
Ibu Eka yang mendengar ucapan Hendri pada Eka pun terkejut, wanita itu tak percaya bahwa Eka telah hamil.
“Kamu ha-hamil?” tanya Ibu Eka terkejut menutup mulutnya tak percaya, semua orang langsung menatap ke arah Eka dan Hendri.
Keduanya pun merasa gugup karena mereka takut bila keluarga Eka akan menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan Eka.
“Iya, dan jangan coba-coba mama dan papa menyuruh aku menggugurkan anakku karena itu tidak akan pernah terjadi!” Eka langsung menatap tajam orang tuanya, bukan karena tak sopan pada keduanya.
Namun, Eka hanya merasa sangat takut, Sebab tak menutup kemungkinan keluarganya kan melakukan hal keji itu.
Di masa lalu saja mereka menyuruh Eka untuk mengkonsumsi pil KB karena tak ingin memiliki cucu dari benih Hendri.
“Kenapa kamu bisa berpikir kalau kami akan menyuruhmu menggugurkan kandungan mu, Eka? Padahal kamu tahu sendiri kalau anak mu juga kan menjadi cucu mama dan papa?”
Ayah Eka berkata dengan nada dingin merasa tersinggunfg mendengarnya. Mungkin benar bahwa mereka tak ingin memiliki cucu dari Hendri.
akan tetapi, mereka tidak mungkin menjadi pembunuh.
“Tentu saja aku merasa sangat khawatir karena dulu papa dan mama selalu menyuruihku minum pil KB karena gak mau punya keturunan dari Mas Hndri.”
Eka berucap sarkas, hormon kehamilannya membuat Eka tak dapat mengontrol emosinya, wanita itu ingin melepaskan emosinya yang sudah dari tulu ia pendam.
“Maafkan Eka, Pa, Ma! Dia lagi hamil jadi wajar kalau dia sedikit berbeda malam ini.”
Hendri merasa tak enak hati atas sikap Eka yang kurang sopan pada orang tuanya sendiri.
__ADS_1
Hendri memeluk pinggang istrinya berusaha menenangkan Eka yang sedang marah karena tak ingin Eka stress berat.
“Lalu bagaimana solusinya, Eka? Perusahaan papa sedang bangkrut sekarang!” Pria paruh baya itu mengacak-acak rambutnya frustasi karena merasa kesal ketika mengingat Rangga.
“Gimana aku mau kasih solusi kalau papa saja tidak menyuruh kami duduk!” balas Eka kesal karena terlalu lelah berdiri bersama dengan Hendri.
“Duduklah!” titah ayah Eka membuat keduanya segera duduk di sofa yang tak jauh dari ayah Eka.
“Jadi bagaimana?” tanya Ayah Eka kembali.
“Aku gak tahu harus kasih solusi atau bantuan seperti apa, Pa! Karena aku lagi hamil dan aku gak sanggup mikirin hal-hal berat tentang perusahaan kita yang bangkrut! Itu bisa berdampak buruk bagi kandungan ku, karena Dokter mengatakan aku gak boleh stress.”
Eka berkata jujur karena bila untuk memikirkan tentang perusahaan wanita itu akan merasa tak sanggup, sebab akhir-akhir ini Eka tak mampu memikirkan hal yang berat.
Wanita itu lebih suka ketenangan untuk smentara karena tak ingin membuat kandungannya terancam keguguran karena terlalu memaksakan diri.
Bahkan, kolega bisnis mereka juga lepas tangan pada kejadian yang mereka hadapi sekarang.
“Apa 206 miliar cukup untuk membuat harga saham perusahaan papa naik lagi?” tanya Hendri serius.
Degg.
Mereka semua terkejut mendengar pertanyaan Hendri. Tadinya mereka sudah pasrah, namun, saat mendengar secercah harapan yang diberikan oleh Hendri membuat wajah mereka yang tadinya murung berubah menjadi berbinar.
“Cukup, sangat cukup!” jawab ayah Eka cepat menatap Hendri dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
“Mas, jangan!” Eka menggenggam tangan Hendri tak mengizinkan suaminya itu membantu keluarganya karena semua kejahatan keluarganya masih membekas di dalam hatinya.
“Tidak apa-apa, mungkin dengan cara ini hubungan aku dengan keluargamu membaik, Sayang!” bisik Hendri pelan.
“Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?” tanya Eka penasaran.
*
*
*
Yeyyy … tinggal 2 episode lagi novel Hanna bakal tamat. Terima kasih banyak buat yang udah dukung novel ini dari awal sampai sekarang.
Author bukan apa-apa tanpa Allah, doa orang tua dan dukungan pembaca.
Love you all.
Bersambung.
Jangan lupa like komentar vote dan rate 5 yah kakak.
Salem aneuk nanggroe Aceh.
mampir juga ke novel temen author❤️❤️❤️❤️🌹🌹
__ADS_1