
Hendri membawa Eka pulang, sebelumnya dia telah menghubungi Reza dan meminta izin karena ada keadaan darurat.
Reza yang mendengar suara Eka dari telepon pun mengerti maksud Hendri. Pasti sedang terjadi pertengkaran lagi tebak Reza.
Saat tiba di rumah Eka langsung meluapkan amarah dan rasa cemburunya pada Hendri.
"Sudah berani main api kamu sekarang, Mas!" amuk Eka murka memukul dada bidang Hendri.
"Aku tidak main api! Justru kamu yang sudah main api di belakang aku! Seenak jidat kamu membiarkan laki-laki lain mencium tangan dan pipi kamu! Padahal kamu tahu kalau kamu sudah bersuami?!"
Hendri tak kalah murka, pria tampan itu tak dapat menahan diri lagi untuk marah pada istrinya.
Selama ini dia selalu menahan diri dan memilih kata apa yang cocok ia pakai bila sedang bertengkar, agar tak sakit hati karena telah ucapannya.
Namun, hari ini melihat Eka yang di cium oleh pria asing membuat hati pria itu bergemuruh.
Dia bersyukur bisa melihat secara langsung apa yang di lakukan Eka di luar rumah.
"Jangan terlalu baper, Mas. Yang cium aku tadi itu kolega bisnis ku yang berasal dari Amerika. Kamu tahu sendiri 'kan seperti apa budaya mereka!" elak Eka tak terima di salahkan.
"Jangan cari pembenaran dengan mengatasnamakan budaya! Yang jelas-jelas di sini kamu salah karena kamu tidak menolak sentuhan pria asing itu!"
"Seharusnya kamu bisa mengatakan bahwa kamu sudah bersuami dan suami mu tidak akan suka bila kamu di sentuh, Eka!" bentak Hendri menggelegar membuat Eka terkejut.
Untuk pertama kalinya dia di bentak oleh Hendri. Biasanya mau se-marah apapun Hendri tak akan membentak nya.
"Lalu bagaimana dengan kamu, Mas? Kamu juga di cium oleh Amira dan kamu makan siang dengan dia."
Eka membalikkan tuduhan Hendri membuat pria tampan itu menarik-narik rambut nya frustasi.
Hendri membuka kacamata nya lalu membanting nya ke sembarang arah. Pria itu benar-benar marah saat ini.
__ADS_1
"Aku di cium Amira itu dalam keadaan tidak sadar. Saat itu aku sibuk melihat kamu dan tidak tahu kalau Amira menggunakan kesempatan itu untuk mencium ku!"
"Berbeda dengan kamu yang memang secara sadar melakukan nya!" jelas Hendri mengatakan yang sejujurnya.
"Tapi, tadi itu hanya rekan bisnis aku, Mas."
"Bullshit rekan bisnis. Sudah aku bilang jangan cari pembenaran, Eka?!" teriak Hendri membanting semua barang yang dapat ia jangkau.
Prang.
Eka menutup telinga nya ketakutan. Tubuh wanita itu bergetar, air mata membasahi pipinya.
Seumur hidup baru kali ini dia melihat Hendri yang marah. Tidak pernah sekalipun dalam berumah tangga Hendri menyakiti nya mau secara lisan atau tindakan.
Namun, saat ini entah setan apa yang merasuki suaminya sehingga Hendri murka seperti itu.
"Mas, hentikan! Aku takut!" ujar Eka dengan nada lirih membuat Hendri tersadar.
Dia melihat Eka yang memeluk dirinya sendiri ketakutan.
Dia lelah … Hendri merasa lelah. Selama dua tahun mereka menikah dan Hendri selalu mengalah.
Katakanlah dia laki-laki yang tidak tegas. Akan tetapi, rasa cintanya pada Eka begitu besar sehingga membuat dirinya terkadang tak bisa tegas.
Karena takut menyakiti hati sang istri. Dia rela di injak-injak harga dirinya oleh keluarga besar Eka agar bisa bersanding dengan Eka.
Orang miskin!
Pria bodoh!
Orang desa!
__ADS_1
Anak supir dan anak pembantu!
Itulah kata panggilan yang sudah tak asing lagi di telinga Hendri selama menikah dengan Eka.
Namun, dia bertahan karena Eka juga mencintai nya dan menyuruh Hendri abai.
Sudah pilihan Hendri hidup bersama dengan Eka. Otomatis dia harus kebal telinga dan muka karena tahu hal buruk apa yang akan menimpa nya.
Tetapi, saat ini Hendri benar-benar lelah. Selain orang tua Eka yang memegang kendali Eka harus ini dan itu dengan dalih berbakti kedua orang tua.
Belum lagi orang tua Eka yang kerap kali ikut campur dalam rumah tangga mereka membuat hati Hendri kian sesak.
"Aku lelah, Ka. Rumah tangga kita ini tidak sehat!" Hendri dengan suara lirih.
*
*
*
Pesan untuk kita semua perempuan. Mau setinggi apapun jabatan dan derajat keluarga kita. Tetap di dalam rumah tangga jabatan suami itu paling tinggi. Tidak peduli suami kita kerja nya apa dan berasal dari mana.
Yang jelas kita sebagai istri harus patuh pada suami dalam konteks ketaatan dan kebaikan.
Tanggung jawab suami itu berat. Bahkan, saat suami mengucapkan ijab Kabul dan kata "saya terima nikahnya" Arasy akan bergetar saking beratnya tanggung jawab yang mereka pikul.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
__ADS_1
Mampir juga ke novel temen author 🥰