
Ellina terlihat sedikit gemetaran, dia tak menyangka dengan kemampuan api penghancur yang dashyat itu. Dia juga sedikit teringat akan masa lalu buruknya. Ellina menelan ludah dia menodongkan pedang es ke arah Laxus masih berusaha untuk melawan.
“Api amarah? Itu kemampuanmu kan?” Ellina menebak-nebak. Tidak lebih tepatnya dia memang pernah bertemu pengguna api yang sama persis jadi dia tahu.
“He, aku tak sangka kamu bisa tahu hal seperti itu.”
Sambil menyeringai Laxus berkata, “Ah, mau bagaimana lagi. Kalian para anak pembawa kehancuran pasti takut dengan ini ya? Api yang membunuh kalian.”
Dulunya para pemilik mata merah, atau bisa disebut para anak pembawa kehancuran dibunuh dengan api amarah ini. Api itu telah membunuh banyak orang dan api amarah ibarat hukuman dari dewa untuk para anak pembawa kehancuran. Padahal mereka tak pernah berbuat apapun, tapi para anak pembawa kehancuran selalu ditindas. Ellina adalah salah satu korban api itu, walaupun dia tak mati, namun dia melihat banyak kematian melalui api itu. Berjalan di lautan mayat dan tempat yang terbakar adalah masa lalu Ellina yang terburuk.
Alasan kenapa anak pembawa kehancuran selalu ditindas adalah karena cerita legenda dari dewa, cerita itu bertulis seperti ini. Jika ada seseorang dengan mata merah ruby maka siksalah mereka, kucilkan mereka. Semua para pemilik mata merah kelak akan membawa kehancuran, maka dari itu semua orang mengucilkan anak pembawa kehancuran.
“Berisik! Aku bukan anak pembawa kehancuran.”
Di hanyutkan oleh emosi, Ellina berlari ke arah Laxus, dia mengayungkan pedang dengan kasar dan brutal. Hal itu membuat pergerakan dapat mudah di baca.
Ellina melompat mundur, dia menghirup napas untuk menenangkan dirinya. Setelah berasa tenang, dia melancarkan sihir baru.
[Ice magic: ES Scyte]
Serangan beruntun yang menciptakan tebasan berupa sabit es yang menyerang Laxus dengan jumlah yang cukup banyak. Sabit es terlihat sangat tajam serta melesat sangat cepat.
Dengan tenang Laxus mengeluarkan sedikit elemen api jari telunjuknya. Membentuk seperti pistol dan mengeluarkan bola api kecil dari jari tersebut. Bola kecil itu melesat cepat dengan mudah melelehkan sabit es milik Ellina.
Namun Ellina tak berhenti di situ saja, kali ini Ellina lari memutari Laxus, dia melemparkan serangan yang sama seperti sebelumnya, dia melemparkan semua sabit es dari segala sisi. Sabit es dengan jumlah sangat banyak menuju ke tubuh laxus, sisi kanan, kiri, belakang dan depan semua terbuka lebar.
Saat sabit itu hampir terkena Laxus, ellina sempat tersenyum bangga, dia beranggap bila Laxus terkena sihir sabit maka Ellina akan menang, tapi sangat di sayangkan.
[Fire magic: Warth Fire]
Laxus mengeluarkan serangan api yang sama seperti sebelumnya. api itu sangat besar dengan cepat menghancurkan semua sabit milik Ellina, api itu menyambar ke arah Ellina, tapi untung saja dia berhasil menghindar dan hanya terkena pundak saja.
"Kyaa!" Ellina berteriak, pundaknya terkena api panas dari Laxus.
Namun Ellina belum menyerah dia terbangun dan kembali menyerang, dia mengayunkan pedang dengan vertikal. Namun dihindari dengan mudah, diayunkan ke segela arah pun percuma serangan seperti itu tak berguna sama sekali bagi Laxus.
Saat Ellina berjuang keras melawan Laxus yang bisa dilakukan Razor dan lainnya hanya melihat saja.
‘Sial, ini gawat’
__ADS_1
‘Api amarah sudah seperti senjata bagi para anak pembawa kehancuran. Karena itulah aku berusaha menghentikan Ellina tadi, tapi tampaknya ini sudah terlambat’
Jatuh dalam pikirannya Razor hanya bisa menatap pertandingan, sedangkan River entah kenapa menatap tajam Laxus. Dari mata hijau itu terdapat kebencian yang amat besar terutama setelah dia mendengar kata api amarah.
Mereka semua ingin membantu baik itu Leonardo, Razor, Bryan dan yang lainnya. Tapi mereka tak akan bisa melakukannya karena ini adalah pertandingan tak boleh ikut campur.
Laxus terus menembakan api kecil yang berasal dari jari telunjuk, api itu melesat ke arah Ellina bagaikan pistol. Ellina menghindari beberapa api kecil, melompat berlai dan menebas beberapa yang dia bisa.
Yang Ellina lakukan hanyalah menghindari dan menangkis api kecil milik Laxus yang terus menyerang, tapi kali ini Ellina menebas semua api itu dan berlari dengan cepat ke arah Laxus, gerakan lari Ellina cukup cepat, saat dia sampai di depan Laxus. Ellina langsung mengayunkan pedang es menuju leher Laxus.
Dengan tenang Laxus melompat ke belakang dan menendang kepala Ellina sebelum pedang es itu mengenai lehernya.
Brak
“AAnh”
Ellina terlempar, dia berteriak kesakitan dan jatuh di tanah. Napasnya mulai berantakan dan keringatan bercucuran, dia ingin kembali bangun, tapi tak memiliki cukup kekuatan.
Laxus berjalan santai ke arah Ellina.
“Ini kemampuanmu, nona? Jujur saja aku kecewa.”
Ketika sampai di depan Ellina, Laxus menyeringai karena melihat tubuh lemah yang tergeletak lemah itu. Dia mengarahkan tangan kanan ke arah Ellina dengan senyuman licik semua orang akan tahu apa yang akan dia lakukan.
Sekumpulan cahaya merah berkumpul di tangan kanan itu. Sedikit demi sedikit kemudian mebesar bahkan hingga menciptakan bunyi yang nyaring, Laxus kemungkinan besar ingin mengeluarkan api dengan kekuatan yang sama saat menghancurkan dinding.
Razor mengertakan giginya, dia menatap tajam ke arah Ellina. Mungkin pria ini sedikit emosi karena melihat teman senasib yang berharga diperlakukan seperti sampah. Semakin emosi Razor mencegnkram kedua tangan dengan erat.
Leonardo yang berdiri di samping Razor mentap dengan wajah seolah tahu apa yang dirasakan oleh temannya, dia kemudian kembali menatap ke arah Ellina.
Sekumpulan cahaya makin berkumpul banyak sebentar lagi api Laxus akan meluncur. Ellina tampak bergetar, dia menutup matanya.
“Matilah Ellina!”
Cahaya mulai berkumpul, sihir api akan segera muncul, kepala sekolah Morgan berencana ingin menghentikan, namun tampaknya Morgan sudah tak perlu membantu karena Laxus dapat merasakan sesuatu yang dingin di sekujur tubuhnya. Dia merasakan kaki serta tangannya membeku, mencoba untuk mengecek dia melihat ke arah tangan serta kakinya. Kemudian dia terkejut ternyata tangan serta kakinya telah membeku.
Dia kebingunan, Ellina sudah tergeletak lemah, jadi siapa yang membuat sihir es ini?
“Cukup sampai di situ Laxus.”
__ADS_1
Leonardo berjalan santai menuju dia, sekujur tubuhnya mengeluarkan aura keputihan dan asap es, dia tampak sangat tenang dan di bawah kaki Leonardo, Laxus dapat melihat bahwa tanah telah membeku.
Laxus menyadari satu hal. Orang yang membekukan kaki dan tangannya sebelum dia sempat mengeluarkan sihir tak lain adalah Leonardo.
“Apa yang kamu lakukan, cecenguk lemah!?”
Laxus tampak tak terima ketika diganggu, dia sangat marah.
Tak menjawab, Leonardo menciptakan pedang es di tanganya dan menekan pedang itu tepat di leher Laxus, dengan tatapan dingin Leo berkata,
“Tak ada alasan spesial, gadis ini tampaknya adalah orang penting bagi temanku. Karena itu aku menyelamatkannya.”
Semua siswa yang menonton tampak terkejut, mereka saling berbisik. Tak percaya akan pemandangan Laxus yang dihentikan begitu saja, terutama Razor, dia sangat terkejut, sebelumnya Leo ada di sampinya tapi kali ini dia ada di tempat Laxus dan menghentikan pertarungan, dia juga berkata tentang dirnya.
“Terus? Apa hubungannya denganmu? Seharunya kamu tahu ketika pertandingan tak boleh ada yang mengganggu!” ucap Laxus menatap tajam Leonardo.
“Itu karena–”
‘’Hentikan pertarungan sekarang juga!!” Kepala sekolah Morgan berteriak, dia dengan cepat berada di dekat Leonardo dan Laxus.
“Cih! Baiklah,” keluh Laxus, dia tak mau berurusan dengan Morgan.
sedangkan Leo tampak kaget. ‘Serius? Pak tua ini sebenarnya siapa? Aku tak sadar keberadaannya jika dia tak berteriak’
Leo melehkan esnya, dia juga tak mau berurusan dengan Morgan, setidaknya untuk sekarang.
Melihat dua siswa yang menurut membuat Morgan menghela nafas lega.
“‘Pertarungan ini berakhir tanpa pemenang! Tapi besok adalah hari festival, kalian bisa menyelesaikan semua urusan di hari itu!”” Morgan mengungumkan itu untuk semua murid termasuk Leo dan Laxus.
Setelah itu pertandingan berakhir tanpa adanya pemenang, Leo dan Ellina kembali ke grubnya tanpa ada ucapan sama sekali. Ketika Ellina berada di dekat Razor, Razor menceramahinya.
“Ellina sudah kubilang apa! Jangan melawan dia, lihat tubuhmu penuh luka!” tegur Razor tampak marah, tapi juga khawatir.
Ellina tampak bersalah dan menundukan kepala. “Maaf.” ucapan Ellina sangat tulus, dia benar-benar merasa bersalah.
“Cih! Sudahlah, yang penting aku bersyukur kamu masih hidup.” Diakhiri dengan senyuman Razor membelai rambut putih Ellina.
Di samping itu, Leonardo masih menatap MOrgan yang ada di tempat duduk penonton dengan seksama.
__ADS_1
‘Kepala sekolah Morgan. Orang yang menciptakan sistem dekriminasi, yah. Apapun itu aku akan menghakimimu, tapi itu tergantung nanti kalau kamu bersalah maka aku akan membunuhmu.’
Berhenti menatap Morgan, Leonardo kembali berjalan ke arah teman-temannya.