
Akhirnya mereka sampai di kerajaan Magnostadt. Kerajaan ini merupakan kerajaan yang sangat megah. Dikelilingi oleh tembok besar berbentuk lingkaran. Bangunan-bangunan di negara tersebut menyerupai istana-istana kecil, dengan beberapa bangunan melayang di udara, jika ingin ke sana harus diakses dengan menggunakan karpet terbang. Ada aliran air besar dengan alat ajaib di sekitarnya yang mendistribusikan air ke seluruh kota.
Tak berhenti di situ banyak para penyihir yang berterbangan di langit yang cerah, dari pakaian yang mereka pakai sepertinya mereka merupakan siswa akademis di sini. Pakaian itu berwarna hitam dengan topi ala penyihir. Para siswa berterbangan menggunakan sapu sihir, atau ada juga karpet terbang.
Apapun itu Leonardo, Lily, dan Razor tak bisa berkedip untuk menatap pemandangan indah ini. Mereka tersenyum karena kagum, ini pertama kalinya bagi mereka semua pergi di kerajaan lain. Yang bahkan memakan waktu sekitar dua minggu lebih.
Diperjalanan benar-benar merepotkan, kadang Lily mabuk kendaraan, bandit datang menyerang lagi dan membuat alasan yang sama seperti sebelumnya dan mereka semua ditendang dengan cepat. Banyak sekali peristiwa yang terjadi selama dua minggu lebih itu.
Melewati mabuk kendaraan, sesak nafas. Akhirnya tiga orang itu kini berhasil menikmati udara segar ditambah lagi dengan pemandangan indah seperti ini, tentu saja semua tersenyum dan menghela nafas lega.
""Hah, indah sekali."" ucap mereka secara bersamaan.
Helaan nafas bahagia dilakukan beberapa kali. Satu kali. Dua kali. Dan berhenti di helaan nafas ketiga mereka teringat akan tujuan datang ke sini.
""Tunggu! Jangan lupakan tujuan!"" ucap mereka serentak.
Karena tak ingin menjadi pusat perhatian dan ingin segera melakukan tujuannya, mereka memutuskan untuk segera berjalan kaki. Bertanya ke pada penduduk tentang lokasi akademis dan akhirnya mereka tahu di mana letaknya. Beruntungnya saat ini akademi Magnostadt sedang membuka pendaftaran, jadi ke tiga orang ini bisa mematai-matai dengan menjadi siswa di sana.
Akademis penyihir terletak di tengah kerajaan. Akademi itu terlihat sangat kokoh dan memiliki tingkat perlindungan yang cukup tinggi bahkan terdapat dua pria gagah dengan armor di sekeliling tubuhnya sedang berjaga di gerbang besar di sana.
Saat menyadari keberadaan Leonardo dan lainnya penjaga sekolah itu berkata,
"Siapa kalian?!" Sambil bersiaga salah satu pria dengan wajah garang mengangkat pedangnya.
"kami bukan orang mencurigakan," Kata Razor berusaha meyakinkan.
Namun Lily yang tersinggung mulai emosi. "Siapa kalian?! Menganggu saja, hush lenyaplah!"
* Brak
Razor menjitak kepala Lily menyuruhnya untuk diam. "Dasar Lily bodoh, jaga ucapanmu!"
"Apa yang salah dari perkataanku? Mereka memang menganggu! Kita hanya ingin pergi ke akademis!"
Mendengar ucapan akademis para penjaga membuka mata lebar, mereka tampak terkejut dan ekspresi yang sebelumnya tegang berubah menjadi tenang.
"Jadi kalian ingin ke akademi ya? Kalau seperti itu bilang dari tadi!" ucap salah satu penjaga.
"Kalian beruntung! Sekarang akademis sihir sedang membuka pendaftaran," ucap penjaga yang disampingnya.
"Ya, seperti itulah kami ingin pergi mendaftarkan diri, hahaha."
__ADS_1
Mencoba untuk tenang Razor tertawa agar tak terlalu dicurigai.
Kemudian para penjaga membuka gerbang akademis dan menampilkan sekolah yang cukup besar. Tidak ini terlalu besar. Bangunan kuno yang terlihat seperti istana kecil, lapangan yang sangat besar seperti stadiun yang digunakan untuk latihan sihir dan bertarung.
Para penjaga menuntut ke tiga orang itu menuju suatu tempat yang katanya di sana adalah tempat untuk mendaftarkan diri. Tempat itu terlihat seperti lapangan yang terbuka dengan kursi dinding yang melingkarinya berbentuk seperti stadiun. Tak hanya itu banyak orang yang terlihat ingin mendaftarkan diri berkumpulan di tempat ini.
"Tempat ini diciptakan untuk latihan sihir, latihan bertarung, dan di sinilah tempat kalian akan diuji oleh kami!" jelas ke dua penjaga tersebut. Mereka seolah tahu bahwa Leonardo dan lain-lain tak paham dengan situasi.
""Selamat datang di akademi Magnostadt!""
Suara lantang berbunyi mengitari stadiun, suara tersebut berasal dari seorang pria yang terlihat seperti penguji di sana, dia terlihat muda mungkin sekitar 20 tahun.
Leonardo, Lily, dan Razor mendekati kerumunan itu agar dapat mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh penguji tersebut. Mereka bahkan melupakan para penjaga yang telah memberikan arah ke sini.
Berjalan mendekat dan akhirnya mereka dapat mendengar sertifa melihat dengan jelas penguji tersebut.
"Hari ini adalah hari pendaftaran dan tentunya untuk mencari siswa baru kami akan mengadakan ujian." ujar penguji yang berdiri tepat di depan kerumunan.
"Ujian? Apa yang harus kami lakukan?" Salah satu pria di sana mengajukan pertanyaan.
"Karena ini adalah sekolah penyihir tentu saja kita akan mengetes sebesar apa kekuatan sihir kalian. Ujian dilakukan sekarang. Peraturan dari ujian sangat simpel kalian tinggal mengeluarkan sihir terkuat kalian di tempat para penguji berada, kami menyiapkan 5 penguji agar mempercepat pendaftaran. Dan untuk urutan akan kami sebut sesuai nomer."
Setelah menjelaskan tiba-tiba di dada semua para peserta memiliki angka yang masing-masing. Angka ini adalah urutan untuk memulai uji coba. Leonardo angka 25, Lily 34, Razor 3.
"Kalian tenang lah! Urutan itu sudah kami tentukan dengan cara random, jadi mau angka berada dan siapa yang lebih cepat tak ada bedanya."
Mendengar penjelasan membuat sebagian peserta menjadi tenang. Mereka kini telah diam.
"Baiklah, peserta nomer 1-5 silahkan maju!"
Sekitar lima orang maju ke depan termasuk razor, di sana terdapat 5 penguji yang masing-masing mengurus satu peserta, mereka mengawasi kemampuan sihir dari masing-masing para peserta. Para penguji sebagian besar menggunakan pakaian hitam dan terlihat agak tua.
* Swosh
Para peserta mengeluarkan sihir terkuat mereka masing-masing. Peserta ke satu mengeluarkan hembusan api yang kuat, peserta ke dua mengeluarkan sihir angin kuat. Peserta ke empat mengeluarkan air. Peserta ke lima tanah. Dari ke empat itu semua menghasilkan sihir yang sangat kuat, namun semua sihir itu tertahan oleh semacam pelindung jadi batasan area dari sihir itu hanya terbatas. Pelindung itu diciptakan dengan cepat oleh para pengawas agar para peserta lain tak terkena dampak.
Baik peserta 1,2,4,5 telah mengeluarkan sihir terkuat mereka. Tinggal Razor peserta ke tiga. Razor tampak agak ragu entah sedang memikirkan sesuatu.
Semua kuat mereka memiliki sihir kelas atas..
Dan yang paling menakjubkan adalah para pengawas, mereka dengan cepat membuat pelindung agar semua sihir tak terkena peserta lain..
Ini benar-benar membuatku bersemangat, aku akan mengeluarkan sihir terkuatku dan masuk ke kelas A..
__ADS_1
Aku yakin Senior juga bisa masuk kelas A, Lily juga. Jadi kami pasti berkumpul di kelas A..
Di Akademi Magnostadt semua kelas di bagi sesuai kemampuan para siswa. Mulai dari kelas F dari yang terlemah dan tak berbakat sampai dengan kelas A yang penuh akan bakat. Razor berencana masuk kelas A agar bisa lebih dekat dengan kepala sekolah Morgan. Dia juga yakin pasti Leo dan Lily bisa ke sana.
"Woi, peserta no 3 cepat keluarkan sihirmu!"
"Baik.."
Razor menutup mata, dia merentangkan tangan ke depan dan..
* Duar
Dia dengan cepat membuat petir besar yang menyambar tanah bahkan tanah sampai bolong dan hancur, pengawas pun juga terkena dampaknya, baju milik pengawas itu terlihat gosong sebelah.
"Baik, Razor kamu masuk kelas A.."
Seolah tak peduli dengan baju dan muka yang gosong pengawas itu berbicara dengan santai, ini menandakan bahwa semua pengawas sudah memprediksi bakat luar biasa dari para calon siswa mereka.
"Baik selanjutnya..."
Waktu terus berjalan, hampir menampilkan siswa dengan sihir kuat masing-masing sebagian besar memasuki kelas B dan tak sangat jarang yang dapat kelas A walaupun ada pasti mereka akan disoraki dengan kegembiraan.
Setelah sekian lama akhirnya giliran Leonardo dia kini berada di depan pengawas ujian, semua temannya pasti berharap kepada Leonardo, baik Lily maupun Razor sangat yakin pasti pria itu bisa masuk kelas A dengan sangat mudah.
Namun kepercayaan diri tak berlaku bagi Leonardo, mengingat beberapa hari yang lalu dia tak bisa mengeluarkan sihir es dengan baik bahkan hingga sekarang. Dia tahu bahwa ada yang salah, tapi tak bisa menentukan apa yang salah.
Dia sebelumnya pernah menanyakan ini ke rukhnya, tapi tak ada respon. Setelah melawan Edward rukh milik Leonardo sudah tak berbicara lagi.
"Baik peserta no 25 silahkan!"
Aba-aba telah dimulai Leonardo harus mengeluarkan sihir terkuat miliknya, tapi saat ini gawat Leonardo tak bisa mengeluarkan sihir dengan normal, dia sangat tahu hal itu.
Bagi senior tes ini sangat gampang, jika dia menggunakan semua kekuatannya satu akademis juga akan membeku.. Tatapan penuh harapan dilancarkan oleh Razor, dia tak tahu bahwa Leonardo sedang kesusahan dalam mengontrol sihir.
Leonardo tak peduli mau bisa keluar, atau tidak dia akan melakukan yang dia bisa. Dia menutup mata dan mengayunkan tangan ke kanan.
Ice Zero..
Dan hasilnya mengecewakan sihir es yang Leonardo keluarkan tak lebih dari kemampuan kelas rendah karena itu kelas yang akan dia masuki adalah..
"Baik, Leonardo kamu masuk kelas F."
Setelah sekitar 25 siswa akhirnya ada satu siswa yang memasuki kelas F, kelas para penduduk berkempuan rendah, entah takdir atau semacamnya kini Leonardo harus memasuki kelas lemah itu.
__ADS_1