The Repeater

The Repeater
55. Leonardo VS Laxus


__ADS_3

Hari pertarungan final telah dimulai, semua guru bahkan Morgan kepala sekolah menatap ke tempat pertandinga. Menyasikan, atau lebih tepatnya menunggu seseorang pemenang yang akan menajdi murid privat untuk Morgan.


Semua siswa juga tampak bersemangat seperti biasanya, Lily memaksakan diri untuk datang dan melihat pertandingan, dia masih menggunakan perban di kepala dan memakai baju pasien berwarna putih, dia menatap penuh harapan ke Leonardo. Tidak akan lebih tepat kalau dia tak akan berpikir bahwa Leo akan kalah, dia yakin seratus persen kalau Leo akan menang, matanya berkilau-kilau dan senyumanya berbunga-bunga. Yah, mengingat apa yang baru saja terjadi kemarin.


Razor menatap kebinguna ke arah Lily yang sakit namun masih tersenyum berbunga-bunga, bagaikan anak perempuan yang baru saja mengalami jatuh cinta. Yah, walaupun itu memang benar.


Razor memiringkan kepala, bertanya dalam hati. ‘Apa sesuatu terjadi kepada mereka berdua?’


Kembali lagi ke pertempuran, di sini terlihat Leonardo yang menatap dingin ke arah Laxus, seolah sudah muak lihat perawakan pria sombong itu. Pertandingan belum mulai, mungkin sekitar satu menit lagi. 


“Akhirnya aku melawanmu. Aku sudah menantikan waktu ini, Leoanrdo, seorang yang bisa memukul mundur Edward.” Dia berakta dengan wajah yang menyeringai.


Mata terbuka lebar, seolah Leo terkejut. “Jadi kamu benar-benar punya hubungan dengan orang itu. Bisa beri tahu aku di mana dia sekarang?” tanya Leo dengan tanang, tapi suaranya terlihat tegas dan dingin.


“Hahahaha, akan kukatakan jika kamu bisa menang.”


“Jadi begitu, sayangya. Kamu sudah menyentuh seseorang yang tak perlu, jadi aku tak akan menahan diri.” 


Leo menyiptakan pedang es di tanganya. Jika kalian bertanya-tanya ke mana pedang asli dari Leo, jawabanya sangat simpel, pedang asli milik Leonardo telah disembunyikan, karena ini adalah sekolah sihir tentu saja akan mencolot jika seseorang membawa pedang ke mana-man, lagipula ada larangan untuk tak membawa benda tajam.


Dia memasang kuda-kuda siap bertarung. Pertandingan sudah dimulai. Aura dengan cpat berubah menjadi medan pertempura, ke dua orang itu menyiptakan tekanan mana yang tinggi bahkan membuat beberapa penonton bergetar.


Swosh


Leonardo berlari dengan sangat cepat, dia berada di belakang Laxus. Seolah berteleportasi. Dia mengayunkan pedang es ke leher Laxus, namun ditahan dengan tangan kanan. Laxus memegang pedang dengan tanga kanan sangat kuat. Dia menarik pedang itu dan membanting tubuh Leo dengan sangat keras di tanah.


Brak

__ADS_1


Leo terbanting di tanah, dia mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya ketika terkenan tanah. Tak berhenti dengan bantinga, seolah tak mengenal ampun Laxus melanjutkan serangan dengan menginjak kaki ke arah tubuh Leo. Namun Leo berguling dan berhasil menghindari injakan yang bahkan dapat membuat jaring laba-laba di tanah.


‘Cih, yang tadi itu bahaya.’


Berpikir dua detik. Konsetrasi Leo tergangu, dia terkejut bahwa Laxus langsung berada di depannya, dia terkena satu pukulan keras di pipinya. Tapi tak sampai terhempas karena dia berhasil menahan menggunakan pedang es walaupun pedang itu langsung patah.


Tak berhenti di situ Laxus mengeluarkan semburan api kuat ke arah Leo. Api itu makin dekat, Leo seharusnya tak bisa menghindar, jadi dia menciptakan dinding es untuk menahan semburan api itu untuk beberapa detik.


Dia berlari karena es itu akan segera meleleh dan benar saja setelah dia berlari es itu mencair karena api milik Laxus sangat kuat.


“Hah.. hah.. hah..” Nafas terengah-engah, Leo menciptakan pedang baru lagi dari es di  tangan kananya, bersiap menerima serangan dari Laxus.


Angin berhembus kencang, untuk beberapa detik Laxus tak menyerang, mungkin dia juga kelelahan mengingat nafas miliknya juga berantakan dan dia berkeringat.


Waktu sepuluh detik berlalu, setelah saling beratapan, akhirnya Laxus menyemburkan api amarah sekali lagi. Leo berlari menghindari api itu, dia sangat gesit hinga dapat mengihdari api itu, dia terus berlari menuju titik lemah dari Laxus, yaitu sisi kiri Laxus. Mata Laxus terbuka lebar dari sisi ini dia tak bisa melihat dengan jelas karena semburan api terlalu besar hingga pandangannya tertutup.


Tebasan yang Leo berikan hanya mengenai angin, seolah tak percaya pupil matanya terbuka lebar, dai sangat yakin seharusnya Laxus tak mungkin bisa menghindari itu, tapi Dia berhasil, saat dia bertanya apa yang terjadi, dia dikejutkan dengan sosok Laxus yang ada di belakangnya.


“Aku di sini.”


Dia menoleh dan pada saat itu juga Leo terkena tendangan sangat kuat dari Laxus, dia terlempar dan mengenai dinding, hingga menciptakan jaring laba-laba sebagai Leo yang berada di tengah.


Dia hampir saja pingsan, tapi karena ingat senyuman Lily, dai kembali terbangun, dia meantap Laus dengan tatapan berbeda dari sbelumnya. Mungkin kali ini dia serius.


Dia menatap Laxus yang terlihat memiliki dua pistol warna hitam. Sepertinya Laxus menahan energi api di pistol dan menembaknya, dengan cara seperti itu akursi akan meningkat dan daya serangan akan meningkat. Ini mungkin adalah teknik rahasia Laxus, tida laxus memang sudah menggunkan ini sekali untuk River.


“Berbahagialah, Leonardo. Aku menggunakan pistol ini untuk melawanmu.”

__ADS_1


“Aku serius mengangapmu ancaman, terutama bagi organisasi itu>”


“Organisasi yang kamu maksud, apa itu Vindice?”


“Siapa yang tahu, jika ingin tahu tentang organisasi itu, Dan Edward coba kalahkan aku. Pada saat itu aku akan menjelaskan semuanya.”


Itu adalah pilihan yang baik bagi Leonardo mengingat, dia sangat mencari keberadaan Edwar, jadi kal ini Leonardo tak akan menahan diri dan mulai serius.


“Kamu mungkin terlihat sangat serius, tapi percuma. Api dan es pada akhirnya bukan lawan yang setara. Hahahaha,” Dia mengejek dengan tertawa keras


Namun reaksi Leonardo biasa saja, seolah tak terpengaruh oleh ejekan itu.


“Kalau begitu mau coba?”


“Hah?”


“Apimu dan esku mana yang lebih kuat, mari kita tes.”


Seolah yang dikatakan oleh Leonardo adalah candaan, Laxus tertawa berbahak-bahak.


“Baiklah, sepertinya kamu cukup gila. Makanlah api ini!”


Swos


Api besar sangat panas menghampiri Leonardo, tapi Leo membuang pedang esnya, di tatapan dia tak ada rasa takut memandang api itu adalah hal lemah. Dai merentangkan kedua tangan ke depan.


[Magic Teknik; Revision]

__ADS_1


Dia ingin menerima api kuat itu dengan sihir barunya, tidak ini adalah sihir andalan milik Leo yang akhirnya dia ingat lagi. Apa yang akan terjadi? Baca kelanjutan untuk tahu jawabnya.


__ADS_2