Tiba-tiba Istriku Berubah

Tiba-tiba Istriku Berubah
Lampu Hijau Hanna


__ADS_3

"Papa dan mama pulang dulu ya, Sayang! Kalian berdua hidup yang rukun, kalau ada masalah segera di selesaikan dengan kepala dingin. Jangan biarkan amarah menguasai diri!"


Ayah Zia menepuk hangat putranya, begitu juga dengan mama Nia memeluk Hanna.


Tampak wanita cantik itu sedih dan murung karena mertuanya pulang. Padahal dia sangat bahagia bila mertuanya tinggal lebih lama di rumahnya.


Sebab mama Nia dan papa Zia adalah mertua idaman. Mereka memperlakukan Hanna seperti putri kandung mereka sendiri.


Terlebih lagi sikap kedua mertuanya itu sangatlah humoris membuat Hanna merasa terhibur.


"Baik, Pa."


Pria itu menarik sudut bibirnya berbentuk senyuman kecil. Orang tua Reza hanya bisa menghela nafas berat mendengar jawaban singkat dari anaknya.


"Apa tidak ada kata-kata lain, Za. Seperti 'jaga kesehatan ya, Pa. Mama juga istirahat yang cukup. Kalau sudah tiba di Surabaya langsung kabari Reza, ya, Pa!"


Bukan mama Nia yang melayangkan protes melainkan papa Zia. Pria paruh baya itu tak habis pikir bagaimana Reza tak ada perhatiannya sedikitpun.


Meski mereka tahu bahwa Reza sangat menyayangi mereka berdua. Akan tetapi, pria itu sangat hemat berbicara dan tidak peka.


Reza yang mendengarnya pun mengangguk kepalanya pelan.


"Jaga kesehatan ya, Pa. Mama juga istirahat yang cukup dan kalau tiba di Surabaya …"


"Stop! Percuma ngomong sama kamu. Gak ada bedanya seperti ngomong sama tembok! Ayo, Ma. Kita pulang!" dengus papa Zia kesal.


Sedangkan Reza hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pria itu tak pandai memberikan perhatian melalui perkataan.


Hanna hanya bisa elus dada melihat suaminya yang ternyata memang karakter nya tidak peka dan cuek.


Dia dulu mengira sikap Reza cuek dan tidak peka hanya padanya.

__ADS_1


"Kamu harus banyak stok sabar ya, Sayang. Untuk menghadapi suami tembok seperti anak mama. Untung aja ada kamu yang mau menikah dengannya, kalau anak gadis lain pasti seminggu menikah langsung nangis minta cerai karena di kacangin!"


Hanna tersenyum cerah, wanita itu merasa terhibur mendengar ucapan mama Nia.


Selama ini dia merasa beruntung karena Reza mau menikahinya. Namun, bagi mama Nia Reza yang lebih beruntung karena memiliki Hanna.


"He he … iya, Ma! Lain kali mama dan papa sering-sering ke sini. Hanna seneng kalau di rumah punya temen."


"Makanya rayu Allah lagi agar segera di beri anugerah anak untuk kamu, biar kamu gak kesepian lagi. Terus berusaha dan jangan menyerah ya, Sayang!"


Mama Nia mengusap puncak kepala Hanna. Wanita cantik itu merona malu, dia berjanji secepatnya akan berusaha untuk hamil 


Namun, dia harus mendapatkan cinta suaminya terlebih dahulu.


"Insya Allah, Ma. Doakan yang terbaik untuk Hanna dan mas Reza!" balas Hanna tersenyum cerah seraya merangkul lengan Reza.


Ting.


Sepertinya pilkada bakal ada hilal nya batin Reza tersenyum senang.


Setelah memberikan salam perpisahan, orang tua Reza segera pulang. 


Hanna menoleh ke arah Reza yang berdiri di dekatnya. Dia tersenyum geli melihat kening suaminya yang lebam.


"Apa lihat-lihat?" ketus Reza membuat Hanna menutup mulutnya menahan tawa.


"Lagi lihat tato di kening kamu, Mas. Keren warnanya biru!" ujar Hanna lalu berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Reza yang mencerna perkataan Hanna.


"Shitt … Hanna! Berani sekali kamu mengejek suami mu!" teriak Reza kesal berlari mengejar Hanna masuk ke dalam rumah.


Hanna tertawa lepas, keduanya bermain kejar-kejaran seperti anak kecil yang tak memiliki beban hidup.

__ADS_1


"Sini kamu, Hanna! Sudah dari subuh kamu usil sama aku!" sungut Reza pada Hanna yang berada di belakang sofa. 


Sedangkan Reza berdiri di depan sofa, pria itu ingin menangkap dan memberikan pelajaran pada istri nakal nya. Namun, tak bisa karena ada sofa yang menghalanginya.


"Gak mau! Kalau bisa kamu tangkap aku."


Hanna berlari ke arah kolam renang di ikuti oleh Reza.


Tak sengaja Reza menginjak ponsel jadul Hanna yang lupa di pungut tempo lalu, sehingga membuat kaki Reza tergelincir jatuh karena lantai di dekat kolam sangatlah licin.


Di tambah ponsel Hanna menjadi salah satu penyebab Reza terjatuh. Katakanlah itu balasan dendam dari ponsel jadul Hanna.


Brukk.


"Akk … lutut ku!" Reza meringis kesakitan membuat Hanna menoleh ke belakang.


"Innalillahi, Mas!" teriak Hanna.


*


*


*


Wkwkwkwk … rasakan pembalasan dari ponsel keramat Hanna 🤣🤣🤣


Novel ini Belum kontrak makanya author gak crazy up.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


__ADS_2