
Hanna menggigit bibir bawahnya melihat seorang wanita cantik berpakaian seksi tersenyum manis menyapa suaminya.
"Mas Reza apa kabar?" Wanita cantik itu langsung memeluk Reza membuat Hanna terkejut.
Reza langsung mendorong Wanita itu kasar, hingga membuat wanita cantik itu hampir terjatuh.
"Mas Reza! Kenapa aku di dorong?" tanya Wanita itu dengan nada kesal membuat Reza tersadar saat menatap lekat wanita itu yang ternyata wanita yang pernah dekat dengannya.
"Wajar suami saya mendorong kamu karena kamu bukan mahram suami saya!" Hanna berkata tegas menatap tajam wanita itu seraya memeluk pinggang Reza posesif.
Reza yang mendapatkan pelukan dari Hanna secara tiba-tiba pun tersenyum dalam hati.
"Kamu sudah menikah, Mas?" tanya wanita itu terkejut.
"Iya, ini istri aku. Namanya Hanna!" ujar Reza datar seraya menatap Hanna yang sedang memeluknya dengan wajah tanpa ekspresi.
Hanna tersenyum cerah karena lagi dan lagi Reza mengakuinya sebagai istri pada orang-orang.
Namun, senyuman itu memudar di kala wanita seksi itu menghina dirinya.
"Serius kamu, Mas. Pasti kamu menikah karena di jodohkan? Karena tidak mungkin pilihanmu wanita kampungan seperti ini. Kriteria kamu 'kan tinggi, seksi, cantik, wanita karir mirip seperti aku!"
Wanita itu berkata pedas menilai penampilan Hanna dari atas sampai bawah.
Lalu dia kembali melihat Reza yang memakai kemeja panjang lengan berwarna putih di padu dengan kain sarung.
Benar-benar penampilan Reza saat ini sangat berbeda dengan Reza yang ia kenal dulu.
Karena Reza tak pernah memakai sarung dan tak tahu cara memakai sarung.
__ADS_1
Wanita itu adalah Amira wanita yang pernah dekat dengan Reza di masa magang kerja dulu.
Hati Hanna terasa sakit dan kesal mendengar hinaan wanita itu.
"Kenapa kamu menyebut ku kampungan? Apa tertulis di kening ku kalau aku ini kampungan?" tanya Hanna dengan nada sarkas menatap tajam Amira.
Para pengunjung melirik ke arah keduanya. Sayang sekali bila di lewatkan untuk melihat perdebatan panas istri sah dengan wanita yang mirip bibit pelakor.
"Tentu saja kamu kampungan? Lihatlah gayamu sangat berbanding jauh dengan kata modern. Bahkan, mas Reza yang selalu tampil keren malah kampungan saat bersanding dengan kamu!"
Amira berkata tak kalah sarkas menatap rendah Hanna.
Hanna tak merasa gentar dengan celaan Amira. Sudah terbiasa baginya di akhir zaman ini dia di cela dan di sindir sok alim kare memakai pakaian syar'i dan sering sholat.
Reza yang mendengar Amira menghina Hanna sedari tadi pun merasa panas hatinya.
Dia yakin bila Hanna memakai pakaian kurang bahan lalu berjalan-jalan di Mall, pasti akan sangat banyak orang-orang yang terpana melihat kecantikan istrinya.
"Amira kamu …"
"Coba Anda sebutkan bagaimana cara berpakaian modern, Nona? Apakah modern yang di maksud berpakaian mini seperti Anda?"
Suara bariton lainnya lebih dulu mendahului Reza membuat pandangan orang-orang beralih menatap seorang pria tampan memakai baju Koko di padu dengan sarung.
Hanna yang melihat pria tampan itu tersenyum senang.
"Vero," gumam Hanna pelan namun masih terdengar jelas di telinga Reza.
"Of course! Pakaian modern adalah seperti apa yang aku pakai!" jawab Amira penuh percaya diri.
__ADS_1
"Dangkal pemikiran Anda, sempit pengetahuan Anda, dan minim pengalaman Anda."
"Mungkin bila di negara barat apa yang Anda pakai akan di nilai modern. Tapi, saat ini Anda sedang berada di Indonesia yang mayoritas nya muslim sebanyak 86,9 persen."
"Pakaian wanita muslimah bukan pakaian kurang bahan seperti yang Anda pakai. Pakaian muslimah adalah pakaian syar'i seperti yang wanita ini pakai. Islam tidak mengekang wanita untuk tampil modern, karena sejatinya bila orang-orang belajar sejarah Islam maka mereka akan tahu bahwasanya memakai pakaian tertutup adalah lambang berkembang nya zaman."
"Modern yang di maksud dalam Islam untuk seorang wanita yaitu menutup auratnya. Memelihara rasa malu nya, semakin tertutup ia dengan dunia luar maka akan semakin modern dia dan semakin mahal nilai nya di mata Allah dan pria."
Vero menjelaskan panjang lebar membuat wajah Amira merah padam menahan amarah dan malu.
Sedangkan pengunjung lain merasa kagum dengan penjelasan Vero.
"Satu lagi, setiap orang yang memiliki agama berhak memakai identitas agamanya, seperti yang saya pakai ini (hijab) adalah identitas saya sebagai muslimah. Sama seperti Kristen yang memakai kalung salib dan Yahudi memakai kippa," tambah Hanna membuat pengunjung yang berbeda agama dengannya tersenyum cerah karena Hanna menghargai mereka.
*
*
*
Wkwkwkwk … babang Vero bikin klepek-klepek ya, Bun 🤭🤭 kayaknya nanti bakal ada yang panas deh 🤣🤣
Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin ya kakak semua … selamat merayakan hari raya idul Fitri bagi yang merayakan 🙏🥰
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰
__ADS_1