
River Baskervile. sekarang sedang berada di ruang kesehatan, dia mengalami luka bakar yang cukup parah, dia juga sangat lemah sekarang, dia terbaring dan tidur di kasur.
Di samping tempat tidur terdapat seorang berambut putih sedang menatap ke River dengan tatapan sedikit penuh penyesalan dan sedih.
Dia adalah Leonardo, dia pergi ke tempat ini karena telah menyelesaikan semua pertandingan dengan sangat mudah sekarang Leonardo telah berada di babak ke empat alias final. Dia tinggal menunggu seseorang di pertandingan berikutnya
calon lawan Leonardo berikutnya ada tiga orang, satu yaitu Lily, Razor dan Laxus. Leonardo akan berencana mengundurkan diri jika Lily yang akan menjadi lawannya, dia tak sanggup jika harus melawan gadis pirang itu.
Kalau Razor dia tak terlalu peduli bahkan dia malah ingin bergelut dengannya mengingat sikap Razor yang kadang menyebalkan itu.
River Baskervile kemungkinan besar adalah kakak kandung dari Monika yang berarti Monika dulunya adalah seorang bangsawan. Dan Vindice mendengar nama organisasi itu membuat Leonardo sedikit familiar, dia sekarang sangat yakin.
Vindice, anak pembawa kehancuran, pohon takdir, pandora. semua memiliki hubungan dengan ingatannya yang hilang, dan ini pasti ada hubungannya kenapa Leonardo sering melihat sedikit gambaran masa depan.
Yah, kalau masalah ingatan untuk sekarang Leonardo masih bisa pikir untuk lain waktu, tapi Vindice, Edward, dan Laxus. Ketiga itu harus Leonardo tangani, atau korban akan muncul. Itulah yang terpikirkan oleh Leonardo.
“Hemm..”
River membuka mata, dia tampak terbangun dari mimpinya dengan cepat River bertatapan oleh mata putih milik Leonardo.
“Leo? Kenapa kamu di sini? Apa kamu tak melakukan pertandingan?”
“Tidak perlu, aku sudah melewati babak final. Musuhku selanjutnya kemungkinan besar adalah Razor, Lily, atau Laxus.. Jika terpaksa bertemu laxus maka sebisa mungkin aku akan membalaskan kekalahanmu.”
“.....”
“Kamu hebat ya, bisa melewati babak final dengan sangat mudahnya, sedangkan aku coba lihat. aku sangat lemah.” River menundukan kepala, dia mengeluarkan air mata tanda kefrustasian.
“Tidak, kamu cukup kuat. Hanya lawanmu saja yang salah.’
“Tidak aku tak salah memilih lawan.. Laxus, aku benar-benar akan membunuh orang itu karena dia semua mati. Kerajaanku, adiku, harga diriku juga bahkan direbut.” ucap River dengan nada tinggi tanda amarah.
“.....”
Leonardo terdiam. Dia sedang memikirkan suatu hal, yaitu tentang Monika. Apakah dia harus mengatakan sekarang, atau River harus tahu kenyataan sendiri. Dia sedang bmbang maka dari itu leo terdiam.
Untuk beberapa menit dia masih memikirkan itu dan akhirnya Leo mendapatkan jawabannya.
‘Tahu sekarang akan lebih baik.’ Leo mencengkram tangan dan menatap serius ke arah River.
“Apa?” tanya River.
__ADS_1
“ini tentang adikmu.. Dia orang yang seperti apa?”
“Jujur saja aku tak tahu. Yang pasti setelah bayi dia memiliki rambut orange. Dan pada saat itu, dia.. Cih! Seandainya aku lebih kuat maka dia tak perlu hidup susah jadi budak.”
“Aku yakin dia pasti akan hidup susah.” kesal River.
“Jadi begitu.. Ini pertanyaan terakhir siapa nama adikmu.”
“Lucy Baskervile.”
Tiba-tiba Leo mengeluarkan air mata.
“Kenapa denganmu Leo.”
‘Jadi nama asli Monika adalah Lucy? Aku bahkan tak tahu.. Monika pada akhirnya hanyalah julukan yang Lily berikan kepadanya, dia benar-benar gadis menyedihkan. Sampai akhir bahkan tak tahu siapa nama asli yang diberikan oleh orang tua sungguh menyedihkan.’
Leo menyeka air mata dan menatap tajam River.
“Aku pernah bertemu adikmu.”
River terkejut. “Apa kamu serius? Di mana kamu menemukannya? Apa dia baik-baik saja?”
River terlihat sangat terkejut dan kegirangan, yah, wajar saja. Adik yang dia cari selama ini ditemukan oleh seseorang siapapun akan senang. Namun sayangnya fakta itu sangat tragis.
“Terus, bagaiman kondisinya?’
“Kami berhsil menyelamatkan dari tuannya.”
“Bagus, terus?”
“.. Dia akhinya bisa tersenyum lagi.”
“Tersenyum ya, aku bahkan tak pernah melihat wajah adikku. Kamu pasti diberkati, selain itu apalagi?”
Leo menundukan kepala napasnya menjadi sesak setelah berbicara tentang Monika, setiap ucapannya saja berhasil membuat dia meneteskan air mata, tapi River sang kakak tak sadar akan hal itu dia terlalu senang karena ada yang menemukan adiknya.
“Berita baiknya dia sangat akrab dengan LIly.”
“Jadi begitu, sepertinya kedua orang itu memang cocok, rambut juga hampir mirip, wajahnya.. Walau aku tak terlalu yakin, namun aku yakin pasti tak kalah cantik.”
“Eh, tunggu sebentar.”
__ADS_1
“Dari caramu bercerita kalian sangat dekat dengan adiku. Tapi sekarang dia tak ada, apa dia pergi ke suatu tempat lagi?”
Pergi ke suatu tempat, kalimat itu berhasil membuat Leo menundukan kepala dan terdiam, River makin merasakan firasat yang buruk. dia meneteskan keringat panik wajahnya juga terlihat pucat.
“oi, Leo. Dia pergi ke suatu tempat kan?”
“Adikku baik-baik saja kan?” tanya River penuh harapan.
“....”
“Jawab aku lah!” River menaikan nadanya, membuat Leo semakin menundukan kepala.
Leo ingin mengatakan yang sebenarnya, namun sangat susah dikatakan dan lagi dia takut River akan menjadi berubah stelah tahu akan jawabannya.
Namun Leonardo sudah memutuskan tekad dia akan berbicara sejujurnya terhadap teman. Lagipula tahu sekarang memang akan lebih baik.
“Adikmu, kemungkinan sudah mati.”
“.....”
“Hah? Apa yang kamu katakan?” Makin pucat River tak bisa menerima kenyataan pahit ini.
“Aku tak yakin 100 persen. Tapi aku dan Lily pernah bertemu dengan karakter yang sangat mirip dengan dekripsimu, dia adalah budak, memiliki wajah yang cantik, tubuh yang munggik, dan berambut orange. Dia pernah bilang bahwa di jual sejak bayi.. Jadi kemungkinan besar dia adalah adikmu.. Omong-omong karena kami tak tahu nama adikmu, maka Lily memberikan nama baru, yaitu Monika.”
Emosi, River mengigit bibir, tak mendengar penjelasan dari Leonardo, dia menarik kerah baju Leo dan menatap sangat tajam.
“Ini semua salahmu! Kenapa kamu tak bisa menyelamatkan adikku!” River berteriak sangat keras, sedangkan Leo hanya terdiam, tak berencana melawan. Karena memang benar adanya, dia gagal melindungi orang yang berharga.
“Cih!”
River melepaskan tangan dari kerahnya.
"Maaf, aku tak bisa berpikir jernih.. Kalau dipikirkan lagi, ini juga salahku. Kenapa aku bisa kalah lawan Laxus saat itu? Jika aku bisa menang maka semua ini tak akan terjadi.”
River pergi dan membanting pintu, dia bertriak sangat keras kemudian lari entah kemana meninggalkan Leonardo yang terdiam di ruang kesehatan.
...**ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author-san Note:
Huh, maaf banget kalau akhir-akhir ini The repeater jarang up, lagi mentok ide. Selain itu author-san juga lagi banyak projek karya yang masih banyak. Jujurly Author-san juga pusing mana setiap hari ngetik level masih stak di 3, Duhh. Kayaknya nulis romcom emang dah paling cocok buatku..
__ADS_1
Dah gitu aja, cuma curhatan gabut dari Author-san. Besok akan up, walaupun palin 2 hari sekali atau bisa 3 hari sekali who know. Yang pasti gak sampe terlalu lama kok..
Bye**..