
Pertarungan telah dimulai, semua orang bersorak penuh kegembiraan. Tapi tak berlaku bagi Leonardo dan teman lainnya mereka tampak sedikit khawatir walaupun mereka tetap mengakui tekadnya.
Swosh
Api Laxus menyambur dengan sangat cepat menuju ke Lily. Lily berhasil menghindar, tapi dia membakar pundak kanannya.
Lily berlari menuju Laxus, tapi api besar sekali lagi datang dengan sangat cepat membuat Lily mental.
Tapi Lily masih berdiri dan melangkah lebih maju, tanpa mengenal kata lelah terus menyerang dan terkena api milik Laxus. Kejadian yang sama terus berulang.
Hingga membuat tatapan para penonton menjadi agak kasihan dengan Lily, yah. Mau bagaimanapun pertarungan ini sangat berat sebelah. Tak mungkin gadis lemah seperti dia menang melawan dia.
Bruar
"Kyaa"
Api besar sekali lagi menyambur membuat dia terhempas dan berguling di tanah.
Laxus berjalan ke arah Lily dengan wajah yang sedikit kesal. Urat nadinya terlihat jelas dan dia sangat penuh oleh emosi.
"kenapa kamu tak segera menyerah?" tanya Laxus dengan nada penuh tekanan.
Tak menjawab Lily berdiri di tanah, dia berjalan ke arah Laxus dengan tubuh penuh luka dan sempoyongan. Tubuhnya sangat terlihat lemah, tapi mata Lily masih penuh akan tekad bertarung.
Melihat mata biru yang menyala membuat Laxus menggerakkan giginya. "Cih! Dasar perempuan bodoh."
“cukup sampai di sini LIly!”
Suara teriakan berasal dari kursi penonton. Suara nyaring ini berasal dari Leonardo, dia tampaknya sudah tak bisa lagi menahan rasa amarah dan kekhawatiran. Meskipun mengakui keinginan Lily, namun Leonardo dari tadi terlihat sangat cemas.
“Kamu tidak perlu berjuang lagi! Lupakan tentang Monika, itu bukan salahmu. Gadis kecil sepertimu tak perlu bertarung lebih dari itu.”
Leonardo menambahkan kalimat sekali lagi. Setiap melihat Lily yang berjuang keras membuat hati Leonardo sedikit terbuka dengan Lily. Agak susah mengatakan nya, tapi dia sedikit kagum akan keberanian dari gadis itu. Namun tetap saja melihat Lily yang babak belur melukai hatinya.
Mendengar semua keluh kesah. Lily bukanya mundur, dia malah menatap Leonardo dengan senyuman yang hangat, dia sepertinya tak mendengar ucapan untuk mundur.
“Maaf, Leo. Ini bukan hanya karena Monika, aku hanya tidak ingin pria yang kucintai terluka karena melawan Laxus, jadi sebisa mungkin aku akan mengalahkan orang ini.”
Gumam Lily. Jika dia berani mengatakan itu dengan lantang mungkin akan menjadi cara pernyataan perasaan yang menyedihkan, tapi Lily tampaknya tak memiliki keberanian untuk meningkatkan volume suara.
Setelah bergumam, pandang Lily terfokus ke Laxus, mata itu menandakan bahwa dia siap mati jika untuk mengalahkan musuh. Laxus terganggu dengan mata itu, dia berkeringat dan
Laxus sekali lagi mengeluarkan api amarah yang kuat dari tangan kanannya, tapi Lily berlari menerobos api dan menghindari ke sisi kanan.
Pandangan orang tampak terkejut, Laxus juga melebarkan mata. Tak menyangka bahwa Lily bisa menghindari serangan itu.
Lily mengumpulkan cahaya merah di tangannya dan melemparkan cahaya itu tepat di wajah Laxus hingga menciptakan api dan ledakan yang sangat kuat.
Buar
Area pertarungan kini menjadi berasap karena ulah ledakan itu, penonton tak bisa melihat pertandingan dengan jelas. Mereka tampak bingung.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sekarang?"
"Apakah gadis itu berhasil mengenai Laxus?"
"Tidak yang lebih penting aku terkejut ternyata gadis seperti dia bisa mengeluarkan sihir api sekuat itu."
"Ya, kamu benar."
Seperti itulah bisikan para penonton, dari asap yang menutupi pertandingan mereka hanya bisa mengira-ngira dan membayangkan apa yang sedang terjadi.
Sebagian besar kini menaruh harapan ke Lily, walaupun dita tak bisa menang, tapi setidaknya mereka berharap gadis kecil itu bisa melukai Laxus. Mungkin para penonton terpengaruh dengan tekad tak mau mundur dari Lily.
Tapi tatapan harapan itu sirna ketika asap mulai memudar dan memperlihatkan seorang gadis pirang yang tergeletak lemah di tanah. Gadis itu menutup kedua matanya dan tak ada gairah bertarung seperti sebelumnya.
Dia benar pingsan, di sisi lain Laxus berdiri dengan tegak walaupun wajahnya penuh luka, tapi dia berhasil berdiri dengan gagah. Menandakan pemenangnya.
Siapapun yang melihat ini tahu bahwa pemenangnya adalah Laxus. Laxus pria berambut hitam dan gagah itu mengangkat tangan kanan ke atas menandakan bahwa dia adalah pemenang dan bangga akan hal itu.
Mata Leo menjadi sedikit berbeda dengan sebelumnya, mata penuh amarah tertuju ke Laxus. Hari ini pertandingan berakhir. Pemenang dari pertandingan ini adalah Laxus. Dan besok adalah pertandingan final. Yang akan dilakukan oleh Leonardo serta Laxus, pertandingan satu vs satu yang ditunggu akhirnya muncul.
***
Sekali lagi di ruang kesehatan gadis pirang itu tergeletak lemah, wajahnya yang biasa penuh senyuman terganti oleh wajah yang menutup mata dan terlihat lemas. Di sana ada Leonardo yang duduk di kursi dan menatap ke arah Lily.
Dia sudah menunggu sejak lama, semenjak Lily jatuh pingsan dia sudah ada di sini. Teman yang lain seperti Bryan, River, Razor dan Elina telah duluan untuk kembali ke asrama. Tapi Leonardo masih menunggu Lily yang berpakain pasien warna putih.
Saat ini adalah waktu tengah malam ruang kesehatan sangatlah sepi. Pasti yang ada hanya seorang pasien yang tidur lelap, namun Leonardo masih menunggu Lily hingga siuman.
“L- Leo, ya? Hahaha, maaf, kamu menunggu cukup lama kan?” Dia berusaha untuk tertawa menghilangkan situasi canggung ini. Karena saat bertarung Leo sempat menghentikan dia.
“....”
Suasana hening mengitari dua orang itu, Lily berusaha membuka mulut, tapi terasa sangat susah hingga akhirnya, dia tanpa sadar meneteskan air mata.
Pria yang dari tadi menunduk kini berganti menatap ke Lily yang terlihat menangis. Mata heran tergambar dari Leonardo.
“Kenapa kamu menangis? Apa ada yang sakit?”
Dia menggelengkan kepala. “Tidak, aku ha- hanya ingin minta maaf. Aku keras kepala bukan?”
Tatapan bingung berubah menjadi serius. “Ya, dasar bodoh, apa kamu tak tahu kalau aku khawatir.”
“Maaf.”
“Yah, lupakan tentang itu-”
“A- a- aku hanya ingin memberi pelajaran kepadanya, karena Laxus Monika jadi menderita, Dan juga Leo, aku ingin melindungimu. Maaf, sekarang kamu harus melawan Laxus. Kamu masih terlihat dihantui dengan kematian Monika, jadi aku tak sanggup membiarkanmu bertarung dengannya, aku takut jika sesuatu terjadi kepada Leo.”
“Kenapa kamu mengkhawatirkanku sampai seperti itu?”
“Yang, seperti itu pikir sendiri!" Sahut Lily dengan wajah memerah dan memeluk bantal ke dadanya.
__ADS_1
“Dan juga, L- Leo benci aku sekarang kan?” Dia mengeluarkan mata yang berair terlihat sedih.
“Kenapa aku harus membencimu?” Leo tampak sedikit emosi dengan pertanyaan bodo Lily tiba-tiba.
“Itu karena aku membantahmu.. jadi aku pikir mungkin kamu benci aku sekarang.” Setelah berkata, air mata keluar dari mata Lily, terus keluar dan Lily berusaha menyembunyikan itu dengan memeluk bantal.
“Tidak, mana mungkin aku membencimu.” Leo berkata dengan wajah dan nada sangat serius, tapi Lily masih bersikeras.
“Kalau begitu aku ingin buktinya.”
“Kalau kamu tidak benci aku coba c- cium-” Dia hampir mengatakan hal yang memalukan dengan wajah merah padam, tapi seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
Leo sudah bergerak terlebih dahulu, dia dengan sangat cepat berdiri dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Lily untuk memberikan ciuman hangat di bibirnya. Dia mencium gadis pirang itu tepat di bibirnya untuk beberapa menit.
Keheningan dan jantung yang berdebar memenuhi tempat ini. Wajah Lily terasa sangat panas bahkan seperti ingin terbakar, dia tak bisa merasakan apapun selain kehangatan yang ada di bibir serta hatinya, awalnya karena malu dia mencoba mendorong, tapi dia terlarut dalam kebahagiaan dan menutup mata.
Itu hanya ciuman singkat tak ada permainan lidah diantaranya, tapi sudah berhasil membuat kehangatan bagi kedua orang tersebut.
Setelah dirasa cukup Leo menjauhkan wajahnya dan melihat wajah Lily yang sudah konslet dan sangat merah.
Dia tersenyum melihat reaksi menggemaskan dari Lily. “Itu jawabanku, aku tak benci kamu. Justru sebaliknya.”
Leo sekali lagi mendekatkan wajahnya dengan Lily yang sangat malu itu, saat wajah mereka saling berdekat dengan jarak yang cukup dekat. Lily bisa merasakan nafas milik Leo, begitu juga dengan Leo, dia merasakan nafas terengah-engah dari gadis yang sedang tersipu malu.
Lily memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan perasaan malu itu. Tapi Leo menarik wajah itu memaksakan agar dia menatapnya, Leo meletakan keningnya dengan kening Lily, dengan hangat dia berkata,
“Jangan murung, aku menyukai Lily yang hari ini. Tidak mungkin sudah sejak lama.”
Mendengar ucapan mendadak, membuat hati Lily serasa mau copot, sekali lagi wajahnya merah padam, bahkan hingga telinga dan lehernya ikut memerah.
“BIar ku perjelas, aku sudah cukup menyukai Lily yang biasanya, tapi kali ini aku lebih menyukainya, dia terlihat sangat anggun dan berani, meskipun tahu tak memiliki kesempatan menang, dia tetap berjuang. Ketika melihat dirimu yang terus berjuang aku sadar dengan perasaanku. Sepertinya aku memiliki perasaan dengan gadis pirang ini.”
Blush.
Pipi Lily merona dan serasa panas, “T- *- *.. *..” Dia kemungkinan ingin berkata terima kasih, tapi karena sangat tersipu bicaranya jadi terbata-bata,
Leo tersenyum dan sekali lagi mencium Lily, tapi bukan di bibir melainkan di keningnya.
Dia melangkah keluar kamar meninggalkan Lily yang tersipu malu.
“Lily istirahatlah yang tenang. Lihat pertandingan besok, aku akan membuat Laxus Membalasnya.”
Dia melangkah pergi, Lily menatap pundak yang semakin menjauh. Ketika menghilang dia merebahkan tubuh di kasur dan berguling-guling. Mungkin dia terlalu bahagia dengan apa yang terjadi.
“Ahhh, aku tak menyangka dia akan melakukan itu.”
Jantungnya mau copot bila ingat kejadian ciuman itu, seolah menahan rasa malu, dia memeluk erat bantalnya. Dengan wajah merah dia berkata, “Leo.. bodoh, yang seharusnya mengatakan hal semacam itu aku.”
"Tapi Leo, aku mencintaimu.”
Malam itu berakhir dengan Lily yang akhirnya tertidur tenang.
__ADS_1