
Hendri termangu mendengar penuturan Eka. Pria tampan itu terdiam, dia merasa dibodohi selama ini. Karena dia mengira mereka tak memiliki anak karena belum dikaruniai. Tetapi, kenyataannya Eka lah yang menolak dikaruniai karena paksaan orang tuanya.
Demi apapun hati Hendri terasa hancur mendengar nya. Pria tampan itu tak tahu harus berbuat apa saat ini. Dia hanya bisa diam dengan tubuh membeku.
Bahkan, Hendri melepaskan tangannya dari Eka membiarkan istrinya itu memeluk erat dirinya.
"Aku mohon maafin aku, Mas! Aku janji akan jadi istri yang baik dan patuh sama kamu mulai sekarang. Gak ada lagi kebohongan yang akan aku simpan karena saat ini aku sudah jujur sama kamu!"
Eka menangis tersedu-sedu mengeratkan pelukannya saat Hendri tak lagi membalas pelukannya.
Hendri memejamkan matanya, setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Pria tampan itu tak menyangka bahwa akan sesakit ini.
Ya Rabb.
Apa sesulit inikah menjalankan ibadah menikah? Kenapa cobaannya datang bertubi-tubi? Apakah karena dia berasal dari keluarga miskin?
Sehina itukah orang miskin di mata manusia? Sampai-sampai mertua nya sendiri memaksa istrinya agar meminum pil KB karena tak mau memiliki cucu dari b*nih nya.
"Lebih baik sekarang kamu bersihkan tubuh kamu dulu biar lebih segar. Aku akan mandi di kamar mandi tamu!"
Hendri berkata dengan nada pelan, suaranya serak berusaha menahan tangis. Pria berkacamata itu melepaskan lembut pelukan istrinya.
Tanpa menatap wajah Eka yang berderai air mata Hendri keluar dari kamarnya.
Apa dia marah? Maka jawabannya tidak.
Karena bukan rasa marah yang ada dalam hatinya. Melainkan rasa KECEWA.
__ADS_1
Puncak tertinggi emosi adalah kecewa, rasa marah bisa mereda dengan sendirinya, sedangkan rasa kecewa akan terus membekas di dalam hati.
Tangis Eka pecah, kakinya luruh ke lantai saat Hendri keluar dari kamar.
"Maafin aku … aku salah! Aku salah. Ya Allah … ampuni hamba, tuntun hamba agar bisa menjadi istri yang baik seperti ajaran Islam!"
Eka menangis memeluk lututnya menyembunyikan wajahnya di sela lututnya.
Sedangkan di dalam kamar tamu Hendri juga menangis tersedu-sedu. Dia duduk di lantai bersandar di balik pintu. Pria itu menangis menutupi wajahnya.
"Kenapa kamu jahat sama aku, Sayang? Kenapa kamu mau melakukan apa saja yang diperintahkan orang tua kamu? Padahal kamu tahu kalau aku sangat ingin punya anak!"
"Siang malam aku berdoa agar segera dikaruniai anak, tapi tak kunjung dikabulkan karena apa yang kamu lakukan bertentangan dengan doa ku!"
Hendri menumpahkan tangisannya seorang diri. Dia tak bisa membenci Eka karena rasa cintanya pada wanita itu sangatlah besar.
"Ya Allah, kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa aku merasa sangat hina sebagai manusia karena mertua ku sendiri menolak punya cucu dari b*nih ku?"
"Ya Allah … kuatkan hamba agar lapang dada dalam menghadapi cobaan yang bertubi-tubi ini!"
Hendri memukul dadanya yang terasa sesak. Dia teringat wajah orang tua Eka dan keluarga istrinya yang sering merendahkan nya.
Tatapan penuh hina saat memandang Hendri masih terekam jelas.
"Duhai Allah! Dzat yang memiliki segala kekuatan dan kekuasaan. Hamba mohon timpakan satu kesulitan bagi mertua dan keluarga istri hamba. Lalu jadikan hamba sebagai penyelamat mereka atas izin dan kuasa Mu. Agar hubungan hamba dan mereka berubah menjadi baik ya Allah!"
Hendri si pemuda yang memiliki agama kental bermohon kepada-Nya. Dia menengadah mengangkat tangan nya tinggi-tinggi.
__ADS_1
Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Untuk pertama kali dia menangis tersedu-sedu setelah dewasa.
"Hamba mohon ya Allah! Kabulkan doa hamba. Lelah … itulah yang hamba rasakan ya Allah! Hamba takut karena rasa lelah ini membuat hamba menyerah dalam pernikahan ini!"
Hendri meraup wajahnya dengan kasar. Pria itu berdoa di tengah-tengah hujan deras.
Hendri berdoa saat hatinya hancur. Dia tahu pola dalam berdoa, saat hati seorang manusia tersakiti dan bila dia berdoa saat itu, semesta akan menjadi saksi, Arash akan bergetar dan malaikat akan mengaminkan doa orang tersakiti itu.
Lalu Allah akan menjawabnya dengan cepat. Tak peduli yang berdoa itu tua muda, muslim atau non muslim.
Dalilnya.
“Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (H.R. Bukhori dan Muslim).
*
*
*
Maaf kemarin gak up karena lagi sibuk banget. Insya Allah awal bulan bakal Crazy up lagi begitu juga dengan novel yang baru. Pasti nanti crazy up.
Bersambung
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
__ADS_1