
Assalamu'alaikum ...
Author mau promosi karya sahabat author yang memang rekomendasi banget, pokok nya gak nyesel deh. Sambil nungguin author up, kakak semua bisa mampir ❤️❤️❤️❤️
Menikah dengan lelaki yang masih mencintai istrinya yang telah tiada, Vania terus berusaha agar bisa mendapatkan cinta dari suaminya. Meski secara gamblang Daffa telah berkata jika tak pernah bisa mencinta dirinya, Vania tidak ingin menyerah.
Akankah Vania bisa mendapatkan cinta dari suaminya? Atau dalam waktu tiga bulan, ia akan benar-benar diceraikan oleh Daffa, yang hanya menikahinya karena kondisi kesehatan dari ibunya?
Silakan mampir bila berkenan, ada di aplikasi ini tinggal klik nama pena saya atau cari "Shanum" atau "Cintai Aku Suamiku". Terima kasih banyak.
_________
__ADS_1
"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, jangan terlalu berharap lebih sama pernikahan ini, karena aku bakal bebasin kamu setelah tiga bulan." Daffa berucap dengan nada dingin, mematung lawan bicaranya seketika.
Daffa pergi meninggalkan perempuan baru beberapa jam lalu dinikahi, memasuki kamar mandi untuk membebaskan tubuh dari beskap yang masih menempel pada tubuh atletisnya.
Perempuan cantik berbalut kebaya putih dalam kamar itu hanya terdiam, tubuhnya mematung dan bibir terlalu keluh untuk bisa menyanggah kata. Sakit, hatinya terasa sangat sakit, tatkala kata-kata itu terlontar di saat malam pertamanya.
Malam pertama, di mana biasa terdengar kalimat-kalimat manis juga perlakuan romantis, justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia terima. Walau sebenarnya Vania juga telah mengetahui perihal mantan istri Daffa, tapi rupanya jauh lebih menyakitkan ketika ia harus mendengarnya dari yang bersangkutan langsung.
Berbalik badan, mengayunkan langkah ke arah pintu, Daffar tak mengucap sepatah kata lagi pada perempuan yang coba memberanikan diri mencegah. "Mas mau ke mana?" tegur Vania, meraih pergelangan tangan suaminya.
Daffa terhenti, menoleh dan melepaskan tangan pada pergelangan. "Kamu tidur aja di sini, aku tidur di kamar lain." Katanya.
"Mas, aku tau kalau mas belum bisa nerima aku sebagai istri, tapi gak akan baik dilihat orang kalau mas tidur di kamar lain. Apa kata mama sama papa nanti mas kalau sampai mereka tau?" lembut Vania, menghela napas panjang lelaki di depannya.
__ADS_1
"Maaf kalau aku lancang, Mas." Vania tertunduk.
Daffa melewati tubuhnya, berjalan ke arah ranjang dan meraih bantal. Beralih pada sofa panjang dalam kamar, ia meletakkan bantal di sana lalu naik dan berbaring.
Vania menoleh pada suaminya, ia berjalan menghampiri. "Biar aku aja yang tidur di sofa, Mas." Ucapnya, sekali lagi Daffa menghela napas panjang dan kali ini juga kasar.
"Mau kamu apa sih?! Aku tidur di kamar lain gak boleh, aku tidur di sini juga gak boleh! Aku ngantuk, badan aku capek dan aku mau tidur!" bentaknya kesal, mengejutkan Vania.
"Kita emang nikah, tapi bukan berarti kamu bisa bersikap seperti istri dan ngatur-ngatur aku! Kamu ngerti gak apa yang aku omongin tadi?! Jangan pernah berharap apa pun sama pernikahan ini, dan jangan pernah berlaku sok jadi istri buat aku, karena aku gak pernah mau nerima kamu sampai kapanpun!" susul Daffa masih dengan nada kesal sama.
"Maaf, Mas. Aku gak ber—," terpotong nada pilu Vania.
"Udah diem!" kasarnya menghentikan ucapan sang istri.
__ADS_1