
“Ah, kamu sih. Bercanda kena macet, malah kena betulan deh,” Andre menggerutu ketika mobilnya masuk dalam kemacetan di jalan tol; walaupun sebenarnya tidak terlalu macet karena mereka masih bisa jalan sedikit-sedikit sih.
Yunita tidak menjawab, dia lebih memilih untuk memejamkan matanya dan mencoba menenangkan diri untuk mengatasi rasa gugupnya.. Perutnya terasa agak mules, persis ketika dia harus menghadiri acara keluarga besar Ayahnya setiap bulan; acara di mana dia harus menghadapi begitu banyak pertanyaan mengenai masa depannya.
Sedikit curhat, setiap melihat kakaknya yang selalu menjadi bad mood setiap pulang dari acara tersebut, dia menjadi malas setiap kali harus menghadiri acara seperti itu setiap bulan, kalau sesekali sih mungkin tidak apa.
Entah cuma di Indonesia saja atau tidak, ada satu hal yang cukup dia benci dari Ayahnya yaitu; kebiasaan membanding-bandingkan dia dan Kakaknya dengan anak-anak lain.
Dan, salah satu titik terberat bagi dirinya adalah ketika Ayahnya sangat marah karena dia memilih untuk mengikuti lomba robotik; yang mana Ayahnya sangat ingin dirinya menjadi seorang akuntan, sama seperti kakaknya. Beruntung, Ibu tirinya selalu melerai saat Ayahnya memarahi dia ataupun kakaknya.
‘Apakah orang tua Andre juga seperti itu?’ pertanyaan itu terngiang di kepalanya.
Sebab, jika orang tua Andre juga seperti itu, maka sama saja dengan dia akan menambah beban stresnya saat ini dan jujur, dirinya belum siap untuk hal tersebut.
“Hei, mikirin apaan kamu?” Andre bertanya, dia menyenggol lengan Yunita yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, sembari menatap pemandangan kemacetan kota jakarta di luar lewat kaca mobil.
“Hah?" Yunita akhirnya tersadar dari lamunannya, "Ngak, cuma bosan aja,” dia mengelak sambil sedikit tersenyum dan menatap Andre yang mengerutkan keningnya. “Boleh tanya sesuatu ngak?” katanya lagi.
“Apa?”
Yunita terdiam sebentar, dia menggulung bibirnya, dan mempertimbangkan konsekuensi atas pertanyaannya. Dan, setelah berpikir matang-matang, dia memutuskan untuk bertanya saja, dari pada nanti dia membuat kesalahan, “Orang tuamu, orang tua yang kaya bagaimana?”
“Maksudnya?,”
__ADS_1
Dia menjadi sedikit gugup ketika melihat Andre yang kembali mengerutkan keningnya dan menatapnya dengan heran, “Ma.. Maksudku, orang tuamu itu galak atau ngak?” dengan cepat dia berusaha menjelaskan pertanyaannya sebelum menjadi kesalahpahaman sebelum bisa-bisa dia diturunkan di tengah tol yang sedang macet.
Andre mendengus, dia tersenyum tipis sebelum akhirnya menjawab “Ah, itu. Ngak kok. Malahan mereka sangat membebaskan aku, mau berbuat apapun juga boleh selama itu tidak membuat malu keluargaku,”
Yunita menghela nafas saat mendengar jawaban Andre dan melihat reaksi yang tidak marah sama sekali, membuat dirinya sedikit bisa merasa lega,
“Malahan, Ayah sama Ibuku sangat excited mau ketemu kamu loh,” tambah Andre lagi.
“Terus orang tua kamu, suka orang yang kaya bagaimana?” Yunita memberanikan diri untuk bertanya sekali lagi. Kali ini, tujuannya adalah agar dia bisa meraih hati orang tua Andre dan memberikan first impression yang baik.
“Hm,” Andre sempat terdiam dan seperti sedang berpikir, “sopan dan jujur mungkin, dan yang terpenting. Just Be Yourself,” jawab Andre. Dia lalu memegang tangan Yunita dan mengelusnya, bermaksud untuk mengurangi kegugupan yang di rasakan Yunita saat ini.
Melihat sikap Andre yang seperti ini, Yunita dibuat semakin jatuh cinta. Walaupun sikapnya yang sedikit childlish, namun Andre mampu terlihat dewasa saat berbicara dengan suara rendahnya yang agak ngebass; yang terdengar sangat menawan baginya.
***
Sekitar sejam perjalanan, Andre dan Yunita akhirnya memasuki pekarangan hotel bintang 5 yang terkenal dengan kemewahan, dan tentunya harga sewa gedung yang super fantastis.
Ditambah lagi dengan banyaknya artis dan crazy rich yang kerap kali menyewa gedung tersebut, membuat pamor hotel tersebut makin naik dan tentunya berimbas ke harga sewa yang akan semakin mahal.
“Lah kok banyak wartawan?” Yunita bertanya kepada Andre saat matanya melihat sekumpulan orang yang ramai berkumpul di kejauhan, juga terlihat kilatan lampu flash setiap beberapa detik.
Saat mereka di butik tadi, dia sebenarnya sudah menduga kalau ini bukan malam biasa. Namun, ini di luar apa yang dia bayangkan; dalam bayangannya mereka hanya akan menghadiri pesta pernikahan orang kaya yang biasanya serba tertutup dan hanya kerabat dekat saja yang hadir.
__ADS_1
“Ah, itu karena calon suaminya merupakan seorang artis yang lumayan beken, jadi pasti ada aja wartawan,” jelas Andre dengan tenang yang saat ini sedang membaca sebuah majalah dengan serius, seperti sedang mencari sesuatu yang penting di salah satu artikel dalam majalah tersebut.
“Ta.. Ta.. Tapi kan...” Yunita tidak tau ingin berkata apa, rasa gugup kembali menghampiri dirinya.
Setiap mobil mereka bergerak, rasa gugupnya semakin bertambah. Kakinya menjadi tidak bisa diam, dia juga mulai meremas tangannya tanpa sadar, pikirannya tidak bisa fokus.
Melihat Yunita yang tampak gugup dan keringat dingin, Andre menggenggam tangan Yunita. “Just hold my hand like this annd trust me, everything will be okay,” ucap Andre dengan tersenyum tipis.
Begitu mobil bergerak kembali, dan melihat tinggal tersisa 2 mobil lagi sebelum mereka turun,Yunita merasa jantungnya berdegup sangat kencang, perasaan yang sama seperti saat dia mengikuti lomba robotik 2 tahun lalu di singapura.
Hanya saja, saat itu, dia bisa lebih enjoy karena ditemani oleh teman-temannya. Sedangkan situasi sekarang sangat berbeda, dia harus berdiri di depan puluhan kamera tersebut di tengah semua orang yang sangat asing baginya dan hanya bisa bergantung kepada Andre.
“Ready?” tanya Andre, tepat ketika mobil di depan mereka berjalan dan tiba giliran mereka yang harus turun dari mobil.
Yunita hanya mengangguk; karena memang sudah tidak ada jalan mundur lagi, mau tidak mau dia harus menghadapi situasi ini sebaik mungkin.
“Oke, aku keluar lebih dulu baru nanti pintumu aku yang buka, oke?” tambah Andre lagi; karena kebetulan dia duduk di sebelah kanan dan Andre di sebelah kiri.
"Tidak usah gugup nak, percaya saja sama Andre," Pak Budi memberi nasehat tepat sebelum Andre membuka pintu di samping tempat duduk Yunita.
Begitu dia dan Andre menginjak karpet merah. Suasana mobil yang senyap berkat fitur kedap suara mobil mahal, sekarang berubah menjadi sangat ramai; suara klik dari kamera yang diiringi dengan lampu flash datang dari berbagai arah menyoroti keduanya.
“Ikuti aku aja terus, don’t let go of my hand,” ucap Andre yang sekarang sedang mengaitkan lengan mereka berdua, dan setelah itu Andre menuntunnya berjalan maju melewati semua wartawan tersebut tanpa menoleh sedikit pun, baik dirinya maupun Andre.
__ADS_1