
Allan dan Jhon saat ini masih mengatur nafas, kedua orang itu telah menghabiskan sangat banyak mana karena menggunakan sihir paling kuat yang mereka miliki. Meskipun begitu tatapan kedua pria itu terfokus ke arah Jack yang tergeletak.
"Apakah ini benar-benar berakhir?"
Nafas masih terengah-engah. Allan masih tak percaya akan kemenangannya. Air keringat berjatuhan dengan tangan kanan dia menyekanya.
"Ya. Apa kau tidak melihat tubuh gosong milik JackJack?"
'Tapi entah kenapa aku punya firasat buruk.'
Menyadari ekspresi khawatir Jhon menepuk pundak temannya.
"Jangan mengeluarkan wajah seperti itu dong! Kita menang lo."
"Ya. Kau benar, sepertinya aku terlalu berpikir negatif." Allan menerima perkataan Jhon, meskipun sebenarnya dia masih ragu.
Setelah beberapa detik mereka memutuskan berjalan untuk mengejar Leonardo dan lain-lain, namun langkah itu langsung terhenti. Allan kembali merasakan ada sesuatu yang berlari ke arah mereka dengan cepat.
Semakin cepat dan sekarang telah berada di belakang tubuh mereka. Allan sadar dan mendorong temannya yang merupakan target.
"Awas Jhon!"
Jhon terhempas dan tergeletak di tanah. Dia membuka lebar matanya karena melihat sesuatu yang tak terlihat telah menebas pipi Allan.
* Slah
'Sesuatu menebas pipi Allan. Padahal tidak ada siapapun disana sebenarnya apa yang terjadi?'
Pipi Allan meneteskan darah. Musuh memang menjadi tak terlihat, namun Pria itu sadar mungkin musuh mereka yaitu Jack masih hidup.
Mata Allan berputar, mengantisipasi serangan yang akan datang berikutnya. Namun percuma musuh tetap tak kasat mata dan terus menebas Allan. Untung saja Allan bisa sedikit menghindar jadi kepalanya tak terkena tebasan.
"Apa yang terjadi? Jack masih hidup kah?!"
Jhon kebingungan, dia berdiri dari tanah dan menatap sekeliling. Mencari keberadaan musuh yang tak kasat mata.
"Ini hanya pemikiranku, tapi sepertinya Jack masih hidup. Entah apa yang terjadi namun dia menggunakan trik untuk tak terlihat."
"Itu benar." Suara Jack bergema.
Kedua orang itu memutar mata sekali lagi. Terus mencari Jack yang tak terlihat.
"Di mana kau?! Tunjukkan batang hidungmu!"
"Tidak mau.."
* Slah
Sabit menyayat leher Jhon. Namun untung dia bisa melompat mundur sehingga hanya menimbulkan luka goresan.
"He, kalian sangat hebat! Ini pertama kalinya aku sampai terdesak seperti ini. Bahkan sudah beberapa tahun aku tak menggunakan Rukh milikku."
'Rukh dia bilang? Berarti dia adalah Eraser..
"Jangan salah paham. Aku memang punya Rukh, tapi aku bukan Eraser. Aku adalah ilegal kontraktor."
Jack menjawab Jhon. Seolah dia tahu apa yang sedang dia pikirkan. Jack masih terus menebas Jhon maupun Allan dengan agresif. Tubuh yang tak kesat mata membuat kedua orang itu susah menghindar.
* Cring
__ADS_1
Entah beruntung atau memang sadar. Allan berhasil menahan tebasan tak kesat mata dari Jack. Jack terlihat kagum.
"Ilegal kontraktor? Jadi begitu. Aku bersyukur kalau kamu bukan anggota Eraser. Jujur saja aku bisa kecewa kalau Eraser adalah pembunuh sepertimu."
Jhon melemparkan pedang di depan Allan. Karena dia berpikir mungkin Jack sedang berada di depan Allan. Dan pikiran itu benar. Jack dengan cepat melompat mundur dan serangannya terhenti.
"Allan, apa itu ilegal kontraktor."
Jhon berlari dan mengambil pedang yang menancap di tanah.
Allan mengatur nafas dan menyeka keringat.
"Ilegal kontraktor. Seseorang yang melakukan kontraktor tanpa hukum. Kalau Sesuai hukum hanya Eraser yang boleh berkontrak dengan Rukh. Ilegal kontraktor juga bisa dibilang seseorang yang mempunyai Rukh lebih dari satu, alasan dipanggil ilegal adalah karena Rukh itu bukan miliknya."
"Yap, benar. Dan kekuatan Rukhku adalah menghipnotis mata musuh. Aku tak benar-benar hilang, aku hanya membuat mata kalian seolah tak melihat keberadaanku. Dengan menjilat darah musuh aku bisa mulai menghipnotis mata musuh."
Jack menjelaskan seolah menganggap bahwa informasi itu tak penting bagi dia. Dia membocorkan kekuatannya murni karena meremehkan kedua musuhnya.
"Jadi begitu. Berarti orang yang gosong itu adalah hipnotis. Kalau begitu ini gawat, kita tak bisa melihat musuh, kita tak ada kesempatan untuk menang. Semenjak Jack menjilat sabitnya kita sudah kalah."
Allan terlihat putus asa, mata yang sebelumnya berapi sekarang menjadi hitam pekat.
Namun temannya Jhon tak menyerah, dia semakin bersemangat. Matanya menandakan bahwa dia siap mati.
"Jangan khawatir sobat. Aku punya ide bagus."
"Ide apa itu?"
"Itu adalah.."
"Tak akan kubiarkan kalian berdiskusi."
Jack menyerang, namun tiba-tiba bom asap mengitari lingkungan hingga Jack berhenti melangkah. Melihat asap Jack berdesis kesal.
"Apa kau serius Jhon?"
"Ya, aku serius."
"Tapi itu.."
Bom asap telah menghilang dengan cepat Jack menyerang dua orang itu. Jhon dan Allan dapat menghindari dengan susah payah serangan yang tak kesat mata hampir bisa saja membunuh dengan mudah, namun Jack sengaja menyerang bagian yang tidak vital seperti pipi, kaki, serta lengan.
"Tidak ada pilihan lain Allan! Kita harus
melakukannya!"
Nada Jhon meninggi, dia masih berusaha menghindari serangan yang entah berasal dari mana. Pipi, lengan, dan kakinya sekarang telah penuh oleh goresan serta darah yang berceceran. Pakaian yang sebelumnya rapi sekarang berantakan dan sobek-sobek.
"Aku tak tahu apa rencana kalian, namun semuanya percuma."
"Apa kau yakin? Padahal kamu bisa menghilang, tapi tak bisa membunuh kami. Orang lemah jangan omong besar."
Jack semakin geram. Dia dari tadi hanya bermain saja, tapi Jhon mengejeknya tentu itu meluapkan emosinya. Sekarang Jack tak akan menahan diri, dia akan menusuk dada Jhon.
"Kau bilang lemah!? Baiklah akan ku bunuh kamu duluan."
Jack menerjang dengan cepat dia menusuk dada musuhnya menggunakan sabit tajamnya kali ini tak ada penghindaran, Jhon tak bisa menghindar dan dadanya telah tertusuk sabit tajam bahkan hingga menembus. Darah mengalir deras, beberapa menit lagi kemungkinan Jhon akan mati.
"Rasakan itu, dasar lemah!"
__ADS_1
Jack menyeringai, walaupun dia masih tak kasat mata, namun senyuman itu pasti akan menakutkan bagi siapapun yang bisa melihat. Senyuman itu seolah berkata bahwa 'aku menang'
Mata Jhon menutup perlahan, dia tak bisa bernafas dengan normal beberapa saat lagi Jhon pasti akan mati, namun sebelum itu dia harus melakukan strateginya. Jhon tersenyum dan memegang lengan Jack yang berada di depannya.
"Akhirnya aku bisa memegang lengang mu."
Jack terkejut.
'jangan bilang! Dia sengaja menerima seranganku hanya untuk memegang lengan tak kasat mata ini. Apa dia gila? Itu tindakan bunuh diri, hanya demi menghentikan gerakanku dia sampai mengorbankan diri sendiri.'
"""Sekarang Allan!!"""
Nada Jhon meninggi, dia memberikan semua tenaga yang tersisa demi satu teriakan itu.
'Sial! Tubuhku tak bisa bergerak. Ini benar-benar gawat'
Jack mulai berusaha melepaskan genggaman Jhon, namun tenaga pria itu tak cukup. Dia tak bisa lepas dan makin panik. Dibalik asap-asap terlihat Allan yang bersembunyi, dia sedari tadi berada di sana.
"Maaf Allan. Istirahatlah yang tenang."
Dia merentangkan tangan kanan ke depan dan merapalkan mantra, Sekumpulan cahaya merah sedikit demi sedikit berkumpul di tangan kanan Mata birunya terbuka lebar, dia melepas cahaya itu.
...[fire magic: giant bursts of flames]...
Sebuah semburan api raksasa keluar dari tangan kanan Allan. Bergerak sangat cepat. Jack berusaha bergerak untuk menghindar, namun tak bisa karena lengannya telah dipegang erat oleh Jhon.
"Kamu kemana, tuan pembunuh? Kamu akan mati bersamaku."
"Bangsat! Lepaskan! Lepaskan! Dasar orang gila."
Jack memukul wajah Jhon. agar genggamannya lepas, namun.
Sudah terlambat Jack tak akan bisa menghindar begitu pun dengan Jhon. Orang ini mengorbankan nyawanya demi sihir api ini. Api besar itu mengenai Jack dan Jhon. Membakar segalanya bahkan hingga suhu terasa sangat panas dan beberapa bangunan hampir meleleh. Keringat pun berjatuhan di pipi Allan.
Air mata asin juga jatuh, dia terpaksa harus mengorbankan temannya. Allan telah menolak ide gila ini, namun Jhon sangat keras kepala. Saat ini Jack dan Jhon telah gosong dan terkapar di tanah. Kemungkinan mereka sudah mati.
Namun suara batukan dari Jhon memberikan serpihan harapan bagi Allan. Dia berjalan dan menyentuh lengan temannya. Berharap akan baik-baik saja.
"Jhon, apa kamu masih hidup?"
"Uhukk... Uhuk..."
Dengan wajah yang telah hitam, dan baju yang hangus Jhon memaksakan untuk menggerakkan lengannya dia menyentuh pipi Allan dengan wajah sayu dan lemas dia berkata,
"Jangan lihat aku seperti itu! Aku jadi makin susah pergi." suara sangat lirih.
"Jangan paksakan dirimu untuk bicara Jhon! Lukamu akan makin buruk. Aku akan membawamu ke suatu tempat dan menyembuhkan luka ini, jadi bertahan-"
Jhon memaksakan tersenyum, dia menyeka air mata yang menetes di pipi temannya.
"Allan, aku sudah tak ada harapan. Sebagian besar tubuhku sudah hangus bahkan aku tak bisa merasakan rasa sakit. Aku yakin mungkin organ dalam milikku telah terbakar hangus."
Allan mencoba menolak fakta. Dia sangat yakin bahwa Jhon adalah orang yang kuat, Jhon bukan orang yang akan mati hanya karena api.
Namun Allan merasa sangat bersalah, sebagai teman dan ketua di organisasi dia malah membiarkan bawahan berharganya mati. Tidak bagi Allan Jhon seperti saudara.
"" Maaf Jhon, seharusnya aku yang berkorban. Sebagai ketua aku sangat menyedihkan! Aku seharusnya yang mati. Tapi kenapa malah-"
"Allan ini keinginanku. Kamu adalah ketua disini. Jika kamu mati organisasi akan lenyap, dan juga kamu punya kewajiban. Setelah ini buatlah kota OZ menjadi lebih indah. Shingga semua orang kembali tersenyum.." Itu adalah ucapan terakhir dari Jhon. Dia menutup mata perlahan dan tewas.
__ADS_1
Allan tak bisa membendung air mata. Dia memeluk tubuh temannya yang hangus.
"Tidak! Tidak! Jhon.."