
Seorang pria duduk di kursi kayu, menatap lurus memandang pohon-pohon hijau yang berada di depan rumahnya.
"Maafin aku, Sayang! Aku harus pergi agar kamu tahu gimana rasanya di tinggalkan."
Hendri bergumam pelan, dia merindukan Eka. Terlebih lagi dia pergi di saat Eka sakit.
"Nak, apa kamu benar-benar tidak punya masalah apapun dengan Eka?" tanya ibu Hendri yang sedari tadi melihat anaknya yang melamun.
Insting seorang ibu tak pernah salah. Hatinya akan gundah bila sang anak sedang mengalami masalah.
Ibu Hendri menghampiri pria itu lalu duduk di samping anaknya.
"Tidak, Bu." Hendri berbohong karena tak ingin membuat ibunya merasa khawatir.
"Sejak kapan putra ibu pandai berbohong?" tanyanya menatap lembut bola mata Hendri.
Hendri yang mendengarnya pun langsung menundukkan kepalanya tak berani melihat wajah wanita yang telah melahirkan nya.
"Maaf, Bu."
"Tidak apa-apa! Sekarang coba cerita sama ibu, siapa tahu ibu bisa bantu!" ujar ibu Hendri lemah lembut seraya mengusap pundaknya.
"Aku lelah, Bu. Rasanya aku gak ada harganya di mata Eka! Apalagi di mata keluarganya aku sama sekali tidak terlihat! Kadang aku ingin menyerah dalam rumah tangga kami, Bu."
"Eka seperti boneka keluarga nya yang di suruh ini dan itu sampai-sampai Eka gak sadar kalau ada aku yang menjadi suaminya. Dia lupa kalau perintah ku yang harus dia patuhi!" keluh Hendri apa adanya' pada sang ibu.
Hati ibu Hendri terasa sesak mendengar cerita anaknya. Dia tak menyangka Hendri akan menanggung beban seberat itu setelah menikah dengan Eka.
"Kalau aja dulu aku dengar kata ibu, pasti aku gak bakal merasakan apa yang aku rasakan sekarang! Meski saat itu aku akan patah hati, tapi setidaknya patah hati lebih baik daripada di hina dan tak di anggap!"
Flashback.
Hendri mengemudikan mobil butut nya menuju rumah Eka. Dia membawa kedua orang tuanya untuk melamar Eka untuk nya.
__ADS_1
Saat tiba di rumah Eka, tubuh orang tua Hendri langsung menegang melihat rumah Eka yang besar bak istana negeri dongeng.
"Ayo kita turun, Bu, Pak!" ajak Hendri mendapat gelengan kepala dari ibunya.
"Nak, lebih baik kita pulang! Ingat, Nak. Genteng di rumah kita bocor, tidak layak bersanding dengan calon istrimu yang punya rumah seperti istana!" ujar ibu Hendri menatap sendu putranya.
"Tapi, Bu. Aku cinta sama Eka, begitupun dengan Eka! Kami berdua saling mencintai dan ingin hidup bersama dalam ikatan suci pernikahan!" balas Hendri tak ingin pulang.
"Nak, harga dirimu nantinya akan di injak-injak. Kamu akan di pandang sebelah mata karena menikah dengan wanita yang punya kasta tinggi!"
"Hari ini kamu di muliakan. Kelak kamu akan di hinakan! Manusia itu bisa berubah-ubah, Nak. Hari ini baik besok menjadi jahat."
"Kemarin cinta, sekarang bisa benci! Bapak dan Ibu hanya gak mau lihat kamu sengsara, Nak. Karena sudah banyak kita lihat orang-orang seperti kita bila menikah dengan orang kaya, pasti akan di caci maki dan di banding-bandingkan!"
Bapak berkata bijak membuat Hendri terdiam. Namun, pria itu tetap tak mau menuruti kemauan orang tuanya. Dia benar-benar sangat mencintai Eka.
Flashback off.
"Huss … gak boleh ngomong begitu! Gak baik seorang pemimpin berandai-andai. Kamu ini laki-laki dan setiap laki-laki adalah pemimpin. Baik memimpin negara atau keluarga!"
Pria paruh baya itu menepuk pundak Hendri.
"Kamu yang udah pilih Eka sebagai istri kamu! Jadi, sudah seharusnya kamu menerima kekurangan istri kamu dalam bersikap."
"Karena saat kamu mengucapkan kata 'saya terima' maka bukan hanya kelebihannya saja yang kamu terima. Tapi, kekurangannya juga!"
"Menikah itu ibadah dan ibadah pasti sulit karena ada setan yang bermain di dalam nya untuk membuat rumah tangga setiap manusia rusak."
"Ibadah itu banyak jenisnya, bukan hanya ibadah malam Jum'at aja! Kamu belum punya anak dan harus sabar, itu ibadah. Kamu gak boleh berkata kasar saat istri kamu membangkang itu ibadah!"
"Kamu diam di saat istri sedang mengomel, itu ibadah."
"Dan ibadah itulah yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dan di cintai oleh Allah. Punya istri yang tidak baik bukan di tinggalkan."
__ADS_1
"Tapi, di ingatkan apa saja kewajiban nya. Di bimbing menjadi istri yang baik, karena kamu dan Eka adalah dua orang yang berbeda."
"Rambut memang hitam tapi isi pikiran macam-macam. Sepasang adik kakak aja bisa berangan karena warisan padahal mereka satu ibu satu bapak."
"Apalagi sepasang suami istri!"
Ayah Hendri memberikan nasehat bijak pada putranya. Agar Hendri tak salah mengambil jalan.
Apa yang kita pilih dan lakukan pasti memiliki resiko nya. Itulah yang di maksud ayah Hendri.
Saat sedang mengobrol, suara deru mesin mobil terdengar oleh mereka.
"Siapa yang datang?"
*
*
*
Punya pasangan yang tidak baik mau istri atau suami maka seharusnya di bimbing agar menjadi baik. Bukan malah di tinggalkan dan cari lain.
Terkecuali memang hubungan nya tidak dapat di pertahankan.
Maaf telat up karena mata author perih kalau ngetik. Apalagi cuaca di sini panas banget. 🥺🥺🌹🌹
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author 🥰
__ADS_1