
Festival Magnostadt telah dimulai. Hari ini pertandingan akan dilaksanakan dengan pertarungan antara Laxus dan River. Peraturan dari pertandingan sangat simpel jika lawan jatuh pingsan atau dia tak sadar diri maka pertandingan dinyatakan menang.
Apabila seseorang menyerah juga akan dianggap menang, dan pemenang dari pertandingan akan menuju babak ke dua untuk bertarung dengan musuh selanjutnya yang juga berhasil memenangkan pertandingan, hal itu terus berulang hingga sekitar 4 kali.
Di ronde ke empat adalah pertandingan final pemenang dari pertarungan akan menjadi murid privat Morgan, tak hanya itu kelas dari pemenang juga akan menjadi top serta mendapatkan fasilitas yang lebih bagus.
Saat ini di lapangan sekolah, semua siswa dan guru berkumpul untuk menyasikan pertandingan ini. Mereka terlihat kegirangan tak sabar menyasikan pertarungan hebat yang terjadi.
Sedangkan itu dua orang yang berada di bawah sebagai petarung hanya saling menatap dengan pandangan kebencian. Sampai akhirnya aba-aba dimulai.
“Baiklah pertandingan dimulai!”
Dua pria itu saling berlari. Dan melancarkan pukulan yang saling bertubrukan, River memberikan tendangan ke kanan. tak ada gunanya Laxus dapat menunduk untuk menghindar dengan sangat mudah.
Laxus memukul pipi River dengan keras karena dia memilik celah, namun pukulan itu dihentikan.
“Oo.” Laxus menyeringai, tampak kagum pukulannya dapat di tahan.
“Rasakan ini!” River sekali lagi menendang.
Laxus melompat dengan menggunakan tangan kanannya untuk menghindari pukulan itu. Lompatan itu cukup tinggi. Jika ada di udara orang-orang akan susah dalam bergerak, River paham dengan situasi.
Dia tersneyum menatap Laxus yang masih melayang di udara. Dia menyentuh tanah dengan tangan kanan dan kemudian tanah tempat dia berpijak naik ke atas, menerjang Laxus dengan sangat cepat.
River membuat palu besar dari tanah yang naik ke atas itu. Dia merubah bentuk tanah menjadi palu kemudian memukul Laxus menggunakan palu itu.
Brak
Laxus terlempar ke dinding. Bahkan dinding yang dia kenai hancur. Hal ini adalah bukti bahwa pukulan dari River sangat keras.
Penonton membuka mata lebar dan bersorak, pertarungan baru dimulai, tapi semua tampak senang.
Laxus menyeka pipi yang terluka, dia menyeringai sekali lagi. “Untuk seukuran ‘anak pembawa kehancuran’ kamu lumayan.”
Lagi-lagi laxus menyebut river dengan anak pembawa kehancuran. Padahal mata milik river hijau, tapi dari respon River, dia tampak sangat marah. Apa sebenarnya hubungan dua orang ini?
“cukup!”
__ADS_1
Tak bisa menahan rasa amarah, River berteriak. Dan setelah itu sebuah golem raksasa tercipata dari sihir tanah milik River. Golem besar itu berjumlah dua dan sedang berada di belakang River, mereka seperti penjaga yang melindungi River.
Penonton sekali lagi terkejut serta takut karena River, manusia dari kelas F yang mereka anggap lemah bisa menciptakan golem dengan semudah itu. Di hati mereka ada keraguan, apakah River benar-benar siswa normal.
Sedangkan itu, Morgan yang duduk menatap pertandingan, tampak tak asing dengan golem itu, dia membelai jenggot putihnya.
‘Golem itu dan kemampuan sihir ini.. Aku paham, indentintas mu River.. tidak lebih tepatnya River baskerville’
Kembali ke pertarungan, terlihat dua golem itu sedang membabi buta menyerang Laus dengan sangat brutal. Dua golem itu memukul ke bawah dan hanya dalam satu pukulan dapat membunuh orang, tapi Laxus bukan orang lemah dia dapat menghindari semua serangan, walaupun dia kesusahan.
“Cih, makhluk besar ini sangat merepotkan.”
“Sial, gawat.”
Brak.
Laxus melihat tangan besar dari golem sedang terayun ke kanan, dia berusaha untuk menghindari, tapi telat dia percuma. Dia terkena pukulan telak itu. Dia batuk darah dan terbaling.
Para golem mengelilingi Laxus dan mulai memukuli bdan yang terbaling itu, terus pukul, dan terus memukul. siapapun yang melihat pasti berpikir bahwa River pemenang pertandinga, River juga sama, dia pikir pertandingan telah selesai. Dia berbalik membiarkan golemnya menyiksa Laxus.
karena alasan tertentu dia benci dengan Laxus, saat dia melangkah untuk pergi. Tiba-tiba api besar sangat panas menerangi tempat bahkan hingga menembus langit.
Dia mengigit bibir, memandang Laxus yang nafasnya sedang terengah-engah. Tatapan mata hijaunya sangat tajam.
“Kenapa River?”
“Tidak, kalau kusebut River baskerville, lebih cocok ya.”
Dengan wajah yang babak belur, Laxus masih sempat-sempatnya tersneyum dan mengejek River. River baskerville, mendengar nama keluarganya disebut membuat River marah, tapi dia berusaha menahan.
River menghirup nafas panjang dan menatap Laxus sekali lagi. “cukup! Laxus kembalikan adik perempuanku!”
Kembalikan adikku? Apa Laxus melakukan sesuatu dengan adik River? Itulah yang ada di pemikiran para penonton, ketika mendengar teriakan River.
Tatapan penuh cahaya dan asik telah berubah menjadi sunyi dan bisikan-bisikan kecil, mereka semua membisikkan tentang adik yang dimaksud River.
"Adik? Apa si Laxus melakukan sesuatu dengan adiknya."
__ADS_1
"Aku tak tahu."
"Sial, dia benar-benar orang yang sombongnya minta ampun."
"Aku setuju, bahkan sampai melakukan sesuatu dengan adik perempuan seseorang."
"Woi cukuplah, apa kalian ingin dibakar oleh Laxus!?" bisik salah satu penonton yang ketakutan.
Semua bisikan itu memang kecil, tapi karena banyaknya yang berbicara membuat jadi terlihat jelas. Laxus tertawa seperti orang gila karena terus menjadi bahan gosip.
Dia tak bisa berhenti tertawa, semua tampak ketakutan dengan tawa itu. Setelah beberapa saat Laxus berhenti tertawa, dia menatap River dengan serius.
"Sayangnya, aku sudah tak tahu di mana adikmu berada."
"Jangan bohong!" Mencengkram tangan River berteriak.
"Kamu dan Edward melakukan sesuatu dengan adikku. kalian membunuh ke dua orang kami, bahkan membantai semua orang yang ada di Kerajaan."
Raut wajah Leo, Lily, dan Razor seketika berubah ketika mendengar nama Edward. Iblis itu masih hidup mendengar nama itu saja sudah menaikan emosi.
Bagaimana tidak teman mereka terbunuh karena dia, walaupun sebenarnya mereka masih tak bisa merelakan Monika dan terus menyalahkan diri di dalam hatinya.
Mereka hidup seolah tak ada apapun hanyalah topeng. Mereka masih tak bisa merelakan Monika. Mereka bersikap normal agar roh Monika senang dan tak lagi ke dunia ini.
Tapi kali ini ada yang menyebut nama Edward. Kemungkinan besar Laxus punya hubungan dalam dengan iblis itu, tentu saja hal ini membuat Leonardo bersemangat.
Dengan ini dia bisa mencari tahu informasi tentang Edward dan kali ini dia akan membunuhnya. Raut wajahnya telah berubah menjadi dingin semenjak mendengar nama Edward di sebut.
Mereka bertiga saat ini menatap tajam Laxus yang terdiam mereka ingin tahu apa yang akan dia katakan.
Laxus tersenyum lagi, "Aku tak bisa menyangkal kalau aku dan Edward melakukan sesuatu dengan adikmu. Tapi adikmu memang menarik, bahkan rambut yang orange, tubuh yang kecil telah menjadi aset yang bagus. Dia adalah budak yang bagus."
"Aku tak menyesal sudah menawarkan adikmu ke Edward. Aku mendapatkan banyak uang dari situ."
"Jangan bercanda! Kau anggap apa adikku."
"Hahaha, dia hanyalah budak." Senyuman Laxus pudar, dia menatap sini ke River.
__ADS_1
Leonardo, Lily, Razor sekali lagi membuka mata lebar. Budak dan rambut orange, ke tiga orang itu tahu alur pembicaraan. Kemungkinan besar yang sedang River maksud adalah Monika yang sudah meninggal.