
"Pemenangnya adalah aku."
Suara tenang dan tegas berhasil membuat semua orang terkejut, padahal sebelumnu tak ada orang namun tiba-tiba muncul seseorang, bahkan Leonardo tak sadar keberadaan orang ini. Yang sedang ada di depan mereka ada Laxus, murid jenius yaitu terkuat di akademi.
"Kelas lemah seperti kalian mana mungkin menang! selama ada aku maka kemenangan sudah sangat jelas." ucap Laxus dengan menyombongkan diri, dia merasa bahwa dirinya adalah orang paling istimewa di sekolah ini.
River tampak tak terima. "Apa katamu?!" Dia menatap tajam Laxus.
"Ho, mau bertarung kah, anak lemah?" Laxus tersenyum kecil dengan sedikit mengejek.
Pandangan kantin dengan cepat berubah ke arah meja makan mereka bertiga. River dan Laxus telah membuat situasi menjadi ramai penuh akan bisikan, semua orang pasti tak menyangka bahwa Laxus siswa terbaik sedang berada tepat di dekat mereka dan yang lebih penting lagi ada seseorang yang berani melawan Laxus.
Tentu saja hal itu membuat kegaduhan dan dengan cepat semua saling berbisik.
"Itu Laxus dengan siapa lo!"
"Iya aku tahu, seperti rumor dia terlihat kuat."
"Tapi siapa mereka? Berani sekali berurusan dengan Laxus."
"Aku dengar mereka dari kelas F."
"Serius? Apa mereka gila?"
Seperti itulah para bisikan yang ada di ruangan kantin. Tempat yang sebelumnya tenang kini berubah jadi sedikit mencengkram. Laxus dan River saling menatap tajam.
"Dasar sampah! Kalian para kelas F pada akhirnya tak akan bisa memenangkan apapun itu."
"Siapa yang kamu panggil sampah?!" River memukul meja dan berdiri, dia tak terima.
Kedua pria itu kini menatap dengan tajam.
"Woi, sudah cukup! Jangan mengganggu waktu makan berharga kami!" Lily menaikan nadanya, dia terlihat marah karena saat River memukul meja tanpa sengaja sup yang dia pesan tumpah.
Laxus melirik ke arah Lily tatapannya begitu menakutkan dan tajam, pria itu terlihat sangat marah. Dia mencengkeram kedua lengannya kemudian berjalan ke arah Lily.
"Apa?!" Berusaha bersikap tenang Lily menaikan nadanya, namun tubuh tak bisa berbohong dia merasakan ketakutan yang amat dalam dari tatap Laxus.
__ADS_1
Laxus melangkah semakin dekat dan semakin dekat, ketika dia berada tepat di depan Lily, Laxus mengayunkan satu pukulan keras menuju pipi gadis itu. Lily tampak ketakutan, dia spontan menutup mata. Pukulan itu hampir saja mengenai wajah cantik milik Lily, untung saja ada Leonardo yang menghentikan aktivitas Laxus.
Laxus dapat merasakan sesuatu seperti benda tajam dan dingin sedang berada tepat di lehernya, saat dia menyadari benda itu, Laxus menghentikan pukulan dan menatap sumber dari masalah. Dia adalah Leonardo, leo terlihat menciptakan pedang dari es dan meletakkan pedang itu tepat di leher Laxus tak berhenti disitu Leonardo juga menatap tajam ke Laxus.
Laxus dapat merasakan bahwa orang yang ada dihadapannya memiliki sedikit perbedaan. Setidaknya dia patut diwaspadai, maka dari itu Laxus tertawa kecil.
"Hahaha, tak kusangka di akademi ada orang sepertimu."
Leonardo tak merespon yang dia lakukan adalah menekan pedang es itu ke lehernya, memberi isyarat untuk jangan bergerak atau pedang itu akan mengores lehernya, serta menatap tajam Laxus.
Laxus tersenyum kecil. "Baiklah, aku akan mundur dulu. Tapi aku benar-benar tertarik denganmu Leonardo." Laxus tertawa seperti orang gila, pria itu pergi dari kantin.
Semua keributan di kantin dengan cepat menghilang ketika Laxus pergi. Para tatapan siswa di kantin menuju ke arah Leonardo dan teman-temannya, semua tampak tak percaya bahwa ada yang bisa membuat Laxus mundur bahkan sampai Laxus tertarik terhadap seseorang. Hal itu sangat tak bisa dibayangkan tentu saja semua terkejut.
...----------------...
Di waktu yang sama Razor dan Ellina terlihat sedang makan bersama, tapi bukan di kantin melainkan di halaman sekolah, lebih tepatnya tempat mereka pertama kali berbicara, yaitu di pepohonan besar. Ke dua orang itu berlendetan di pepohonan beringin dan menikmati waktu istirahat dengan makan.
Belum ada komunikasi di antara mereka, Razor hanya menatap ke depan dan terus mengunyah nasi kepal, sedangkan Ellina seperti biasanya dia membaca buku sambil memakan sedikit nasi kepal.
"Ne, kenapa kamu selalu menemaniku?" Ellina membuka pembicaraan dengan nada tenangnya.
"Hm, bukannya sudah kubilang, aku anak pembawa kehancuran, jika tak menghancurkan sesuatu maka itu hanya nama. Maka aku putuskan untuk menghancurkan kesepianmu." sahut Razor sambil bergelut dengan nasi kepalanya, dia bahkan tak menatap Ellina.
Mendengar jawaban panjang lebar dari Razor membuat Ellina tersenyum kecil, dia menundukkan kepala karena sedikit tersipu malu.
"Jawaban macam apa itu? Apakah kamu mencoba merayuku?" gumam Ellina dengan memasang wajah cemberut.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" Razor memiringkan kepala dan menatap Ellina yang tersipu malu.
"Bukan apa-apa!" Ellina menaikan nadanya, dia menolak untuk bertatap dengan Razor.
Mereka kembali melanjutkan aktivitas makannya berbeda dengan sebelumnya mereka sekarang sedikit berbincang-bincang tentang hal kecil.
Waktu terus berjalan akhirnya istirahat telah selesai. Razor dan Ellina berjalan bersama menuju kelas A.
Saat Razor membuka pintu, dia dikejutkan dengan kelas A yang sedang gaduh. Ada satu siswa yang terlihat dengan sombongnya duduk di kursi. Dia terlihat menindas satu orang yang sedang berlutut tepat di depannya.
__ADS_1
Orang yang tertindas terlihat babak belur, Razor tak tahu apa yang terjadi, namun yang pasti kelas menjadi gaduh. Semua siswa menatap dua orang itu, yang satunya berlagak menjadi bos dan satu lainnya ditindas.
Sebenarnya para siswa ingin membantu, namun karena tahu siapa sosok yang melakukan kegaduhan mereka memutuskan untuk diam saja dan mengamati segala tindakan keji. Mereka memendam rasa kejam dengan cara mengigit bibir dan mencengkram tangan.
Siswa sombong dan duduk di meja, memiliki warna rambut hitam. Bekas luka bakar di pipinya, wajah yang sangar, Dia memiliki tubuh yang tinggi dan berotot. Dia juga mengenakan jaket seragam di pundaknya, seperti jubah. Ia memadukannya dengan kemeja putih, celana hitam, dan dasi yang diikat longgar. Tatapannya sangat tajam ketika menindas satu orang yang berlutut di depannya. Tatapan itu seakan menganggap bahwa dia adalah sampah tak berguna. Dia adalah Laxus.
"Dasar sampah! Apa yang baru saja kamu katakan tadi? Coba ulangi lagi!" Laxus membentak dia terlihat sangat marah.
"..."
Tak ada jawaban dari siswa tersebut, tidak lebih tepatnya siswa itu sudah tak punya tenaga bahkan untuk berbicara. Dia terlihat sudah menerima pukulan berkali-kali.
Brak
Laxus menginjak-injak siswa itu dengan kasar. "Aku taku dengan anak di kelas F? Aku pergi dari kantin karena takut oleh satu orang?! Jangan bercanda!"
Laxus menendang tubuh siswa itu hingga terhempas di tembok.
"Aku tak mungkin takut oleh siswa sampah dari kelas F!"
Razor pada awalnya tak mengerti apa yang terjadi, tapi karena mendengar bisikan dari orang di kelas dia paham dengan situasi yang terjadi.
Tampaknya Laxus berdebat dengan siswa di kelas F dan ada satu siswa di sana yang berhasil membuat Laxus mengurungkan niat untuk bertarung serta pergi dari kantin. Razor berpikir bahwa mungkin saja siswa yang dimaksud adalah Leonardo.
Dan karena Laxus yang sombong serta diktator mengurungkan niat untuk bertarung tentu saja itu membuat semua orang terkejut dan kagum. Siswa yang ditindas adalah salah satu yang kagum.
Dia tanpa sengaja membahas topik mengenai Leonardo yang berhasil membuatnya lari dan skenario terburuknya adalah Laxus mendengar pembicaraan itu. Laxus tak terima dan mulai menyerang siswa itu.
"Sial! Sial! Aku tak mungkin takut dengan siswa cecunguk berambut putih itu!" Laxus terus menginjak siswa itu dengan brutal tak peduli akan kondisi fisik orang yang dia tindas.
Semua orang makin geram ingin membantu, tapi takut ditengah ketakutan itu satu siswi memberanikan diri untuk membantu, dia adalah Ellina.
Ellina langsung menuju ke arah Laxus bahkan Razor sempat terkejut, dia tak menyangka bahwa Ellina berani, dia berjalan mengikuti Ellina yang nekat itu.
"Berhenti Laxus!" Ellina berkata dengan nada tenang dan dingin membuat siapapun langsung menoleh ke sumber suara.
Laxus tersenyum kecil. "He, ada nona cantik di sini!"
__ADS_1