The Repeater

The Repeater
24. Rencana penyelamatan 2


__ADS_3

Semua orang yang berada di panggung eksekusi terlihat kecewa dan emosi. Sepertinya mereka sangat tidak suka apabila pertunjukan yang menurutnya bagus dihentikan.


Bahkan sebagian besar orang hendak menaiki panggung dan mencoba untuk menangkap tiga orang pengganggu, namun Razor dengan sigap menahan mereka semua walaupun kesusahan tentu dia tak menggunakan pedang maupun sihir, dia hanya bermodal tangan kosong.


Sedangkan Edward saat ini sedang menatap kegaduhan dari atas bangunan yang kokoh dan tinggi. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi marah malah dia terlihat tersenyum. Edward menepukkan tangan seolah sedang memanggil seseorang.


"Ada apa tuan?" seorang pria bertopeng muncul dari belakang Edward dengan cepat. Tubuhnya sangat besar, dia terlihat kuat.


"Aku ingin kamu melakukan sesuatu kepada mereka!" Jari Edward menunjukkan ke arah kegaduhan.


"Oke, dimengerti.."


Pria itu langsung terjun dari atap atas dan membawa kapak besar ditangannya.


Lily, Leonardo, dan Monika menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan dari Lily.


"Apa maksudmu, Lily?"


Leonardo tak peduli dengan kebisingan sekitar, yang lebih penting adalah gadis ini meneteskan air mata.


"Itu benar Lily apa yang kau..." Monika hendak bertanya, tetapi ucapan terputus.


"Sial!! Kalian hati-hati, salah satu orang yang terlihat kuat.. Mungkin anak buah Edward sedang mengejar kalian."


Pria berambut kuning ini sangat tak berdaya menahan banyak amukan warga. Setelah Razor selesai berkata, Tiba-tiba seorang pria gendut terjun dari langit membuat panggung menjadi hancur serta berantakan.


Pria gendut memakai topeng di wajahnya, sekilas sangat mirip dengan milik Edward, perutnya sangat besar dan buncit tanpa mengenakan sehelai kain pun, dia hanya memakai celana ketat. Tubuhnya besar serta tinggi mungkin sekitar 2 meter lebih dan untuk beratnya sekitar 100kg.


"Atas perintah tuan aku akan menghakimi kalian." Kapak besar menerjang Lily yang tubuhnya terbuka lebar dan sedang membelakangi.


Leonardo menyadari pergerakan itu. Ia menarik tubuh mungil Lily ke pelukannya dan menahan serangan kapak itu dengan pedang, sebuah bunyi nyaring serta percikan warna orange muncul ketika kapak dan pedang saling bertemuan.


"Cih! Dasar serangga penganggu."


Satu serangan kapak dilancarkan lagi dan lagi terus berulang. Hingga kayu tempat Leonardo menginjakkan kaki hampir roboh.


Leonardo semakin memeluk Lily dengan erat menggunakan tangan kirinya, dia sangat takut jika sesuatu terjadi dengan Lily. sedangkan tangan kanan ia gunakan untuk menahan serangan dari bawahan Edward yang terus membabi buta.


Sebenarnya dia bisa saja melancarkan serangan counter attack, namun saat ini Lily sedang berada dipelukannya sehingga pria itu tak bisa asal bergerak.


"Ada apa!? Hanya bisa menahan serangan ya, dasar sampah!?" Satu serangan kapak meluncur sekali lagi. Kali ini panggung benar-benar akan rusak jika terkena serangan itu walau hanya sekali.


Sebelum kapak itu mengenai Leo, dia memutuskan untuk melepas Lily dari Pelukannya, dia mendorong tubuh gadis itu dengan lembut kebelakang. "Maaf, kamu pergi lah dulu! Yang disini akan aku urus."


Lily tergeletak lemah, dia menatap Leonardo yang masih bertarung dengan bawahan Edward. Serangan kapak serta pedang saling berayunan menciptakan suara logam yang sangat nyaring.


"Ayo Lily!" Monika berjalan mendekat, dia memegang tangan Lily dan menariknya. Namun seolah memikirkan sesuatu dia masih menatap ke arah Leonardo.


Dua gadis itu semakin lama semakin menjauh hingga tak terlihat disekitar. Leonardo menghela nafas lega, dengan begini dia bisa bertarung tanpa khawatir harus melibatkan dua gadis itu.


"Senior, apa kamu masih melawan si gendut itu?! Kalau sudah selesai tolong bantu aku, jumlah orang ini terlalu banyak."


Razor terus menghindari serangan berupa sayatan pedang, pisau, atau tangan kosong dari banyaknya warga. Namun dia tak mau membalas menyerang dia hanya akan memukul atau menendang itu pun dengan tenaga sangat lemah, meskipun Razor kuat tapi itu ada batasnya, dia tak bisa bertarung dengan jumlah sekitar ratusan orang lebih ini dan apa lagi hanya bermodal tangan kosong serta kemampuan yang tak serius. Jika mereka bukan warga biasa mungkin dia bisa melakukan sesuatu.


"Sabar dulu Razor! Aku akan dengan cepat menendang pantat si gendut ini."


"Hahaha.. Apa kau yakin, aku adalah top 3 terkuat sebagai bawahan tuan Edward, serangga kecil sepertimu tak akan bisa menandingiku."


"Tiga terkuat ya? Berarti masih ada dua orang lagi yang sepertimu?"


"Itu benar.. Apa kau takut?" Pria yang mengaku sebagai bawahan Edward tertawa keras, dia sangat meremehkan lawannya.


Sedangkan Leonardo, dia membalas tawa itu dengan senyum ejekan. "Kalau begitu aku tenang, jika bawahan terkuat hanya selevel ini maka mau ada sepuluh atau berapapun bukan masalah bagiku."

__ADS_1


Urat nadi pria itu terlihat jelas, dia sangat marah dengan ejekan dari Leonardo. "Jangan meremehkanku dasar sampah!"


Berlari ke arah Leonardo dia tak lupa mengayunkan kapak miliknya, namun dengan mudah ditahan.


"Jadi ini kekuatan 3 top kah? lemah."


Sindir Leo. Yang dikatakan orang ini sebenarnya bohong ayunan kapak ini sejujurnya terasa sangat berat, namun karena pria besar satu ini terlihat mudah emosi jadi Leo sengaja memprovokasinya.


Makin emosi pria itu bergerak dengan agresif dan membabi buta, sebenarnya setiap serangannya akan berdampak buruk, namun karena emosi yang terlalu berlebihan membuat serangannya sangat mudah dibaca.


Leonardo menghindari semua serangannya tanpa menunjukkan kesusahan sama sekali. Serangan dari kanan, kiri, atas, maupun bawah dapat dihindari dengan mudah.


"Sial!"


Emosi karena serangan terus dihindari, dia langsung melesat kearah Leo dengan cepat, ia melompat sembari mengangkat kapak besarnya di atas kepalanya dan menghantamkannya tepat kepada Leo.


Menangkisnya hanya akan membuat pedang patah, tentu saja Leonardo bukan orang bodoh, jadi dia memutuskan untuk melompat mundur.


Lantai retak membentuk jaring laba-laba dengan pria besar itu sebagai pusatnya, ide yang bagus untuk menghindari serangan mematikan seperti ini.


Sekarang adalah giliran Leo menyerang.


SWOOOSH! *


Leo berlari dan melesat kearah musuh yang kapaknya yang masih tenggelam sebagai di permukaan lantai.


"Sial!" mencoba untuk menarik kembali kapak, tapi percuma musuh telah tepat depannya.


Leo menghunuskan pedang dan membukakan pria itu menggunakan elemen esnya. Melihat tubuh besar yang membeku membuat Leonardo tak nyaman, dia kembali menaruh pedang ke sarungnya.


"Yosh.. Saatnya mengejar Lily."


Seolah lupa dengan Razor dia membalikkan badan kemudian berlari pergi.


Berpura-pura tak mendengar Leonardo masih berlari menjauh.


"Woi. Senior!"


"Senior?!"


Razor menatap punggung Leonardo yang semakin menjauh. Dia sekarang masih bertarung tangan kosong dengan para warga.


"Senior!!?"


***


Saat ini Lily dan Monika sedang berlari, mereka dikejar oleh sebagian besar penduduk dan orang-orang yang membawa senjata, mereka terlihat menggunakan topeng serta kaos hitam, pasti itu adalah bawahan Edward.


Merasa lari kemana pun akan percuma Lily memutuskan untuk berhenti sejenak dan menatap segerombolan itu.


"Apa yang kamu lakukan Lily!?" Monika terkejut dan menatap teman disampingnya


"Monika kamu mundurlah! Aku akan melakukan sesuatu."


"Tapi.."


"Tidak perlu khawatir, mereka terlihat seperti lemah kok." Lily dengan santai mengatakan hal itu, namun Monika tetap saja tak tenang.


Saat segerombolan orang-orang itu hampir mendekat, Lily merentangkan tangan ke depan, dia menutup mata. Lily ingin memanggil Raphael, tapi dia ingat bahwa beberapa hari yang lalu Rukhnya sudah dikalahkan.


Lily mulai kebingungan, dia tak tahu harus melakukan di situasi seperti ini, dia tak bisa memanggil Rukh dia pun tak bisa bergelut dengan fisik seperti Leonardo atau Razor.


Sebenarnya dia tak mau melakukan ini, tapi sepertinya hanya ada satu pilihan yaitu menggunakan sihir api. Yap, dulunya Lily adalah pengguna sihir api, namun dia tak pernah menggunakan sihir itu.

__ADS_1


Alasannya adalah karena dia sendiri memiliki rasa trauma yang mendalam dengan api. Melihat api dikit saja pasti ingatan tentang kebakaran akan muncul dan ada satu lagi dia sangat tak tega melihat seseorang terbakar hingga hangus itu membuatnya teringat akan hari buruknya, oleh karena itu Lily sangat benci dengan sihirnya sendiri. Tapi saat ini bukan saatnya memikirkan hal itu.


Sihir api Lily pasti bisa membakar segerombolan itu menjadi abu, namun Lily sebenarnya tak ingin itu terjadi.


'Ah, sialan! Aku benar-benar gak punya pilihan lain. Maaf, ini mungkin akan sakit, tapi aku akan menahan diri.'


Lily sekali lagi menutup matanya, dia merentangkan tangan kanan ke depan dan mengumpulkan mana di sana. Sekumpulan cahaya merah sedikit demi sedikit berkumpul di tangan kanan Lily. Mata birunya terbuka lebar, dia melepas cahaya itu.


Blush!


Sebuah gumpalan api menyerang segerombolan itu dengan kecepatan tinggi dengan seperti ini pasti semua orang akan kalah tanpa tersisa.


Seharusnya seperti itu, tapi api itu mendadak menghilang begitu saja. Seseorang mendadak tiba di depan gerombolan. Dia adalah pria berjubah hitam dengan topeng diwajahnya.


Dia menghunuskan pedang dan membelah api menjadi dua hingga api itu tidak jadi mengenai mereka.


Lily terkejut, meskipun dia menahan diri namun tetap tak mungkin api sebesar itu bisa di belah dengan sangat mudah. Melihat kemampuan orang itu membuat bulu kuduk Lily naik, gadis ini tahu seberapa bahayanya orang ini.


"Wow. Sihir api yang lumayan kuat." ucap pria bertopeng dengan jubah itu.


"Bahkan pedangku hingga meleleh dibuatnya. Kalau seperti ini mungkin sudah tak bisa dipakai."


Tepat saat membelah api Lily pedang pria itu meleleh, mungkin karena menerima suhu panas yang terlalu tinggi. Melihat pedang yang tak berguna dia membuangnya.


Pria itu tersenyum dan berjalan menuju Lily.


"Jangan mendekat, atau aku akan mengeluarkan sihir itu lagi, kali ini akan lebih kuat."


Lily mengancam pria itu, namun tampaknya itu tak berfungsi.


"Hahaha.. Cobalah, itu kalau kamu memang bisa."


Pria itu menghilang dengan cepat. Kecepatan ini mungkin menyamai Razor. Tidak bahkan lebih tinggi. Tapi ada perbedaan antara milik Razor dan dia, jika Razor menimbulkan percikan petir maka pria ini menimbulkan sedikit kegelapan.


'Hilang? Dimana-..'


"Aku di sini"


Baik Lily maupun Monika membalikkan badannya, dua gadis itu tampak terkejut melihat kecepatan pria itu.


Energi gelap terus berkumpul di tangan kiri pria ini, setelah berkumpul cukup banyak pria itu menggunakannya untuk memukul Lily.


Tubuh gadis itu terhempas jauh dan terbentur di dinding keras, membuatnya muntah darah ketika terbentur.


tak hanya Lily, Monika pun juga diperlakukan dengan sama, dia terhempas jauh dan terbentur. Dua gadis itu dengan cepat tertidur lemas.


Semua orang yang tadinya mengejar Lily tampak terkejut, mereka sangat kesusahan menangkap dua gadis itu, namun pria ini dengan mudah mengalahkan mereka.


Saat beberapa orang maju dan seperti ingin menangkap Lily dan Monika. Pria bertopeng dan berjubah itu berkata dengan nada tinggi,


"Stop!! Jangan ganggu waktu favoriteku dan juga atas perintah tuan Edward aku Eliot akan mengeksekusi dua gadis ini sekarang."


Semua orang terhenti serta takjub mendengarnya.


"Eliot? Jangan bilang tuan Eliot si top 3?"


"Iya, itu pasti dia seorang. Pengguna elemen kegelapan tuan Eliot."


"Sungguh kehormatan bisa melihatnya secara langsung."


Eliot tersenyum sombong dia berjalan ke arah dua gadis itu. Dia bisa membunuh mereka beruda kapan saja, namun dia memutuskan untuk menyiksa mereka terlebih dahulu.


"Dua gadisku sebelum mati. Mari bermain sebentar!"

__ADS_1


__ADS_2