The Repeater

The Repeater
16. Latihan 4


__ADS_3

Leonardo akhirnya menginjakkan kaki di tempat latihan. Seperti biasa di sana sunyi dan tenang. Tempatnya pun terlihat kokoh sangat cocok untuk berlatih. Setelah mendapat saran dari Monika Leonardo sangat yakin kali ini dia bisa melakukan hal yang hebat. Kaki Leonardo melangkah sedikit demi sedikit menuju ruang tengah tempat biasanya dia mengeluarkan sihir.


"Akhirnya kau sampai Senior, aku menunggumu." Razor yang sedari tadi menunggu ditengah ruangan menyapa Leonardo.


"Ya, maaf kalau menunggu lama."


"Tidak perlu meminta maaf, Senior sekarang kamu bisa memulai latihan."


"Ya, tanpa kau ucapkan pun aku tahu.."


Leonardo memasang kuda-kudanya sama seperti biasa. Dia memegang pedang menggunakan dua tangan. Menekuk kaki dan menutup mata. Dia sangat fokus.


Merasa akan mengganggu Razor memutuskan untuk melangkah mundur, dia juga mencari jarak aman karena memiliki feeling bahwa Leonardo berbeda dengan sebelumnya.


Leonardo menghirup nafas panjang. Dia memutar apa yang dikatakan oleh Monika.


[Ya, seperti keinginan untuk melindungi seseorang yang kau cintai.. Mungkin dengan memikirkan hal itu, sihir akan meningkat."]


'Pertama-tama kumpulkan mana di ujung pedang.'


Dengan sekejap, ujung dari pedang Leonardo memancarkan uap dari es, warnanya pun berubah menjadi lebih putih dan menjadi dingin.


'Yang kedua beri perintah kepada mana.. Berkat kalimat Monika aku paham dengan apa yang dimaksud perintah.'


Leonardo memejamkan mata. Dia mengingat akan semua senyuman teman-temannya. Mulai dari Lily, Monika, dan Razor, lalu dia teringat akan kejadian di dalam mimpi.


'Aku ingin melindungi senyuman Lily, Monika, dan Razor. Aku mau melindungi semuanya. Karena itu, wahai manaku beri aku kekuatan untuk melindungi segalanya.'


Angin berhembus lebih kuat dari biasanya. Tubuh Leonardo tidak hanya dikelilingi oleh angin, tapi juga hawa dingin dan aura keputihan. Bahkan Di lantai yang dia pijak sekarang membeku dan menciptakan es yang tingginya setengah badan dari Leonardo, es itu mengelilinginya seolah sedang melindungi tubuh pria itu.


Saking kuatnya hembusan angin dan hawa dingin Razor hampir terpental, dia menahan dirinya dengan menancapkan pedang agar tidak terhempas oleh angin.


'Luar biasa. Angin berhembus sangat kuat. Dalam waktu singkat apa yang terjadi denganmu Senior?' Razor tersenyum bangga. Dia makin tak sabar menunggu apa yang akan terjadi. Dia berharap dapat melihat acara yang menarik.


Leonardo membuka mata perlahan, tatapan yang tenang dari mata putihnya menambahkan keserasian dengan kondisi saat ini ditambah dengan pedang yang mengeluarkan uap es, dan aura putih yang mengitarinya. Kali ini Leonardo bagaikan seorang pangeran yang dikeliling oleh kawanan es. Merasa semua persiapan telah selesai, Leonardo mulai mengayunkan pedang dengan lembut dari bawah ke atas.


-Brak!


Sebuah guncangan besar terjadi dari bawah tanah, membangunkan Lily dan Monika yang beristirahat di kamar Razor. Mereka saling bertatapan satu sama lain, memasang wajah penuh tanda tanya. Mereka berdua tidak tahu apa yang terjadi di bawah tanah. Tapi yang pasti mereka merasa khawatir dengan kondisi ruang bawah tanah, jadi mereka memutuskan untuk menuju tempat sumber suara.


Setelah sesampainya di sana dua gadis itu terkejut, karena melihat fenomena yang luar biasa. Ruangan yang seluas 50 meter lebih telah membeku setengahnya. Yang berarti 25 m dari ruangan telah menjadi es. Tatapan mereka berdua terus menatap ke arah bongkahan es yang besar, bahkan tinggi es itu mencapai atap ruangan ini, padahal ruangan itu sendiri memiliki tinggi sekitar 5 meter.

__ADS_1


Hawa dingin mulai menusuk kulit. Di pikiran dua gadis itu hanya satu, ini pasti ulah dari pria yang berdiri di dekat es tersebut, dia tak lain adalah Leonardo.


Sepertinya dia berhasil membekukan hampir setengah ruangan, benar-benar luar biasa. Padahal baru beberapa waktu yang lalu semenjak dia berlatih, tapi dia berhasil menciptakan sesuatu yang luar biasa. Bahkan para pro saja belum pasti bisa mencapai level ini.


Leonardo menyadari keberadaan mereka berdua. Pria itu menoleh ke arah Lily dan Monika yang terdiam kagum di tangga.


"Terima kasih Monika saranmu sangat membantu. Aku mengingat senyumanmu dan ternyata berhasil." Leonardo mengeluarkan suara yang lantang, siapapun yang berada di ruangan itu pasti bisa mendengarnya.


Pipi Monika serta telinganya menjadi merona karena mendengar ucapan Leonardo. Tentu saja ucapan barusan membuat kesalahan pahaman bagi penghuni ruangan.


"Ya, aku bersyukur jika saranku membantu," Monika tak bisa menahan rasa malunya dia menatap ke bawah lantai dan memainkan rambut oranye-nya.


[Ya, seperti keinginan untuk melindungi seseorang yang kau cintai.. Mungkin dengan memikirkan hal itu, sihir akan meningkat."]


'Aku memang sempat mengatakan itu, tapi jika dia mengingat senyumanku... Itu berarti Leonardo mencintaiku?' Wajah Monika semakin memerah, dia tak bisa membayangkan jika pikiran itu benar.


Leonardo semakin bingung melihat pipi Monika yang kemerahan. Entah murni bodoh atau efek karena lupa ingatan, dia benar-benar tak paham perasaan gadis.


Razor tersenyum, dia menyikut perut Leonardo. "Boleh juga Senior, kamu sekarang punya harem baru lo!"


"Apa maksudnya?"


"Yah, aku tak berharap kau akan paham.. Yang lebih penting ayo lanjut latihan ke tahap berikutnya!"


"...."


Razor tak merespon, dia mencabut pedang dari sarung yang berwarna hitam, menampilkan sebilah pedang dengan warna keputihan dan sangat tajam. Pedang itu ditodongkan ke Leonardo. Tanpa menjawab Leonardo tahu apa latihan selanjutnya. Leonardo menelan ludah, dia mengingat kekalahannya beberapa hari yang lalu.


"Dalam waktu seminggu coba kalahkan aku!" Mata merah milik Razor sangat tajam, aura tenang dan santai telah menghilang, dia sekarang bagaikan pembunuh kelas atas yang siap memburu mangsanya.


Tapi aura mencengkram itu sepertinya tidak berpengaruh untuk Leonardo. Pria ini malah tersenyum, dia sudah tidak sabar untuk membalas kekalahan beberapa hari yang lalu. Leonardo mencabut pedang dari pundak. Leonardo sudah siap bertarung.


"Aku tak akan menahan diri, persiapan dirimu!"


"Justru itu yang ku mau Razor."


Kedua pria ini saling bertatapan. Senyuman terlukis di wajah kedua orang itu. Ruangan dengan cepat berubah menjadi medan pertempuran.


Tanpa menunggu waktu lama mereka maju bersamaan dan saling beradu pedang, menciptakan suara logam berbenturan dan mengeluarkan percikan orange.


Leonardo mengayunkan pedang dari bawah ke atas, sedangkan Razor justru sebaliknya, dia mengayunkan pedang dari atas ke bawah.

__ADS_1


-Cring


Suara nyaring muncul ketika dua pedang itu bentrok. Saat ini kedua pria itu saling menekankan pedang satu sama lain dan bertatapan.


"Jangan sampai mati Senior!"


"Justru itu perkataanku."


Kedua pria itu masih tersenyum.


Razor menendang Leonardo membuatnya terhempas jauh. Namun agar tidak melayang terlalu jauh, Leonardo memutar otak. Dia menahan tubuhnya dengan cara menancapkan ujung pedang ke arah lantai dengan begitu dia tidak melayang terlalu jauh.


"Hehehe.. Aku tak akan menerima tendangan yang sama seperti sebelumnya." Ejek Leonardo, dia mengusap pipi yang penuh keringat dan debu.


"Lalu bagaimana dengan ini?" Razor menghilang, dia dengan cepat berpindah tempat ke belakang Leonardo.


Leonardo masih menatap ke depan dan terlihat terkejut, dia sepertinya belum terbiasa dengan kecepatan kilat itu. Tentu saja Razor tak menyiakan celah Leonardo, dia berencana untuk menusuk pria itu dari belakang.


'Aku menang.' Pikir Razor. Dia sangat yakin karena Leonardo masih menatap ke depan, dia seperti tidak sadar kalau Razor sedang dibelakang.


Saat pedang itu hendak menusuk bagian belakang Leonardo, entah kenapa Leonardo malah tersenyum. Dengan refleks luar biasa cepat dia menoleh ke belakang dan memegang tangan Razor dengan sangat erat hingga bisa menghentikan pergerakannya.


'Sial! Aku terkena jebakan, dia sengaja membuka celah hanya untuk menahan pergerakanku.' Pikir Razor. saat ini dia tak bisa bergerak, tangan kanannya telah dipegang erat oleh Leonardo.


Pukulan keras melayang ke arah pipi Razor, dia terhempas dan melayang jauh. Tubuhnya melayang ke arah bongkahan es dan dia terkena es itu.


Brak!


Es itu pecah karena terkena beban dari tubuh Razor, bahkan hingga es menyangkut dan membentuk tubuh yang pas untuk Razor.


Razor membuka mata perlahan, dia bisa merasakan rasa sakit di pipi, maupun tulang belakangnya, selain itu dia kini sedang tersangkut di es, dia merasakan hawa dingin yang amat merusak tubuh. Razor tersenyum, dia memaksa tubuhnya untuk keluar dari bongkahan es dan dia berhasil.


"Hah... Hah..." Nafas Razor berantakan.


"Tadi kau bilang kalahkan aku dalam satu minggu kan? Tak perlu waktu sebanyak itu! Cukup satu hari aku akan mengalahkanmu."


Bibir Razor terangkat lagi, dia tertawa kecil. Dan mengeluarkan aura serius. Kali ini Razor tak menahan diri.


Razor merapalkan mantra dan memanggil Rukh yang berupa lensa mata biru, dia memasangnya dan menatap tajam ke arah Leonardo.


Mata merah Razor kini berubah menjadi biru, dia telah mengaktifkan Rukh yang berkekuatan untuk melihat segala jenis pergerakan dan mempercepat gerakan. Jujur saja Leonardo yang sekarang tak punya kesempatan menang.

__ADS_1


"Mulai Sekarang aku akan serius, jangan kecewakan aku Senior!"


__ADS_2