mereka terlihat lemah." Pria bernama Jhon itu masih tak terima.
Jhon tak menyadari bahwa dua orang yang dikatakan lemah, itu sebenarnya adalah top 10 orang terkuat di Eraser. Tapi Razor dan Leonardo tak peduli bila dihina.
Yang jadi masalah adalah bagaimana membuat mereka berhenti? Kalau mereka menyerang maka akan terjadi perang saudara. Dan mimpi Leonardo akan menjadi kenyataan, pada akhirnya semua mati. Leonardo tentu tak ingin terjadi, oleh karena itu dia diam dan berpikir.
Argumen dari Jhon dengan dengan cepat merusak rasa kepercayaan mereka. Semua isi ruangan mulai ragu akan dua pemuda itu, tapi Allan masih berusaha untuk mengubah pikiran mereka.
"Kalian tenanglah! Meskipun mereka masih muda, tapi kemampuannya bisa diandalkan. Dari pada memusingkan hal itu lebih baik fokus ke strategi besok!! Allan menaikan nada. Dia benar-benar berlagak seperti pemimpin.
Ucapan Allan berhasil membuat semua orang menjadi kembali menjadi normal, mereka mulai bersemangat kembali. Mereka mengambil pedang masing-masing dan mengangkat ke atas.
"Kau benar. Siapapun mereka pada akhirnya akan menambahkan kekuatan tempur." Salah satu pria berteriak keras.
"Dengan begini kita akhirnya bisa memenggal kepala Edward."
"Itu benar.. Si Brengsek itu membunuh ibuku dan dia menjual anakku.. Bahkan aku belum pernah memberi nama untuk anak itu." Seorang ibu tua terlihat menangis. Dia meratapi nasibnya.
"Aku benci dia!!'
"Aku harap badut itu mati saja!"
Semua orang di sini makin emosi, tidak ada ketenangan, semua terlihat ribut, bahkan aura membunuh, dingin dapat menusuk permukaan kulit Leonardo dan Razor. Leo semakin khawatir bila mimpinya bisa jadi kenyataan, sedari tadi dia ingin menenangkan mereka, namun tak menemukan kalimat yang pas.
"Senior, lihatlah mereka, rasa emosi, benci, kesedihan. Semua energi negatif ada dihati mereka. Energi negatif itu pada akhirnya akan berkumpul dan berkumpul kemudian menciptakan Rukh yang sangat kuat serta berbahaya. Sama seperti Rukh yang beberapa hari kita lawan."
"Menghilang rasa kebencian mereka itu juga adalah tugas Eraser, karena itu kami sering berpetualang untuk membenarkan sistem dunia yang rusak, dengan menghilangkan rasa benci penduduk maka sama saja rukh menghilang.. Jadi apa kau punya rencana untuk menenangkan mereka?"
"Ya, ada."
Setelah beberapa saat akhirnya Leo telah siap akan argumennya. Dia berdiri di depan banyak orang. Meskipun sudah di depan, tapi semua orang masih sibuk dan emosi. Leo menghirup nafas dalam. Dia sudah siap mengatakan argumennya.
"Kalian tenanglah!!"
Semua orang yang berteriak dan emosi berhenti. Mereka mengubah pandangan ke arah Leonardo. Dengan tatapan dingin dan merendah. Seolah berkata 'jangan ikut campur orang luar', mereka semua tak sadar bahwa Leo juga adalah warga Warmate. Dia salah satu korban kebakaran. Inilah yang akan Leonardo gunakan sebagai argumen.
"Aku tahu perasaan kalia.."
__ADS_1
"Apanya yang paham dasar orang luar!!?"
"Benar, pada akhirnya kalian bekerja demi uang bukan!? Dasar munafik!"
Belum selesai berbicara Leo sudah dicemoh dan menjadi pusat pelampiasan emosi.Namun Leonardo tetap teguh. Dia sekali lagi menghirup nafas dan berteriak.
"Aku sama seperti kalian.. Aku adalah warga Warmate, aku juga korban kebakaran itu."
Semua orang terlihat terkejut mereka tentu tak menyangka fakta itu. Kecuali Allan, dia sudah tahu tentang Leonardo dan Lily dari mulut Razor.
Semua orang sekali lagi terdiam. Mereka sudah tak emosi dan kembali tenang, dengan pandangan penuh perhatian mereka menatap ke arah Leonardo. Meskipun tak percaya, namun mereka iba karena tak menyangka anak muda masih hidup.
"Aku memang korban dari kebakaran... Tapi kalau boleh jujur aku sekarang sedang lupa ingatan.. Aku baru mengingat hal ini beberapa hari yang lalu."
"Aku tahu rasa benci kalian.. Ibuku juga mati tertimpa reruntuh pada saat itu.. Meskipun aku lupa ingatan, namun ketika ingat hal itu hatiku serasa sakit dan ingin menangis. Aku tak bisa membayangkan bagaiman perasaan kalian, jadi aku tak layak mengatakan hal ini... Tapi meskipun warga Warmate sekarang busuk dan berubah, namun meraka tetap warga normal, mereka tetap manusia yang ingin hidup. Yang bersalah hanya Edward."
"Kalau itu kami juga tahu!! Karena itu kami memberontak kami ingin membunuh Edward untuk membebaskan negeri kami.' Seorang pria mengangkat tangan ke artas, dia berkata dengan nada tinggi.
"Tidak! Kalian tak mengerti! Jika melakukan pemberontakan sekarang maka warga tak bersalah akan terjerumus.. Banyak orang akan mati, kota ini akan menjadi lautan api."
"Kalau itu kami sudah menyiapkan diri.. Orang bodoh manapun tahu yang namanya perang pasti akan menghasilkan korban, kami sudah siap akan hal itu, kami juga siap menjadi tumbal untuk kota kita.. Jadi bila kau takut maka pergilah dasar bocah!! Kau juga orang Warmate kan? Apakah kau tak punya harga diri? Dan juga selain bertarung apa ada cara lain, hah!!?" Jhon sekali lagi tak terima, dia membantah semua argumen Leonardo dengan nada penuh emosi.
"Kalau solusi aku punya."
"Apa itu coba katakan!?"
Leonardo menghirup nafas. "Kalian jangan bertarung! Serahkan semua kepadaku. Aku berjanji akan menebas si brengsek Edward."
semua orang sekali lagi tercengang. tertawa kecil dan mengeluarkan air mata. Mereka menganggap apa yang dikatakan Leonardo adalah bualan.
"Anak sepertimu ingin mengalahkan Edward? Benar-benar lelucon yang bagus."
Razor emosi. Idola serta temanya diejek. Dia berjalan menuju ke depan mereka dan ingin mengatakan sesuatu, namun terhenti.
Dia melihat wajah Leonardo yang tersenyum. Walaupun sedang diolok-olok, tapi pria itu tetap tenang.
"Aku tak peduli apa pandangan kalian. Tapi akan ku katakan lagi. Serahkan semuanya kepadaku. Aku berjanji akan menendang pantat Edward dan mengusirnya!"
Nada Leonardo sangat tinggi. Bahkan membuat semua orang yang tertawa berhenti serta terkejut. Dari nada Leonardo semua orang tahu bahwa dia sangat serius, meskipun baru pertama kali bertemu, tapi semua orang sangat tahu seberapa besar karisma Leonardo.
Rezor hanya tersenyum melihat semua orang yang terdiam. Dari wajahnya seperti mengatakan 'bagaimana kerenkan dia' namun itu tak terucapkan.
Seorang anak kecil menangis di bagian paling depan, dia terharu akan perkataan Leonardo. "Apakah dengan membiarkanmu bertarung sendirian maka kedamaian akan kembali."
"Ya. Aku janji, jika semisal aku gagal kalian boleh mengambil kepala ini. Lampiaskan semua emosi kalian ke aku. Itu jika aku gagal."
Semua terdiam tak tahu harus berkata apa. Tapi satu hal yang mereka ketahui, entah kenapa mereka bisa percaya kepada pemuda itu.
Melihat Semua sudah tenang Leonardo tersenyum, dia berjalan keluar ditemani oleh Razor.
Semua orang di bawah tanah tersenyum, mereka sangat yakin jika Leonardo bisa membawa kedamaian. Namun satu orang yang tidak terlihat bahagia dia Jhon, dia tak percaya dengan perkataan Leonardo. Jhon memutuskan untuk membuntuti dua orang itu.
__ADS_1