
Keesokan harinya, Andre dan Brandon sampai di tempat mereka janjian dengan Tony sejam lebih awal. Namun kali ini, Brandon sengaja duduk agak lebih jauh untuk mengamati apakah Tony akan melakukan hal yang mencurigakan atau tidak, dan tentunya untuk menjalankan rencana Andre yang terdengar brilian saat Andre memberitahunya dalam perjalanan kemari.
Suasana kafe tersebut bisa dibilang tidak jauh berbeda dengan ketika mereka SMP dulu, perubahannya mungkin ada pada warna dinding yang menjadi lebih fresh dan mengikuti tren tahun ini, penambahan beberapa gagdet untuk mempermudah pelayanan, dan dinding yang menghadap ke luar; yang dulunya tidak memakai full glass sekarang menjadi full glass. Cukup wajar menurutnya.
Namun, ada satu yang membuat setiap orang yang berkunjung beberapa tahun lalu bisa bernostalgia. Yakni salah satu sisi dinding resotran tersebut yang penuh dengan coretan dari masa lalu yang tampak sengaja dibiarkan dan di beri sorotan lampu dari sisi atas untuk menambah kesan sentimentalnya.
Begitu Tony muncul, Brandon mengeluarkan kameranya yang berukuran mini; prototype perusahaan Andre, dan menyamarkannya dengan menaruh kamera tersebut agak dekat dengan kotak tisu dan tempat tusuk gigi sambil mencari anggle yang agak pas. Dan sementara Andre dan Tony berbicara, dia mendengarkan semuanya dari handphone Andre yang tersambung dengan earphonenya sembari melakukan sesuatu di laptopnya.
“Mana Diana hah?” Tony langsung sedikit agak ngegas begitu duduk di depan Andre.
“Wow, relax. Tunggu pesananku datang, oke?”
“Lu ngak takut? Berani keluar di depan banyak orang kaya gini dengan begitu banyaknya gosip yang sedang melibatkan lo sekarang?”
“Scare? Me? For What?” Andre sempat mendengus mendengar perkataan Tony, “Lagian, gua juga ngak pernah melakukan kesalahan. Yunita sendiri tahu tentang itu. Dan suprisingnya lagi, Diana sudah akrab dengan Yunita. Bahkan mungkin sudah sampai dimana mereka menceritakan rahasia masing-masing. You know kan, bagaimana perempuan kalo sudah klop banget,”
“Jadi apa maumu hah?”
“Hmm, bagaimana kalau lu menarik semua artikel yang lu sebarkan di luar sana sekarang? Who know? Yunita mungkin bisa membujuk Diana untuk pulang ke pelukan lu?”
“Gua pe...”
__ADS_1
Saat Tony sedang berbicara, seorang pelayan menginstrupsi mereka. Pelayan itu membawa 2 minuman pesanan mereka.
“Thanks,” Andre menyapa. Pelayan tersebut—kebetulan seorang perempuan—terlihat agak ngeblush saat Andre menyapa, “Go ahead,” Andre mempersilahkan Tony untuk lanjut berbicara setelah pelayan tersebut menjauh.
“Gua peringatkan lu ya, don’t play any trick with me kalau lu ngak mau menyesal nantinya. Lu tahu kan bagaimana kejamnya dunia kita kalau sudah berhubungan dengan gosip?”
Andre terkekeh mendengar ancaman Tony. Sementara Brandon sedikit heran dengan reaksi Andre tersebut yang tampaknya menganggap remeh ancaman Tony tersebut.
Namun, yang lebih membingungkan lagi, adalah apa yang dipikirkan Andre saat ini. Karena, berhadapan langsung dengan Tony agak sedikit sinting ini, tentu harus mampu menjaga agar pikiran tidak bisa dibaca olehnya.
“Really? Lu belum liat yang kemarin itu ngak ada efeknya? Let me tell you one thing, sebelum bermimpi untuk menghancurkan seseorang, lebih baik perhatikan dulu dirimu sendiri,” sesudah mengatakan hal tersebut, Andre kemudian mengambil handphonenya yang dia taruh di atas meja, mengirim sesuatu ke Tony dan kemudian berdiri, “Kirim semua foto yang akan kau jadikan bahan gosip liarmu ke email yang ku kirimkan. Atau, kau akan merasakan akibatnya,” ucap Andre sebelum berjalan meninggalkan Tony; yang kemudian diikuti Brandon 5 menit setelahnya tanpa melewati Tony.
***
Namun, seperti biasa, Tony memang datang akan tetapi hanya sebatas lewat ruangan tersembunyi yang bisa menyaksikan keseluruhan konferensi pers tersebut.
Begitu Andre; yang kemudian disusul oleh Ibunya, Yunita, Brandon, dan juga Diana masuk ke dalam ruangan yang sudah di penuhi dengan wartawan dari berbagai media. Kilatan flash kamera dari berbagai arah di depan mereka langsung menyambar setiap detiknya selama beberapa saat.
Andre kemudian mengambil tempat duduk di tengah-tengah antara Ibunya dan juga Yunita, sedangkan Diana duduk di samping Yunita. Brandon, lebih memilih untuk berdiri di samping Widya, asisten ibunya di dekat pintu masuk khusus yang mereka lewati tadi.
Sebelum memulai, Andre menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya dari rasa gugup terlebih dahulu. Baru setelah merasa sudah siap, dia mulai berbicara,
__ADS_1
“Selamat siang, terima kasih karena sudah bersedia menunggu cukup lama. Hari ini, sebenarnya agendanya soal penunjukan saya sebagai Direktur baru salah satu perusahaan keluarga saya. Tapi kayanya kurang menarik kan? Oleh karena itu, hari ini, di bagian akhir. Saudari Diana akan memberikan klarifikasi sekaligus kejutan untuk kalian semua soal rumor tentang kami bertiga yang sudah beredar belakangan ini,”
Ketika Andre menyebut soal klarifikasi, sorotan mata para wartawan tersebut berubah menjadi begitu bersemangat. Wajah yang biasanya lesu menjadi berseri-seri sama seperti ketika mendengar kenaikan gaji. Andre tentu saja sadar dengan hal tersebut, sehingga dia tidak terlalu berlama-lama saat sesi wawancara soal pengumumannya sebagai Direktur anak perusahaan Ayahnya; mungkin hanya sekitar 5 sampai 10 menit.
Ketika tiba waktunya Diana berbicara, semua wartawan langsung bersiap siaga dengan berbagai peralatan tempurnya, semua kamera pun sama, langsung menyoroti Diana. Mereka semua siaga dengan laptopnya, berlomba untuk merilis berita paling cepat.
“Selamat siang, terima kasih. Sebelum saya menceritakan kejadian yang sebenarnya, sekali lagi saya ingin meminta maaf semua kepada semua orang yang sudah di rugikan dengan kebohongan saya. Semua itu terpaksa saya lakukan karena terpaksa. Saya diancam oleh Tony, salah seorang Manajer HRD di perusahaan FBL Corp.
Beliau secara diam-diam membuat saya mabuk, memperkosa saya lalu mengancam saya dengan video yang dia ambil secara diam-diam. Karena malu dengan keluarga saya, saya terpaksa melakukan semua yang dia minta, yaitu bekerja sama untuk membuat gosip palsu tentang saudara Andre,”
Tony yang mendengarkan semua perkataan Diana menjadi sangat emosi karena tidak menyangka kalau dirinya akan terjebak dalam perangkap yang sudah di siapkan oleh Andre.
“Liat saja kau dasar perempuan tidak tahu diuntung,” gumam Tony dalam hatinya.
Dengan emosi dia berdiri dari tempat duduknya, mengambil handphonenya dan hendak menyebarkan video yang dia pakai untuk mengancam Diana. Akan tetapi, dia terkejut saat melihat video tersebut tidak ada di galeri tidak peduli berapa kali pun di merefresh galerinya.
Emosi karena rencananya berantakan, dia mencoba menelepon asistennya. Namun, saat membuka pintu, dia dikejutkan ketika melihat Dimas dan beberapa orang polisi yang sudah menunggunya di luar
Sebenarnya, Dimas sudah menunggu Tony semenjak dia masuk tadi sambil menunggu kedatangan polisi; jaga-jaga kalau Tony hendak kabur.
“Bagaimana hah? Enak kan dikhianati? Anggap saja itu bayaran karena sudah mengacaukan hidup Andre dulu, dasar pecundang,” bisik Dimas.
__ADS_1
“Hah, kalian pikir bisa menangkapku hanya karena perkataan wanita ngak jelas itu?” Tony mencoba mengelak. Akan tetapi, polisi kemudian menunjukkan surat penangkapan dan membawa Tony; yang terdiam saat melihat surat resmi penangkapannya.
Diana, ditemani oleh Yunita melihat Tony yang sedang di bawa oleh polisi dari kejauhan. Sementara Andre, dia masih mencoba membujuk ibunya untuk memaafkan Diana atas semua masalah yang terjadi selama ini. Semenjak kemarin, Ibunya terus mengutuki Diana meski sudah di jelaskan beberapa kali kalo semua itu adalah karena ancaman Tony.