
"Aku akui kemampuan milikmu. Mulai sekarang aku akan serius."
"Ya, lakukan sesukamu."
Pertarungan kelas atas telah terjadi. Mereka berdua bergerak dengan sangat cepat, kadang menghilang, muncul kemudian memberikan serangan dan kejadian yang sama terus berulang. Edward yang sebelumnya mendominasi sekarang telah imbang dengan kekuatan milik Leonardo.
Tak ada yang lebih unggul kedua orang itu terlihat sangat imbang. Api hitam dan es terus mengitari tempat itu, es yang tinggi bergerak cepat ke tubuh Edward dan Edward dengan mudah melelehkan es besar itu dengan api hitam miliknya.
"Hahaha menyenangkan, kamu sangat berbeda dengan para budakku. Ini pertama kalinya aku merasakan debar-debaran ini."
Leo hanya diam, dia tak merespon perkataan dari Edward yang ada di otaknya adalah bagaimana cara membunuh pria itu. Dia sudah membuat Monika mati, membakar kota miliknya dan berkat itu ibunya mati. Tak berhenti di situ dia juga memperjualbelikan budak, iblis satu ini tak layak untuk dibiarkan hidup. Oleh karena itu dia harus membunuhnya.
"Ada apa dengan mata itu? Oh, aku tahu kamu masih memikirkan budak itu kan?"
Mendengar kalimat 'budak itu' keluar dari mulut Edward membuat emosi Leo meluap-luap, dia memegang pedang dengan erat dan mengigit bibirnya.
Edward makin tertawa karena melihat emosi milik Leonardo. Dia memiliki rencana yaitu membuat Leonardo emosi.
"Lagi pula apa bagusnya budak itu?"
Terdiam lagi-lagi Leonardo masih menahan emosinya.
"Tapi sepertinya aku harus akui, memang budak itu agak menarik. Maksudku dia tersenyum seolah melupakan takdirnya itu benar-benar tindakan bodoh! Hahaha, apakah kamu berpikir seperti itu juga?"
Edward berusaha agar musuh miliknya emosi, tapi Leonardo tak bodoh dia tahu rencana itu. Jadi dia masih menahan emosinya dengan cara menggenggam pedang dengan sangat kuat bahkan hingga mengeluarkan darah segar.
Merasa tertantang Edward tersenyum dia akan mengatakan ejekan lagi.
"Sampah itu semenjak pergi dia jadi sering tersenyum dengan tulus, itu benar-benar konyol. Apa dia tak sadar? Pada akhirnya dia hanyalah budak apapun yang dia lakukan pada akhirnya mati, selama ada lingkaran sihir milikku dia ditakdirkan untuk menjadi sampah selamanya!! Tak ada cara lari, dan apakah kamu tahu seberapa bodohnya perilakumu sendiri?! Kalian tanpa sadar sudah memberikan harapan palsu ke gadis itu!"
"Dan juga masih banyak orang yang sama dengan Monika di dunia ini! Lalu kenapa kamu hanya mencoba menyelamatkan satu orang?! Dengan menyelamatkan satu orang dari ribuan orang yang sama bukannya itu tak adil?"
Leonardo masih tak merespon, dia mengatur nafas dan menatap tajam Edward.
"Berisik! Apa yang sebenarnya membuatmu melakukan semua ini?! Kamu membakar kota, membunuh banyak orang. Bahkan ibuku termasuk korban dan kamu menjual para manusia hidup. Yang sampah itu kamu!!"
"Hahahaha, benar-benar konyol. Aku sampah? Yah, Untuk sekarang lupakan tentang itu dan mari jawab pertanyaanmu tentang 'kenapa aku melakukan ini?'"
Leonardo menelan ludah, dia sebenarnya tak peduli alasan yang musuh ini miliki. Tapi jika dia memiliki alasan yang menyedihkan maka Leonardo akan mempertimbangkan untuk tak membunuhnya.
"Alasan aku melakukan ini adalah demi penyihir gelap itu!"
"Penyihir gelap?"
Leonardo tentu tak tahu tentang sosok itu. Jadi dia tampak terkejut.
"Benar, penyihir kegelapan. Seorang penyihir gelap, dia adalah legenda yang diciptakan oleh para dewa. Dia telah menghancurkan banyak dunia dan membunuh semua eksistensi yang berada di dunia itu, tak banyak yang tahu tentang legenda ini, bahkan sebagian besar meragukan keberadaan penyihir kegelapan."
__ADS_1
"Namun penyihir gelap merupakan legenda yang dibuat dewa. Seorang dewa pun terlihat kerepotan melawan penyihir itu, maka dari itu dia membuat legenda tentangnya, agar seseorang di dunia ini dapat menangkap penyihir itu."
'Apa yang dia katakan benar?..
Penyihir gelap, seseorang yang menghancurkan banyak dunia yang diciptakan oleh dewa, seberapa kuat dia sebenernya?..
"Aku adalah salah satu sekte penyembah penyihir gelap. Kami sengaja melakukan kejahatan demi membangunkan kembali penyihir itu. Tidak itu kurang tepat, lebih tepatnya karena mendengar legenda penyihir hitam, kami menjadi tergerak, kami kagum dan berencana untuk melakukan hal yang sama dengan penyihir gelap."
Leonardo semakin emosi karena mendengar alasan tak bermutu dari Edward. Dia marah dan tanpa sadar mengeluarkan hawa membunuh yang amat tinggi.
Emosi itu membuat angin berhembus sangat kuat. Tubuh Leonardo tidak hanya dikelilingi oleh angin, tapi juga hawa dingin dan aura keputihan. Bahkan Di tanah yang dia pijak sekarang membeku dan menciptakan es yang tingginya setengah badan dari Leonardo, es itu mengelilinginya seolah sedang melindungi tubuh pria itu. Hawa dingin ditambahkan dengan aura membunuh kini Leonardo telah benar-benar emosi, mata putih itu bagaikan salju yang akan membuat semua orang kedinginan.
Saking kuatnya hembusan angin dan hawa dingin Edward hampir terpental, dia menahan dirinya dengan menancapkan pedang agar tidak terhempas oleh angin.
'Hee, lumayan. Hawa membunuh ini, hanya bisa didapatkan jika telah membunuh banyak orang. Sebenarnya seberapa banyak nyawa yang jatuh di tangan pria ini.' Edward tersenyum sembari memikirkan itu.
"Hahaha. Kamu ternyata banyak omong ya! Kamu sok baik tahu! Hawa membunuh ini. Kamu pada akhirnya sama denganku Leonardo, kamu pasti telah banyak membunuh orang kan?! Aku sangat tahu, mata mu bukan mata seorang normal, itu adalah mata pembunuh kelas atas!!" Edward tertawa kencang dan berteriak, dia sekarang sangat berdebar.
Tidak mendengar ucapan darinya Leonardo malah mengambil pedang dari pundaknya. Dia menggenggam kuat pedang itu menggunakan kedua tangan. Kaki ditekuk kan, dan pandangan menatap tajam ke arah depan.
"Sebelumnya tadi kamu berkata tentang kenapa aku tak menyelamatkan semua orang yang sama seperti Monika kan? Sekarang aku akan melakukannya, aku akan menyelamatkan semua budak yang ada!"
"He, bagaimana caranya?"
"Dengan membunuhmu. Jika kamu mati maka semua lingkaran sihir para budak menghilang."
Edward tertawa keras, dia menganggap ucapan Leonardo sebagai bualan.
Edward merentang tangan ke atas, mengumpulkan banyak api hitam di satu titik. Api itu sedikit demi sedikit berkumpul di tangan Edward hingga menciptakan api hitam bulat pekat yang sangat amat besar. Tak hanya besar, api hitam itu juga sangat panas. Es yang berada di sekitar Leonardo dengan cepat meleleh.
"Aku benar-benar berterimakasih kepadamu! Berkatmu aku bisa melihat gadis bodoh itu mati dengan mengenaskan!"
"Apa katamu?!"
"Lihatlah gadis bodoh itu, tidak kalian sering memanggilnya dengan Monika bukan?"
"Monika setelah bertemu kalian setiap hari tertawa dan tersenyum, seolah tak sadar akan kematian yang mendekat dia tersenyum. Tidak mungkin sampah itu hanya tak ingin menerima kenyataan."
"Tutup mulutmu!"
"Setelah mengalami kehidupan harmonis dia akhirnya mati sangat luar biasa bukan? Hahaha dia benar-benar koleksi terbaik. Melihat dia menikmati hidup padahal dia sama sekali belum terselamatkan benar-benar sesuatu yang asik! Seharusnya gadis pirang itu mengalami hal yang sama dengan itu pasti akan lebih menyenangkan."
Leonardo makin emosi dia sudah tak bisa menahan amarah, dia mengeluarkan segala tenaga untuk berteriak.
"Berisik! Jangan hina Monika lebih dari itu! Tak hanya membunuh gadis kecil itu, kamu membakar kotaku, membuat banyak orang menderita. Bahkan kamu juga hampir menyakiti Lily dan membuat dia menangis!"
"Edward.. Aku.. Aku tak akan pernah memaafkanmu!!"
__ADS_1
"Hahaha, tak akan memaafkan memang apa yang bisa kamu lakukan?! Dasar lemah!".
Leonardo mengabaikan perkataan Edward, dia mengalirkan semua kekuatan mana di pedangnya. Dengan cepat pedang itu mengeluarkan hawa dingin serta uapan es, Leonardo berencana menggunakan serangan yang sama persis saat latihan kemarin. Sedangkan Edward juga sama dia mengumpulkan api hitam di tangan kanan hingga menciptakan bola sangat besar yang akan dilemparkan.
Tapi emosi Leonardo terlalu meluap jika seperti ini terus Leonardo tak bisa mengeluarkan sihir es dengan baik.
[Leo, tenangkan pikiranmu! Jangan terlalu mengalirkan mana dengan sembarangan]
Berisik! Kamu diam saja!
[Aku tak bisa melakukan itu, aku adalah Rukhmu. Tentu saja aku akan membantu, tapi Leo. pertama-tama tenang, hirup udara agar lebih tenang]
Entah terpaksa atau ingin Leo mengikuti apa yang dikatakan olehnya. Dia menghirup nafas panjang dan emosinya makin berkurang.
Kau benar, aku sedikit lebih tenang terima kasih... Nama mu siapa?..
[fu fu, aku tak mau memberitahu mu. Ingat itu sendiri nanti. Selanjutnya Leo ingat apa yang paling mau kau lakukan sekarang. Semakin kuat tekadmu maka semakin kuat seranganmu.]
Aku ingin membunuh orang ini!..
[Bagus, lakukan sesukamu. Keinginan yang kuat akan menciptakan sihir kuat.]
Ya, terima kasih dengan ini aku bisa mengalahkan Edward..
Leonardo membuka mata lebar, pedang miliknya telah mengeluarkan aura dingin. Dia telah siap melancarkan es besar.
Begitu pun dengan Edward, api hitamnya telah membentuk bola dengan ukuran sangat besar dan sangat panas. Aura panas milik Edward dan es dingin milik Leonardo saling bertarung bahkan saat sihir itu belum dilepaskan.
Angin terus berhembus kencang. Rambut kedua pria itu saling bergoyang.
"Setelah aku membunuhmu aku akan mengejar gadis pirang itu, sudah kuputuskan! Karena dia adalah aset berhargaku yang kabur!"
"Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu! Edward.. Aku akan membunuhmu!"
Mereka menatap beberapa detik dan siap melancarkan sihir.
"" Haaa""
Api hitam raksasa milik Edward dilemparkan dengan cepat ke arah Leonardo. Leonardo menatap bola api hitam yang mendekat dengan sangat tenang seolah semua itu bukan masalah.
[Ayo Leo! katakan ini secara bersamaan.]
[Ice Zero!]
"Ice zero"
Leonardo mengayunkan pedangnya menciptakan es besar yang bergerak cepat ke arah Edward untuk membekukan targetnya. Dan hanya beberapa detik semua yang berada di sana baik itu Edward maupun api hitam itu membeku.
__ADS_1
25 m dari tempat ini telah menjadi es. Bahkan tinggi es itu mencapai sekitar 10 meter. Dari es itu dapat dilihat jelas, Edward dan bola apinya yang membeku.
Pertarungan ini sudah jelas dimenangkan oleh Leonardo.