The Repeater

The Repeater
13. Latihan


__ADS_3

"Baiklah ayo mulai latihannya!"


"Pertama-tama Kumpulkan mana di satu titik dan beri perintah dan bamm..."


Razor merentangkan tangan kanan ke depan, dan dari tangan itu keluar semburan petir yang panjangnya sekitar setengah meter. Petir itu sangat cepat, meskipun tipis, tapi dapat memberikan kerusakan bila seseorang terkena.


"Seperti itulah, apa kau paham?"


Razor menatap Leonardo dengan harapan dia paham. Leonardo menganggukkan kepala tanda ya.


Dia berjalan ke arah Razor dan berdiri di sampingnya.


"Mengumpulkan mana di satu titik, apa itu artinya aku bisa mengumpulkan mana di pedang?"


"Ya, bisa. Tapi levelnya terlalu tinggi lebih baik kau..."


Tidak mendengar ucapan dari Razor, Leonardo malah mengambil pedang dari pundaknya. Dia menggenggam kuat pedang itu menggunakan kedua tangan. Kaki ditekuk kan, dan pandangan menatap tajam ke arah depan. Dia membayangkan sedang bertarung dengan seseorang.


'Setidaknya biarkan aku bicara sampai selesai..'


Gumam Razor ketika menatap idolanya sedang fokus dengan aktivitasnya.


'Tapi tidak apa-apalah, mari kita lihat apa yang akan dia lakukan....'


Melihat tatapan penuh fokus dari mata Leonardo, membuat Razor berharap dia dapat memperlihatkan sesuatu yang menarik.


Leonardo menutup matanya, dia fokus akan hal yang dilakukan. Dia mengatur nafas dan mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Razor.


'Kumpulkan mana di satu titik dan beri perintah....'


Ruangan sekitar menjadi dingin, udara mengitari Leonardo yang sedang fokus. Udara itu terus mengitari tubuh Leonardo dan semakin lama udara itu semakin kencang. Rambut kuning milik Razor bergoyang, mata merahnya ia tutup separuh karena hembusan angin yang kuat, di dalam hatinya ia merasa sangat kagum. Dia semakin sadar bahwa orang yang diajarkan adalah jenius sejati.


'Hebat hanya dengan fokus dapat menghasilkan angin sekuat ini.. Sudah kuduga top tiga memang hebat, aku makin tidak sabar melihat apa yang akan terjadi..'


Pikir Razor. Dia membuka setengah matanya dan memperhatikan Leonardo yang dikelilingi oleh hawa dingin.


Leonardo masih fokus, dia bisa merasakan sesuatu mengalir deras dari tubuhnya dan bergerak menuju ke ujung pedangnya.


'Sesuatu mengalir dari tubuh ke pedangku, apa ini yang dinamakan mengumpulkan mana dalam satu titik? Kalau begitu mari ke tahap berikutnya.. Memberikan perintah ke mana dan bayangkan es.. bayangkan Es..'


Gambaran Es terlintas di kepala Leonardo. Merasa bahwa semuanya sudah cukup dia membuka mata dan menghunuskan pedang ke depan.


Ujung pedang itu bergelombang dan berubah warna menjadi keputihan, aura pedang menjadi sedikit dingin, dari hunusan itu Leonardo berhasil membekukan permukaan tanah dengan panjang sekitar setengah meter, memang pendek, tapi ini adalah hal luar biasa.


Karena Leonardo melupakan ingatannya, jadi ini sama saja seperti seseorang yang mencoba sihir pertama kali dan dia berhasil. Itu pun dia menggunakan senjata sebagai perantara, jika menggunakan sihir dengan perantara maka akan menambahkan kesulitan dalam mengontrol mana. Dan luar biasanya Leonardo dapat mencoba itu hanya dengan sekali coba.


Razor tersenyum, dia semakin bahagia melihat betapa hebatnya orang itu. Dia sangat yakin jika saja Leonardo berlatih sekitar dua bulan.


Dia bisa setara dengan Leonardo dulu. Razor memuji Leonardo, namun Leonardo menafsirkan ini sebagai ejekan. Dia justru merasa tersinggung.


"Hebat. Padahal baru pertama kali, tapi langsung berhasil, Senior memang hebat..."


Langkah Razor mendekati Leonardo, dia tersenyum ke arah idolanya itu, namun sekali lagi Leonardo justru merasa tersinggung dan merasa sedang di ejek. Karena senyuman dari Razor sendiri agak ambigu, senyumannya seperti orang bodoh.


"Berhenti sebut aku 'Senior!' Dan juga berhenti mengejekku!"


Serunya, dia makin emosi karena merasa dipermainkan.


"EH? Aku tidak mengejek senior lo! Memang benar itu sihir kecil, tapi itu hal luar biasa untuk pemula seperti senior."


Leonardo menghela nafas, dia merasa bodoh kepada dirinya karena telah salah paham.


"Baik. Baik, tapi adakah tips agar elemen Es ini lebih kuat? Kalau seperti ini mah tidak bisa digunakan untuk bertarung."


"Tidak ada tips, sihir akan lebih kuat tergantung seberapa sering kamu menggunakan. Jadi senior tinggal terus berlatih, nanti pada akhirnya akan semakin kuat."


Leonardo terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Razor, dia berjalan ke arah tengah ruangan dan memasang kuda-kuda seperti tadi. Dia menutup mata, mengatur nafas dan fokus seperti tadi. Angin sekali lagi berhembusan dan Leonardo menghunuskan pedang, tapi hasilnya masih sama dengan yang sebelumnya. Tidak ada perubahan.


Setelah itu Leonardo terus mengulangi hal yang sama. Terus mengulang walau hasilnya sama, dia tidak menyerah dan terus berusaha, dia tidak punya waktu untuk melakukan hal ini lebih lama. Sebisa mungkin dia harus menghentikan Edward dan melakukan sesuatu, atau perang saudara itu akan terjadi. Dan yang terburuk semua temannya akan mati.


"Hah!"


"Hah!"

__ADS_1


Nafas Leonardo menjadi berantakan setelah mengulangi kegiatan itu. Sudah tidak terhitung seberapa banyak dia melakukan hal yang sama, tapi dia masih belum juga ada kemajuan.


Keringat berjatuhan di wajah Leonardo, nafanya sendiri pun menjadi berantakan. Menyadari Leonardo telah kecapekan Razor berjalan ke arahnya dan berkata.


"Cukup sampai di situ, Istirahatlah dulu!"


Razor mengulurkan tangan ke arah Leonardo yang menundukan tubuh. Wajahnya telah penuh keringat dan nafasnya sangat berantakan.


Leonardo menepis tangan itu, dia menatap ke arah Razor.


"Tidak! Aku masih bisa lanjut, jika aku terlalu santai. Semuanya bisa mati."


"Dinginkan kepalamu!!"


Tidak seperti sebelumnya Razor menaikan suaranya, wajah Razor berubah menjadi serius dan emosi.


Mata Leonardo terbuka lebar, dia tidak menyangka Razor bisa mengeluarkan ekspresi seperti itu. Dia mengatur nafas dan menyeka keringat di wajahnya.


"Maaf, aku tidak bisa.. Hanya aku yang bisa menyelamatkan mereka, jika aku lemah seperti ini aku.."


"Terus kenapa? Apa kau ingin berlatih hingga tubuhmu rusak? Jika tubuhmu saja sudah rusak sejak sekarang lalu bagaimana dengan satu minggu kedepan?! Kamu tidak akan bisa melawan karena kondisi tubuh yang lemah, karena itu istirahatlah sebentar dan kembalilah! Paham?!" Razor sekali lagi menaikan nadanya.


"Baiklah aku paham.."


Leonardo merebahkan diri ke arah lantai yang keras nan dingin itu. Dia tidak terlalu peduli di mana dia berada sekarang dan hanya ingin beristirahat. Saat dia terkapar, Leonardo mengatur nafas dan matanya menatap ke atas.


Razor menghela nafas karena melihat temannya yang tidur tergeletak di tanah kotor dan dingin itu.


"Jangan tidur di sana! Ayo pergi dan cari makanan di luar!"


"Aku inginnya begitu, tapi..."


"Tapi kenapa?"


"Kemarin aku sempat membuat kegaduhan di restoran, aku ingin menyelamatkan salah satu budak di sana. Dia diperlakukan buruk oleh pria, jadi aku memukul pria itu.."


"Hah? Kamu serius?"


Razor tidak percaya, tindakannya memang mulia, tapi yang tadi benar-benar nekad. Apalagi dia melakukan hal seperti itu di kota OZ. Kota penjualan budak. Tentunya sekarang Leonardo telah menjadi buronan dan dicari para warga, karena dianggap sebagai kasus pencurian budak.


Razor memegang kepalanya karena tindakan Leonardo benar-benar diluar dugaan.


"Baiklah aku akan membelikan sesuatu di luar, jadi beristirahatlah di sini, oke? Ingat jangan pergi kemanapun dan tidurlah!"


Setelah selesai bicara Razor meninggalkan Leonardo yang masih tergeletak di lantai. Sedangkan Leonardo masih menatap ke atas dan menikmati waktu istirahatnya.


'Benar-benar orang yang merepotkan..' Gumam Razor. Dia mencari jubah coklatnya dan pergi dari kamar.


Razor melangkah keluar dari penginapan. Ia melintasi banyak kios-kios, orang yang berjual beli dan beberapa anak-anak yang bermain di luar, karena keramaian itu Razor memilih rute sempit yang tidak terlalu banyak dilewati orang-orang, tapi yang namanya rute sempit pasti ada resiko tersendiri.


Yap, saat dia berjalan dia disergap oleh sekitar empat orang preman. Dua di belakangnya dan dua lagi di depannya. Razor benar-benar dikepung, tapi pria itu menganggap peristiwa ini sepele tidak ada rasa panik maupun takut di hatinya.


"Woi! Kakak satu ini punya jubah dan terlihat seperti memiliki banyak uang.."


Seorang preman di depannya mengucapkan hal itu.


Preman yang di belakangnya tidak hanya diam, dia berjalan ke arah Razor dan meletakan tangannya di leher. Dia menodong pisau tajam ke leher itu.


"Beri kami uang! Atau-"


"Atau apa? Kalian ingin membunuhku dengan benda seperti itu? Hahaha, kalian sungguh lucu."


"Brengsek beraninya kau.. Baiklah aku akan membunuhmu..."


Preman yang berada di depan berlari dan ingin menusukkan pisau ke arah perut Razor.


Razor tersenyum kecil. Dia menyundul ke atas agar preman yang memegangnya dari belakang melepaskan genggaman itu. Dan preman itu melepaskan tangan yang terletak di leher dan keseimbangan dari preman itu hilang dia bahkan sampai terjatuh.


Sekarang giliran preman yang menerjangnya. Dia memegang bagian tangan yang memegang pisau dan menghentikan pergerakannya. Preman itu terlihat terkejut beberapa detik. Razor tidak menyiakan celah itu dan menendang preman itu menggunakan kaki kanan.


Blak


Preman itu terhempas, tubuhnya masuk ke tempat sampah besar yang berada di dekat mereka. Dalam kurung waktu beberapa detik Razor mengalahkan dua preman. Tinggal tersisa dua lagi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kalian? Tidak mau menyerang?"


Razor memasang wajah senyuman mengejek. Dia menunggu preman itu emosi dan menerjangnya.


Dan seperti rencana kedua preman itu emosi dan menerjang Razor di kedua sisi, belakang dan depan. Mereka berdua berlari sambil menodongkan pisau dan ingin menusuknya ke arah perut Razor. Namun semua serangan mereka terbaca dengan mudah dan Razor menghantam mereka semua dengan sangat mudah.


Mereka semua sekarang terkapar lemah di jalan. Karena urusan telah selesai Razor berjalan santai meninggalkan mereka semua. Dia tidak lupa tujuannya, yaitu membeli makanan.maupun minuman. Setelah dia keluar dari jalan sempit akhirnya dia sampai lagi di jalan besar.


Di sana Razor melihat suatu restoran yang gaduh entah apa yang terjadi, tapi semua orang terlihat berkumpul melihat kegaduhan. Razor tertarik dengan restoran itu, dia menutup wajahnya menggunakan tudung dari jubah yang dia pakai dan berjalan ke arah keramaian itu.


"Permisi saya mau lewat...."


Razor melewati beberapa kerumunan itu, dan akhirnya dia sampai di pintu masuk. Dia menghirup nafas menyiapkan diri untuk melihat sesuatu di dalam restoran. Setelah merasa siap dia membuka pintu itu.


Dan di restoran Razor dapat melihat jelas dua orang yang terlihat seperti wanita sedang beradu omongan dengan seorang kasir mungkin merekalah penyebab kegaduhan. Dia sebenarnya tidak yakin apakah kedua orang itu pria, atau wanita karena tubuh mereka tertutup oleh jubah coklat dan tudung, sama seperti Razor. Tapi yang pasti suara dari mereka terdengar seperti perempuan.


Satu perempuan yang terlihat agak tinggi dari temannya sedari tadi terlihat emosi.


..."Sudah kubilang aku bukan orang mencurigakan! Kami hanya ingin memesan makanan."...


"Tenang li.. Lucy.."


Teman yang berdiri di sampingnya dan terlihat lebih kecil berusaha melerai pertarungan itu.


"Jika bukan orang mencurigakan maka lepas kacamata hitam dan masker itu.. Kalian terlihat seperti perampok.."


Ejek kasir tersebut yang diikuti tawa para pelanggan.


Perempuan bertubuh tinggi itu makin terlihat emosi, sedangkan temannya justru semakin malu karena menjadi pusat perhatian.


'Pelanggan mencurigakan ya? Ada-ada saja mereka. Pergi di tempat seperti ini menggunakan jubah, tentu saja kau dicurigai, apa mereka bodoh?"


Razor menelan ludah sendiri, dia tidak sadar bahwa dirinya juga mengenakan jubah yang sama.


'Tapi gadis bertubuh tinggi itu, aku sedikit familiar dan suaranya sepertinya aku mengenalnya.. Mungkin hanya imajinasiku.'


Razor berjalan menuju kasir, dia ingin memastikan orang itu sembari memesan makanan.


"Pak aku pesan roti 2 dan 2 air!" Ucapnya setelah sampai di kasir.


"Oke.."


Kasir itu melayani dengan Razor dengan ramah berbeda dengan dua gadis yang berdiri di sampingnya.


"Jangan bercanda! Kenapa pria ini kau layani sedangkan kami tidak?"


"Itu karena kalian mencurigakan.. Sudah kubilang lepas kacamata hitam dan masker itu!"


"Sudah kubilang aku punya alasan-"


"Anu.. Kalau boleh aku akan memesankan untuk anda, Apa yang anda mau?"


Razor menawarkan hal itu ke gadis yang berdiri di sampingnya. Dia juga merasa kasihan kepada mereka.


"Tuan tolong jangan terlalu memanjakan mereka!" Tegur kasir itu.


"Tidak apa-apa sesekali aku ingin membantu, jadi apa yang ingin kau pesan?"


"Dua roti dan dua minuman."


"Oke. Pak jadi 4 roti dan 4 minuman.."


Dengan wajah yang terpaksa pria itu menulis pesanan dan menyerahkan itu ke dapur, mereka berdua terdiam dan menunggu pesanan.


"Terima kasih banyak.." Gadis itu menoleh ke arah pria yang ingin diajak bicara.


"Ya.. Tidak perlu dipikirkan!"


Razor pun menatap ke arah gadis itu. Seperti yang dikatakan pelayan, dia memakai kacamata hitam dan masker. Tatapan mereka berdua saling bertatapan. Razor sekali lagi merasa familiar dengan gadis ini, terutama bagian rambut pirangnya.


'Rambut pirang ini dan suara yang barusan jangan bilang dia..."


"Lilly?!"

__ADS_1


"Tunggu dulu.. Kamu kalau tidak salah Razor kan?!"


Sungguh tidak terduga pertemuan dari kedua Eraser akan dipertemukan di tempat seperti ini, entah ini takdir atau kebetulan. Tapi pertemuan dari kedua orang ini di restoran akan mengakibatkan masa depan penuh cahaya, atau justru menciptakan masa depan penuh keputusasaan. Itu adalah jawaban yang tidak pernah diketahui.


__ADS_2