The Repeater

The Repeater
42. Pelajaran yang aneh


__ADS_3

Waktu satu hari telah terlewati kini Leonardo dan Lily sedang berada di kelas F seharusnya mereka akan berlatih menggunakan sihir karena mengingat bahwa ini adalah akademi bagi para penyihir, namun tampaknya itu tak berlaku di kelas F.


Jadwal di kelas F hanya berisi kemampuan fisik yang artinya mereka hanya diberikan jatah untuk olahraga bukan untuk berlatih sihir, dan saat ini semua siswa tampak kebingungan serta emosi dengan sistem bodoh itu.


Bahkan semua perlatan sihir seperti tongkat, sapu sihir semua diletakkan di pojok kelas tak ada satu orang pun yang boleh memakai perlatan sihir.


"Tunggu sebentar bu Rosemary! Kenapa kami tak boleh belajar sihir. Tidak lebih tepatnya ada apa dengan jadwal kelas F ini?! Apa ini sekolah militer atau semacamnya? Apa kalian mempermainkan kami?"


Salah satu siswa berdiri dari tempat duduknya, dia merasa tak terima ketika alat sihir dikumpulkan di pojok kelas.


Bu Rosemary yang sedang di depan meraka menghela nafas. "Kalian cukup diam dan ikuti jadwal! Untuk orang lemah seperti kalian, terlalu cepat 100 tahun untuk menggunakan sihir!"


"100 tahun terus kapan kita bisa menggunakan sihir?" sekali lagi siswa itu tampak tak terima.


"Itu benar bu Rosemary! Kita adalah penyihir, kita berbeda dengan para non penyihir."


"Itu benar. Apakah kalian mencoba menipu kami?"


"Atau jangan bilang! Kalian tak serius melatih kelas F ini?"


Semua keles sekarang menjadi ribut, mereka tak terima akan keputusan itu. Tapi ini tak berlaku bagi Lily maupun Leonardo, karena bagi mereka berdua mau pelajaran normal, atau tidak tak ada efeknya mereka pada akhirnya hanya memata-matai kerajaan ini tak ada niat untuk belajar sihir di sini.


"Semua tenanglah!!" Bu Rosemary menaikan nadanya.


kini semua siswa diam.


"Kalau kalian tak suka dengan cara mengajarku yang berupa fisik maka pergilah! Magnostad tak butuh penyihir seperti kalian!"


Setelah mendengar bu Rosemary berteriak semua siswa menjadi diam. Orang-orang yang sudah berdiri kembali duduk di bangku masing-masing menatap ke bawah dan tak berani melawan perkataan dari bu Rosemary.


"Baiklah karena sudah tenang maka pelajaran dimulai!"


Pelajaran berupa pelatih fisik telah dimulai. Semua siswa berlari di lapangan, menaiki tangga yang berjumlah ratusan anak tangga, melakukan puluhan kali push up, berlari mengelilingi lapangan, melompat kodok dan menaiki tangga. Itu semua dilakukan terus menerus hingga sore hari, dari pada dibilang akademi sihir pelajaran ini seperti militer mereka semua melakukan aktivas fisik.


Entah apa yang ada dipikirkan bu Rosemary, kenapa dia melakukan metode pelajaran seperti ini ada sebuah misteri, atau mungkin bu Rosemary hanya ingin mempermainkan mereka? Itulah yang ada dibenak para siswa sekarang.


Sebagian besar siswa tergeletak lemah di lapangan, ada yang muntah dengan brutal, bahkan ada yang pingsan semua orang terlihat kecapean. Nafas mereka semua berantakan.

__ADS_1


Kecuali Leonardo dan Lily, tidak itu sedikit salah kedua orang itu tergeletak di lapangan sekarang, tapi bukan karena lelah mereka hanya berpura-pura saja.


Melihat para siswa yang terbaring lemah membuat bu Rosemary berdesis kesal. "Kalian semua memalukan! Baiklah karena waktu sudah sore mungkin cukup sampai di sini dulu."


Bu Rosemary pergi, meninggalkan semua orang yang tergeletak.


Setelah kepergian bu Rosemary semua siswa kembali mengeluh mereka berdiri.


"Sialan! Dasar iblis."


"Apa dia benar-benar punya hati?" keluhan siswa berambut hitam dan memiliki mata hijau.


"Aku dengar bu Rosemary adalah salah satu mantan militer dengan kemampuan sihir di negara Magnostadt." Sahut siswa yang masih tergeletak lemas.


"Serius? Jadi begitu, dia benar-benar ingin kita pergi ke dunia militer."


"Sepertinya begit.."


"Wookkk." Ucapan siswa itu terhenti, saat dia ingin berdiri dia memuntah cairan menjijikkan.


Sementara itu Lily dan Leonardo kembali berdiri mereka berjalan bersama untuk pergi mencari makanan. Dan jika bicara tentang makanan maka tentu saja tujuan mereka adalah di kantin akademi.


Kantin itu benar-benar mewah, dari pada disebut kantin ini lebih seperti restoran. Sepertinya akademi Magnostadt benar-benar kaya.


Lily dan Leonardo berjalan ke arah kasir untuk membeli sesuatu untuk dimakan setelah itu mereka pergi di bangku kosong menikmati makanan yang telah dipesan.


Makanan mereka adalah sebuah sup putih dan satu roti. Mereka berdua terlihat menikmati waktu makan malam dengan berbincang ditemeni dengan canda tawa.


Tapi sebagian besar siswa menatap sinis ke arah mereka. Mungkin karena ke dua orang itu terlihat kusut dan kotor, yah itu wajar selama satu hari ini kelas F melakukan aktivas fisik.


Tak berhenti dengan tatapan sinis para siswa seperti berbisik mengatai ke dua orang yang berasa dari kelas rendah atau F, tapi itu tak penting bagi Lily maupun Leonardo. Mereka tak peduli sama sekali dan menikmati makan malam.


"Senior, Lily bodoh."


Suara bergema, terlihat Razor yang berpakaian seperti penyihir sedang berlari dan membawa sup di kedua tangannya, orang itu tersenyum.


"Bisa berhenti sebut aku dengan 'Lily bodoh?!"

__ADS_1


"Tidak mau." Razor menjawab dengan malas, dia duduk tepat di samping Leonardo, sedangkan Lily duduk di depan mereka berdua.


Lily menatap malas ke arah Razor. "Kenapa orang hebat dari kelas A ke sini? Anda terlalu hebat tak cocok untuk kalangan rendah seperti kami." ejek Lily.


"Berisik banget dah! Aku capek karena belajar sihir tadi tak seperti seseorang yang hanya berlatih fisik."


Razor membalas dengan ejekan, tapi dia berhenti dia baru sadar kalau si Leonardo juga sama dengan Lily.


"Maaf Senior aku tak bermaksud seperti itu.. Oh, ya kenapa kamu bisa masuk kelas F? Apakah kamu punya rencana?"


"Tidak. Aku tak ada rencana apapun, setelah melawan Edward entah kenapa aku tak bisa mengeluarkan sihir dengan baik. Ujian beberapa hari yang lalu adalah murni."


Baik Lily atau Razor terkejut, dia tak menyangka bahwa Leonardo memang melakukan itu dengan sengaja, mereka berpikir bahwa ada alasan tertentu, tapi ternyata salah.


"Apakah itu benar Leo?" tanya Lily tak percaya.


"Ya, aku serius." jawab Leonardo sambil memakan supnya.


"Tapi kenapa senior bisa mengalami hal seperti itu? Hmm, aku benar-benar tak tahu jawabannya.."


Mencoba untuk berpikir Razor memegang dagunya, beberapa hipotesis muncul di kepalanya, tapi Razor masih tak tahu apa penyebab khususnya.


"Maaf, sepertinya aku tak tahu jawabannya.." Razor menghela nafas, dia kecewa tak bisa membantu Leonardo.


"Tidak apa-apa, pasti sebentar lagi sihir bisa kugunakan lagi."


Waktu makan berjalan normal mereka bertiga menghabiskan waktu bersama dengan saling bercanda tawa, dan berpisah menuju kamar masing-masing.


Leonardo kini sedang berjalan masuk ke kamarnya, dia membuka pintu dan menatap Bryan yang terlihat tergeletak lemah di kasur.


Yah, Bryan memang terlihat tak memiliki banyak energi, jadi dia dengan mudah terkepar lemah.


Leo berjalan ke arah Bryan. "Apa kamu baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya tak terbiasa melakukan aktivas seperti yang tadi pagi, bahkan hari ini sudah ke empat kalinya aku muntah, tapi dengan tidur maka energi akan kembali."


"Jadi begitu, istirahatlah yang tenang."

__ADS_1


Leonardo menaikkan tangga kasur karena kamar ini dua orang tentu kasur ada dua, kasur ini adalah kasur tangga. Bryan tidur di bawah, sedangkan Leonardo di atas.


Leonardo merobohkan badan di kasur, menutup mata dan tertidur.


__ADS_2