Tiba-tiba Istriku Berubah

Tiba-tiba Istriku Berubah
Kenapa Kamu Menindas Istrimu?


__ADS_3

"Aku mohon jaga pandanganmu, ya! Aku juga akan menjaga aurat ku. Karena aku ingin kamu menjadi imam ku di dunia dan di akhirat. Begitu juga dengan kamu, aku ingin hanya aku satu-satunya makmum mu di dunia dan di akhirat!" pinta Hanna penuh makna.


Reza terdiam mendengar ucapan Hanna. Pria tampan itu merasa bingung karena tak paham maksud Hanna.


"Han, kamu bisa menjelaskan nya to the poin, nggak? Soalnya aku gak paham kalau pakai istilah atau kata-kata yang tersirat makna!" ujar Reza serius membuat Hanna menghela nafas berat.


Wanita cantik itu benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa memiliki suami yang tingkat kepekaan nya minim seperti Reza.


"Aku mau kamu jaga mata, jaga hati dan jaga terong kamu untuk aku! Hanya untuk aku! Kamu paham, Mas? Atau masih kurang jelas?"


Hanna lalu menangkup pipi Reza lalu menatap dalam bola mata indah suaminya.


"Mata ini hanya bisa lihat aku dan mahram kamu. Hati kamu ini hanya boleh ada nama aku. Dan terong kamu hanya boleh masuk ke dalam tanah subur ku!"


 


Reza terkejut, wajah pria tampan itu merah merona di kala tangan Hanna menoel sesuatu di balik resleting celananya.


"Han, jangan di sini! Kalau kamu mau nanti waktu kita tiba di Cappadocia baru aku kasih," bisik Reza pelan membuat Hanna tersadar akan apa yang ia lakukan.


Wanita cantik itu merasa malu teramat sangat. Kekesalannya membuat Hanna berani menyentuh tubuh Reza.


Wanita cantik itu langsung menjauh menatap ke arah jendela menyembunyikan pipi nya yang merona malu.


Sumpah demi apapun Hanna dan Reza sama-sama malu. Tentunya Hanna yang lebih malu karena dia pelaku dan Reza korban.


Reza menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan-lahan agar si entong yang sempat bangun kembali tidur.


"Apa yang kamu lakukan, Han? Kamu sangat menyiksaku," gumam Reza pelan.


"Ya Allah, ini tangan kok nakal banget, sih! Untung aja gak ada yang lihat. Kalau ada pasti aku di kira genit sama suami sendiri!" gumam Hanna malu.


Seorang pria asing berkulit eksotis melihat ke arah Hanna yang memakai pakaian syar'i. Dia duduk di deretan kursi penumpang sebelah kiri sedangkan Hanna sebelah kanan.


"Hey, Bung. Apa harus kamu menindas istrimu dengan menyuruh nya membungkus tubuh nya dengan pakaian besar dan kepalanya di bungkus kain?" tanya pria asing itu menggunakan bahasa Inggris.

__ADS_1


Sontak Reza dan Hanna menoleh ke arah pria asing itu. Hanna melihat leher pria asing itu di penuhi oleh tato kalajengking.


"Tentu harus, karena istriku berharga!" jawab Reza singkat membuat pria itu tak merasa puas dengan jawaban Reza.


"Tapi, kamu menindas nya. Apa kamu tidak kasihan melihat nya kepanasan dan penampilan istrimu itu sangat mirip dengan *******!" tukas pria asing itu membuat Reza mengepalkan tangannya erat.


Reza ingin bangkit untuk menghajar pria asing itu karena tak terima Hanna disamakan dengan *******.


Namun, istrinya sudah lebih dulu menggenggam tangan Reza membuat pria itu menoleh ke arah Hanna.


"Aku ingin menghajar nya, Han. Dia sudah menghina mu!" ujar Reza penuh penekanan membuat Hanna tersenyum lembut.


Dia menggelengkan kepalanya pelan. Melihat senyuman Hanna membuat amarah Reza mereda karena memandangi wajah istrinya benar-benar sangat indah dan menentramkan hatinya.


"Dia tidak tahu makanya bertanya. Tugas kita sebagai muslim menjelaskan dan menjawab pertanyaan mereka. Ingat, Mas. Saat ini kita sedang berada di dalam pesawat menuju ke Cappadocia. Tidak semuanya orang Indonesia."


"Banyak non Islam di luar Indonesia mengira agama Islam itu ******* karena banyak media di negara mereka yang menyebarkan berita buruk tentang Islam. Kalau kamu menghajar pria itu sekarang, maka sama saja kamu membenarkan apa yang telah di beritakan oleh media."


Reza membenarkan ucapan Hanna. Namun, sebagai seorang suami, Reza tidak rela istrinya di hina.


"Gak apa-apa. Biarkan aku yang menjelaskan padanya!" potong Hanna lembut mengelus pundak suaminya.


Hanna tersenyum kecil lalu menundukkan sedikit kepalanya ke arah pria asing itu seolah ingin memberikan hormat atau salam.


Pria itu tertegun melihat wajah Hanna secara jelas sangatlah cantik.


"Nona, kamu sangat cantik. Kamu berhak menunjukkan kecantikan mu pada dunia. Lawan perintah suami mu yang menyuruh mu memakai pakaian besar itu," ajak pria asing itu membuat Hanna tersenyum kecil.


"Tuan, tidak sedikitpun suami saya memaksa kehendak saya untuk memakai hijab. Tidak pula agama saya memaksa saya untuk memakai pakaian tertutup. Dalil nya Al-Qur'an surah Al Baqarah ayat 256 " Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)."


"Islam memberikan pilihan bagi kami umatnya antara surga dan neraka. Bila ingin surga patuhi hukum Islam, bila tidak ingin patuh juga takkan di paksa, karena ada neraka yang menjadi pilihan kedua bagi orang-orang ingkar terhadap hukum Islam."


"Dan saya termasuk orang yang ingin masuk surga, makanya saya memakai hijab."


"Andai agamaku tidak mengajarkan rasa malu, andai bukan Nabi ku yang mengatakan bahwa kami adalah fitnah yang paling besar. Aku pasti akan mengumbar aurat ku dan berhias secantik mungkin, aku juga ingin di puji di lihat dan disanjung oleh segenap makhluk di bumi ini. Tapi, apalah arti pujian bila kelak aku hanya akan menjadi bahan bakar di neraka!"

__ADS_1


Hanna menjelaskan secara bijak dengan nada tegas bercampur dengan kelembutan.


"Buat apa kamu memakai hijab? Kenapa Tuhan kalian menyuruh kalian memakai hijab? Apa gunanya?" tanya pria asing itu tak mengerti.


"Alasannya cuma satu, yaitu untuk melindungi kami dari hasrat kaum laki-laki. Meski, saat ini banyak juga wanita berhijab di lecehkan karena ada beberapa laki-laki yang memang otaknya sudah kotor di penuhi dengan tipu daya setan."


"Whatever!" 


Pria asing itu memutar bola matanya malas mendengar penjelasan Hanna. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponsel dan dompet nya, lalu mengetikkan sesuatu.


Sepertinya pria itu sedang mengirimi pesan untuk seseorang.


"Tuan, kenapa kamu menyimpan uang mu  di dalam dompet?" tanya Hanna membuat pria asing itu melihat ke arah Hanna.


"Karena uang itu berharga!" jawab pria itu seraya mengernyitkan dahinya.


"Sama seperti jawaban suami ku tadi, aku membungkus diriku dengan kain karena aku tahu seberapa berharganya diriku!" ujar Hanna tersenyum simpul membuat pria itu terhenyak.


*


*


*


Terkadang berdebat dengan seseorang tentang agama tidak perlu memakai dalil atau hadis. Cukup dengan logika saja sudah bisa.


Kalau dalam kitab di sebut sebagai ilmu Mantiq berguna mematahkan sebuah statement dengan logika dan kata-kata.


Biasanya ilmu ini di pakai saat bertemu dengan orang liberal.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2