
Plak.
Hanna memukul lengan Reza dengan keras, wanita cantik itu merasa sangat kesal karena suaminya itu benar-benar sudah bikin tensi sedari tadi dia ada di dalam mobil ambulance.
"Kamu ini ada-ada aja, Mas! Nggak ikhlas kamu menamai anak kita!" Hanna menggertakkan giginya karena merasa gemas dengan Reza.
"Haduh, ternyata Mama muda ngeri kalau marah!" gumam Reza pelan mengusap lengannya.
Bayi mungil itu menangis membuat Hanna khawatir dan Reza panik. Pria itu kembali memanggil dokter agar segera masuk ke dalam ruangan mereka.
"Bayi nya haus, minta mimik sama ibunya," ujar sang dokter tersenyum ramah karena merasa terhibur melihat pasutri muda seperti Hanna dan Reza.
"Gimana caranya, Dok? Saya belum punya ASI?” Hanna bertanya pada Dokter tersebut dengan wajah yang lesu karena merasa tak berguna untuk anaknya yang sedang kehausan.
Dokter itu tersenyum kecil, lalu menghubungi asisten nya untuk membuatkan susu khusus untuk bayi yang baru lahir. Kemudian barulah Dokter itu menatap Hanna lembut.
“Boleh digendong dulu anaknya, Pak? Saya ingin memijat laktasi agar ibu Hanna bisa segera menyusui bayinya.”
Reza yang tak mengerti apa itu pijat laktasi pun segera menggendong bayi nya, pria tampan itu berusaha menenangkan putri kecilnya yang sedang menangis.
“Apa yang Anda lakukan? Kenapa baju istri saya di buka?” Reza memelototi dokter tersebut karena terkejut ketika melihat sang Dokter membuka baju Hanna.
“Saya akan memijat dada ibu Hanna agar bisa segera mengeluarkan ASI. Ini namanya pijat laktasi, Pak! Setiap wanita yang baru melahirkan anak pertama pasti akan melakukan pijat laktasi. Tenang saja ini tidak berbahaya dan aman.”
Dokter itu menjelaskan dengan terperinci membuat Reza rela tak rela harus membiarkan mainan favorit nya dijamah tangan dokter.
Suara ketukan pintu ruangan mereka membuat Reza was-was dan langsung mengintip siapa yang datang, karena pria itu tidak ridho bila dada istrinya dilihat orang.
“Ini, Pak. Susu buat putri Anda.” Asisten dokter yang datang itu pun memberikan botol susu pada Reza.
__ADS_1
“Hemm.” Reza berdehem pelan tanpa mengucap sepatah katapun dia segera menutup pintu ruangan kembali dan menguncinya dari dalam.
“Suttt … anak papa haus ya, Sayang.” Reza tersenyum lebar saat melihat putrinya meminum susu nya.
“Sssst.” Reza segera menoleh ke arah Hanna yang sedang menggigit bibir bawahnya, wajah istrinya itu memerah membuat pria itu merasa khawatir.
“Apa sakit, Sayang?” tanya Reza mendekati Hanna yang sedang melakukan pijat laktasi.
“Geli, Mas.” Hanna tertawa cengengesan membuat pria itu gemas, dia segera membuang wajahnya ke arah lain karena tak ingin melihat dada istrinya, sebab itu tidak baik untuk adik kecil nya yang bisa bangun kapan saja.
Setengah jam kemudian keluar cairan berwarna putih tulang kekuningan yaitu ASI pertama Hanna. Dokter itu bernafas lega karena tak memakan banyak waktu untuk Hanna mengeluarkan ASI pertamanya.
Itu tandanya Hanna sering melakukan sadari dan membersihkan p*ting nya. Terkadang dokter atau bidan harus berkilah saat pasien bertanya mengapa sangat susah mengeluarkan ASI. Karena tak ingin membuat pasiennya malu.
“Alhamdulillah, sekarang ganti susunya dengan ASI, Pak. Ini sangat bagus untuk kekebalan tubuh bayi!” Ujar Dokter.
Reza segera memberikan bayinya pada Hanna, bayi mungil itu seperti memiliki insting tersendiri karena tahu di mana p*ting ibunya.
“Gak apa-apa kalau di awal-awal geli, Bu. Nanti juga gak bakal geli lagi karena sudah biasa. Nanti kalau memang ada kemacetan ASI, bisa suruh suami Anda untuk melakukan apa yang bayi Anda lakukan sekarang.”
Dokter itu menjelaskan secara halus membuat Hanna paham dengan wajah yang malu-malu. Sedangkan Reza yang mendengarnya berbinar bahagia.
“Terima kasih ya, Dok.” Hanna tersenyum manis.
“Sama-sama, sering-sering melakukan sadari juga ya, Bu. Biar Asi nya lancar dan bila ada tumor kecil itu akan hancur dengan sendirinya kalau kita rutin melakukan sadari saat mandi. Dengan melakukan sadari juga kita bisa tahu kalau ada benjolan di dada kita.”
Hanna mendengarkan dengan baik, karena selama ini dia tahu sadari dari kakak sepupunya yang bidan.
“Baik, Dok. Terima kasih banyak penjelasannya.”
__ADS_1
Dokter itu pun keluar dari ruangan Hanna meninggalkan Reza yang takjub melihat putrinya menyusu pada Hanna.
“Sayang …”
“Iya, Mas.”
“Kenapa saat dulu aku pijat dada kamu tidak keluar air nya, ya? Padahal aku bukan hanya pijat tapi juga hi***.”
Hanna mencubit pinggang suaminya yang sangat mes*m.
“Auch.”
“Daripada kamu mikirin itu lebih baik kamu cari nama anak kita yang baru!” sungut Hanna galak.
*
*
*
Sadari itu penting buat kita perempuan ya, Bun. Gak mesti udah menikah atau masih gadis karena author pernah belajar tentang itu dan sharing bareng temen author yang kuliah bidan dan perawat.
Caranya bagaimana? Itu bisa bertanya pada Bu Bidan atau cari di google. Sering-sering bersihkan juga uj*ng dada kita agar tidak sumbat ASI nya nanti.
Karena ada temen author yang cerita banyak ibu-ibu muda pijat laktasi tapi ASI nya susah keluar, salah satu penyebabnya adalah itu tadi. Maaf, bukan maksud menyinggung atau menggurui tapi hanya ingin berbagi ilmu aja.
Love you all.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like komentar dan beri rating lima.
Salem Aneuk Nanggroe Aceh.