
Lily dan Monika terus ditindas oleh Eliot, dia memukul dan menendang kedua gadis ini tanpa ampun. Meskipun dua orang ini merintis kesakitan dan mengeluarkan darah itu malah membuat dia makin semangat dalam menyiksa.
"hahaha. kasihan"
Para bawahan lainnya terlihat tertawa dan mengejek dua gadis yang terbaring lemah di tanah dingin nan keras.
"Sial! Dasar kelas rendah, beraninya membangkang tuan Edward," ucap Eliot, kakinya masih menendang tubuh Lily dan Monika.
"Apakah kalian tahu seberapa besarnya dia!? Seorang kelas rendah seperti kalian jangan berani membantah!"
Tendangan kuat menuju tubuh Lily, terus berkali-kali. Makin emosi Eliot menendang dengan segenap kekuatan hingga membuat gadis itu terhempas dan terbentur di tembok untuk kedua kalinya.
"Sial! Pengganggu sudahlah. Matilah!"
Eliot membentuk energi kegelapan di leher Lily. Kegelapan itu berbentuk bagaikan cincin, menarik tubuh Lily agar melayang di langit dan menekan lehernya dengan kuat.
Lily terus memberontak kakinya tak mau berhenti bergerak, kedua tangannya berusaha melepaskan cincin kegelapan tersebut. Tapi semakin dia memberontak cengkraman dari cincin itu semakin kuat.
"Grahh!! Nhh.."
Lily mengeluarkan suara kesakitan. Monika yang melihat temannya sedang dalam kondisi buruk berusaha melakukan sesuatu, dia merangkak dan terus menarik kaki Eliot.
"Berhenti, tolong!" dengan tatapan lemas gadis ini masih menatap Eliot.
"Berisik!"
Tendangan keras menuju ke perut Monika. Dia juga terus menginjak injak tubuh Monika tanpa ampun. Meskipun dia merengek kesakitan, tapi injakan itu tak mau berhenti sampai Monika melepaskan tangan dari kakinya. Dia perlahan menutup matanya.
"Huh, akhirnya dia tak sadar diri! dasar sampah! Beraninya dia mengotori celana favoritku. Dasar sampah.. Huh tenang lebih baik aku fokus ke gadis pirang ini."
Pandangan pria itu kembali fokus ke arah Lily, dia memperkuat cengkraman dari cincin kegelapan itu. Walaupun Lily menjerit kesakitan bahkan air mata keluar dari pipinya, pria ini tersenyum dan terus melanjutkan.
"Arkhh.." Pandangan Lily serasa mau pudar, lehernya serasa hampir lepas, namun dia masih memberontak.
"Hahaha.. Gadis ini tak tahu kapan harus menyerah, sekarang aku paham kenapa Edward tertarik kepadamu.. Kamu benar-benar yang terbaik..-"
Ucapan pria itu terpotong dan dalam beberapa detik dia mengurangi kekuatan sihirnya, membuat Lily dapat kembali bernafas.
"Uhuk.. Uhuk.." Lily kembali sedikit lebih lega, namun dia masih menutup mata.
Sedangkan Eliot terlihat panik, dia dapat merasakan hawa dingin dan aura biru di sekitar.
'Ada apa sebenarnya? Hawa keberadaan ini seperti.. Tidak tidak mung--"
__ADS_1
Belum selesai berpikir sebuah pukulan melayang ke pipi Eliot, membuat dia terhempas dan sihirnya terbatalkan.
Lily yang sedari tadi diangkat ke atas langit tentu saja terjatuh karena sihir kegelapan telah hilang. Tubuh Lily hampir terjatuh di tanah, namun seorang pria berjas hitam dan berambut coklat Menggendong Lily sebelum jatuh dengan gendongan ala putri. Pria itu tak lain adalah Raphael.
"Yo.. Nona, kenapa anda tak memanggilku?" Raphael memeluk erat tubuh nona nya, dia tak mau sesuatu terjadi kepadanya.
Suara ini terasa sangat familiar bagi Lily. Mata biru bagaikan langit itu sedikit demi sedikit terbuka, saat mata itu menatap ke arah Raphael dia meneteskan air mata, bukan karena sedih ini air mata kebahagiaan.
Lily dengan cepat melingkari tangannya dan memeluk Raphael dengan erat.
"Huwaaa.. Raphael! Kamu masih hidup?.. Hishh.. Aku khawatir lo.. Hiksh.."
Pelukan itu semakin lama semakin erat dan tangisan dari Lily pun semakin keras. Muka Raphael mulai pucat dan berubah menjadi biru, dia merasa sangat sesak karena gadis ini memeluknya dengan sangat erat.
Biasanya Raphael akan marah dan berteriak seperti 'berhenti menangis! Lepaskan dasar nona bodoh!', atau semacamnya, namun kali ini dia mengurungkan niatnya. Dia sangat paham bahwa nona satu ini khawatir padanya.
Karena beberapa hari lalu dia sempat hancur. Dan ada satu alasan lagi dia tak memarahinya. Yaitu ucapan Lily kemarin.
[Bukan!! Rukh bukan alat.. Rukh adalah perwujudan buruk kita.. Mereka adalah bagian dari kita sendiri!]
seharusnya saat itu Raphael sudah mati dan jiwanya akan menghilang, namun karena mendengar kalimat itu membuat dia menjadi terharu dan berusaha lebih keras untuk tak lenyap.
'Hmm, nonaku satu ini memang yang terbaik. Aku tak menyesal menjadi Rukhnya... Tapi bisahkah dia berhenti memeluk dan menangis?'
"Nona, bisakah anda melepaskan pelukan ini? sangat sesak." Raphael masih berusaha sabar, dia berkata dengan sopan dan rendah hati.
"Dasar bodoh! Kenapa kamu berkata hal sekejam itu? Aku.. hiks.. Majikanmu khawatir lo. Apa kamu Sebegitunya tak suka dipeluk!?" ucap Lily, dia masih memeluk tubuh Raphael dengan erat dan merengek seperti anak kecil.
"Atau apa kamu benci aku sekarang?" Sekarang Lily memasang wajah melas. Mungkin sebagian orang akan merasakan bahwa itu imut, namun raphael tidak.
'Kutarik ucapannku, anak ini merepotkan'
"Tenang lah putri bodoh! aku tak akan membencimu. Jangan nangis oke."
Mungkin ucapannya terlihat santai, namun Lily tahu betul bahwa pria ini sedang marah. Dia juga mengelus kepala Lily, namun sedikit terasa menakutkan.
"Maaf.." Lily terdiam dan melepas pelukan itu, dia sudah merasakan hawa membunuh disekitar.
"Oh, ya Raphael. Kenapa kamu bisa keluar tanpa kupanggil?"
"Aku juga tak tahu pasti.. Tapi mungkin karena kamu sering memanggilku seenaknya, jadi aku pun juga bisa keluar dari dunia pandora seenaknya."
'Hal seperti itu mana mungkin terjadi.' pikir Eliot, dia masih tergeletak di tanah dan menyeka bekas luka.
__ADS_1
Dia terus mengawasi gerak gerik Raphael dan Lily. 'ada apa dengan mereka? Apa hubungan mereka benar-benar sebagai Rukh dan manusia? Dan juga apapun alasannya Rukh tak mungkin bisa keluar seenaknya.'
Eliot menyeka pipinya, dia berdiri dari tanah dan menatap tajam ke arah dua orang itu.
"Kalian berhenti berbicara omong kosong!"
Dua orang itu menatap ke arah Eliot. Mereka memasang wajah seolah-olah lupa dengan keberadaannya.
Eliot makin emosi. Sedangkan Raphael malah tersenyum mengejek, dia berjalan santai dan menaruh tubuh Lily di tanah dengan lembut.
"Terima kasih Raphael." ucap Lily setelah tergeletak.
"Tidak apa-apa nona. Sudah tugasku untuk melindungi anda." Dia mengatakan hal seperti itu dengan senyuman hangat dan dia mengelus kepala Lily dengan halus.
Lily terlihat menangis karena terharu. "Raphael, senyuman itu mungkin terlihat hangat, tapi itu sedikit membuatku ngeri jadi bisa berhenti?"
Raphael dulunya tak pernah tersenyum seperti itu, dia hanya marah ke Lily jadi yang dikatakan gadis ini adalah benar.
Urat nadi Raphael semakin terlihat. Dia sudah diambang batas kesabaran. Raphael mengacak-acak rambut pirang Lily dengan agresif.
"Cih... Kamu ini!.." Berusaha menahan emosi pria ini menghala nafas dia berhenti mengacak rambut Lily dan fokus ke arah Eliot.
"Maaf, nona bodoh. Aku akan mengurus orang ini terlebih dahulu."
"Iya. Aku mengandalkanmu." Lily tersenyum manis, namun dia tak bisa menahan diri lagi. Mata biru bak langit itu sedikit demi sedikit tertutup.
Raphael berlari menerjang Eliot, dia mengumpulkan cahaya cerah di tangan kanannya cahaya itu berkumpul hingga tangan kanannya dipenuhi oleh cahaya orange.
Raphael memukul pipi Eliot menggunakan cahaya yang berada di tangan kanannya.
Bruk!
Eliot terjatuh dan menabrak dinding. Pipinya terasa sangat sakit.
'Apa-apaan Rukh ini!? Yang barusan itu adalah sihir kan? Bagaimana mungkin Rukh bisa menggunakan sihir? Seharusnya mereka hanya memiliki satu kemampuan khusus dan itu akan berfungsi bila pengguna menginginkan itu, gadis itu saat ini pingsan, jadi tak mungkin dia mengeluarkan kekuatannya.'
'Mulai dari dia yang keluar masuk dunia pandora seenaknya dan menggunakan sihir. Dua orang ini sebenarnya apa?'
Eliot mencibirkan bibir..
"Kalian sebenarnya siapa!? Bagaimana kalian bisa melakukan sesuatu yang mustahil!"
Raphael terlihat tersenyum, dia mengepalkan tangan kanannya. "Aku hanya pria yang ingin melindungi wanita hanya itu."
__ADS_1