
“Kamu dapat uang nya dari mana, Mas?” tanya Eka pelan karena merasa sangat terkejut mendengar nominal uang yang suaminya sebutkan.
“Nanti aku jelasin, Sayang.” Hendri menggenggam tangan Eka dengan lembut membuat wanita itu yang tadinya ingin melontarkan pertanyaan lagi, langsung diurungkan.
Ada rasa bersalah dan sesak dalam hati Eka karena selama ini dia tak tahu menahu tentang pekerjaan dan gaji yang di dapat oleh Hendri. Namun, segera dia tepis karena tidak ingin membuat dirinya tertekan, sebab saat ini Eka sedang mengandung.
Terlebih lagi dia sudah berubah jadi tidak ada hal yang harus disedihkan lagi.
“kamu bener mau kasih uang sebanyak itu?” tanya Ayah Eka dengan nada yang serius. Wajah nya tampak berbinar bahagia meski sudah tua, ayah Eka masih sangat tampan.
“Iya, Pa. Semoga dengan uang itu bisa membantu perusahaan papa bangkit lagi!” ujar Hendri tulus membuat hati semua yang berada di situ mencelos.
Ibu Eka sedari tadi menahan tangisnya, dia merasa sangat malu karena menantu yang tak di anggapnya ternyata menjadi orang pertama yang menawarkan bantuan di saat mereka sedang susah.
“Kenapa kamu masih mau bantu kami, Hen? Bukankah seharusnya kamu senang karena orang yang jahat padamu kini mendapat karma?” tanya ibu Eka mewakili pertanyaan yang lain.
Hendri yang mendengarnya tersenyum tulus, benar bahwa dia pernah merasa sakit hati dan berdoa yang buruk untuk mertuanya, namun setelah berdoa dia merasa menyesal.
Terlebih lagi dia tak pernah menaruh dendam pada orang yang berbuat jahat padanya.
“Karena kalian adalah orang tua dan keluarga dari wanita yang aku cintai. Tidak peduli seberapa jahat kalian padaku … aku tetap akan memaafkannya, karena bapak dan ibuku selalu mendidik ku menjadi orang yang ikhlas.”
__ADS_1
Hendri menjawabnya dengan sopan, padahal ada sisi buruk dari Hendri ingin mengumpat marah, namun dia tetap menahannya.
Karena dia tahu, menahan lisan agar tak salah berucap dan menyakiti hati orang lain itu lebih mulia, daripada menyuarakan isi hatinya saat ini.
Biarlah Hendri dan Sang Pencipta yang tahu bagaimana Hendri menahan diri agar tak mengumpat dan berkata kasar.
“Maafkan, Papa,” gumam Ayah Eka pelan tak berani menatap wajah Hendri lagi setelah sadar mendengar pertanyaan istrinya pada Hendri.
“Aku setuju kalau, Mas Hendri, memberikan bantuan untuk perusahaan, Papa. Dengan syarat Mas Hendri yang pegang kendali perusahaan!” tegas Eka membuat semua orang merasa terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Hendri.
“Sayang, aku …” Hendri ingin protes karena dia sudah nyaman bekerja dengan Reza
Meski bos nya itu sengkek dan nyebelin, tapi Reza adalah Bos yang bertanggung jawab dan adil.
Skakmat.
Wanita itu mengelus perut ratanya, Hendri yang mendengarnya pun langsung mengangguk patuh, karena tidak ingin membuat anaknya ileran bila lahir nantinya.
“Baiklah,” balas Hendri tersenyum lemah.
“Papa, setuju!” ujar Ayah Eka tak terbantahkan.
__ADS_1
“Baiklah, Pa. Aku akan mentransfer uangnya ke rekening, Papa! Kami harus pulang karena ini sudah tengah malam. Eka harus beristirahat karena sedang hamil!” pamit Hendri mengajak Eka pulang.
“Kalian bermalam di sini aja, karena ini sudah jam 12 malam, kasihan calon anak kalian nantinya!” ujar Paman Eka untuk pertama kalinya berbicara dengan nada baik pada Hendri.
Biasanya paman Eka akan berbicara dengan nada ketus.
Eka dan Hendri saling pandang karena selama menikah mereka baru sekali menginap di rumah orang tua Eka.
“Tidurlah di sini,” mohon Ibu Eka membuat mereka berdua pun mau tak mau harus setuju.
“Baiklah.”
*
*
*
Hehe … memang kalau punya uang kita akan mendapatkan perlakuan baik dari mertua dan ipar!! Emak-emak pasti setuju wkwkwk?
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like komentar vote dan beri rating 5 yah kakak.
Salem Aneuk Nanggro Aceh.