Tiba-tiba Istriku Berubah

Tiba-tiba Istriku Berubah
Cut Cahya Bulan


__ADS_3

Hendri dan Eka merasa kebingungan saat sampai pada lokasi yang di kirim oleh Reza, keduanya saling bertatapan seolah bertanya di mana Reza dan Hanna melalui tatapan itu.


“Di mana mereka, Mas? Kenapa gak ada? Coba kamu hubungi sekali lagi, takutnya Hanna kenapa-kenapa.”


Eka merasa khawatir pada Hanna, karena dia teringat bahwa baru saja kemarin mereka bersenda gurau bersama, wanita itu tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Hanna.


“Baik, Sayang.”


Hendri segera menghubungi Reza dan beberapa kali percobaan barulah Reza mengangkat ponselnya.


(Halo, Za! Kamu di mana?)


(Aku udah di rumah sakit ini, hen. Alhamdulillah istriku udah melahirkan, tadi setelah aku telepon kamu, hanna menyuruhku menelpon ambulans dan mobil ambulans lebih dulu tiba dari mobil kamu.)


(Mobil aku juga tadi sudah aku suruh Pak Li untuk mengambilnya)


(Oke, kalau gitu aku langsung ke sana. Di rumah sakit cinta kasih, ‘kan?)


(Hemm.)


Hendri bernafas lega karena Hanna baik-baik saja. 


“Gimana keadaan Hanna, Mas?” tanya Eka yang merasa sangat khawatir pada keadaan sahabatnya itu.


“Alhamdulillah Hanna dan anaknya baik-baik saja.” Hendri tersenyum kecil lalu mengelus perut rata istrinya.


“Anak papa juga baik-baik aja di dalam sana, kan?” Hendri bertanya seolah anaknya sudah bisa mendengar membuat Eka merasa terharu.


Wanita itu tersenyum kecil seraya mengelus tangan Hendri yang berada diperutnya.


“Baik-baik aja, Papa.” Eka membalasnya dengan menirukan suara anak-anak membuat Hendri tersenyum bahagia.


Pria berkacamata itu mengecup kening Eka lembut, mencurahkan kasih sayang melalui ciuman tersebut.


“Aku sayang sama kamu!” 


“Aku juga.”

__ADS_1


Hendri dan Eka saling melempar senyum, lalu Hendri menyalakan mobilnya menancap gas menuju rumah sakit tempat Hanna melahirkan.


*


*


Hendri dan Eka takjub memandangi bayi mungil yang sedang terlelap di samping Hanna.


“Masya Allah, cantik banget ciptaan Allah yang satu ini!” Eka menyentuh pipi gembul bayi mungil Hanna.


“Siapa namanya, Za?” tanya Hendri pada Reza yang tersenyum angkuh karena merasa hebat sebab sudah punya anak.


“Cut Cahya Bulan.” 


Hanna mau tak mau setuju dengan nama Bulan, karena ada makna lain di dalamnya, meski dia sedikit kesal karena Reza terinspirasi dari ambulance bukan dari bulan purnama.


Begitu juga dengan Cut julukan anaknya itu orang Aceh dan keturunan ulee balang atau ampon–orang kaya di Aceh.


Orang tua dan keluarga besarnya berada di Aceh, mereka pindah ke Surabaya karena perusahaan ayah Reza di Surabaya sedang berkembang.


“Nama yang indah, panggilannya siapa? Cut? Cahya atau Bulan?” tanya Hendri.


“Maksudnya?”


“Terserah kamu mau panggil apa! Yang jelas tetap memakai tiga namanya itu, Cut, Cahya atau Bulan.”


Hendri mengangguk paham.


Keduanya pun keluar dari ruangan meninggalkan Hanna dan Eka yang sedang mengobrol.


“Gimana pernikahan kamu dan eka? Udah baikan?”


“Alhamdulillah udah. Bahkan, sekarang Eka lagi hamil!” jelas hendri dengan raut wajah berbinar tak luntur dari wajahnya.


Reza bersyukur dan turut merasa bahagia mendengarnya.


“Kamu hebat, Hen. Sampai sekarang kamu masih mau bertahan dengan Eka. Kalau aku jadi kamu mungkin sudah dari dulu aku ceraikan Eka!” ujar Reza jujur membuat Hendri tersenyum kecut.

__ADS_1


“Mana bisa aku cerein Eka, Za? Sedangkan hanya dia satu-satunya wanita yang mau menerima ku apa adanya yang kala jaman dulu hanya punya uang 5 ribu rupiah buat jajan kuliah!”


Hendri tersenyum, matanya memandang lurus ke depan mengingat jaman dulu saat dia kuliah.


Tidak ada wanita yang mau dekat dengannya, terlebih lagi penampilan Hendri jaman dulu sangatlah culun.


Hanya Eka yang setia mendampinginya dari nol sampai sekarang.


“Konon katanya ujian seorang istri tiba saat suaminya tak memiliki uang, dan ujian suami tiba saat si suami memiliki uang banyak.”


“Dan Eka berhasil melewati ujian itu, dia tetap setia meski aku miskin dulu. Padahal dia wanita kaya, berpendidikan dan cantik, tapi dari sekian banyak laki-laki yang menawarkan diri menjadi pasangannya, dia malah memilihku.”


“Kalau kamu jadi aku apa kamu akan tetap menceraikannya, Za?”


Hendri bertanya pada Reza membuat pria itu bungkam, karena apa yang dikatakan oleh hendri ada benarnya.


“Tidak,” balas Reza pelan.


“Aku tidak ingin merusak hubungan yang udah aku bangun bertahun-tahun hanya karena punya mertua seperti orang tua Eka!”


“Apalagi kata Bapakku … pria tidak boleh meninggalkan wanita yang mau menemaninya saat susah! Karena wanita yang seperti itu mahal dan sulit ditemukan.”


Hendri tersenyum cerah menatap foto Eka yang ia simpan di dalam dompetnya.


*


*


*


Teruntuk para suami, jangan terlena melihat wanita lain yang lebih cerah dari istri sendiri karena sudah memiliki banyak uang. Percayalah .. memiliki istri yang tulus dan setia lebih berharga dunia akhirat daripada wanita lain yang cantik karena skincare.


Apa yang dimiliki wanita cantik di luar rumah sama dengan apa yang di miliki istrimu di rumah, ibarat kata hanya bungkusannya saja yang berbeda.


Bersambung.


Jangan lupa like, komentar dan beri rating 5 yah kakak.

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh. 


__ADS_2