The Repeater

The Repeater
48.Barbaque


__ADS_3

Tinggal satu hari sebelum festival Magnostadt dimulai, siswa akademi terlihat tegang serta ketakutan. Beberapa dari mereka mulai latihan untuk mempersiapkan diri saat festival, jadwal pertarung juga belum diumumkan. Di pertarungan satu vs satu yang akan muncul tak ada yang tahu siapa yang pertama, jadi tentu saja semua orang memutuskan untuk menyiapkan diri sendiri.


Ini juga seharusnya berlaku untuk Leonardo dan grubnya, seharusnya seperti itu, namun mereka malah mengadakan pesta barbaque di kamar Bryan. Kenapa meraka tak berlatih? Jawabannya simpel mereka tak ada gairah untuk menjadi kuat, dan Bryan sendiri berkata bahwa makan barbaque sebelum pertandingan akan menambahkan akurasi kemenangan.


DI waktu gulita dan malam ini mereka semua menikmati barbaque yang di panggang di meja bundar milik Bryan, di meja itu juga ada botol sake kecil.


“Kenapa kalian bisa setenang itu?’ tanya Leo, Razor, dan Lily secara bersamaan. Ke tiga orang ini hanya terpaksa ikut.


“Tidak, bukan masalah besar kan? Lagi pula tubuh yang terbakar akan lebih mudah sembuh jika, minum dan makan bukan?” kata Ellina, wajahnya merah padam, dia cegukan. Ellina sdikit mabuk karena minum sake.


Razor menghela napas serta memegang kening. “Kenapa di saat seperti ini saja kamu bisa bercanda?” Yang dikatakan Razor serius, biasanya Ellina tak akan bercandan.


Ellina yang sedikit mabuk bergerak ke arah Razor dengan cara merangkak seperti kucing, Razor yang menyadari itu perlahan mundur.


“Ghuk.. Ne, Razor.” Ellina semakin mendekat, di jarak seperti ini Razor dapat mencium aroma rambutnya dan sedikit belahan dada milik Ellina.


“Apa?” Berusaha tetap tenang, namun Razor tak bisa berhenti berwajah merah.


Ellina yang merangkak menatap ke atas, menuju ke arah mata Razor. “Aku yang tenang, atau aku yang sekarang. Mana yang kamu suka?” tanya Ellina dengan senyuman polos. Karena mabuk, dia mengatakan hal yang ada di benak hatinya.


“Kamu terlalu banyak minum.” Razor masih sok tenang, dia memalingkan wajah.


Sedangkan itu wajah Ellina yang biasanya tenang kini menjadi cemburut dan matanya menjadi basah. “Apa, Razor benci aku sekarang?”


Melihat tatapan melas dari Ellina membuat pipi Razor dengan cepat merona. “Bu-bukan, woi!”


wajah melas nan sedih sekarang berubah menjadi senyuman manis. “Kalau begitu aku senang.”


“Kalau begitu tolong elus kepalaku lagi!” Ellina tersenyum sembari meragakan gerakn elusan.


Razor terpaksa mengikuti apa yang Ellina mau, mengingat hari ini dia terluka dia mengalah. tidak mungkin di lubuk hati Razor dia justru suka hal seperti itu.


Melihat dua orang itu membuat semua yang di sana menatap malas, terutama River, Bryan. dan Lianan, sedangkan Leo dan Lily tampak normal saja, dua orang itu malah masih makan barbaque dengan sangat santai.


Lily sedikit menoleh ke arah Razor yang mengelus Ellina, dia menghela napas dan menatap ke arah sake. Gadis itu menuangkan sedikit sake di gelas dan hendak meminumnya.


Spontan Leo terkejut dan berusaha menghentikan, dia tak mau jika Lily menjadi seperti Ellina, dia akan kerepotan nantinya. 

__ADS_1


“Woi Lily, jangan minum itu..”


Tapi sudah terlambat, Lily telah menghabiskan sake di gelasnya hanya dengan satu tegukan. Firasat Leonardo tak enak, dia menelan ludah. Kini wajah Lily berubah merah padam tanda dia mabuk, dengan kecepatan tingginLily menoleh ke arah Leo.


‘Aku punya firasat buruk.’


Dan firasat Leonardo sangat benar akurat. Lily tanpa banyak omong langsung memeluk tubuhnya dengan sangat erat, dia mengeluskan kepalanya dengan kepala milik Leo.


“Berhenti, Lily apa yang kamu lakukan!?” Berusaha memberontak, namun di sisi lain Leo tak terlalu mempedulikan Lily yang memeluknya, namun tetap saja dia terasa sesak napas.


“Ini salahmu karena selalu cuek! Dasar bodoh.” ucap Lily dengan lirih.


“Hah? Apa?”


Pelukan erat kini dilepas oleh Lily, dia memegang kerah baju Leo dan menggoyangkannya dengan brutal. “Bukan apa-apa, aku hanya sedikit jengkel denganmu!” Walaupun masih mabuk Lily tetap tak bisa jujur dengan perasaanya. Tampaknya level tsunderenya terlalu tinggi.


Melihat keributan antar couple bodoh membuat Bryan, River, dan Liana menghela napas kasar. 


Ditengah keributan ini hanya tiga orang itu yang normal dan tak mabuk. Ke tiga orang itu memakan barbaque dengan santai, tapi semua berubah karena Bryan tiba-tiba ikut minum sake.


Beryan menjadi mabuk, dia menatap ke arah River.


Tak menjawab Bryan langsung melompat ke arah River. “River kun.”


Brak


Untuk menghindari pelukan dari sama jenis River memutuskan untuk memukul Bryan hingga kepalanya benjol dan pingsan kini yang normal serta menikmati makan malam hanya ada River dan Liana.


Selain mereka berdua, lainya semua pada ribut. Lily terus memarahi Leo dan setelah itu memeluknya. Sedangkan Ellina juga sama, tapi yang membedakan, gadis berambut putih itu lebih jujur, dia hanya tersenyum dan meminta kepalanya untuk dielus.


Sekali lagi River menghela napas.


“Benar-benar bodoh.”


“Apa, River tak mau minum?” tanya Liana.


“Tak perlu, aku tak ingin menjadi seperti mereka.”

__ADS_1


Mendengar jawaban dari River membuat Liana tertawa. “Kalau begitu aku akan minum, ah. Siapa tahu aku menggodamu!” Di akhiri dengan senyuma Lianan hendak meminum sake.


“Woi, berhenti.” River mencoba menghentikan, namun percuma.


Kini wajah Liana telah menjadi merah padam, namun tak seperti yang lain Liana hanya mengelus elus pipinya sendiri dan terkapar lemah. Dia benar-benar lemah akan sake, tapi dia berusaha meminumnya hanya untuk bisa menggoda river, apakah itu artinya Liana punya perasaan dengan River?


Tapi River tampak tak peduli, dia menatap malas ke arah meraka yang ribut dan pergi dari kamar.


***


River berjalan di halaman sekolah yang hijau, berharap dapt menenangkan pikiran. Dia duduk di kursi panjang sembari menatap bulan yang indah. Dengan situasi yang tenang dan pemandangan indah bisa membuat pikiran River menjadi sedikit lebih tenang, dia menghela napas karena lega.


Saat River asik menatap bulan dia dikejutkan oleh seseorang yang berjalan mendekatinya, dia adalah Laxus. Entah karena alasan apa Laxus berjalan ke arah River, tapi tampaknya dia hanya ingin berjalan saja.


Namun menatap Laxus membuat River menjadi emosi, dia mengigit bibir dan menodongkan tangan ke arahnya, dengan tatapan tajam River berkata,


“Kamu pengguna api amarah kan? Jangan dekati aku!” Entah karena alasan apa River tampak benci dengan para pengguna Api amarah.


Laxus hanya bisa menyeringai. “He, kenapa kamu semarah itu hanya karena apiku?”


“Tidak aku tahu jawabannya, kamu kan juga ‘anak pembawa kehancuran’”


Entah kenapa Laxus menyebut River dengan sebutan itu. Padahal kelopak mata milik River adalah hijau bukan merah. Sebenarnya apa yang terjadi.


Tatapan tajam masih mengarah ke Laxus, tatapan River seperti anjing ganas yang kelaparan. Laxus sekali lagi tersenyum karena merasa percuma untuk bertarung, dia memutuskan untuk pergi.


“Ya sudah lah, aku pergi saja.”


Laxus berjalan melewati River, namun sebelum menghilang dia berkata sekali lagi.


“Melawan anak pembawa kehancuran hanya akan membuang waktu.”


“Oh, ya. Ada satu hal lagi, besok pertandingan pertama akan dia adakan, dan lawan dariku adalah kamu.”


Setelah itu Laxus telah benaar-benar hilang, River spontan terkejut.


‘Dari mana dia tahu soal pertadandigan.’

__ADS_1


“Yah lupakan hal itu. Akhinya aku bisa membalas dendam. Pengguna api amarah, aku tak akan memaafkanmu!”


Dengan wajah penuh emosi dan mengerikan River mengkram dadannya dengan kuat. Dai bertekad untuk melawan Laxus besok tak peduli apapun yang terjadi


__ADS_2