
Situasi yang sebelumnya tenang nan sejuk sekarang berubah menjadi mencengkramkan ketika sosok pria bertopeng setengah muka yang hanya menampilkan mulutnya saja datang. Iblis berkulit manusia ini dengan cepat merusak kebahagian Lily dan Monika. Pria itu tak lain adalah Edward dia tersenyum mengerikan ke arah Lily maupun Monika Melihat senyumannya membuat kedua gadis tersebut gemetar ketakutan.
Melihat wajah Edward saja sudah sukses membuat Lily ketakutan. Hal ini sangat wajar karena mengingat apa yang pernah ia lakukan terhadap gadis pirang ini. Edward pernah membakar kota dan jika terlambat bisa saja dia menjadi budak kemudian terjual. Terima kasih untuk Leonardo karena dia dulu sudah menyelamatkan Lily.
Begitupun dengan Monika, dia sangat takut dengan pria ini. Karena salah iblis ini semua keluarganya mati, dan dia menjadi budak setelah itu. Di Situasi seperti ini tentu saja tak ada yang berani bertarung.
“Kenapa kalian hanya diam dan menatapku? Oh aku tahu, kalian pasti sangat senang bisa bertemu majikan kalian ya.. Hahaha, benar-benar budak yang merepotkan.”
Edward tahu betul bahwa dua orang yang sedang dia tatap sedang ketakutan, jadi dia memutuskan untuk mengeluarkan perkataan yang menambahkan rasa ngeri bagi mereka tak lupa menggunakan senyumannya.
Tidak ada yang merespon perkataan itu. Baik Lily maupun Monika hanya bisa menelan ludah serta gemetar ketakutan, muka keduanya telah menjadi pucat serta membiru. Padahal beberapa menit yang lalu mereka masih tersenyum lebar, dan terlihat bahagia.
Tapi kebahagian itu dengan cepat sirna, karena keberadaan Edward.
Meskipun hati maupun tubuhnya terasa di tusuk oleh ribuan jarum, bahkan bergerak se inch pun seperti sama saja mati. Lily tetap memberanikan diri. Dia pada dasarnya anggota Eraser mana mungkin bisa melibatkan Monika yang lemah. Meskipun dia tahu akan kalah, tapi dia masih ingin melindungi gadis sipil ini. Tidak dia ingin melindungi teman perempuannya yang berharga.
Lily telah membulatkan tekad untuk menendang pantat pria bertopeng, dia merapalkan mantra dan berhasil memanggil Raphael. Mata biru nya telah penuh tekad dan keberanian.
“Monika, pergilah dari sini!”
“Tapi..”
“Aku tidak apa-apa, meskipun begini aku tetaplah anggota Eraser.. Jadi pergilah!”
Air mata berjatuhan di pipi Monika, dengan rasa hati yang sesak dia berlari meninggalkan situasi ini. Lily tersenyum lega, meskipun dia bisa mati terbunuh sekarang, namun dia bahagia setidaknya Monika selamat.
“Raphael mode pistol”
Tanpa menjawab Raphael telah berubah menjadi dua buah pistol kecil berwarna putih, saat ini dia digenggam erat oleh Lily.
Melihat gadis yang menodongkan pistol ke arahnya membuat perut Edward geli, dia tertawa dengan sangat keras
“Apanya yang lucu?!”
Lily menodongkan dua buah pistol putih itu ke arah Edward, dia bersiap untuk menembak kapanpun.
“Tidak.. Ini hanya terlalu lucu.. Hahaha.. Lily budakku satu ini memang yang luar biasa.. Aku jadi menyesal karena saat itu aku tak bisa menjualmu.”
“Tutup mulutmu!! Atau aku akan-”
__ADS_1
“Akan apa? Menembakku menggunakan pistol lemah itu.. Jangan bercanda sampah!”
Bulu kuduk Lily sekali lagi berdiri, namun dia tetap berusaha untuk melawannya, “Lemah? Jangan remehkan Raphael!”
Edward tak menghiraukan perkataannya, dia malah tersenyum penuh ejekan. Seberkas cahaya hitam mulai berkumpul di tangan kanan pria ini. Dia menyeringai dan mengarahkan cahaya gelap pekat itu ke arah Lily.
Blush!
Cahaya itu bergerak sangat cepat ke arah Lily, namun entah sengaja atau meleset kegelapan itu menerjang dengan tajam mengenai dua buah pistol Lily. Cahaya itu sangat tajam dengan sangat cepat kedua pistol itu terbelah.
“Lihat lemah bukan.”
Mata biru Lily terbuka lebar, dia terkejut melihat senjata itu rusak. Tidak lebih tepatnya dia khawatir dengan Raphael, apakah Ruh itu baik-baik saja atau justru terluka. Hal itulah yang terlintas di otak Lily.
Dia tak mau apapun terjadi dengan Ruhnya, meskipun terdengar aneh namun Lily menganggap Rukhnya sebagai keberadaan yang istimewa. Lily sendiri tak paham apa yang membuat dia berpikir seperti itu.
“Raphael.. Kamu baik-baik saja kan?”
Tak ada jawaban darinya. Raphael bisa saja menjawab, bahkan meskipun sedang menjadi barang dia dapat berkomunikasi karena jiwa milik Raphael masih sama hanya beda wujud saja.
Saat ini ada dua alasan yang terlintas di benak Lily, mungkin Rukh ini ngambek seperti biasanya, atau Rukh ini mati. Sebisa Mungkin dia tak ingin yang terakhir terjadi.
Mata Lily mulai berkaca-kaca, dia terus menatap dua belah pistol yang terbelah itu. Dia berharap dapat mendengar jawaban. Walau hanya satu kata saja dia ingin mendengar jawaban dari Raphael. Namun sepertinya percuma.
Lily meneteskan air mata, dia dibuat emosi dengan perkataan dari Edward. Mana bisa dia menahan rasa emosi dan rasa sedihnya.
Seketika berbagai ingatan tentang kebersamaanya dengan raphael muncul. Mulai dari dia yang memanggil Raphael hanya untuk sekedar curhat di malam hari, Raphael terlihat emosi dan ogah-ogahan, namun pada akhirnya dia tetap mendengar cerita Lily sampai akhir.
Tak berhenti di situ dia pun jadi teringat saat Raphael dan dia membersihkan ruangan kotor. Yah, walaupun Raphael diubah menjadi sapu untuk bersih-bersih. Tapi dia sangat yakin meskipun kadang suka emosi pada akhirnya Raphael akan mengalah.
Semua kenangan itu sangat berharga bagi Lily bagi gadis ini Raphael bagaikan salah satu keluarga yang berharga, tentu saja dia tak ingin terjadi sesuatu kepada Raphael.
“Kenapa kamu terlihat sedih? Sini kamu bisa cerita dengan majikanmu.”
Edward mengatakan hal itu bukan karena khawatir, dia hanya ingin mempermainkan emosi Lily.
“Berisik!! Raphael bagiku sangat berharga.. Aku tak akan memaafkanmu.”
"hahaha.. Sesuatu yang berharga, ya? Walau hanya Rukh? Makhluk itu adalah alat.”
__ADS_1
“Bukan!! Rukh bukan alat.. Rukh adalah perwujudan buruk kita.. Mereka adalah bagian dari kita sendiri!”
“ Tak masuk akal.”
Edward mulai jengkel dia mengumpulkan cahaya gelap di tangan dan mengayunkan ke arah Lily. Cahaya gelap itu bergerak cepat seperti pisau udara, Lily tak bisa bereaksi. Cahaya gelap itu mengenai pundak Lily dan membuatnya terjatuh lemah.
Darah terus mengalir melalui pundak Lily, tak mau berhenti meskipun telah dipegang erat dengan tangan kiri Lily. Mata Lily sedikit menutup, dia bisa saja pingsan, namun Lily memaksakan diri.
Edward tersenyum melihat gadis lemah masih terus berusaha sekeras mungkin. Situasi ini adalah favoritnya, melihat seorang gadis yang melawan dan pada akhirnya mati, dia sering melakukan hal yang sama seolah itu adalah hobi.
Dia melangkah santai ke arah Lily, namun dia tak menyerang pria ini membisikan sesuatu.
“Kenapa kamu menyuruh Monika pergi? Jangan bilang kamu lupa dengan aturan budak no. 2?”
Seolah mengingat sesuatu mata Lily terbuka lebar, tapi pasti dia mengingat sesuatu yang tak baik dari raut wajahnya terlihat jelas. Nafasnya menjadi berantakan. Entah apa yang dia ingat namun apapun itu dia terlihat menderita ketika mengingat tentang aturan budak no. 2 yang dimaksud oleh Edward.
“Sepertinya kamu sudah mengingatnya, anak baik.”
Tangan Edward mengelus kepala dan rambut Lily, tapi tak ada rasa hangat dielusan itu Lily malah semakin ketakutan.
Dan sesuai dugaan, Edward menurunkan kepala Lily dengan paksa hingga terkena tanah, dia terus menjedotkan kepala Lily ke tanah hingga penuh darah.
“Dasar sampah! Bawahan macam apa kau, sampai tuanmu harus mengingatkan? Hahh!!”
Lelaki ini terus melakukan hal yang sama tanpa ampun, terus menjedotkan kepala Lily hingga gadis itu tergeletak lemas serta tak bisa bergerak.
Tatapan jijik dan sini keluar dari Edward ketika menatap tubuh yang lemas itu, jujur saja dia serasa ingin menghancurkan tubuhnya sampai tak berbentuk, namun hari ini dia sedang menahan diri.
“Baiklah, berterima kasih lah kepada tuanmu yang baik ini.. Aku akan mengejar Monika agar peraturan buda no. 2 tak aktif.. Atau jangan bilang kamu lebih suka peraturan itu aktif? … Jangan hanya diam dan jawab sampah!!”
Merasa geram Edward menendang perut Lily yang tergeletak lemas, bahkan Lily sempat batuk darah karenanya. Merasakan rasa sakit yang luar bisa Lily memilih untuk membuka mulut dan menjawab.
“Ya.. Tolong kejar dia.. Jangan sampai peraturan no. 2 aktif.”
Tendangan keras sekali lagi mengenai Lily.
“Cih.. Dasar sampah sok menyuruh.. Tapi baiklah karena aku baik aku akan melakukan hal yang kau suruh.”
Edward tersenyum kejam, dia berlari mengejar Monika yang telah menghilang.
__ADS_1
Aku harap kamu baik-baik saja Monika.
Mata Lily semakin lama tertutup dan gadis ini pingsan seketika di tanah yang dingin.