
Eka dan Hendri menghabiskan malam mereka di kamar yang terpisah. Keduanya sama-sama sedang muhasabah diri. Tidak ada yang keluar dari kamarnya masing-masing, bahkan untuk malam pun tidak.
Hendri merasa kecewa pada Eka dan Eka merasa bersalah karena telah membohongi Hendri.
"Andai aku lebih bijak pasti semuanya tidak akan begini," gumam Eka serak memeluk pakaian Hendri, mencium aroma pakaian suaminya untuk mengurangi rasa rindu.
"Andai aku menikahi Eka saat kaya pasti semuanya tidak akan seperti ini," gumam Hendri di dalam kamar tamu seraya menatap langit-langit kamar.
Keduanya saling menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Lagi dan lagi keduanya meneteskan air mata karena merasa bersalah.
Hendri sengaja tak kembali ke kamar nya karena saat ini dia sedang marah dan takut kalau berbicara melukai perasaan Eka.
Sedangkan Eka sengaja tak mendatangi Hendri karena ingin memberikan waktu untuk suaminya berpikir. Dia belum berani menunjukkan wajahnya di hadapan Hendri karena merasa sesak saat melihat tatapan kecewa Hendri.
Keduanya tidur dalam keadaan hati yang campur aduk. Tanpa ada pelukan dan ciuman sebelum tidur.
Hanya berteman sepi dan keheningan malam. Berselimut dinginnya udara dan rindunya pelukan.
Ingin rasanya jiwa kedua insan itu menyatu di tengah-tengah malam membuat suasana dingin menjadi hangat. Tetapi, tak bisa karena ada jarak yang membentang.
Emosi pasangan yang belum stabil mampu menciptakan api besar bila salah satunya menyalakan api.
"Biarlah malam ini kita tidur satu atap dalam keadaan raga yang berpisah, Mas. Tetapi, jiwa kita tetap bersatu!" lirih Eka memejamkan matanya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya ingin sendiri malam ini, aku takut akan menyakitimu dengan kata-kata kasar ku. Karena saat ini akal ku sedang dibutakan rasa kecewa!" gumam Hendri menutup matanya perlahan menuju alam mimpi.
*
*
__ADS_1
Eka membuka meraba-raba tempat tidur di sampingnya dan ternyata kosong. Wanita itu membuka matanya lebar saat teringat bahwa Hendri tak berada di sampingnya.
Pikiran buruk langsung memukul mundur rasa kantuknya. Dia takut kejadian tempo lalu terulang kembali saat dia bangun tidur dan tidak ada Hendri di rumah.
"Aku mohon jangan pergi!"
Eka berlari keluar dari kamarnya melihat kamar tamu dan ternyata tidak ada Hendri di dalamnya.
"Hiks … aku mohon. Please! Don't leave me alone!"
Eka berlari menuruni tangga dia mencium aroma sedap dari dapur. Dia berlari ke sana karena mengira ada pelayan yang bisa ia tanyakan di mana keberadaan Hendri.
Degg.
Eka terkejut saat melihat seorang pria tampan sedang memasak. Tubuhnya yang kekar di balut celemek rumahan. Pria itu tersenyum manis ke arahnya.
"Morning, Sayang!" sapa Hendri dengan senyuman manisnya.
"Mas …"
Eka menangis memeluk erat tubuh Hendri. Dia terisak membuat Hendri khawatir.
"Sayang! Are you okey?" tanya Hendri lembut ingin melonggarkan pelukan.
Namun, Eka semakin mengeratkan pelukannya.
"Biarkan seperti ini sebentar saja!" punya Eka dengan suara parau.
Hendri mengecilkan api kompor agar masakannya ayam goreng nya tak gosong.
__ADS_1
Lalu ia balas pelukan Eka dengan erat. Pria tampan itu mencium puncak kepala istrinya.
"Jangan tinggalin aku lagi! Kamu itu kedamaian ku, Mas. Hanya kamu yang bisa buat aku merasa damai. Kalau kamu pergi aku bisa gila!" ujar Eka di sela-sela tangisnya.
Selama ini hanya Hendri lah tempat mengadu. Hendri adalah suami sekaligus sahabat terbaik.
Setiap Eka punya masalah pasti Hendri akan memberikan solusi bukan provokasi. Sehingga hati dan pikiran Eka merasa sangat tenang.
Pria tampan itu melonggarkan pelukannya. Lalu ia hapus jejak air mata yang membasahi pipi Eka.
"Bodoh aku kalau meninggalkan istri secantik ini di rumah sendirian! Bisa-bisa nanti kamu dibawa kabur berondong karena wajah kamu yang masih muda!" goda Hendri membuat tangis Eka pecah.
"Maksud kamu aku udah tua, Mas!" tuduh Eka membuat Hendri menepuk jidatnya.
Niat hati ingin menggombal agar tangis Eka reda malah membuat Eka semakin kencang menangis.
"Mana ada begitu, Sayang! Kamu masih muda, kok. Muda banget malah! Udah diam. Jangan nangis lagi karena aku gak bakal ninggalin kamu sampai kapanpun! Karena aku udah cinta mati sama kamu!" tegas Hendri membuat Eka langsung menghentikan tangisnya.
"Kalau aku nyakitin kamu lagi gimana? Apa kamu masih mau beri aku kesempatan lagi?" tanya Eka dengan suara parau.
*
*
*
Semoga aja suami kita bisa seperti Hendri ya, Bun 🤭 meski dalam keadaan marah lebih milih introspeksi diri daripada cari jajan di luar sana.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️