
Satu bulan telah berlalu, jumlah dari siswa kelas F telah berkurang sangat banyak. Dari yang sebelumnya 34 siswa sekarang menjadi sisa 5 siswa. Alasan berkurangnya adalah karena para siswa lainnya merasa dipermainkan, mereka sudah tak kuat lagi menjalani pelajaran yang penuh dengan fisik.
"Kenapa kami harus melakukan ini?"
"Apa Bu Rosemary mempermainkan kita?" Seperti itulah para keluhan siswa.
Sebagian besar siswa memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan yang sama. Mungkin mereka memang hanya tak memiliki tekad yang kuat. Yang tersisa dan masih mau menjalani pelajaran hanya 5 orang, yaitu Leonardo, Bryan, Lily, River, dan Liana. Lima siswa itu melakukan yang terbaik untuk pelajaran fisik.
Saat ini ke lima siswa itu baru saja selesai dengan pelajaran dan beristirahat di dalam kelas. Namun kelas ini tampak sedikit berbeda, tempat ini sedikit sempit tetapi tak memiliki bangku maupun kursi. Mungkin ruangan ini khusus untuk praktek.
"Baiklah! Kerja bagus karena sudah bertahan selama satu bulan." kata Bu Rosemary ketika menatap 5 orang murid yang terlihat kotor dan lelah.
"Tapi sepertinya yang bertahan cuman 5 orang, ya? Yah. Tak apa, mereka yang keluar memang tekadnya kurang dan untukmu River, aku tak menyangka kamu akan bertahan hingga sekarang. Karena sering mengeluh kukira kamu akan mengundurkan diri."
Bu Rosemary menunjukkan jari telunjuk ke arah pemuda yang tak lain adalah River, dia berkata dengan sangat tegas.
"Sudah kubilang kan! Aku tak akan menyerah." sahut River dengan semangat membara. "Jadi, apa kegunaan dari yang kita lakukan dalam satu bulan?"
Bu Rosemary tak merespon, dia menujukan ke arah lingkaran sihir di dekatnya. "Coba keluarkan sihir sekuat tenaga di sana!"
"Baiklah aku orang pertama!" River berdiri dan melangkah ke lingkaran sihir itu.
Di depan lingkaran sihir River memegang tongkat sihir dan dengan cepat menciptakan sihir api yang sangat besar. Dia sangat terkejut, sebelumnya River tak pernah melakukan sihir sekuat itu.
"Wow." Satu kata yang bisa River katakan untuk sekarang hanya itu.
Semua orang di sana terlihat sedikit terkejut, mereka tak menyangka bahwa latihan fisik bisa memberikan dampak yang sangat besar.
"Kenapa sihir kalian bisa meningkat sekuat itu adalah karena alasan tertentu. Menurut pengalamanku ada dua alasan yang membuat sihir melemah, alasan pertama itu karena wadah dari penyihir itu lemah, melatih kekuatan fisik sama saja dengan menyesuaikan mana dengan wadah kalian, jadi sangat penting untuk melatih tubuh."
__ADS_1
"Dan untuk alasan kedua karena kalian pernah memaksakan diri menggunakan mana dengan sangat kasar. Memaksakan semua kekuatan mana dalam satu titik dan melemparkannya, itu mungkin terdengar bagus, tapi pada akhirnya itu akan membuat cedera dan penyumbatan dalam aliran mana untuk kembali melancarkan aliran mana kalian perlu latihan fisik satu bulan.. Leonardo itu adalah kasusmu kan?" Bu Rosemary menatap ke arah Leonardo.
Leo membuka mata lebar, dia teringat sebelumnya dia memang pernah memaksakan diri saat melawan Edward. Dia juga akhirnya sadar bahwa mungkin itu adalah penyebabnya.
Bu Rosemary tersenyum kecil. "Dan sebenarnya ada satu penyusup di kelas F ini. Dia sengaja mengeluarkan sihir dengan lemah agar bisa berada di kelas ini. Aku tak akan sebut siapa itu." Seseorang yang dimaksud Bu Rosemary tak lain adalah Lily.
"Serius? Dasar sialan sampai sengaja melemahkan sihir hanya untuk ke kelas F? Apa dia mengejek?!" River terlihat emosi.
Jleb. Semua ocehan itu bagaikan panah yang menusuk jantung Lily, dia sangat merasa tersindir, tapi dia berpura-pura bersikap normal agar tak di ketahuan.
...****...
Setelah hari itu kelas F kembali masuk sekolah akademi dengan pelajaran normal, tapi karena jumlah siswa yang hanya berisi 5 orang tentu saja itu membuat mereka semakin diremehkan oleh kelas lain. Semua orang menganggap kelas F adalah sampah tak berguna serta penyihir gagal dan biang kerok, atau bos dari semua masalah ini adalah Laxus, dia adalah siswa laki-laki dari kelas A yang berbakat bahkan dikatakan kalau dia adalah siswa terkuat di akademi.
Mereka pada dasarnya telah telat satu bulan dari pelajaran sihir tentu saja semua orang menganggap remeh kelas F. Semua orang pasti menganggap kalau kelas F tak akan bisa bertahan di festival akademi sihir di bulan itu.
Selama sejarah akademi Magnostadt pemenangnya adalah kelas A karena itu mereka dijuluki kelas terkuat, sedangkan kelas F selalu kalah makanya mereka dijuluki yang paling lemah.
Namun para siswa kelas F sendiri terlihat diam saja ketika di ejek. Tapi apakah mereka sungguh terima?
Tentu saja tidak..
Mereka hanya terlihat tenang diluar, tetapi akan menunjukkan emosi di tempat yang tepat. Seperti saat ini. Kelas F yang berjumlah lima orang sedang berada di kantin mereka saling duduk berdekatan.
"Sial! Mereka semua terus mengejek kita." River memukul meja dan hampir saja menumpahkan sup hangat.
"Mau bagaimana lagi? Kelas kita saja cuman berjumlah lima, wajar mereka menghina kita."
Liana yang duduk di samping River berusaha menenangkan, mata kuning dan rambutnya bergoyang saat menundukkan kepala agar dapat menatap River yang emosi.
__ADS_1
"Lin, apa kamu tak kesal?! Mereka terus mengolok-olok kita? Dan juga kalian bertiga katakanlah sesuatu! Dari kita berlima kalian sangat pasif." River menunjukkan tangan ke arah Leo, Lily dan Bryan. Ketiga orang itu bahkan sangat jarang mengatakan sesuatu.
Merasa bodo amat mereka bertiga yang duduk bersebrangan malah menikmati supnya tanpa dosa. Hal ini makin membuat River makin emosi.
"Kalian, duh!" River menghela napas melihat ke tiga orang itu, dia menepuk kepalanya sendiri.
Berusaha untuk tak peduli River kembali makan sup miliknya, dia berharap dapat menenangkan diri sendiri dengan makan makanan hangat.
"Oh, ya. Kalian pasti ikut kan?" tanya Liana.
"Ikut apa?" sahut ke empat orang yang berada di dekatnya dengan sangat kompak.
Liana menghela napas. "Maksudku adalah festival akademi! Tentu kalian ikut kan."
River tersenyum, dia memegang dadanya. "Tentu saja Liana! Pemenang akan diberikan kesempatan untuk berlatih sihir dengan kepala sekolah Morgan siapapun tentu ingin.."
River menundukkan kepalanya, dia seperti akan membicarakan hal serius setelah ini. "Aku punya tujuan ke sini, aku mencari kekuatan makanya aku harus memenangkan festival ini agar bisa menjadi kuat dengan lebih cepat."
Perkataan yang River berikan adalah serius dari tatapannya siapapun akan tahu, tapi yang mengincar kemenangan tentu bukan River seorang.
"Maaf River, tapi yang memenangkan festival adalah aku."
Leonardo menaruh sendoknya kembali, dia menatap serius ke arah River. Leonardo tak lupa tujuan ke sini yaitu untuk mengetahui sisi gelap kerajaan Magnostadt maka dari itu menang dan memata-matai Morgan, kepala sekolah serta raja adalah hal rencana yang bagus.
River terdiam karena menatap tatapan tenang tapi tajam dari Leonardo. Pria ini serius, hanya itu yang bisa dia pikirkan. Namun River tak gentar dia ingin melawan ucapan Leonardo tapi ucapan itu terpotong karena seseorang ikut dalam pembicaraan.
"Pemenangnya adalah aku."
Suara tenang dan tegas berhasil membuat semua orang terkejut, padahal sebelumnu tak ada orang namun tiba-tiba muncul seseorang, bahkan Leonardo tak sadar keberadaan orang ini. Yang sedang ada di depan mereka ada Laxus, murid jenius yaitu terkuat di akademi.
__ADS_1