The Repeater

The Repeater
18. Makanan malam


__ADS_3

Kedua pria ini sekarang memasang wajah serius, mereka saling bertatapan dan memulai pembahasan serius.


"Magic technique: Revision?"


Leonardo menyebutkan nama jurus itu, dia tentu saja tak ingat akan kekuatan sihir itu.


Razor mengangkat bibirnya, dia telah melepaskan Rukhnya dan memasukkan pedang ke sarungnya.


"Ya, Magic Techinque: Revision. Sihir yang anda ciptakan sendiri. kekuatan dari sihir itu adalah ..........."


Leonardo membuka mata lebar setelah mendengar penjelasan dari Razor. Kemampuan yang bahkan tidak mungkin bisa dilakukan oleh penyihir manapun itulah Magic Techinque: Revision


Dari penjelasan Razor, Leonardo sangat paham kekuatan itu adalah Sihir yang melampaui batas para penyihir. Serta kemampuan yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh siapapun, sihir yang berada diluar nalar pemahaman manusia.


Apakah sihir seperti itu benar-benar ada? Bagaimana mungkin aku yang dulu membuat hal segila itu.


"Tapi, Sihir itu hanya bisa digunakan oleh senior seorang. Jujur saja aku tidak bisa melatihmu, jadi coba ingat sedikit dan latihan sendiri."


"Bagaimana aku bisa latih sihir yang bahkan aku lupa?! Apakah kamu tak memiliki sedikit pun petunjuk?"


"Tidak ada. Alasan aku memberitahu senior tentang sihir ini adalah karena aku berharap kamu bisa mengingat sedikit demi sedikit kemampuan dari sihir ini. Karena sangat rugi bila sihir sehebat itu dilupakan. Sebenarnya aku sangat ingin membantu, tapi mana bisa aku melatihmu, bahkan aku tidak bisa melakukan sihir itu."


"Yah, aku hanya bisa menjelaskan konsep dari sihir itu aku harap kamu bisa mengingat sesuatu tentang sihir itu."


Jangan bercanda! Meskipun aku tahu konsepnya, tetap saja. Mana mungkin ada sihir semacam itu.


Razor menghela nafas, dia menyadari bahwa waktu sudah semakin gelap dan ini mungkin saat yang tepat untuk beristirahat sekali lagi.


"Senior, kita akhiri latihan hari ini, kamu tidurlah dan pulihkan tubuh penuh luka itu. Dan coba ingat bagaimana kamu memakai sihir Magic Techinque: Revision."


Leonardo menganggukan kepala. Kali ini dia setuju dengan Razor, karena apapun yang dilakukan akan percuma jika, Leonardo sendiri tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Istirahat sembari mengingat itu adalah pilihan terbaik saat ini.


Setelah mereka berdua keluar dari ruang latihan, tercium aroma sedap yang menghampiri hidung mereka. Dan tepat di mata mereka terlihat meja yang tertata rapi dengan kumpulan berbagai macam makanan.


Ada kubis hijau, undang, daging ayam yang dipanggang, telur rebus, dan kentang dengan olesan saos. Semua makanan yang ada di meja terlihat enak.


"Akhirnya kalian selesai."


Lily tersenyum ke arah dua pria itu. Dia sedang duduk di meja makan ditemani oleh Monika yang berada di samping kirinya.


"Kami berdua memasak ini dengan sekuat tenaga, jadi silahkan dimakan, Leonardo dan ...?"


Monika sepertinya tidak tahu nama orang yang berada di samping Leonardo, bahkan dia memiringkan kepalanya.


"Aku Razor."


Razor memperkenalkan diri, dia menyadari bahwa Monika tak mengenalnya.


Monika lantas menundukkan Kepalanya, dia sangat merasa bersalah.


"Maaf, saya tak bermaksud seperti itu."


"Tidak apa-apa aku tak terlalu memikirkannya lagi pula aku memang belum memperkenalkan diri-"


"Sekali lagi aku meminta maaf, aku memang menyedihkan. Sebagai permintaan maaf aku akan..."


Monika menaruh pisau di lehernya, siapapun akan tahu apa yang ingin dia lakukan.


"Tunggu!! Aku maafkan kok, jadi jangan lakukan hal bodoh oke!"


Razor menaikan nadanya, dia benar-benar takut akan apa yang ingin gadis itu lakukan.


Setelah beberapa saat mereka akhirnya menikmati makan hangat. Bercanda tawa dan tersenyum bersama, mereka semua menikmati waktu yang ada.


Melihat mereka semua tersenyum benar-benar membuat hatiku nyaman. Makanan hangat dan situasi ini pasti akan ku lindungi apapun yang akan terjadi. Dan juga aku tak akan membiarkan mimpi buruk itu menjadi kenyataan, aku akan melindungi mereka semua..


Ditengah keramaian dan canda tawa itu, Monika terus menatap Leonardo. Tidak, lebih tepatnya dia menatap ke arah luka-luka yang diterima Leonardo. Gadis itu khawatir, karena baginya Leonardo adalah sosok yang berharga sekarang. Dan bukan hanya Leonardo saja, semua yang berada di sini adalah harta bagi dia. Jadi wajar kalau dia mengkhawatirkan luka yang diterima Leonardo.


"Kenapa kamu terus menatap dia?"


Lily berbisik, dia terlihat tersenyum saat mengatakan itu.


"Tidak. Bukan hal seperti itu kok. Aku hanya khawatir dengan luka di sekujur tubuhnya."


Monika merasa malu karena dia seperti sedang digoda, dia menundukkan kepala ke bawah.

__ADS_1


"Hehehe.. Monika lucu."


Karena merasa gadis yang duduk disampingnya imut, Lily memutuskan untuk mencubit bibir Monika, dia terus mencubit dan tersenyum.


"Tolong berhenti.. Lily."


"Tidak mau, habis Monika terlalu imut."


Monika semakin cemberut karena diperlukan seperti anak kecil, dia sedikit jengkel ke Lily. Tapi rasa jengkel itu justru membuatnya makin terlihat lucu dan membuat Lily makin ingin menggodanya.


Meresa Monika akan semakin marah dan telah puas, Lily memutuskan berhenti menggodanya. Dia kembali duduk normal dan menikmati makanannya.


Mata biru Lily sekali-kali bertatapan dengan Leonardo, saat saling bertatapan gadis ini mengeluarkan senyuman terbaiknya.


Dia semakin tersenyum lebar dan senang ketika menyadari bahwa makanan yang dia masak sedari tadi dinikmati oleh Leonardo. Lily tidak bisa melepaskan pandangannya dari pria itu, dia tentu saja merasa senang masakan yang dia buat dengan susah payah dinikmati oleh pria yang dia sukai.


"Kenapa kamu melihat ke sini terus Lily?"


Leonardo masih tak menyadari dengan perasaan gadis itu, sekali lagi dia benar-benar bodoh. Bagi Leonardo Lily hanyalah orang pertama yang dia temui dan teman.


Senyum lebar dan manis terlukis di wajah Lily dengan pipi serta telinga yang telah memerah dia menatap ke Leonardo.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu apa makanan itu enak?"


"hmm, enak kok. Aku memang lupa banyak ingatan jadi aku tak terlalu tahu akan rasa makanan, tapi satu hal yang pasti. Aku jadi iri dengan diriku yang dulu karena bisa makan makanan seperti ini sendiri. Aku yang dulu pasti diberkati." Leonardo menjawab dengan tersenyum ke arah Lily.


Pipi dan telinga Lily makin memerah dan panas, dia tak bisa berkata-kata setelah mendengar ucapan dari Leonardo. Jantungnya terus bergetar, dia tak pernah sadar bahwa Leonardo menyukai masakan yang selalu dibuat olehnya. Sejak dulu mereka memang saling makan bersama dan Lily lah yang memasak, tapi karena takut dia tak pernah menanyakan pendapat. Karena itulah dia sangat senang mendengar pujian dari Leonardo.


"T... Ter.. Terima kasih."


"Lily, mukamu merah lo, apa kamu demam?"


Leonardo mendekatkan tangan ke arah Lily, mencoba untuk meraba kepalanya serta mengecek suhu dari tubuhnya.


Namun karena rasa malu yang tak tertahankan Lily menepis tangan itu. Dia tak mau menatap Leonardo dan terus memandang ke bawah lantai.


"Aku baik-baik saja, dasar bodoh!! Yang lebih penting makanlah sebelum dingin!"


Lily menaikan nadanya, seolah-olah menutupi rasa malu itu, tapi tindakannya justru menunjukkan bahwa dia telah salah tingkah. Dari ekspresi wajahnya saja semua orang pasti menyadari, Kecuali Leonardo.


'Senior, mau lupa ingatan atau tidak, kamu tatap tidak bisa memahami perasaan gadis' pikir Razor


Dua orang yang menatap kelakuan dua orang itu hanya bisa mengeluarkan senyuman, mereka benar-benar menikmati situasi ini.


Setelah beberapa saat akhirnya makanan telah habis. Piring yang sebelumnya telah penuh akan makanan kini telah menjadi kosong.


Leonardo dan Razor kembali ke tempat latihan, tapi bukan untuk melanjutkan latihannya. Mereka hanya ingin tidur di sana, karena ruangan Razor terbilang hanya muat untuk dua orang dan lagipula di situ hanya ada satu kasur.


Sedangkan Monika dan Lily membereskan bekas makanan, kemudian mereka membaringkan tubuh ke arah kasur.


Mereka berdua menatap ke arah atas. Monika terus memikirkan tentang luka yang dialami oleh Leonardo, ingin rasanya dia melakukan sesuatu dan menyebuhkan luka itu. Tapi sayangnya semua perban maupun obat yang lainnya telah habis.


Monika menghela nafas, dia benar-benar bingung saat ini. Menyadari temannya tampak memiliki masalah, Lily membuka mulutnya.


"Ada apa Monika?"


"Tidak aku hanya berpikir tentang luka Leonardo. Dia terlihat babak belur, aku ingin mengobati luka itu, tapi mengingat di sini sudah tidak ada perban maupun obat lain aku jadi bingung. Dan juga karena kita menjadi buronan tentu saja kita tidak bisa bebas keluar untuk membeli obat. Apa yang harus kulakukan?"


Monika semakin terlihat sedih dia memeluk erat bantal yang berada di dekatnya. Monika sangat ingin menyembuhkan luka dari Leonardo karena dia takut jika sesuatu terjadi terhadap orang itu.


Sedangkan Lily malah tersenyum lebar, dia tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Makanya dia bisa tersenyum seperti itu. Lily berdiri dari kasur dan menatap ke arah Monika dengan tersenyum.


"Kamu tidak perlu khawatir Monika aku punya solusi."


"Kamu serius?"


Muka Monika yang sebelumnya sedih dan murung sekarang berubah menjadi penuh harapan, bahkan matanya terlihat berkilau. Dia sangat berharap dengan 'solusi' yang dimaksud oleh Lily.


"Ya, kamu lihat saja..."


Lily membalikkan badan, dia merentangkan tangan ke depan.


"Wahai Raphael sosok gelap di dalam hatiku dengan ini aku berikan aku kekuatanmu! Berikan aku semua yang kau miliki! Dengan ini aku memanggilmu! Keluarlah dari dunia itu dan datanglah ke sini!"


Lingkaran sihir muncul di bawah lantai. Lingkaran itu memunculkan warna kebiruan dan pada akhirnya memunculkan seorang pria.

__ADS_1


Pria itu tak lain adalah Raphael. Dia adalah Rukh milik Lily. Dia mengenakan jas hitam. kacamata hitam yang digunakan sebagai hiasan di kepala. Memiliki rambut coklat. Mata berwarna oranye dan memiliki postur tubuh tinggi sekitar 190 cm.


"Apa yang anda butuhkan kali ini nona? Apakah anda ingin curhat lagi? Memanggil saya bahkan saat tidak bertarung, anda benar-benar orang yang cukup unik."


Itu adalah pertanyaan normal. Biasanya Rukh hanya dikeluarkan saat bertarung, tapi Lily berbeda. Dia sering memanggil Raphael hanya untuk berbicara dan melakukan perintah konyol seperti membantunya membersihkan ruangan, atau kegiatan lainnya. Dari pada disebut Rukh, Lily lebih menganggap Raphael sebagai teman.


Namun pria ini, Raphael justru merasa harga dirinya dipermainkan. Meskipun dia merasa tak sopan karena dia adalah tuannya, tapi kadang dia emosi ketika dipanggil tanpa alasan. Meskipun kadang terlihat emosi sejujurnya dia cukup menikmati waktu bersama Lily.


Raphael juga tak terlalu tahu, tapi di dalam hatinya yang paling dalam, dia menganggap Lily sebagai adiknya.


"Aku memanggilmu kali ini karena-"


"Cukup! Pasti alasan yang tidak jelas kan? Hah, aku sudah muak dengan perintah bodohmu."


"Apa katamu?! Dasar tidak sopan. Begini-begini aku ini tuanmu loh, setidaknya tunjukkan rasa hormatmu!"


"Jangan bercanda! Aku akan menghormati kalau dalam pertarungan, tapi setidaknya jangan seenaknya memanggilku tanpa alasan. Begini-begini Rukh juga punya kehidupan sendiri jangan seenaknya memanggil tanpa alasan yang jelas!"


Lily semakin dibuat emosi, dia tak mau kalah dengan argumen dari Raphael.


"Apasih dasar jahat! Dingin! Tak berperasaan! Dasar lelaki Bodoh!"


Jleb, semua perkataan itu menusuk hati Raphael. Pria ini sudah diambang batas, dia tak bisa mengontrol emosi dengan baik.


"Sudah cukup dasar anak sial--"


"Anu... Bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


Monika menghentikan pertengkaran mereka bedua. Dan sepertinya kedua orang itu melupakan kehadirannya.


Lily dan Raphael menghela nafas. Lily mulai menjelaskan siapa Raphael dan kenapa dia bisa tiba-tiba di sini. Tapi sepertinya penjelasan itu tak berguna, Monika malah semakin terlihat bingung. Sebenarnya ini wajar siapa orang normal yang tiba-tiba bisa memahami tentang Rukh.


"Hah. Ini percuma nona."


"Untuk kali ini aku setuju Raphael, tapi lupakan itu dan mari kita kembali ke tujuan kenapa aku memanggilmu. Kamu sudah siap kan Raphael."


"Ya...Ya.. Aku siap melakukan hal bodoh lagi. Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"


Lily tersenyum dari senyuman itu tak ada rasa imutnya malah justru membuat Raphael semakin merinding. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan disuruh oleh gadis itu.


"Yosh.. Raphael berubah ke gunting."


"Oke akan kulakukan nona.... Tunggu! Kau bilang gunting tadi?! Kau anggap apa Rukhmu ini. Aku memang bisa berubah menjadi apapun yang kau inginkan, tapi jangan seperti ini juga."


"Apa yang kau komentarkan sekarang? Bukankah dulu bahkan lebih parah."


Ingatan buruk terlintas di otak Raphael. Dia mengingat bahwa sebelumnya dia pernah berubah menjadi pel dan sapu, Lily merubah bentuknya hanya untuk membersihkan rumah.


"Baiklah sesuka tuan putri."


Raphael berubah menjadi gunting kecil, dia saat ini dipegang oleh Lily menggunakan tangan kanannya.


"Jadi apa yang mau kau lakukan sekarang tuan putri."


Mata dan mulut kecil muncul di gangang gunting, membuat Monika berteriak karena ketakutan. Raphael masih bisa berbicara walaupun telah berubah menjadi barang, karena jiwanya masih sama hanya bentuknya yang berbeda.


"Raphael jangan buat Monika ketakutan! Aku hanya ingin sedikit memotong rambutnya."


"Kamu ingin memotong rambutku? Untuk apa?"


"Aku ingin agar penampilan kita berbeda dengan seperti itu, setidaknya para penduduk tak akan mengenal kita."


"oh, jadi gitu."


Setelah beberapa saat akhirnya Lily mulai memotong rambut poni panjang milik Monika. Dia merubah stylenya rambutnya menjadi lebih pendek. Rambut belakang yang sebelumnya panjang sekarang hanya sampai sebahu.


Rambut Monika yang berwarna Orange telah di semir oleh Lily menjadi hitam. Kini penampilan Monika sedikit berubah, dia menjadi gadis berambut hitam yang lebih terlihat menggemaskan dan terlihat tomboy.


Tapi meskipun begitu Monika tetap orang yang sama. Bagi orang yang sering bersama dengannya pasti tetap sadar bahwa dia adalah Monika.


Lily juga merubah style Rambutnya menjadi rambut pendek yang terurai hingga bahunya. Seorang yang memotong rambut Lily adalah Raphael.


Benar-benar orang yang menyedihkan, dia benar-benar seperti tidak ada harga diri sebagai Rukh, tapi meskipun Raphael kadang emosi, dia tetap mengikuti apa yang diinginkan Lily. Dia sangat sayang dengan tuannya.


Merasa semua persiapan telah selesai mereka berdua memutuskan untuk pergi dan mencari obat serta berbagai jenis makanan untuk dimakan beberapa hari lagi.

__ADS_1


Monika sebenarnya memiliki firasat buruk, meskipun style mereka sudah berbeda dan kebanyakan orang tidak akan mengadari mereka, tapi rasa buruk itu tak mau hilang.


Keputusan mereka untuk keluar akan merubah takdir menjadi lebih buruk, atau justru membaik? Tidak akan ada yang tahu jawaban itu.


__ADS_2