Unexpected Love Journey

Unexpected Love Journey
ARC II : EPILOG


__ADS_3

“Kalian berdua benar-benar agak gila ya?” celetuk Stefani setelah Yunita menutup teleponnya.


“Karena membohongi banyak orang? Itu namanya white lies oneng,” Yunita menjawab dengan santai. Dia membuka handphonenya, mengambil foto lewat jendela mobilnya, dan membagikannya di IGnya dengan hanya menambahkan tanda titik 2 kali di deskripsinya.


“White lies dari mananya coba?”


“White lies demi ketenangan batin gua sama Andre, ya kan?” Yunita kembali menjawab, sambil memundurkan sandaran kursinya semiring mungkin, menaikkan sandaran kakinya, dan kemudian merebahkan dirinya di kursi sambil memejamkan matanya.


“”Whatever. Tapi lu betul-betul ngak mau kasitahu Dimas sama Brandon?” tanya Stefani kembali.


“Kak Alika sama Andre bilang begitu, ya ikuti saja. Kalo Brandon sih pasti bakal tahu sendiri nantinya. Yang masalahnya, cowok lu kan agak ember, jadi lebih baik ngak usah kasitahu dia dululah,” jelas Yunita, “Udah ya, gua mau tidur dulu. Masih ada adegan buat nanti sore. Bangunin gua 1 jam lagi,” imbuh Yunita sebelum dirinya terlelap beberapa menit kemudian.


Ketika Yunita sedang tertidur lelap, Stefani yang sedang sibuk mengecek beberapa jadwal Yunita untuk seminggu ke depan di interupsi oleh Dimas yang terus meneleponnya. Setelah sekitar ada 10 kali Dimas meneleponnya tanpa henti, Stefani kemudian keluar dari mobil untuk mengangkat panggilan dari Dimas.


“Kamu dimana sekarang?”


“Di Surabaya, kenapa?” Stefani sebenarnya agak enggan memberitahu lokasinya sekarang. Terlebih lagi, dia dan Dimas sebenarnya baru habis bertengkar setelah Dimas tertangkap berduaan dengan perempuan lain. Walaupun Dimas sudah menjelaskan kalau itu cuma karena pergi ke pesta relasi orang tuanya. Tetap saja, dia masih agak sedikit kesal karena Dimas tidak memberitahunya sebelumnya.


“Yunita seriusan ngak datang mengantar Andre sebelum ke US? Mereka betulan jadi musuh atau ngak sih?”


“Ya itu urusan mereka berdua lah, kenapa malah kamu yang skefo?”


Cukup wajar sih kalo Dimas sampai tidak mengetahui apa-apa selama setahun terakhir, pikir Stefani. Andre dan Yunita, bisa dibilang berakting cukup hebat demi menyembunyikan kalau mereka berdua masih pacaran. Di sekolah saja contohnya, Andre dan Yunita sangat jarang bertemu. Saat kebetulan berpapasan pun, mereka hanya saling melempar pandangan dingin dan berlalu begitu saja.


Dan untuk melepas kangen pun, hanya bisa mereka lakukan saat liburan ke luar negeri dan caranya terbilang agak rumit. Mereka akan berangkat terpisah, berjarak sekitar beberapa hari, dan pergi ke negara yang berbeda. Setelah berada di luar negeri, baru mereka akan pergi ke negara yang sebenarnya ingin mereka tertuju; jadi semacam transit untuk mengecoh paparazzi yang suka nguntit.


“Ya tapi kan kita semua tetap teman, seharusnya tetaplah saling support, masa cuma gara-gara masalah asmara kita saling pecah kongsi kaya gini,” mendengar suara Dimas yang seperti orang putus asa yang ingin menyatukan persahabatan mereka berlima—yang sebenarnya tidak terjadi apa-apa—Stefani sedikit merasa kasihan dan ingin mengatakan yang sebenarnya.


Akan tetapi, tetap saja, dia tidak bisa mengacuhkan fakta kalau Dimas memang agak ember sesuai dengan perkataan Yunita sebelumnya. Pasalnya, sudah beberapa kali Dimas dengan mulut remesnya membocorkan rahasia yang tidak seharusnya diceritakan ke orang lain.


Seolah yang diatas membantunya untuk menghindari Dimas, alarm yang dia pasang sebelumnya untuk membangunkan Yunita tiba-tiba berbunyi.


“Udah dulu ya, aku mau bangunin Yunita dulu,”


“Love u...”


Stefani tidak membalas perkataan terakhir DImas tersebut, dia hanya langsung menutup telponnya dan sedikit tersenyum mendengar perkataan Dimas yang tadi.


“Yun,” Stefani membangunkan Yunita dengan menyentuh dan menepuk lengannya beberapa kali.

__ADS_1


“Hm?”


“15 menit lagi giliranmu,” ucap Stefani.


Dalam keadaan setengah sadar, Yunita mengambil pelembab wajah yang selalu dia bawa dalam tasnya dan menyemprotkan agak banyak ke wajahnya. Setelahnya, dia menyisir rambutnya dan memakai kacamata agar tidak terlalu kentara wajahnya yang baru bangun tidur. Bukan tanpa alasan dia sangat mewaspadai hal itu, dia sudah pernah mengalami saat dimana wajah polosnya yang baru bangun tidur yang diambil diam-diam menghiasi sosial media, dan hal itu sangat merepotkannya.


“Kenapa lu senyum-senyum? Habis chatingan sama Dimas ya? Lu ngak ember kan” Yunita bertanya saat dirinya sedang dirias dan secara tak sengaja menangkap Stefani yang sempat senyum-senyum sendiri beberapa kali.


“Ngak lah, lu pikir gua orang macam apa?” Stefani menjawab dengan memasang wajah tidak senangnya.


“Ya mana tahu kan kalian jadi pasangan bobrok karena lu ketularan embernya dia,” Yunita terus menggoda Stefani, karena dia tahu kalo Dimas dan Stefani sedang bertengkar dan moodnya sedang tidak stabil seminggu terakhir ini.


“Kalau lu ngoceh terus, gua pergi nih ya,” Stefani mengancam, dia bahkan sudah beranjak dari kursinya.


“Iya, iya. Bercanda doang kok,” melihat Stefani yang terlihat cukup serius, Yunita langsung memegang tangan Stefani untuk menahannya pergi.


Pertengkaran dan kekonyolan mereka kedua yang seperti anak kecil terkadang membuat staf di lokasi syuting menjadi begitu berwarna. Yunita dan Stefani memang terkadang sengaja bercanda gurau dengan staff di lokasi, mentraktir mereka dengan snack atau makan-makan saat ada waktu senggang.


Semua itu mereka lakukan agar suasana di lokasi menjadi lebih ceria, karena mereka berdua yakin kalau suasana hati semua orang bagus, maka syutingnya pun akan berjalan lebih lancar dibandingkan jika syuting dengan mood yang tidak bagus. Dan, entah efektif atau tidak, dia hanya merasa semua syuting adegannya berjalan cukup mulus dan cepat.


***


“Hah, lama amat ya ternyata perjalanan ke Jepang. Jadi gini ya rasanya LDR-an dalam waktu yang lama banget,” keluh Yunita setelah sampai di hotel dan melihat pesan yang dikirimnya beberapa menit lalu masih satu centang saja.


Melihat Yunita yang seperti ini, dia jadi teringat perkataan Andre kepadanya  beberapa bulan lalu sebelum pergi di sebuah restoran dimana hanya ada berdua saat itu.


***


“Duh, kenapa lu nyariin gue? Kenapa ngak langsung telpon saja calon nyonya besar?” ucapnya sambil menaruh tas merek hermesnya di samping kursi tempat dia duduk ketika bertemu dengan Andre.


“Widih, merek hermes nih. Berarti sudah jadi asisten mentereng juga lu,” Andre menggodanya.


“Ngak lah, kw doang,” ucapnya, dia masih sadar diri kalo harga tas yang dia pakai ini tidak seberapa dibanding dengan kekayaan keluarga orang yang ada di depannya ini, “Kenapa lo manggil gue? Ngak bisa lama-lama, gue cuma ijin 2 jam doang,” imbuhnya.


“Ngak bakal lama kok, paling 30 menitan. Kecuali lo mau makan dulu,”


“Sambil makan saja lah,”


Andre terlihat menjentikkan jarinya dan tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri mereka. Sadar kalo waktunya hanya sedikit, dia hanya memesan menu sederhana favoritnya; cah kangkung dan Udang asam manis yang biasanya tidak butuh waktu lama pembuatannya. Sedangkan Andre, yang terlihat lebih santai memilih Steak dengan saus teriyaki.

__ADS_1


“Bagaimana kabarnya Yunita? Masih sibuk dengan kegiatan artisnya?” Andre memulai pembicaraan.


“Yah, seperti biasa. Setelah web drama terakhirnya booming, dia banyak dapat tawaran iklan dan film. Dan gilanya, dia ngambil semua tawaran iklan yang dia bisa dan 1 film yang sementara sedang syuting. Tapi gua rasa lu sudah tahu semua kan?” melihat Andre yang menyeringai seperti sekarang ini, dia memang sudah menduga kalau percakapan tadi hanyalah sekedar basa-basi, “Jadi, apa alasan sebenarnya lo nyariin gue?” imbuhnya.


“Gua akan ke US 3 bulan lagi, seminggu setelah UAS selesai,”


“Lah, bukannya pengumuman UN itu sekitar bulan Juni atau Juli ya?”


“Kelas Akselerasi SMA M kan pakai standar dari Cambrigde. Dan kebetulan tahun ini ada collab dengan Harvard,”


“Wait, Harvard? Bukannya lu mau masuk Stanford?”


“Nope, kebetulan ada program yang menjanjikan rangking 1 sampai 5 umum akan di applykan untuk bisa masuk MIT atau Harvard. Dan kebetulan gua semester kemarin dapat peringkat 1 umum, jadi seharusnya nanti ngak akan jauh berbeda lah. Turun pun palingan akan ke posisi 2 atau 3,” jelas Andre dengan nada yang agak sedikit menyombongkan diri.


“What? Berarti lu masuk ke sana saat umur 16 dong? Gila!” satu hal yang dia selalu kagumi dari Andre selama ini adalah kecerdasannya. Dari awal dia mengenal Andre lewat Yunita sampai sekarang, Andre memang cukup jenius karena selalu berada di top 3 peringkat umum di SMA M meskipun terlihat cukup santai setiap harinya.


“Biasa aja kali ah. Yang gua khawatirkan sekarang adalah Yunita,”


“Hah? Kenapa?” melihat raut wajah Andre yang terlihat agak cemas, dia menjadi sedikit penasaran.


“Lu kan tahu, selama ini dia ngak punya terlalu banyak teman karena gue. Cuma ada lu, Brandon, Dimas dan gue yang menjadi temannya. Dan masalahnya, gue dan brandon bakal sibuk buat persiapan kuliah. Dimas, tahu sendirilah dia bagaimana. Nah, orang yang cuma ada di sampingnya itu nantinya tinggal lu doang. Gua agak khawatir dia jadi kesepian dan bakal sering bad mood sih. Terus...”


Melihat Andre yang seperti gelisah, dia memutuskan untuk memegang tangan Andre, “Calm down, ada gue sama Kak Alika kok,” setelah raut wajah Andre menjadi agak lebih santai, dia kemudian melanjutkan.


“Lu mungkin berpikir kalau Yunita itu orang yang lemah. But, you wrong, she actually very strong woman you know? Sebelum kalian mengumumkan putus; yang sebenarnya agak gila juga sih kalian, dia selalu yang menghentikan gue untuk melabrak semua orang yang bergosip buruk tentang kalian berdua.


Dan waktu lo terbaring di rumah sakit 3 hari lamanya, dia bahkan ekstra sibuk bolak balik ke rumah sakit dan lokasi syuting demi tetap bisa ada di samping lo. Kalo orang lain ya, atau gue sendiri. Mungkin sudah ngak bakal tahan buat ekstra care kaya begitu. Jadi, lu tenang saja, walaupun dia memang mungkin bakal jadi tidak stabil moodnya, gue dan Kak Alika bakal selalu ada buat dia. Kan Ibu lu bos sebenarnya, ya pastilah gua kak Alika ngak bakal berani ninggalin dia,” ucapnya yang diakhiri dengan sedikit candaan.


***


Jika mengingat momen itu, dia cukup kagum dengan Andre yang mempunyai pandangan yang visioner seperti itu. Dan terkadang dia sedikit iri dengan Yunita yang mempunyai pacar yang super duper perhatian seperti itu


“Kenapa lu senyum-senyum?” tanya Yunita.


“Ngak, gua cuma agak geli saja liat kelakuan lo yang bucin banget,”dia mengelak. Karena sampai saat ini, dia tidak memberitahukan pembicaraannya dengan Andre tersebut. Apalagi, Andre juga memang memintanya untuk merahasiakan pertemuan mereka kala itu dari Yunita.


ARC II SELESAI


#ARC III  Coming soon

__ADS_1


 


 


__ADS_2