The Repeater

The Repeater
32. Isting bertarung


__ADS_3

Dua orang itu kini masih bertarung, di tengah kota yang sepi mereka saling beradu kemampuan hingga membuat suara yang sangat nyaring, Pertarungan didominasi oleh Edward dengan Leonardo yang terus terlihat terhempas dan jatuh ke tanah, tapi dia berdiri kemudian kembali bertarung lagi. Kejadian yang sama persis terus terjadi, setelah aura hitam pekat berada di Edward segala gerakannya menjadi berkali-kali lipat menjadi kuat dan cepat. Leonardo sudah tak bisa menandingi Edward lagi, dia sudah kalah dari segala aspek baik kekuatan atau kecepatan.


* Brak


Lagi-lagi Leonardo terhempas dan tubuhnya menyangkut di perumahan yang hancur. Dia ingin kembali berdiri dan bertarung lagi, namun beberapa detik kemudian pisau bedah milik Edward terlempar lagi dengan sangat cepat, kali ini pisau bedah itu di ikuti oleh api hitam sebagai perantara antara benang dan ujung pisau bedahnya yang sangat tajam.


Menghindari hanya akan membuat dia terkena luka bakar oleh benang api dan jika dia mengayunkan pedang untuk menebas pisau maka pedangnya bisa saja justru meleleh. Api hitam itu sangat berbahaya mungkin bisa membakar segalanya.


Pisau itu semakin dekat, Leonardo terdiam bingung harus melakukan apa selain itu tubuhnya sudah penuh luka dan susah digerakkan, semenjak masuk di kota OZ dia terlalu memaksakan diri. Dia terus mematung berharap memiliki ide, saat ini pisau berjarak sekitar 10 cm dan hampir mengenai mata putihnya.


'Sial apa yang harus kulakukan?..'


[Menunduklah!]


Leonardo membuka mata lebar, seolah baru terbangun dari mimpi buruk. Dia mendengar suara seperti gadis bergema di telinganya walaupun tak tahu darimana suara itu berasal, Leonardo langsung melakukan sesuai perkataan itu.


Dia menunduk dan dapat menghindari serangan dari Edward, namun siapa yang memberikan arahan itu? Leonardo terus memikirkan hal itu, ada satu hal yang pasti. Dia sangat kenal suara itu bahkan dia pernah mendengar suara ini ratusan kali, tidak bahkan mungkin ribuan kali banyaknya, tapi kembali lagi ke pertanyaan suara siapa itu?


[Akhirnya kamu bisa mendengarku]


'Siapa kamu?..' Leonardo bertanya di dalam hati, karena mungkin itu cara berkomunikasi dengan makhluk yang berbicara itu.


Seolah mengganggu lagi-lagi Edward menyerang, kali ini dia tak melemparkan pisau seperti yang tadi. Dia membuat semacam bor besar yang berasal dari api hitam dan melemparkan bor yang berada di udara ke arah Leonardo.


Bor itu sangat besar dan memiliki api hitam yang sangat terasa panas. Leonardo sekali lagi terdiam melihat kekuatan absolut itu. Bor itu semakin dekat.


[Cih! Dasar bodoh! Kenapa kamu diam saja, bekukan api hitam itu sekarang!]


Lagi-lagi suara gadis yang terdengar muda, tidak seperti lebih muda dari Leonardo bergema lagi. Entah kenapa Leonardo mengikuti apa yang diarahkan oleh suara itu. Dia mengayunkan pedang dengan mana di ujungnya dan dengan cepat berhasil membekukan api hitam itu.


Leonardo dan Edward sangat terkejut, api itu sebelumnya bahkan bisa melelehkan es miliknya, tapi kali ini justru es milik Leonardo lebih unggul sebenarnya apa yang terjadi?


"Es membekukan api ya? Hahaha, ini pasti hanya kebetulan karena aku sengaja menahan diri, tapi kali ini aku serius."


Edward menyerang dengan sama sekali lagi, Leonardo juga ingin melakukan pembekuan seperti sebelumnya tapi dia tak berhasil. Sepertinya yang dikatakan Edward benar itu hanya sebuah kebetulan.


"Arght!" Pundak Leonardo terbakar di detik-detik terakhir dia berhasil menghindar. Tapi tetap saja dia harus melukai pundak miliknya.


"Hehehe, sudah kuduga itu hanya kebetulan."

__ADS_1


Leonardo tergeletak lemas, dia tak bisa bergerak lagi, matanya perlahan tertutup beberapa detik lagi mungkin dia akan tertidur lelap-


[Bangunlah Leo!]


Untuk beberapa kali Leonardo bisa mendengar suara itu lagi. Entah kenapa dia mengikuti arahan dari suara gadis yang bahkan tak dia kenal, tidak mungkin kurang tepat bisa saja Leonardo hanya melupakan gadis ini.


'Siapa kamu sebenernya?..'


[Kamu sangat jahat! Beraninya melupakanku, yah aku tak akan menyalahkanmu. Gampangnya aku adalah keberadaan yang biasa kalian sebut dengan Rukh. Benar aku adalah Rukh milikmu]


Rukhku. Jadi begitu lalu apa kekuatanmu? beri aku bantuan sekarang juga!


[Tidak mau, hemh]


suara itu terlihat seperti agak cemberut, Leo tak bisa lagi menahan diri untuk tak bertanya.


Hah? Jadi apa yang membuatmu mengajakku berbicara jika tak-


Sebelum selesai berbicara sekali lagi Edward menyerang, dia menerjang Leonardo dan mengayunkan pisau tajam yang terbuat dari api kegelapan.


* Cring


* Cring


* Cring


* Brak


Edward menendang perut leo hingga terhempas. Edward berlari kencang dan menyerang tubuh yang melayang itu, dia mengayunkan ke dua pisau miliknya ke arah tubuh Leo dan tubuh Leo tentu saja tak bisa menghindar saat di udara, Leonardo terkena serangan telak di seluruh tubuhnya, dia dengan cepat terjatuh lemah di tanah entah sudah berapa kali ini.


[Leo! Oi! Leo! Kau dengar?!]


Leonardo yang tergeletak dan hampir pingsan kembali terbangun karena mendengar suara yang seperti tadi bergema sekali lagi. Dia membuka mata, namun berpura-pura tertidur agar si Edward mengira bahwa dia telah kalah.


Apa lagi? Aku tak akan kalah dengan orang seperti ini..


Dan juga kalau kamu Rukhku tolong bantu aku!..


[Seperti yang kukatakan, aku tak bisa membantumu ini bukan berarti aku tak ingin. Aku memang tak mampu]

__ADS_1


[Untuk sekarang aku tak mau menjelaskan lebih lanjut, tapi yang paling penting aku mengajakmu berbicara demi hal penting]


Apa itu?


[Aku akan sedikit membuka ingatanmu tentang dunia pertarungan. Ingat hanya sebagian kecil dengan seperti itu kamu bisa sedikit bertarung dengan isting lebih baik.]


Entah berasal dari mana Leonardo dapat merasakan seseorang dengan tangan yang halus menyentuh pundaknya, saat dia menoleh tak ada siapapun di situ.


[Majulah Leo! Aku membuka sedikit ingatan tentang isting bertarungmu. Ingat ini hanya sedikit, jadi jangan paksakan diri!]


Setelah berkata hal itu sentuhan tangan di pundaknya menghilang tanpa jejak, Leonardo benar-benar tak paham akan situasi ini, tapi satu hal yang pasti mungkin yang barusan menyentuh pundaknya adalah Rukh milik dia, tapi karena fisiknya tak bisa keluar dari pandora, dia hanya membawa jiwa ke dunia ini. Hanya itulah yang Leonardo bisa tangkap untuk sekarang.


Selebihnya dia tak peduli, yang penting sekarang rasanya tubuh miliknya menjadi lebih ringan dan kekuatan seperti mengalir deras, dia tak tahu betul, namun yang pasti kali ini dia dapat bertarung dengan lebih baik.


Edward melihat tubuh Leonardo yang sedari tadi pura-pura tidur, dia menjadi kecewa karena musuh yang dia anggap sepadan ternyata sangat mudah.


Dia menghela nafas tak mengetahui bahwa sebenarnya tidur itu hanyalah pura-pura. Dia membalikkan badan dan pergi dari arah dia berjalan sepertinya ia ingin menuju ke arah Lily.


* Swosh


Leo tak mengizinkan dia pergi begitu saja, pria itu berlari dengan sangat cepat bahkan hingga terlihat seperti berteleport dan dengan cepat berpindah tempat di depan Edward.


Edward menyeringai, sedikit terlihat terkejut, namun juga senang. Leonardo mengayunkan pedang sekali lagi dan dihentikan oleh pisau bedah milik Edward. Tatapan mereka saling menatap tajam, tangan dari kedua pria itu saling menahan serangan berharap dapat melukai musuh.


* Cring


* Cring


berbeda dengan barusan sekarang Leonardo lebih cepat dan kuat, dia dapat menghindar semua serangan dari Edward dengan mudah, dia bahkan dapat menyayat pipi, tangan, dan kaki Edward tanpa kesusahan.


Melihat musuh yang mendadak lebih kuat membuat Edward menjadi makin bersemangat dan merasa aneh.


'Dia tiba-tiba menjadi lebih kuat. Tidak atau justru sejak awal dia tak serius, atau semacamnya, tapi tak peduli. Dia pasti akan jadi koleksi yang bagus untuk Rukhku. Jika dia mati Rukhku pasti senang,'


Dia tersenyum sekali lagi, tapi Leo muak dengan senyuman dan topeng pria itu. Dia memukul keras Edward yang terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan sangat tenaga paling kuat.


Tubuh dia melayang, topeng dia pecah sekarang dia terlihat terjatuh di tanah. Dia menatap langit untuk beberapa detik seperti memikirkan sesuatu kemudian kembali berdiri. Menciptakan pisau tajam dengan api hitamnya. Kali ini mungkin Edward sudah 100 persen serius.


"Aku akui kemampuan milikmu. Mulai sekarang aku akan serius."

__ADS_1


"Ya, lakukan sesukamu."


__ADS_2