
"Usia kandungan Anda sudah berjalan lima Minggu, Bu. Kandungan nya baik-baik saja, hanya kekurangan asupan vitamin dari buah! Selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
Eka dan Hendri tersenyum lebar, keduanya tak menyangka bahwa usia kehamilan Eka ternyata sudah berusia lima Minggu.
Hendri mengecup kening Eka lembut penuh cinta. Tadi saat Eka bercerita pada Hanna tentang kehamilan nya, wanita yang baru saja melahirkan itu menyuruh Eka untuk segera memeriksa kandungan.
"Apa ada pantangan makanan atau apa gitu, Dok?" tanya Hendri dengan senyuman manis terpasang di wajahnya.
"Ada, jangan minum minuman bersoda, durian dan nanas. Karena janinnya masih sangat muda dan rentan keguguran kalau salah makan. Ibu hamil juga gak boleh kecapekan dan gak boleh terlalu mageran, sering jalan-jalan pagi setelah subuh. Karena udara subuh itu sangat bagus untuk kesehatan!"
Dokter itu menjelaskan membuat Hendri dan Eka paham. Keduanya tak berhenti tersenyum sedari tadi.
"Apa kalau hamil bisa melakukan hubungan badan, Dok?"
Bukan Hendri yang bertanya melainkan Eka, karena wanita itu merasa akhir-akhir ini dia sering menginginkan sentuhan Hendri.
Hendri yang mendengarnya pun tersenyum malu. Sedangkan dokter wanita itu juga tak dapat menahan senyumnya.
"Boleh, tapi kalau bisa seminggu dua kali saja dan buang nya di luar! Nanti setelah usia kandungan menginjak 7 bulan, baru buang di dalam! Posisi yang bagus bagi ibu hamil adalah di bawah atau menyamping ke kanan. Jangan melakukan nya dalam posisi duduk karena itu tidak baik bagi ibu hamil."
"Bisa-bisa menyebabkan kontraksi ringan pada rahim, Ibu! Memang kalau ibu hamil itu l*bido nya tinggi dan hasrat untuk bercinta semakin besar. Tapi, alangkah baik nya itu seminggu dua kali."
"Kalau memang ingin lebih! Itu bisa memintanya pada suami Ibu untuk memberikan kepuasan dengan cara lain!"
Dokter itu menjelaskan semuanya dengan terperinci tanpa ada ditutup-tutupi. Hendri mengangguk kepalanya bahwa dia akan memberikan kepuasan batin pada Eka dengan cara yang lain.
Meski nantinya dia juga berhasrat, akan tetapi, kenyamanan Eka dan anaknya itu menjadi yang utama.
__ADS_1
"Baik, Dok."
"Satu lagi! Ini yang perlu para suami ketahui. Bahwa, setiap ibu hamil itu pasti akan lebih sensitif karena itu bawaan dari bayinya. Terkadang ibu hamil bisa marah-marah tanpa sebab, menangis karena hal-hal yang menurut suami tak perlu ditangisi."
"Itu adalah hal yang wajar. Jadi, jangan sampai diambil hati dan merasa kesal! Usahakan jangan melakukan apapun yang membuat mood ibu hamil buruk!"
Dokter itu hanya tak ingin bila nanti Hendri merasa kesal karena mood Eka yang berubah-ubah. Karena banyak dari kalangan suami yang tidak mengerti akan hal itu.
"Baik, terima kasih, Dok!"
Setelah berkonsultasi, Hendri dan Eka segera pulang karena malam sudah sangat larut.
Mereka meminta izin pada Hanna dan Reza terlebih dahulu. Setelahnya mereka segera pulang.
Saat perjalanan pulang, ponsel Eka berdering membuat wanita cantik itu segera mengangkat panggilan dari ayahnya.
"Eka, pulanglah ke rumah! Ada hal penting yang papa ingin bicarakan."
"Jika itu tentang hubungan rumah tangga aku dan Mas Hendri, itu aku tidak akan pulang, Pa."
"Bukan, ini tentang perusahaan Papa yang bangkrut!"
"Apa? Perusahaan Papa bangkrut? Bagaimana bisa?"
"Cepatlah ke sini!"
Tut … Tut
__ADS_1
Ayah Eka memutuskan panggilan tersebut membuat Eka merasa khawatir. Wanita itu tak menyangka bahwa perusahaan besar milik ayahnya bisa bangkrut juga.
Hendri yang mendengarnya pun langsung memutar stir mobil nya menuju ke rumah mertuanya.
"Mas, kamu tidak apa-apa 'kan kalau nanti bertemu papa dan mama?" tanya Eka merasa tak enak hati pada Hendri.
Bagaimanapun hubungan suaminya dengan orang tuanya sampai saat ini masih perang dingin.
"Tidak apa-apa, Sayang! Baik buruk mereka tetap mertuaku!" ujar Hendri tersenyum tulus membuat hati Eka menghangat.
*
*
*
Hehehe … kira-kira apa yang terjadi yakk? 😂😁🔥🔥🏃🏃
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author 🥰
__ADS_1