The Repeater

The Repeater
46. Api amarah


__ADS_3

"Berhenti Laxus!" Ellina berkata dengan nada tenang dan dingin membuat siapapun langsung menoleh ke sumber suara.


Laxus tersenyum kecill "He, ada nona cantik di sini!"


Tak menjawab, Ellina malah menatap tajam Laxus. Kedua orang yang terbilang bintang di Akademi sedang saling bertatapan hal ini membuat atmosfer menjadi berat dan dingin.


Semua orang hanya bisa terdiam serta menelan ludah, melihat apa yang akan terjadi. Kecuali Razor seorang pria yang dianggap biasa saja di Akademi kini berjalan ke arah dua orang itu. Tidak lebih tepatnya dia terlihat berjalan untuk menemui Ellina.


"Ellina, jangan gegabah dong!"


Razor memegang bahu Ellina berusaha membuatnya tenang, namun tangan itu ditepis dengan sangat cepat. Dia masih dengan dingin menatap ke arah Laxus.


Seseorang sedang dianiaya mungkin itu membuat Ellina mengingat masa lalu buruknya. Seseorang bermata merah akan disebut anak pembawa kehancuran, mereka akan ditindas, dikucilkan tanpa alasan yang jelas.


Razor mengetahui perasaan itu, tapi jika Ellina harus melawan Laxus itu membuatnya khawatir, jadi sebisa mungkin dia ingin menghentikan Ellina.


"Ellina, sudah cukup!" ujar Razor, namun tak didengarkan.


Ellina lebih fokus ke arah Laxus yang tersenyum penuh kesombongan.


"Kamu bisa hentikan tingkah sombong itu?" Nada tenang dan dingin berasa dari Ellina, dia benar-benar mengabaikan Razor.


"Ho, kalau aku tak berhenti apa yang ingin kamu lakukan?"


"Aku akan membuatmu menyesal!" ancam Ellina dengan tegas.


"Menarik."


Dua orang itu saling bertatapan dan mengeluarkan tekanan mana yang tinggi. Ellina tanpa sadar mengeluarkan sedikit kekuatan esnya, sedangkan Laxus juga demikian. Aura pertarungan yang kuat berada di kelas ini.


""Cukup!""


Terdengar suara berat nan tegas. Semua orang memandang sosok yang menghasilkan suara tersebut. Terdapat pria tua dengan rambut dan jenggot yang keputihan, dia memakai seragam guru serta topi penyihir. Semua terlihat terkejut dan dengan cepat berlutut menunjukkan rasa hormat bahkan Laxus dan Ellina juga, semua berlutut kecuali Razor.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Razor, dia tak paham dengan situasi yang terjadi bahkan pria ini tak mengenali sosok yang berdiri di depannya.


"Dasar bodoh! Beliau adalah Morgan kepala sekolah ini." Ellina menundukkan kepala Razor dengan paksa dan membisikkan itu.


'Kepala sekolah. Jadi dia adalah Morgan.'


Razor menatap Morgan dengan serius, dia adalah tujuan misi Razor. Mencari informasi serta menghentikan dekriminalisasi itulah misinya.


Morgan berjalan santai ke arah Laxus dan Ellina.


"Jangan berkelahi dengan argumen. Jika ada perbedaan pendapat maka selesai kan dengan sihir, itulah penyihir. Jangan sama seperti non penyihir yang menyelesaikan segalanya dengan fisik!" bentak Morgan. Setelah itu dia tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah! Dengan ini aku akan menciptakan area duel antara Laxus dan Ellina."


Semua orang yang berlutut dengan cepat mengangkat kepala. Semua tampak terkejut.


"Pertarungan Laxus dan Ellina."


"Serius."


Bisikan kelas kembali terdengar. Dan kali ini Razor menyadari bahwa dia sudah terlambat, Ellina mau tak mau harus bertarung dengan Laxus.


Berita ini dengan cepat menyebar di Akademi. Semua orang tahu akan pertandingan ini, bagaimana tak heboh? Ini sangat wajar mengingat bahwa Laxus dan Ellina adalah top siswa di Akademi, siapapun pasti tak akan menyangka hal ini.


Beberapa hari kemudian pertandingan telah diadakan, pertandingan ada di stadiun lapangan milik Akademi tempat yang sebelumnya digunakan untuk pendaftaran.


Tempat itu sangat luas, kursi penonton pun berbentuk lingkaran. Tempat ini memang terbilang sangat cocok untuk bertarung.


Semua orang yang berkumpul sangat kegirangan dan tak sabar melihat pertarungan ini, namun tak berlaku bagi Razor. Dia khawatir dengan Ellina.


Razor yang dari kelas A memutuskan berlari ke grub penonton kelas F, dia ingin berbicara dengan Leonardo dan lainnya.


Razor dapat melihat, grub kelas F yang menyaksikan pertarungan dengan seksama, ke lima orang itu terlihat menatap di kursi paling depan. Pertarungan sebenarnya belum dimulai, tapi sudah dapat membuat atsmostfer menjadi berat.


Razor akhirnya sampai di tempat Leo dan lain-lain.


"Ada apa Razor? Bukankah grubmu di sana?" Leo menujukan jari telunjuk ke arah grub penonton kelas A.


"Apa itu?"


"Itu adalh--"


Ucapan Razor terhenti. Pertandingan telah dimulai menyebabkan semua orang berteriak serta bersorak, Razor mengeluarkan keringat panik, dia menatap ke arah pertandingan.


Ellina dan Laxus masih menatap tajam sebelum pertandingan dimulai.


"Kenapa kamu mencoba menghentikanku kemarin? Jika kamu biarkan siswa itu. Kamu pasti tak perlu bertarung denganku."


"..."


Memutuskan tak menjawab Ellina lebih mementingkan untuk membuat pedang dari es untuk senjata. Kini pedang dari kumpulan es telah ada di tangannya, Ellina telah siap bertarung.


"Kamu sangat cantik ya."


"..."


"Ah, aku tahu! Kamu menyelamatkan siswa itu karena teringat akan masa lalumu kan? Soalnya kamu kan 'anak pembawa kehancuran'"

__ADS_1


* Swosh


Ellina berlari cepat, dia meletakkan pedangnya ke arah leher Laxus. Dengan tatapan tajam Ellina berkata,


"Dari mana kamu tahu hal itu!?"


Ellina merasa heran. 'Anak pembawa kehancuran' seharusnya itu adalah julukan khusus yang hanya diketahui dan dilakukan oleh satu kerjaan. Ellina bahkan tak mau menyebutkan nama kerajaan itu. Seharusnya tak akan ada yang tahu, tapi bagaimana Laxus tahu hal itu? Yang terlintas di kepala Ellina hanya ada satu kemungkinan, Laxus adalah salah warga dari Kerajaan itu.


"He, wajah marahmu makin membuat terlihat cantik!" Laxus tersenyum.


"Berhenti mengatakan hal itu! Cukup jawab pertanyaanku! Dari mana kamu tahu sebutan anak pembawa kehancuran?!"


Laxus terdiam dia mengeluarkan wajah sinis dan dingin.


"Kamu cerewet ya. Akan kujawab pertanyaanku jika kamu bisa menang melawanku."


Ellina makin geram dia menekan pedang ke arah leher Laxus, tapi Laxus dengan cepat mendorong tubuh Ellina menggunakan kaki.


Tubuh kecil gadis terhempas beberapa metir. Dan Ellina terlihat kesakitan, dia memegang perut yang baru saja di tendang.


Laxus merentangkan tangan ke depan. Cahaya merah perkumpulan di satu titik dan dilepaskan begitu saja oleh Laxus.


Swosh


Api menyembur dengan sangat cepat. Api itu bukanlah api biasa itu sangatlah kuat, Ellina menyadari itu jadi dia memutuskan untuk berlari ke samping. Dia berhasil menghindari, tapi ketika dia menoleh ke arah Laxus dia terkejut.


Dia melihat dinding yang sangat kokoh bolong dengan diameter sangat besar. Ellina tak bisa membayangkan bisa api itu mengenai tubuhnya walaupun sedikit pasti bisa merusak tubuh dan membunuh.


Semua penonton tampak takjub dengan api milik Laxus yang membuat dinding sangat tebal nan kuat dengan cepat menjadi bolong serta hancur lebur, tentu saja tak ada yang perrcaya. Dinding itu dilapisi oleh logam khusus yang tak akan bisa hancur jika terkena sihir normal, yang artinya sihir api milik Laxus bukanlah normal.


Kelompok Leonardo tampak kebingungan, mereka juga terlihat terkejut dan tak tahu dengan apa yang telah terjadi.


"Itu adalah api amarah! Sihir milik Laxus." Menyadari kebingungan, Razor berbicara.


"Api amarah?" River tampak kebingungan.


"Ya, api amarah. Sesuai namanya, sihir api itu akan semakin kuat apabila emosi pengguna meningkat sihir yang simpel. Namun juga sangat bahaya, seperti yang bisa kalian lihat kekuatan hancurnya sangat bahaya."


"Aku kesini untuk menyampaikan hal itu. Jangan menantang Laxus!"


Razor terlihat makin serius ketika menyadari bahwa itu adalah api amarah dia membuka mata lebar.


Api amarah ya. Benar-benar nostalgia..


Ellina dia bahaya. Seharusnya kamu dan aku paling paham tentang Api amarah kan?..

__ADS_1


Tidak semua anak pembawa kehancuran seharusnya tahu akan kengerian api amarah..


Jadi.. Jadi, aku mohon tetaplah hidup Ellina


__ADS_2